Pulau Dewata

1402 Words
Akhirnya jam 8 pagi Richard dan Sierra sampai di Bali. Mereka langsung cek in ke hotel yang sebelumnya sudah di pesan oleh Richard. Sudah dari bandara Sierra tampak sangat senang sekali. Matanya bahkan tak berkedip melihat pantai yang bisa ia lihat dari jalan saat menuju ke hotel. Saat sampai di kamarnya Richard langsung membiarkan kopernya di lantai dan merebahkan diri di ranjang. Ia merasa cukup lelah karena sebelum sampai ke Bali sebelumnya ia harus kejar-kejaran dengan pekerjaannya setelah itu ia hanya punya waktu 1 jam untuk berkemas sekaligus sedikit istirahat sebelum akhirnya terbang ke Bali. Hampir saja Richard memejamkan mata tiba-tiba Sierra menarik tangannya. “Ayo kita ke Tanah Lot,” ajak wanita itu. Richard menoleh sebentar kemudian meletakkan kepalanya lagi “apa kau tidak mau mandi dulu, biarkan aku istirahat sebentar saja,” jawabnya dengan nada malas. Sierra tampak berpikir “baiklah, aku mandi dulu, kau pejamkan saja dulu matamu, tapi begitu aku siap kau juga harus sudah siap,” katanya. “Hm…” gumam Richard kemudian meraih bantal dan memeluknya. Sierra pun masuk ke dalam kamar mandi berdindng kaca yang ketika tubuhnya sudah polos setiap siluetnya bisa dilihat siapa pun yang masuk ke kamar itu. Baru beberapa detik memasuki kamar mandi Sierra sudah bersenandung sambil menyalakan air. Mata Richard yang semula terpejam langsung terbuka begitu mendengar suara merdu Sierra. Ia menoleh ke kamar mandi kaca itu dan melihat siluet tubuh Sierra yang semakin berbentuk karena perempuan itu sedang hamil muda. Richard melihat tetea-tetes air mengguyur tubuh indah Sierra yang entah kenapa malah menyihir matanya agar jangan berkedip. Richard bersandar pada kedua tangannya dan memandangi bayangan Sierra yang sedang mandi sambil bersenandung merdu. Tak berapa lama perempuan itu akhirnya keluar dengan sudah memakai gaun mandinya. Begitu keluar mata Sierra langsung menemukan wajah Richard yang melongo seperti orang yang sedang berpikiran kotor. “Apa yang kau lihat?” tanyanya. Richard mengerjap “tidak,” jawabnya sambil menggeleng “tidak ada,” tambahnya. Sierra mengerutkan dahi merasa tidak yakin “berbaliklah, aku mau pakai baju,” suruhnya. “Kenapa aku harus berbalik, waktu itu kau menyerahkan tubuhmu dengan suka rela?” Richard menaikkan sebelah alisnya. Sierra terdiam dengan wajahnya yang memerah “pokoknya berbalik saja atau apa pun yang penting kau tidak melihatku,” tegasnya. Richard menghela napas sambil mengedikkan bahu “okey,” jawabnya kemudian merebahkan diri lagi dan menutupi wajahnya dengan bantal “aku sudah tidak melihatmu,” katanya. Sierra memastikan Richard benar-benar tidak mengintipnya. Setelah yakin baru ia melepas gaun mandi yang sedari tadi ia pakai dan menggantinya dengan dress berbahan katun yang nyaman dan sesuai untuk dibawa ke pantai. Richard berbohong. Ia masih bisa mengintip Sierra dari celah yang ia buat dan Sierra tidak mengetahuinya. Walau tampaknya ia seperti pria nakal yang mengintip seorang perempuan yang sedang ganti baju tapi apa masalahnya jika yang ia lihat adalah tubuh istrinya sendiri. “Aku sudah selesai,” kata Sierra yang kemudian membuat Richard menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya. “Ayo kita berangkat!” seru Sierra. Richard kemudian bangkit dari tempatnya sambil menarik napas panjang. Pada akhirnya ia tidak jadi istirahat dan malah mengintip istrinya mandi dang anti baju. Ia tersenyum dalam hati, entah kekonyolan apa lagi yang akan ia lakukan. Mereka kemudian berangkat ke Tanah Lot. Sebuah pantai dengan tebing batu yang terletak sebuah pura di atasnya. Ombaknya cukup besar dengan angin yang kencang. Saat itu sedang diadakan sebuah upacara adat. Richard dan Sierra tak ingin mengganggu sehingga mereka memutuskan untuk pergi dari bibir pantai dan menuju ke pusat oleh-oleh saja melihat-lihat pernak-pernik khas Bali yang bisa mereka bawa pulang. Saat sedang melihat-lihat benda-benda unik di sana Sierra melihat benda yang benar-benar unik dan belum pernah ia jumpai di mana pun. Ia sedikit heran melihat benda itu karena ini bukan pertama kalinya ia pergi ke Bali tetapi ini adalah pertama kalinya ia melihat benda besar itu. Mungkin karena dulu ia datang ke Bali saat masih kecil dan ia tidak mengerti benda apa itu jadi ia melupakannya begitu saja. “Kenapa malah diam di sini?” tanya Richard yang menyadari Sierra malah berdiam diri di tempatnya. “Ah, tidak, tidak papa,” jawab Sierra. Richard kemudian melirik benda tadi yang dilihat Sierra. Ia lalu terkekeh geli “kenapa kau malah terpaku melihat benda besar ini?” goda Richard sambil mengambil benda besar berbentuk benda yang sama yang ia miliki di balik pakaiannya “katakan, apa yang kau pikirkan?” tanyanya sambil menyeringai. Sierra mendelik kemudian menggeleng “tidak ada,” jawabnya. “Apa kau yakin?” goda Richard lagi. “Tidak ada!” tegas Sierra kemudian melenggang pergi meninggalkan Richard menuju ke bagian pakaian. Richard meletakkan benda yang terbuat dari kayu dan berukuran lebih besar dari lengannya itu kembali ke tempatnya. Ia menyusul Sierra yang kini memilih-milih pakaian. Ia mendekat ke telinga Sierra “katakan saja, jangan malu-malu begitu,” godanya lagi. Wajah Sierra memerah “kau ini bilang apa sih,” gerutunya. Ricard terkekeh lagi “lihatlah wajahmu yang merah itu, ternyata kau bisa juga memikirkan hal itu, ya?” ia lalu tertawa. Sierra merasa kesal kemudian menjatuhkan baju-baju yang sudah ia pilih ke tangan Richard “bayar ini,” suruhnya kemudian pergi menunggu Richard tak jauh dari kasir sambil melipat kedua lengannya. Richard tertawa lagi kemudian pergi ke kasir membawa baju yang semuanya adalah milik Sierra. Setlah dari Tanah Lot mereka kemudian menuju ke Garuda Wisnu Kencana Cultural Park yang menyuguhkan sebuah maha karya ciptaan anak bangsa I Nyoman Nuarta. Berlokasi di Unggasan, Jimbaran, Bali. Monumen itu dikembangkan menjadi taman budaya yang kini menjadi ikon pariwisata untuk Indonesia khususnya Bali. Patung itu berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pemelihara yang mengendarai burung garuda. Dikisahkan burung garuda ini menyelemtkan ibunya dari p********n sehingga pada akhirnya ia dilindungi oleh Dewa Wisnu. Patung ini merupakan symbol misi penyelamatan dunia dan lingkungan. Patung ini juga bisa terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua dan juga Tanah Lot. Terbuat dari campuran baja dan tembaga seberat 4000 ton dan tingginya mencapai 75 meter dan lebar 60 meter. Patung Garuda Wisnu Kencana kini menjadi patung terbesar di Asia dan mengalah Patung Liberty di New York, Amerika Serikat. Di tempat itu Richard dan Sierra dibuat takjub oleh persembahan Tari Kecak, sebuah seni tari khas Bali. Tari Kecak lebih utama menceritakan tentang cerita Ramayana. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak lelaki yang duduk berbaris melingkar dengan irama tertentu mnyerukan ‘cak’ sambil mengangkat kedua tangan ke atas. Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya berada dalam kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur kemudian menyampaikan harapan-harapanya kepada masyarakat. Lagu Tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang, tidak ada alat music yang dipakai, hanya krincingan yang dikenakan di kaki para penari pemeran tokoh-tokoh Ramayana seperti Hanoman, Rama, Sinta dan Sugriwa. Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan Tari Kecak berdasarkan tradisi sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tarian ini ketika ia berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya. Sierra mulai merasa lelah dan Richard pun mengkhawatirkannya. “Bagaimana kalau kita kembali ke hotel saja?” ajak Richard. “Baiklah, bawakan ini, ya,” jawab Sierra pasrah sambil memberikan tas berisi barang belanjaannya. Richard pun menerima tas belanja itu tanpa keberatan. Ia lalu berjalan membuntut pada perempuan itu menuju ke mobil. Mereka pun kembali ke hotel dan beristirahat. Begitu sampai Sierra langsung menjatuhkan diri ke ranjang sambil merentangkan tangannya. Ia tampak membebankan semua rasa lelahnya pada ranjang itu. Richard yang sedikit kewalahan dengan barang belanjaan Sierra pun menjatuhkan tas-tas belanja itu ke sofa. Ia melepas kemeja katun dan sepatunya kemudian mandi setelah seharian berkeringat karena membuntutui istri mudanya. Saat keluar ia baru menyadari kalau Sierra sudah terlelap dengan posisi yang tidak berubah. Ia kemudian memakai baju dan membangunkan Sierra. “Bangun, minum vitaminmu dulu,” suruhnya. Sierra menggeliat “aku ngantuk sekali, nanti saja,” gumamnya. Richard menghela napas memaklumi perempuan hamil yang sedang kelelahan itu. Ia kemudian melihat Sierra masih memakai sepatu lengkap dengan kaos kakinya. Richard pun berlutut dan melepas sepatu Sierra. Sementara Sierra yang merasakan ada angina sejuk yang meniup kakinya kemudian cepat-cepat menaikkan kakinya ke atas ranjang. Richard menarik selimut dan merapatkannya hingga ke bahu Sierra. Perempuan itu tampak sudah pulas tidurnya. Richard pun membelai rambut panjang Sierra yang lembut dan halus. Menyelipkan anak-anak rambut yang menghalangi sebagian wajah cantik perempuan muda itu. Dan terlintas lagi pikiran nakal itu. Richard menggeleng sambil menertawakan dirinya sendiri. Lama-lama ia akan benar-benar akan jadi gila.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD