Pulau Dewata 3

1384 Words
Richard memegangi dadanya. Kenapa ini, apa dia kena serangan jantung, tapi kenapa tidak terasa sakit, sedangkan orang yang terkena serangan jantung pasti akan merasa sangat kesakitam. Lalu Sierra pun menghampiri Richard. “Aku ingin membeli topi,” katanya lalu menarik tangan Richard. Sementara Richard hanya pasrah saja mengikuti Sierra karena masih termangu dengan isi dadanya yang entah ia tidak mengerti itu. Matanya terus terpaku pada perempuan itu yang kini sedang memilih-milih topi yang dijual oleh pedagang di pinggiran pantai. Sierra akhirnya memilih sebuah topi pantai yang amat lebar untuk menutupi rambut panjangnya agar tidak mudah tertiup angina karena itu akan membuatnya kusut. “Aku mau yang ini,” katanya sambil langsung memakai topi pilihannya. Richard hanya menganggukkan kepala kemudian mengluarkan sejumlah uang dari dalam dompetnya. Ia membayar topi yang harganya cukup mahal dan tidak sebanding dengan barangnya yang tidak begitu bagus. Tetapi ia biarkan saja karena ia sedang berada di tempat wisata dan itu adalah hal yang lumrah. “Setelah ini kita ke mana?” tanya Sierra. “Pantai Kuta,” jawab Richard. “Pantai dengan banyak sampah itu?” Sierra tampak terkejut. “Memangnya kenapa?” tanya Richard. “Aku tidak mau ke sana,” putus Sierra. “Kalau begitu kau mau ke mana?” tanya Richard. “Aku ingin belanja saja,” jawabnya. Richard kemudian mengajak Sierra ke pusat perbelanjaan seperti Joger dan Pasar Sukowati. Ia juga mengajak Sierra ke pusat oleh-oleh untuk membeli berbagai macam makanan yang tidak ada di tempat lain. Sierra tampak sangat senang sekali. Terlebih saat saat memilih gaun-gaun bercorak batik khas Bali. Juga baju-baju terusan dengan corak bunga yang memiliki bahan yang nyaman dipakai. “Kau suka memakai gaun, ya?” tanya Richard. Sierra menganggukkan kepala “ya, aku merasa menjadi seorang putri saat memakai sebuah gaun,” jawabnya. “Jangan lupa pilih yang besar karena perutmu juga akan semakin besar,” kata Richard. Muka Sierra langsung berubah kesal karena ia diiangatkan kalau ia sedang mengandung seorang anak. Tetapi ia tak bisa menolak karena pada saatnya nanti perutnya akan benar-benar membesar dan membulat. “Ya, aku akan cari yang besar juga,” jawab Sierra akhirnya. Richard tersenyum melihat ekspresi Sierra yang terasa lucu buatnya. “Setelah belanja kita kembali ke hotel saja, ya, aku lelah,” pinta Sierra. Richard pun menyadari ternyata hari sudah sore. Ia pun menganggukkan kepala “baiklah, yang paling penting adalah keadaanmu agar tetap baik-baik saja,” katanya. Sierra memborong banyak barang. Richard membawakan semua tas-tas berisi barang belanjaan Sierra yang sungguh diluar dugaan hingga membuatnya terkejut “kau belanja sebanyak ini?” “Memangnya kenapa, kau tidak suka aku membeli banyak barang dengan uangmu?” tanya Sierra. “Bukan masalah uangnya, tapi koper kita tidak akan cukup memuat semua barang-barang ini, dan lagi kita juga akan kesulitan membawanya,” terang Richard. “Tapi aku sudah terlanjur membelinya, kita beli koper saja lagi, itu mudah kan,” kata Sierra. Richard menghela napas sambil geram “lain kali aku tidak akan mengajakmu ke tempat belanja lagi,” gumamnya. “Ayo, cepat, kita kembali ke hotel!” seru Sierra. Richard kemudian mengikuti Sierra yang berjalan terus memasuki mobil. Mereka kemudian kembali ke hotel. Begitu pintu kamar dibuka Sierra langsung berlari ke ranjang dan menjatuhkan diri ke atas benda empuk itu. “Ya, ampun, aku lelah sekali,” keluhnya sambil merebahkan diri dan mengatur posisi yang nyaman. Sementara Richard masih sibuk dengan barang belanjaan Sierra di ambang pintu. beberapa kali barang-barang itu jatuh ke lantai dan Richard tampak sangat kerepotan membawa tas-tas belanja yang memenuhi kedua tangannya itu. Setelah berhasil memungut tas-tas belanja itu ia cepat-cepat masuk ke dalam kamar dan meletakkan benda-benda yang bukan miliknya itu ke sofa. Ia kemudian menghela napas sambil menentengkan tangan. Richard lalu menoleh ke arah Sierra yang saat ini sudah merasa nyaman dengan bantalnya. Ia lalu menghampiri perempuan itu. Sierra menyadari Richard sedang berjalan ke arahnya. “Ada apa?” tanya Sierra. Sebenarnya malam ini aku ada acara kantor di hotel ini,” ungkap Richard. “Lantas?” tanya Sierra lagi. “Aku ingin kau juga hadir untuk mendampingiku,” pinta Richard. “Kenapa kau tidak bilang, aku lelah sekali di tambah lagi aku tidak membawa pakaian yang cocok untuk acara seperti itu,” keluh Sierra. “Soal pakaian kita bisa memesannya, di sekita hotel ini ada sebuah butik dan kau bisa memilihnya sendiri jika kau mau,” jawab Richard. “Tapi aku sangat lelah,” tolak Sierra “kau bisa katakan aku sedang hamil muda kan pada kolega-kolegamu, mereka pasti mengerti,” lanjutnya. Richard tampak pasrah “kalau begitu aku akan tetap siapkan gaun untukmu, siapa tahu kau berubah pikiran,” katanya. Sierra kemudian menggeliat dan pada akhirnya membelakangi Richard. Sementara Richard kemudian bersiap dan memakai setelan jas rapi untuk menghadiri acara itu. “Aku akan turun, acaranya ada di aula hotel ini, letaknya tidak jauh dari lobby,” kata Richard. “Hm…” gumam Sierra dengan mata terpejam. Richard memandangi Sierra sejenak “apa kau benar-benar tidak ingin mendampingiku, aku sangat erharap kau mau hadir di acara ini dan aku akan memperkenalkanmu sebagai istriku kepada semua yang hadir,” katanya. “Tidak,” jawab Sierra dengan nada yang malas dari dalam selimut yang menutupi tubuhnya. Richard akhirnya turun menuju aula seorang diri meninggalkan Sierra yang masih sibuk melemaskan otot-ototnya yang kaku karena lelah berkeliling pusat perbelanjaan. Richard menaiki lift untuk sampai ke aula. Di sana acara sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Begitu kehadirannya diketahui Richard langsung disambut oleh banyak orang. Entah sudah berapa orang yang menjabat tangannya. Ia memamerkan senyum ramah sebagai seorang CEO sebuah perusahaan besar. “Halo, Tuan Richard, senang berjumpa dengan Anda lagi,” sapa seorang kolega sambil menjabat tangan Richard. “Halo, Tuan Will, lama juga kita tidak berjumpa, bagaimana dengan kerja sama Anda dengan Singapura?” sambut Richard dengan jabat tangan yang hangat. “Ah, aku menyesal sekali, seharunya waktu itu aku memilih perusahaanmu saja, sekarang aku harus menghadapi orang-orang yang tidak bisa kompeten dalam bekerja dan aku berniat untuk membatalkan kerja sama ini saja,” keluh Will. “Sungguh sangat disayangkan, Tuan Will,” timpal Richard. “Oh, ya, kudengar kau sudah menikah lagi sekarang, di mana istrimu, aku akan merasa terhormat bisa berkenalan dengannya,” tanya Will. Richard diam sejenak “dia sedang tidak enak badan jadi aku menganjurkan agar dia istirahat saja dan dia juga sedang hamil muda jadi, ya, aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” paparnya. Will mendelik “dia sudah hamil?” “Ya, Tuan Will,” jawab Richard sambil menganggukkan kepala. “Ah, cepat sekali,” kata Will kemudian menjabat tangan Richard lagi “selamat, Tuan Richard, kau akan jadi seorang ayah,” ucapnya. “Terima kasih, Tuan Will,” jawab Richard. Kemudian mata Will melirik ke belakang Richard dan matanya langsung terpukau melihat sosok yang ia lihat “siapa gadis muda itu?” gumamnya. Richard pun menoleh ke belakang mengikuti arah mata Will dan ia pun sama terpesonanya dengan Will. Di sana Sierra akhirnya datang dengan memakai gaun berbahan sifon berwarna biru muda yang dihiasi dengan manik-manik di bagian bahunya. “Selamat malam, apakah aku terlambat menghadiri acara ini?” tanya Sierra begitu sampai di hadapan Richard dan Will. Richard dan Will benar-benar dibuat terpesona dengan kecantikan Sierra hingga mata kedua pria itu terpaku menatap Sierra. Richard kemudian mengerjap “ah, perkenalkan, ini istriku, Tuan Will,” kata Richard. Will pun kahirnya mengerjap “ah, ya, senang berkenalan denganmu, Nyonya…” “Sierra,” sambung Sierra. “Ah, nama yang cantik, seperti orangnya,” puji Will. “Terima kasih, Tuan Will,” ucap Sierra sambil berjabat tangan dengan Will. “Bukankah kau sedang tidak enak badan, kenapa malah memaksakan diri menghadiri acara ini?” tanya Will. “Tidak papa, aku sudah merasa lebih baik, tentu saja aku ingin mendampingi suamiku dalam acara yang penting ini,” jawab Sierra dengan tutur katanya yang sopan dan seperti sudah terlatih untuk menghadapi situasi seperti ini. “Ah, kau istri yang sangat baik, beruntung sekali Tuan Richard memiliki istri sepertimu,” puji Will lagi. Sierra tersenyum “itu sudah tugasku sebagai seorang istri, Tuan,” jawabnya. Mendengar hal itu Richard sempat merasa tersanjung dengan karena Sierra bersikap seolah-olah dia memang istri yang baik. Tetapi kemudian ia kembali tersadar kalau itu hanya sebuah formalitas untuk menjaga image Richard yang menjabat sebagai seorang CEO di sebuah perusahaan besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD