BAB 2 - Kabar Baik dan Kabar Buruk

1869 Words
Tiga Tahun Berlalu *** “Aku lulus!!” Waktu berlalu begitu cepat, tidak Ia sangka tiga tahun setelah kepergian Agra Dhanurendra ke Amerika. Saat ini, gadis yang baru saja menginjak usia 20 tahun itu berteriak kencang. Menatap bangga layar handphonenya, seketika lupa dimana dia berada sekarang. Dua gadis di depannya hanya mengendikkan bahu singkat. “Kau benar-benar lulus?” Sosok gadis berambut super pendek, dengan tiga tindik di salah satu telinganya menatap heran, “Tentu saja, lihat!” Mendengus cepat, gadis itu langsung menunjukkan notif pengumuman yang tercetak lebar di layar handphonenya. “Lihat nama ini?!” Menunjuk nama, bahkan sengaja memperbesar, “Arabella Cassie Tanuwidja!! Itu namaku!!” Menarik benda itu lagi, Ara langsung memeluk erat. Tidak tahu harus merasa senang atau terharu. Sementara kedua sahabatnya hanya tersenyum kecil, “Berarti kerja kerasmu selama ini dibayar lunas,” ungkap sosok gadis berbando biru manis di depannya. Menggoyangkan rambut kecoklatan panjang itu singkat, “Padahal kau dulu jeblok kalau menyangkut masalah bahasa inggris.” Mereka sudah berteman sejak SMA. Jadi semua kelemahan Ara mungkin sudah keduanya ketahui. Termasuk kelemahan gadis itu dalam pelajaran tertentu. Renata Sari Abdiwijaya, gadis manis bermanik sipit dengan ciri khas rambut panjang bergelombang dan bando yang selalu Ia gunakan kemana-mana. Sementara Helen Monaresta, berbanding terbalik dengan Renata yang anggun, Helen justru sengaja memasang tiga tindik di telinga, memotong rambut super pendek pertanda kebebasannya. Namun entah kenapa mereka bertiga masih akur sampai sekarang. “Rena benar, apa kau sudah mengecek ulang web itu? Siapa tahu kau salah mengecek,” Seolah masih ragu, Ara merengut kesal. “Kalian tidak percaya dengan kemampuanku?!” Bibirnya mengerucut sekilas. Detik berikutnya, tawa kedua gadis itu pecah. “Khahaha, maaf—maaf, kami hanya bercanda.” *** “Tapi aku serius bertanya, siapa yang mengajarimu sampai bisa lulus masuk di University of Chicago, well itu pencapaian yang luar biasa!” tukas Helen kagum. Ara yang awalnya tersenyum lebar perlahan mulai diam, menunduk tanpa sadar. Senyuman gadis itu sedikit hilang, “Mmm—Kak Agra yang mengajariku,” ucapnya tipis. Bahkan Rena dan Helen pun nyaris tidak dengar. “Hah? Siapa?!” sahut Helen lagi, alis Ara tertekuk. Menatap balik sahabatnya, “Kak Agra yang mengajariku!” jawab sang Cassie lebih jelas. Seketika kedua gadis di depannya diam, saling tatap kompak. “Oh, Kak Agra,” beo mereka singkat. Renata mendesah panjang, “Kak Agra ya, idaman kami dulu. Kau tahu betapa menakjubkannya ciptaan Tuhan yang kau panggil kakak itu,” ucap gadis itu ngawur. “Hh, mulai lagi,” Ara menggeleng malas. “Eh, aku serius! Kau beruntung karena punya kakak sempurna seperti kak Agra. Terakhir kali aku melihatnya tiga tahun lalu, kau tidak tahu kalau sahabatmu ini hampir pingsan!” Mendramatisir keadaan adalah keahlian Renata. Membayangkan sosok Agra tiga tahun lalu. Manik Rena berbinar, “Dia itu sempurna. Tampan, posturnya tegap seperti model, matanya seindah salju, jakunnya yang besar—eh maksudnya menonjol—ah maksudnya keluar! Aah, sempurna pokoknya!” Napas Rena terengah, wajah gadis itu memerah. “Ck, abaikan dia.” Helen menatap balik Ara. “Lalu apa dia tahu kalau kau juga mendaftar kuliah di Amerika?” tanya gadis itu, Ara menggeleng polos, “Jangankan memberitahu. Dia saja tidak pernah menghubungiku sekali pun! Kau tahu, dalam tiga tahun ini dia mungkin menghubungi ayah dan ibu dua kali dalam sebulan! Sementara setiap panggilan yang aku lakukan selalu ditolak!” ungkapnya kesal. Jujur saja, selama tiga tahun kepergian Agra. Ara tentu berusaha menjaga hubungan baik mereka berdua, ya sekedar bertukar sapa dan menanyakan kabar lewat telepon atau chat. Tapi yang ada, chat-nya hanya dibalas super singkat, dan teleponnya selalu ditolak!! “Dia hanya mengangkat panggilan ayah dan ibuku! Kakak sialan itu,” umpat sang Cassie tanpa sadar. Rena menghentikan imajinasinya sesaat, ikut focus dalam pembicaraan. “Kau yakin tidak melakukan kesalahan padanya? Siapa tahu dia masih marah,” ucap gadis itu singkat. Lah, kesalahan dimana?! Justru Agra yang pernah melakukan kesalahan padanya, insiden pelukan dan ciuman saat itu masih membekas dalam diri Ara. Itu ‘kan salah! ‘Kesalahanku,’ Tiba-tiba teringat kejadian beberapa minggu setelah insiden pelukan itu. Ara tidak sengaja membuka pintu kamar Agra tanpa permisi seperti biasa, mendapati keberadaan gadis lain di dalam sana. Kedua orang itu dalam posisi hampir berciuman di atas tempat tidur. Ah, Ara langsung bungkam. “Menurut kalian, kalau masuk ke kamar orang tanpa permisi dan menangkap basah pemilik kamar itu sedang berciuman dengan gadis asing. Itu salah tidak?” Diiringi senyuman garing. Renata dan Helen blank sesaat. Hitungan detik berikutnya, kedua gadis itu langsung meneriakinya. “Tentu saja!!” *** [Area Perumahan Elite Tanuwidja – Pukul 16.00 pm] Ya, Ara akui kalau itu memang kesalahannya. Tapi ‘kan dia sudah biasa mendobrak masuk kamar Agra tanpa permisi. Kadang kali memergoki kakaknya tengah mengganti baju atau belajar. Dia tidak menyangka akan ada hari dimana Agra berani-beraninya mengajak gadis asing ke dalam kamar. Padahal Ara saja tidak pernah bertahan selama satu jam di dalam kamar sang kakak. Karena Agra pasti mengusirnya pergi. Beruntung kejadian itu tidak diketahui ayah dan ibu mereka. Jadi sampai sekarang pun hanya mereka berdua saja yang tahu. “Hh, apa dia marah karena itu ya?” bisik Ara tanpa sadar. Membuka pintu rumah dengan lemas, yang menyambut gadis itu pertama kali adalah suara keras sang ibu. “Pokoknya aku tidak setuju!!” Alis Ara tertekuk bingung, suara itu datang dari ruang tamu. Bergegas menuju sumber suara, sang Cassie menangkap ibu dan ayahnya tengah berbincang berdua di sana. Dia berniat mengucap salam, tapi sayang. Sepertinya mereka fokus sekali. “Aku tahu seharusnya ini jadi kabar gembira untuk kita semua, tapi tetap saja. Ara itu perempuan, aku tidak mau dia sendirian di sana, Noel.” Masih mempertahankan keputusannya. Eredesha Lotty Tanuwidja, satu-satunya wanita di dunia yang tidak pernah berani Ara lawan. Ibunya. “Ini kesempatan baik untuk Ara, dia bisa mengembangkan kemampuannya dengan sempurna di sana. Kau harus mengerti, Shalo.” ungkap sesosok lelaki paruh baya berusia lima puluh lima itu. “Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya, kenapa pikiranmu tiba-tiba berubah?” lanjut Imanuel. Eredesha terdiam sesaat, “Jika kupikir sekali lagi, bahaya kalau kita membiarkan Ara tinggal di Chicago sendiri. Aku takut dia belum siap, kau tahu sampai sekarang anak itu bahkan masih takut tidur di ruangan gelap.” Menunduk sendu, perlahan merasakan tarikan pelan. Wanita itu menyender pada sang suami. “Kalau tidak ada aku, bagaimana dia nanti?” lanjutnya. Ara mendengar dengan jelas, kebimbangan ibunya sedikit membuat Ara ragu. “Ayah, ibu,” Memilih untuk keluar dari persembunyian tadi, kedua orang itu menoleh kompak. “Ara? Kau sudah pulang,” Ibu menyeka air matanya. Mencoba tersenyum, Melangkah masuk, tanpa basa-basi Ara langsung duduk di depan kedua orangtuanya, “Kalian pasti sudah dengar kabar mengenai kelulusanku ya?” tebak gadis itu. Ibunya diam, sementara sang ayah tersenyum bangga. “Kau hebat, Ara. Ayah bangga padamu,” Pujian adalah hal pertama Ara dengar, tidak bisa menahan senyumnya. “Terimakasih, Ayah.” Gadis itu menghela napas panjang, “Ayah dan ibu tahu ‘kan kalau sejak dulu aku ingin sekali mengambil kelas bisnis di luar negeri, teman-temanku menyarankan kalau Universitas Chicago adalah tempat yang cocok untuk itu,” jelas Ara lebih pelan. Berharap ibunya mengerti, tapi melihat ekspresi wanita itu. Dia ikut ragu, “Ibu, percaya padaku ‘kan?” Masih diam, bahkan enggan menatap Ara. Bagaimana lagi cara Ara meyakinkan ibunya kalau begini, sementara sang ayah juga ikut diam. “Ibu, tahu kau sudah berusaha keras untuk ini. Tapi perlu Ibu ingatkan sekali lagi, kau ini perempuan Ara.” ucap wanita itu tiba-tiba, “Tapi usiaku sudah 20 tahun, Bu. Aku bisa menjaga diri sendiri, Ibu lupa aku punya beberapa medali bela diri sewaktu SMA dulu?” timpal Ara cepat. “Lawanmu saat itu juga perempuan, Ara. Beda lagi dengan sekarang, orang-orang di sana punya perawakan tubuh yang besar beda denganmu.” tukas ibunya lagi. “Astaga, Bu. Di sana itu penjagaannya juga ketat, sama seperti di sini.” “Itu negara asing, Arabella! Lebih baik Ibu kehilangan uang daripada kau kenapa-napa nanti di sana,” Bibir Ara merengut, tidak bisa lagi melawan ibunya lebih dari ini. Sekilas manik amber itu menatap sang ayah, seolah meminta bantuan. Seolah mendapat ide baru, Imanuel baru saja ingat. Kenapa dia melupakan satu fakta penting. Lelaki itu tersenyum tipis, “Kenapa ayah bisa lupa,” bisiknya singkat. Kedua wanita di dekatnya menoleh kompak. *** “Apa?! Aku tidak mau, Ayah!” Pukul lima sore, ketiga orang itu masih berdebat. Terutama Ara, setelah mendengar pernyataan baru sang ayah dia jadi berpikir ulang untuk kuliah di Chicago. “Itu ide yang bagus ‘kan?” “Apanya yang bagus?! Ayah, ‘kan bisa menyewakanku satu apart di sana, hanya untuk beberapa tahun saja! Kenapa harus tinggal bersama orang lain?” Ara merengek, menatap ibunya lagi, “Bu, aku mohon!” Sementara wanita paruh baya itu diam, memikirkan ide sang suami. “Hm, kalau ide itu, Ibu tidak keberatan. Setidaknya Ibu tahu kau aman bersamanya,” “Ha?! Kenapa Ibu tiba-tiba setuju! Pokoknya aku tidak mau!” Kedua paruh baya di depannya menatap heran, Imanuel teralih pada sang istri, tapi wanita itu juga masih keras kepala. “Kamu pilih, mau kuliah di sana dengan syarat kami berdua atau kuliah di Indonesia?” Memberikan pilihan telak. “Ibu! Kenapa aku harus tinggal dengan kak Agra?!” tukas Ara sekali lagi. Kali ini terang-terangan merasa keberatan dengan ide ayahnya. “Kalau kak Agra kalian izinkan tinggal di sana sendiri bahkan hampir tiga tahun dia tidak pernah pulang, nah sekarang giliran aku?” “Kamu ini perempuan Ara,” balas ibunya cepat. “Aku bisa jaga diriku sendiri!” teriak sang Cassie terakhir kali, dia menunduk kesal. Menggerutu, “Ayah, dan ibu tidak bisa memutuskan begitu saja, kak Agra juga pasti tidak setuju. Kakak dingin sepertinya mana mau,” bisik gadis itu. Memikirkan tinggal bersama Agra adalah pilihan terakhir yang tidak pernah Ia pikirkan. Tinggal dengan laki-laki dingin super cuek, astaga membayangkan saja Ara sudah tidak betah. Kehidupan kuliahnya bisa-bisa hancur. Ketiga orang itu diam sesaat, sampai akhirnya Imanuel kembali mengambil alih kondisi. “Hh, baiklah.” desah sang empunya. Kata ‘baiklah’ sukses membuat senyuman Ara timbul. Dia langsung menengadah, “Eh, artinya Ayah mau-” Belum selesai gadis itu bicara, Melihat lelaki paruh baya di depannya dengan sigap mengambil handphone di saku celana. ‘E-eh, ayah mau apa?’ batin Ara was-was. “A-ayah, mau apa?” Tanpa menjawab pertanyaan Ara, dalam hitungan detik suara dering terdengar santai. Imanuel tersenyum tipis, “Di sana sekarang sudah jam lima pagi ‘kan?” Ara blank beberapa saat, “Ha, di sana? Dimana?” Ayahnya tersenyum penuh arti, “Tentu saja di Amerika.” “A-amerika.” Pikiran gadis itu berusaha menyambung kemungkinan yang terjadi. Saat nada panggil itu tiba-tiba terangkat, “Biar Ayah yang kasi tahu Agra agar izinkan Ara tinggal di apartementnya. Lagipula apart yang Ayah sewakan dulu ukurannya sudah sangat luas, kalian bisa tinggal berdua di sana.” Ha? “Halo, Ayah?” Suara baritone yang sangat familiar kian hari semakin berat, ditambah kali ini berisikan serak basah dan sendayu tipis. Keringat dingin mulai mengucur di pelipis Ara, manik gadis itu terbelalak lebar. Ayahnya benar-benar nekat!! “AH!! AYAH, KENAPA MENGHUBUNGINYA?!!” Teriakan sang Cassie mengema diakhir cerita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD