Sedikit Insiden

1353 Words
Sierra mendelik, mulai naik darah “apa katamu?” “Ya, apa kau semurah itu menjadi seorang perempuan, mantan istriku yang tidak bisa punya anak saja tidak pernah berusaha menggodaku bahkan setelah dia tahu aku akan menceraikannya,” desis Richard. Sierra berdiri “beraninya kau bandingkan aku dengan perempuan gagal itu!” bentaknya bersungut-sungut “ayahku ynag membesarkan aku bahkan tidak pernah membandingkan aku dengan anak lain walau aku mendapat nilai D, tapi kau, jika bukan karena adanya anak ini aku juga tidak akan menikahimu dan jika bukan karena kau menginginkannya aku sudah membunuhnya!” lanjutnya kemudian berkemas merapikan diri dan melenggang pergi meninggalkan Richard di kamar. Mendengar hal itu Richar pun tertegun. Sierra masih anak-anak, dia hanya ingin liburan, mungkin dia jenuh dan juga stress setelah beberapa kejadian tak diinginkan menimpanya. Sekarang hanya dirinyalah tumpuan hidup Sierra dan dengan kejamnya ia membandingkan Sierra bahkan dengan mantan istrinya. Walau perempuan itu masih anak-anak dia tetaplah perempuan yang pasti akan terluka jika ia dibandingkan dengan perempuan lain. Richard pun keluar dari kamar cepat-cepat menyusul Sierra. Tetapi betapa terkejutnya ia ketika menemukan Sierra sedang bersiap menghujam dirinya sendiri di dapur. Ia megarahkan pisau dapur berukuran cukup besar tepat ke perutnya. “Sierra!” teriak Richard sambil berlari kea rah Sierra. Ia meraih pisau itu dari belakang. Tetapi Sierra tampaknya sudah buta dan bersikukuh mempertahankan pisaunya. “Apa yang kau lakukan, kau bisa mati!” tegur Richard. “Biarkan saja, aku tidak menginginkan anak ini, aku tidak mau bersamamu, aku mau pulang, aku mau bertemu orang tuaku!” teriak Sierra. Richard mati-matian merebut pisau yang kini melukai kedua tangan mereka hingga darah segar menetes ke lantai. Seorang pelayan yang lewat melihat kejadian dramatis itu dan berdiri dengan panic, ragu untuk ikut membantu atau menyaksikan saja dengan perasaan cemasnya. “Hei, ke sini, bantu aku!” suruh Richard begitu menyadari kehadiran pelayan itu. Si pelayan itu kemudian menganggukkan kepala kemudian berlari menghampiri keduanya. Ia sempat bingung harus mulai dari mana karena sudah ngeri melihat darah segar mengalir hingga beberapa kali menetes ke lantai. Ia lalu memilih untuk memegangi Sierra supaya Richard lebih mudah merebut pisau itu. Tapi sungguh malang nasibnya. Sierra yang sudah terlanjur buta tak membiarkan dirinya dihentikan. Ia menendang pelayan itu hingga jatuh ke lantai. “Jangan ikut campur, dasar pelayan bodoh!” umpat Sierra. Pelayan itu pun merasakan sakit di perutnya yang di tending juga di punggungnya yang secara  langsung bertabrakan dengan lantai. Ia seketika lemas karena rasa sakit itu. Richard sangat terkejut melihat hal itu. bisa-bisanya seorang wanita hamil menendang seorang pelayan yang tubuhnya bahkan lebih gempal darinya. Tetapi di saat yang sama Sierra pun lengah dan pegangannya pada pisau dapur itu mengendor sehingga memberi Richard lebih banyak kesempatan untuk merebut pisaunya. Richard pun memaksakan tangannya hingga lagi-lagi tergores oleh pisau itu. Tetapi kemudian ia berhasil meraih pisau itu dan cepat-cepat membuangnya ke lantai. Napas keduanya terengah-engah setelah memperebutkan sebilah pisau yang kini sudah berlumuran darah di lantai. Jemari Sierra sudah merah semua oleh darahnya yang bersampur dengan darah Richard.ia terluka cukup parah hingga darahnya tidak berhenti menetes. Richard sempat meliriknya kemudian kembali menatap mata Sierra. “Apa kau gila, Sierra, kau sadar apa yang kau lakukan?” omel Richard. “Biarkan saja, aku sangat benci padamu, kau melarangku melakukan ini dan itu sesukamu hanya karena ada darah dagingmu dalam tubuhku, aku akan memusnahkannya supaya aku bisa lepas darimu!” bentak Sierra. Richard menarik napas panjang berusaha melapangkan dadanya supaya ia bisa lebih banyak menyerap kesabaran. Ia diam sejenak dan kembali melirik jemari Sierra. Ia lalu mendekat dan meraih jemari itu. “Sini, biar kulihat,” katanya. Sierra masih belum padam dengan emosinya tetapi ia membiarkan tangannya diraih Richard. “Lukamu cukup dalam, darahnya bahkan tidak mau berhenti, ayo kita ke dokter sekarang,” ajak Richard dengan lembut. Sierra pun mulai menyadari rasa sakit di tangannya. Ia pun menurut saja pada Richard karena rasa sakit itu semakin kentara dan ia tidak bisa menahannya lagi. Richard menggandeng jemari Sierra dengan tangannya yang juga berlumuran darah. Mereka menaiki mobil dan cepat-cepat menuju ke klinik atau rumah sakit terdekat. Perjalanan mereka diisi dengan keheningan. Sierra sempat melirik tangan Richard yang sedang menyetir. Ia baru sadar pria itu terluka lebih parah darinya tetapi tampak begitu santai mengendarai mobil. Tak ada rasa kesakitan yang terlihat di wajahnya. Mereka sampai di sebuah rumah sakit dan langsung menemui dokter. Keduanya sama-sama mendapatkan jahitan pada tangan mereka. Karena sudah berada di rumah sakit Richard pun sekalian membawa Sierra memeriksakan kandungannya. Ia takut terjadi sesuatu pada bayinya setelah kejadian tadi. Dokter Moza pun terkejut melihat tangan Sierra dan Richard sama-sama diperban dan ia tahu perban itu masih baru. “Apa yang terjadi?” tanyanya. “Em, ada sedikit insiden terjadi di rumah kami,” jawab Richard semenara Sierra memalingkan mukanya karena merasa malu. Dokter Moza tak ambil pikir dan segera memeriksa kandungan Sierra. Setelah selesai ia pun kembali duduk di susul Sierra. “Tampaknya beberapa waktu ini kau mengalami stress,” kata dokter Moza. “Tapi bagaimana dengan bayinya?” tanya Richard. “Bayinya masih tidak papa, tapi lain kali kau harus berhati-hati, jangan sampai istrimu banyak pikiran, stress itu akan berpengaruh dalam perkembangan janin,” papar dokter Moza. “Baiklah, aku akan usahakan itu,” jawab Richard. “Aku akan berikan tambahan vitamin dan harus dihabiskan,” kata dokter Moza. Richard mengangguk-anggukkan kepala pelan. Tak berapa lama setelah itu mereka pun pulang. Perjalanan pulang pun masih diisi dengan keheningan. Sierra hanya fokus pada gedung-gedung yang berjalan mundur ketika melewatinya. Begitu sampai Richard tak membiarkan Sierra membuka pintu mobil sendiri. Richard membukakannya untuk Sierra. “Mau kubantu masuk ke dalam?” tanya Richard. Itu pertama kalinya ia bicara setelah keheningan tadi. “Tidak usah,” jawab Sierra ketus. Richard pun mengambil vitamin dari dokter Moza yang masih berada di dalam mobil kemudian menyusul Sierra yang berjalan lebih dulu masuk ke rumah. Saat sudah berada di dalam Sierra melihat bagian dapur sudah kembali bersih dan rapi seperti semula. Ceceran  darah di lantai juga sudah tidak ada. Para pelayan di rumah itu sudah membereskan semuanya. Sierra pun melangkah menuju ke kamar disusul oleh Richard. Perempuan itu berangsur ke tepi kolam dan duduk di sana dengan termenung tampak mengenang sesuatu yang Richard tidak mengerti. Richard pun menyusulnya dan berdiri di belakang Sierra “kau kenapa?” tanyanya. “Aku rindu pada orang tuaku, aku ingin bertemu dengan mereka,” jawab Sierra. “Keadaan mereka sedang tidak baik sekarang dan mereka memintaku agar untuk sementara kalian tidak bertemu dulu,” terang Richard. Sierra menoleh dan menatap tajam pada Richard “kau bohong!” sergahnya. “Aku tidak bohong padamu,” kata Richard. Sierra kemudian berdiri dan lebih menajamkan matanya “setelah kau melarangku banyak hal kau juga akan melarangku menemui orang tuaku sendiri?” “Memangnya kau tahu sekarang mereka tinggal di mana?” “Kau pasti tahu mereka ada di mana sekarang, pertemukan aku dengan orang tuaku!” bentak Sierra. “Kau pasti terkejut setelah melihat mereka yang sekarang,” kata Richard. “Kenapa, apa yang terjadi pada mereka?” tanya Sierra. “Aku tidak akan beritahu sekarang, itu pasti akan membuatmu stress lagi,” jawab Richard. “Dasar kau jahat!”umpat Sierra “tega-teganya kau tidak mengijinkan aku bertemu orang tuaku sendiri,” lanjutnya. “Terserah apa pendapatmu, ini juga demi kebaikanmu, demi kebaikan semua orang,” terang Richard. Sierra kemudian melipat tangannya dan merengut lalu duduk di kursi santai di tepi kolam. Ia menunjukkan pada Richard bahwa saat ini ia sedang sangat marah. Richard menghela napas panjang sambil melipat kedua tangannya “mengenai bulan madu, mungkin aku akan mengatur jadwalnya minggu depan, kita akan pergi ke Pulau Dewata seperti yang kau mau,” katanya kemudian melenggang pergi meninggalkan Sierra. Emosi Sierra melunak mendengar Richard akan mengatur jadwal ke Pulau Dewata. Ia kemudian menoleh ke arah Ruchard yang kini hanya Nampak punggungnya yang berjalan menuju pintu kamar. Ia kemudian tersenyum lebar dan nyaris saja melompat saking senangnya. Tanpa Sierra sadari Richard memerhatikan Sierra sebelum benar-benar pergi. Pria itu mengintip dari balik pintu yang akan ia tutup. Melihat Sierra yang kegirangan ia pun ikut tersenyum senang barulah kemudian ia benar-benar menutup pintu dan pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD