Pulau Dewata 2

1484 Words
Pagi-pagi Sierra terbangun. Matanya langsung mendelik ketika bertemu dengan Richard yang masih terpejam di depannya. Ia masih saja terkejut dengan adanya Richard di sampingnya karena biasanya yang ia lihat hanya sebuah boneka atau guling. Sierra sejenak terpaku dengan wajah Richard yang tertidur. Pria itu benar-benar tampan terlebih saat ini dilihat dari dekat. Tiba-tiba Richard menggeliat. Sierra yang terkejut pun cepat-cepat memejamkan matanya lagi. Richard terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata dan mendapati Sierra berada tepat di depan matanya masih terpejam. Cantik sekali. Richard pun meletakkan telapak tangannya di wajah Sierra dan membelai pipi yang mulai tembam itu. Sierra bergeming padahal telapak tangan Rchard cukup dingin. Richard pun bangkit dari tempatnya dan melangkah menuju balkon. Ia membuka pintu balkon itu kemudian menghirup udara paginya Bali. Cukup segar dan membuat paru-parunya seakan ternutrisi. Sierra mengintip saat Richard meninggalkan sisi ranjangnya. Ia lalu membuka matanya dan duduk di ranjang. Tak berapa lama Richard kembali. “Sudah bangun?” sapa Richard ketika melihat Sierra sudah bersandar pada bantal. “Ya, akan ke mana kita hari ini?” tanya Sierra. “Pantai Pandawa,” jawab Richard. Sierra mengerutkan dahi “aku baru mendengarnya.” “Kau akan terpukau ketika melihat pantai ini,” kata Richard. Tiba-tiba perut Sierra keroncongan dan Richard mendengarnya. “Baiklah, ayo kita sarapan dulu,” ajaknya. Setelah mandi dan memakai pakaian mereka kemudian menaiki lift menuju rooftop hotel itu untuk menikmati sajian sarapan dengan pemandangan Bali di pagi hari. Saat sedang sarapan tiba-tiba ponsel Sierra berbunyi. Ada sebuah panggilan video dari salah seorang teman sekolahnya. “Halo, Nadin,” jawab Sierra dengan senyum sinis. “Kau sedang ada di mana, Sierra?” tanya Nadin. “Apa kau tidak lihat lata belakang kota yang cantik? Aku sedang di Pulau Dewata bersama suamiku,” jawab Sierra dengan nada seakan pamer. Sementara Richard hanya melirik sembari menyantap sarapannya. “Apa, jadi kau benar-benar pergi ke Pulau Dewata?” Nadin terdengar iri. “Tentu saja, aku punya suami kaya dan baik hati, apa pun yang aku mau pasti akan kudapat,” pamer Sierra lagi. “Ya, kau sungguh beruntung, untung saja kau hamil anaknya, kalau tidak kau pasti sudah hidup di dalam gubuk reot bersama kedua orang tuamu,” ejek Nadin. Sierra menaikkan sebelah alisnya “gubuk reot?” Nadin terkekeh “akui saja Sierra, kalau bukan karena kau menikahi suami kayamu, kau pasti sudah jadi geladangan sekarang,” ejek Nadin lagi. Sierra melempar muka tak peduli “ah, mungkin itu hanya sedikit penyamaran yang dilakukan orang tuaku, kau tahu, orang-orang kaya biasanya memang melakukan hal-hal aneh unutk menghindari media yang senang mencari sensasi,” dalihnya. “Benarkah, tapi kulihat di berita kau sudah bangkrut? Kau dan orang tuamu sekarang miskin, Sierra,” Nadin terengar merasa menang. Sierra naik darah “hei, siapa yang miskin, kau tidak lihat aku sedang berlibur?” ‘Ya, nikmati liburanmu, Sierra,” pungkas Nadin dengan ejekannya. Sierra menurut telepon dengan kesal “apa maksudnya orang tuaku tinggal di gubuk reot?” gumamnya kemudian melirik Richard yang masih dengan tenang menyantap makanannya “apa kau tahu sesuatu?” tanya Sierra “kau melarangku untuk menemui orang tuaku saat ini kan, kau pasti tahu sesuatu,” pikirnya. Richard hanya mengedikkan bahu saja “yang tadi itu apakah temanmu?” tanyanya. “Ya, dia cukup dekat denganku, kau tahu saat di bar ada dia juga, kami merayakan pesta kelulusan kami bersama-sama di sana,” terang Sierra. “Bagaimana bisa seorang teman bicara dengan nada seperti itu?” dengus Richard. “Seperti itu bagaimana?” Sierra mengerutkan dahi. “Menurutku yang tadi itu bukan sebuah pertemanan, mana mungkin kalian saling mengejek dan pamer begitu kalau kalian memang berteman,” pikir Richard. Sierra tertegun menyadari tadi ia dan Nadin memang saling ejek dan pamer. “Apa semua temanmu begitu padamu? Kalian tidak pernah saling bicara dari hati ke hati mengutarakan isi pikiran kalian, masalah-masalah kalian, atau impian-impian kalian?” tanya Richard. “Tentu saja pernah, aku pernah mengatakan bahwa impianku adalah menjadi seorang model ternama, aku akan pergi ke berbagai Negara untuk pemotretan dan akan ada banyak perusahaan fashion dan kosmetik yang akan membutuhkan jasaku,” jawab Sierra merasa tersindir. “Lalu, apa kau juga tahu apa impian teman-temanmu?” tanya Richard. Sierra membuka mulutnya cepat-cepat tetapi kemudian terdiam karena ia tak mengingat ada salah seorang temannya yang bercerita tentang impiannya. “Tidak ada? Sungguh? Bagaimana dengan masalah-masalah kalian, misalnya saja masalahmu saat ini, kau pasti pernah menceritakannya dan temanmu akan memberikan solusi atau setidaknya dengan sabar mendengarkanmu.” “Aku tidak suka menceritakan masalahku,” jawab Sierra. “Kalau begitu, bagaimana dengan temanmu, kau tidak suka menceritakan masalahmu berarti kau mungkin pendengar yang baik,” tanya Richard lagi. Sierra mengingat-ingat apakah Nadin atau temannya yang lain pernah menceritakan masalahnya tetapi tidak ada ingatan yang ia temukan tentang hal itu. “Tidak ada? Benarkah? itu berarti kau tidak punya teman,” kata Richard. Sierra mendelik “siapa bilang, aku punya banyak sekali teman, kau tahu, semua orang dikelasku sangat menyukaiku, bahkan hampir seluruh siswa di sekolahku juga, saat aku berjalan tidak ada yang memandangiku, aku bahkan sangat popular dan banyak anak yang mengidolakanku,” tegas Sierra. Richard menaikkan sebelah alisnya “benarkah, kau pikir itu sebuah pertemanan?” Richard menelan suapan terakhirnya kemudian meneguk minuman “dengar, Sierra, teman itu adalah seseorang yang akan selalu ada untuk kita, dia akan selalu berusaha membuat kita bahagia dan tidak pernah bermaksud menyakiti kita, dia akan mendengarkan setiap masalah yang kita ceritakan padanya dan juga tidak akan membeberkan masalah yang kita miliki kepada orang lain karena itu artinya dia akan melanggar batas yang dinamakan privasi dan kesopanan,” papar Richard “apakah ada orang seperti itu di antara teman-temanmu?” tanyanya. Sierra mengedarkan mata mengingat-ingat lagi. “Tidak ada kan, itu berarti kau tidak punya teman,” kata Richard. “Tapi mereka bilang mereka temanku, mereka bahkan mau melakukan apa yang kusuruh,” sangkal Sierra. Richard terkekeh “kau bahkan menyuruh mereka, apa yang kau suruh, membelikanmu minuman di kantin? Atau