Abraham memaki dirinya, bisa-bisanya dia mencium Sarah lagi, LAGI! Ini sudah kedua kalinya dia mencium wanita itu. Bibir Sarah yang begitu menggairahkan kembali menggodanya. “Aish, Abraham, bagaimana jika kamu bertemu dengannya besok! dasar bodoh!” makinya sambil memukul setir mobilnya. Hujan terus turun dengan derasnya, akhirnya Abraham melewati tikungan gelap itu. Walau sudah merenggut banyak jiwa, tikungan itu tetap saja gelap. Dengan diam Abraham melewati jalan itu. Kenangan yang memilukan hatinya kembali merasuk ke dalam benaknya saat dia berbelok masuk ke parkiran rumahnya. Abraham menghela napas panjang. “Apa haknya untuk mencium Sarah? dia tidak berhak bahagia. Setelah menghilangkan nyawa orang yang paling dia cintai, dia tidak berhak lagi mencintai seseorang. Atau bahkan jika me

