Pagi-pagi suara kicau burung di luar juga sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela membangunkan Sierra. Ia membuka matanya dan menggeliat. Matanya kemudian melihat Richard yang tidur di sofa tanpa selimut dan bantal.
Sierra pun mendekat pada pria itu. Ia memandangi Richard yang masih memejamkan mata sambil melipat kedua lengannya. Saat itu Sierra baru menyadari bahwa meski pria itu jauh lebih tua darinya tetapi wajahnya masih terlihat tampan bahkan menunjukkan usia yang lebih muda dari yang sebenarnya.
Apa Richard benar-benar kesal karena perlakuannya kemarin sore sampai dia tidur di sofa? Tapi kalau dia memang tidak ingin bersama Sierra kenapa tidak tidur di kamar lain saja yang lebih nyaman? Tampaknya Sierra harus berbuat sesuatu untuk meluluhkan hati Richard dan ia bisa pergi ke Pulau Dewata.
Saat Richard bangun ia baru tersadar bahwa ia merebahkan diri di sofa sampai tertidur. Ia menoleh ke ranjang dan melihat Sierra sudah tidak ada di sana. Tiba-tiba terdengar suara air di kamar mandi. Tampaknya Sierra sedang mandi.
Tak berapa lama Sierra keluar masih menggunakan gaun tidurnya. Gadis itu memandangi Richard dengan tatapan ragu “kau sudah bangun, ya, aku sudah siapkan air mandi untukmu, cuaca hari ini agak dingin jadi aku menambahkan air panas supaya kau tidak kedinginan,” katanya.
Richard menaikkan sebelah alisnya “apa ia masih tidur?” batinnya.
“Cepatlah mandi sebelum airnya dingin, aku akan buatkan kopi dan siapkan sarapan untukmu,” ujar Sierra kemudian meninggalkan Richard yang masih termangu di tempatnya.
Selepas gadis itu pergi Richard mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali kemudian menapakkan kakinya di lantai. Telapak tangannya kemudian merasakan dengan jelas hawa dingin di lantai. Ia lalu melangkah menuju kamar mandi dan mencelupkan tangannya ke dalam bak mandi. Ia juga merasakan suhu air itu.
“Ini bukan mimpi,” batin Richard kemudian membasuh mukanya dengan air dari bak sebanyak-banyaknya “benar-benar bukan mimpi,” gumamnya.
Setelah selesai mandi Richard pun menuju ke ruang makan. Di sana ia melihat Sierra sedang mengaduk kopi di mini bar yang berada di sebelah meja makan. Ia masih tak yakin yang ia lihat adalah Sierra. Richard bahkan mengintip kaki perempuan itu memastikan bahwa perempuan itu menapakkan kakinya di lantai dan bukan bayangannya saja.
Sierra lalu menyadari kehadiran Richard “ah, sudah selesai mandinya?” tanya Sierra.
Richard mengangguk “sudah,” jawabnya.
“Ini, minum dulu kopimu, tapi aku minta maaf kalau rasanya tidak enak,” kata Sierra.
Richard kemudian duduk dan mengambil cangkir kopinya. Ia menghirup aroma kopi yang menguar dan menyesapnya sambil melirik pada Sierra yang memandanginya.
“Bagaimana, apakah enak?” tanya Sierra tampak cemas.
“Lumayan,” jawab Richard.
Sierra menghela napa lega “syukurlah, ini pertama kalinya aku membuat kopi,” ungkapnya kemudian menuju meja makan dan menarik sebuah kursi “duduklah di sini, aku membuat pancake untukmu,” ajak Sierra.
Richard pun menurut sambil membawa kopinya yang masih tersisa cukup banyak. Ia lalu duduk pada kursi yang ditarik oleh Sierra tadi. Perempuan itu kemudian menyiramkan madu ke atas pancake dan menaburinya dengan beberapa buah beri.
“Cobalah,” kata Sierra sambil mendekatkan piring berisi pancake buatannya.
Richard dengan perasaannya yang masih ragu kemudian memotong sedikit bagian pancake itu dan memakannya perlahan.
“Bagaimana?” tanya Sierra.
“Terlalu banyak gula dan teksturnya sedikit lembek, tapi ini tidak papa, aku akan tetap memakannya,” jawab Richard.
Sierra menarik napas tampak menyesal “tampaknya aku kurang memerhatikan resepnya,” keluhnya.
“Tidak masalah, kau sudah berusaha,” kata Richard.
“Lain kali aku akan buatkan yang lebih enak,” kata Sierra.
“Okey,” jawab Richard masih dengan perasaannya yang antara terkejut dan bingung.
Sierra kemudian duduk di kursi sebelah Richard “semalam kenapa kau tidur di sofa?” tanyanya selidik.
“Aku sebenarnya ingin duduk saja di sana tapi malah tertidur,” jawab Richard.
“Benarkah?” Sierra menyipitkan matanya.
“Ya, memangnya kenapa?”
“Tidak, bukan apa-apa,” jawab Sierra sambil memalingkan mata.
“Bagaimana dengan perutmu, apa kau masih merasa tidak nyaman?” tanya Richard.
“Aku sudah tidak merasakan apa-apa,” jawab Sierra.
“Baiklah, kalau begitu, aku pergi ke kantor dulu dan sepertinya aku akan pulang cepat hari ini,” kata Richard sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Kenapa pulang cepat?” seloroh Sierra.
Richard mengerutkan dahi “ini waktunya kau ke dokter kandungan, apa kau lupa?”
Aleah tampak sedikit terkejut “ah, iya, sepertinya aku melupakannya,” jawabnya.
Richard menikkan sebelah alisnya “apa kau tidak senang aku pulang cepat?” tanyanya.
“Ah, tidak, tentu saja aku senang kau bisa pulang cepat,” jawab Sierra cepat-cepat.
Richard menaikkan sebelah alisnya lagi kemudian menuju ke beranda rumahnya diikuti Sierra. “Aku pergi dulu,” kata Richard.
Sierra tersenyum “hati-hati di jalan,” jawabnya.
Richard sempat melirik ke bagian atas gaun tidur Sierra tetapi kemudian ia cepat-cepat memalingkan muka karena tak ingin tergoda dan melanggar batas ciptaan Sierra.
Begitu Richard meninggalkan rumah Sierra menarik napas lesu. Melihat reaksi Richard tampaknya ia harus berusaha lebih keras lagi. Pria itu bahkan berkata jujur dengan rasa kopi dan pancakenya. Ia tak berusaha memujinya sedikit pun. Kalau dengan memasak saja ia gagal, apa yang harus ia lakukan? Kemudian sebuah ide muncul di benak Sierra.
***
Richard benar-benar menepati kata-katanya bahwa ia akan pulang lebih cepat. Tetapi begitu ia sampai ia tak menemukan Sierra di mana pun. Ia pun masuk ke kamar dan mendengar suara air di kolam.
Richard pun melangkahkan kaki ke kolam renang yang bisa ia akses dari kamar itu. Begitu ia sampai di saat yang sama kepala Sierra menyembul dari dalam air. Perempuan itu cepat-cepat mengambil napas dan membenarkan rambut panjang yang menutupi wajahnya.
Richard langsung mendelik begitu melihat pakaian renang Sierra yang, ‘mengujinya’. Meski entah sudah ke berapa kali ia melihat bagian tubuh Sierra, ia tetap berusaha bersikap tenang.
Sierra kemudian membuka matanya lebar-lebar dan menyadari Richard tengah berdiri menatapnya. “Ah, kau sudah pulang rupanya,” tegurnya “cuaca tiba-tiba saja terasa panas jadi aku berenang saja, tidak papa kan, aku tidak merasakan apa-apa di perutku,” lanjutnya.
“Tidak papa selama itu tidak mengganggumu,” jawab Richard “kau bisa bersiap sekarang, kita akan ke dokter kandungan,” suruhnya.
Sierra kemudian keluar dari kolam dan berjalan dengan langkah gemulai menggoyang-goyangkan pinggulnya. Ia mendekat pada Richard yang masih berdiri dengan tenang di ambang pintu. Ia berhenti tepat di hadapan Richard dan meletakkan tangannya yang basah di bahu Richard.
Sierra tersenyum dan mendekat ke telinga Richard “bagaimana kalau kita tidak usah ke dokter saja dan pergi ke tempat lain,” bisiknya dengan nada yang intens.
Richard merasakan bulu romanya berdiri ketika merasakan hawa dingin dari Sierra yang baru saja keluar dari dalam air “pergi ke mana?” tanyanya.
Sierra melirik ranjang yang bisa dilihat dengan jelas dari tempat mereka berdiri “ke sana,” jawabnya.
Richard mengikuti arah maa Sierra dan terkejut dengan ajakan perempuan itu. Tetapi ini mulai terasa aneh karena baru saja kemarin perempuan itu jelas-jelas menunjukkan ketidaktertarikan padanya dan kini ia malah mulai duluan.
“Apa kau serius?” tanya Richard “bukankah kau menciptakan batas antara kita?” lanjutnya.
“Batas apa?” Sierra meletakkan tangannya yang lain di bahu Richard yang satunya “saat itu aku hanya masih terkejut dengan kenyatan bahwa aku sudah menikah, sekarang aku sudah sadar dan ini adalah salah satu tugasku,” katanya.
Richard terlena dengan godaan maut dari Sierra. Sementara dalam hati Sierra, ia merasa akan muntah. Tak apa jika ia harus pergi ke ranjang sungguhan yang penting dia bisa pergi ke Pulau Dewata, toh ia sudah menikah dengan Richard dan Richard juga bukan pria jelek bau tanah yang mungkin akan membuatnya benar-benar muntah bahkan sebelum menyentuhnya.
Sierra menarik lengan Richard dan berjalan mundur. Ia melangkah lurus menuju ke pulau fantasi yang sudah menunggu di belakangnya. Richard pun sungguh-sungguh terlena dan mengikuti langkah Sierra. Matanya seolah tersihir oleh perempuan muda dan cantik di depannya.
Mereka saling tumpang tindih begitu sampai di pulau itu. Pulau itu benar-benar penuh dengan sihir dan sentuhan magis yang tidak bis diungkapkan dengan kata-kata. Membawa Richard seakan melambung ke awan dan tertiup kemudian jatuh pada sebuah tumpukan kapas yang banyak dan empuk hingga membuat tubuhnya terpantul-pantul.
“Richard, bagaimana dengan rencana ke Pulau Dewata?” tanya Sierra membangunkan kesadaran Richard.
Richard membuka matanya dan menoleh pada Sierra yang berada di sampingnya “kau sungguh ingin ke sana, tapi tampaknya aku tidak bisa karena jadwalku untuk beberapa minggu ke depan cukup padat,” jawabnya.
“Apa katamu?” seru Sierra sambil beranjak “aku sudah berikan tubuhku untuk kedua kalinya dan kita tidak akan pergi?” Sierra kemudian dengan kesal membuang muka lalu melipt kedua lengannya “percuma saja aku bersikap baik padamu,” gumamnya.
Richard bangun dari bantalnya yang nyaman “jadi ini maksudmu bersikap baik padaku?” ia menatap Sierra kesal, merasa tertipu “menjijikan sekali, kau sampai mau tidur denganku dan melanggar batasmu sendiri hanya agar kau bisa pergi berlibur,” tambahnya bergumam.