membawakan tasmu yang berat?” “Kau tahu itu dari mana?” tanya Sierra dengan bodohnya. Richard terkekeh lagi “aku hanya menebak,” jawabnya “jangan hanya karena kau popular kemudian kau bisa melakukan apa yang kau mau, Sierra, kau tidak akan benar-benar punya teman jika kau selalu begitu,” tambahnya. “Tapi mereka tidak menolaknya, mereka sendiri yang mau melakukan apa yang kusuruh,” bantah Sierra. “Itu karena mereka juga ingin mendapat pengaruh darimu,” jawab Richard. “Pengaruh?” Sierra mengernyit. “Kau bilang kau popular, kau juga berasal dari keluarga terpandang, mereka pasti ingin juga jadi sepertimu, walau tidak sekaya dirimu paling tidak mereka juga harus popular sepertimu, kau tahu, beberapa orang sangat haus akan sebuah pengakuan, mereka menginginkan sebuah popularitas agar bisa mendapatkan semua yang mereka mau seperti yang kau lakukan,” terang Richard. Sierra mulai kesal dengan semua kata-kata Richard yang mengatakan bahwa dia tidak punya teman. “Memangnya kau sendiri punya teman, kau bicara seolah-olah kau itu pakar sebuah pertemanan,” ketusnya. Richard menggeleng “tidak, aku tidak tertarik dengan pertemanan,” jawabnya. Sierra mendengus “dari tadi kau bicara seolah-olah kau ahlinya dalam pertemanan ternyata kau sendiri tidak punya seorang teman, bilang saja kalau kau iri denganku,” ejeknya. Richard terkekeh “aku tidak iri,” katanya. “Ya, kau iri padaku karena aku sangat digemari banyak orang dan mereka semua mau melakukan apa yang aku mau bahkan tanpa aku membayarnya,” sanggah Sierra “cih, kau akan terkejut saat meihat betapa banyak teman yang aku miliki, mereka semua menyukaiku bahkan mengidolakanku,” tambahnya dengan sombong. Richard terdiam menatap Sierra “suatu saat kau akan menyesali kata-katamu hari ini, Sierra,” katanya. “Itu tidak akan pernah terjadi,” bantah Sierra. Richard mengedikkan bahu “ya, sudah,” katanya. “Ayo kita ke Pantai Pandawa sekarang,” ajak Sierra. “Habiskan dulu makananmu,” kata Richard. “Selera makanku hilang setelah mendengar ocehanmu sejak tadi, tahu,” ketus Sierra kemudian beranjak dari tempat duduknya “ayo, cepatlah,” suruhnya kemudian melenggang pergi. Mereka pun berangkat menuju Pantai Pandawa yang berpasir putih dengan laut biru bahkan hingga ke bibir pantainya airnya tetapbiru. Sierra benar-benar dibuat terpukau ketika melihat barisan tebing-tebing yang membelah jalan menuju pantai itu. Matanya semakin dimanjakan ketika melihat bibir pantai nan cantik dan lain daripada yang lain. Air laut yang merebahkan diri di atas hamparan pasir putih dengan pemandangan tebing-tebing tinggi di belakangnya, di mana lagi bisa ditemukan kalau bukan di Pantai Pandawa. Sierra tidak sabar menapakkan telapak kakinya pada pasir pantai yang lembut. Ia kemudian berjalan sambil menenteng sendalnya membiarkan air laut membasuh butir-butir pasir yang menempel di kakinya. “Aku suka pantai ini, ini akan jadi pantai kesukaanku di Pulau Dewata,” seru Sierra. Melihat Sierra yang begitu senang ia pun mengembangkan senyum. Saat melihat Sierra menari-nari di bibir pantai dengan senyuman yang cantik dan rambut panjangnya yang melambai-lambai tertiup angina entah kenapa tiba-tiba jantung Richard berdebar-debar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD