4. Menakut-nakuti

1470 Words
Plak …. Jesica menepuk lengan Biyan yang semakin aktif bergerak di dalam bajunya dan menyusup ke dalam cup bra yang ia kenakan. “Au ….” Biyan menarik tangannya keluar. Sepertinya sang istri tak nyaman di perlakukan seperti itu. “Tangannya aktif ya! Gimana mau nyuapin dengan fokus kalo Abangnya kaya gitu.” Jesica protes sambil mengunyah makanannya, pipinya pun mengembung mengolah makanan agar semakin lembut untuk di telan.  “Maaf abisnya gemesssh tau ….” Biyan tersenyum sambil memperlihatkan giginya yang rapi. “Gumas-gemesh, gumas-gemes, kek ke boneka atau anak kecil aja gemesh.” Jesica menyuapkan makanan ke dalam mulut Biyan agak banyak. Dia kesal karena tangan Biyan bergerak seperti sedang mengolah adonan roti yang akan di buat mengembang saja. “Sayang … kamu tau gak sih?” tanya Biyan sambil bergelayut manja. Semakin hari tingkat kemesuman dan kebucinannya semakin bertambah saja. “Apa Abang Sayang?” Jesica mencubit gemas hidung Biyan yang mancung dan ukurannya agak besar, maklum hidung mode orang-orang barat, berbeda dengan hidung Jesica yang agak mungil biarpun mancung, mirip hidung kepunyaan Lisa blackpink. “Dari pertama kali kita deket, abang tuh udah nahan sekuat tenaga.” Biyan menutup matanya sambil menggesekkan hidungnya dengan hidung Jesica. “Nahan apa?” Jesica menjadi penasaran, apa yang di tahan oleh Biyan. “Nahan buat enggak grepe-grepe kamu!” Biyan terkekeh, perjuangannya tak sia-sia sampai ke titik menjadikan Jesica istrinya. “Ih ngeselin, salaki aku tambah mesum.” Jesica memasukkan makanan sangat banyak ke dalam mulutnya hingga kedua pipi menggembung bergantian saat mengunyah. “Ya coba kamu pikir sendiri nih. Cowok normal ya, tidur bareng, makan bareng, jalan bareng terus sering liat cewek yang cantik kaya kamu. Udah body aduhai biarpun mungil, menawan, baik, terus ….” Biyan melirik Jesica seperti kucing yang kelaparan. “Terus apa? Jangan absen bagian tubuh ya. Udah cium bau-bau kemesuman lagi nih.” Jesica menyuapkan makanan perbekalan terakhir. Makanan masakannya kini sudah habis. Biyan terkekeh setelah mengunyah makanannya dulu. “Hahahaha … dah gitu pokoknya. Abang tahan-tahan kan, komitmen abang waktu itu gak mau lebih jauh rusak kamu. Sekarang udah halal bebas dong mau ngapain aja sama istri! Cium peluk sama megang-megang aja dulu udah berasa bersalah banget.” Biyan mengedipkan sebelah matanya, dia bergaya genit. “Cup, cup, cup …. Ya tapi jangan di kantor juga dong Yank. Malu nanti kalau ada yang ngintip atau denger kita gimana?” Jesica menunjuk pintu dan jendela kaca yang begitu besar. “Hei sayang. Ruangan ini kedap suara, terus ini jendelanya juga kita bisa lihat yang di luar aja, tapi yang di luar gak bisa lihat kita yang di dalem, gitu.” Biyan menjelaskan design ruangan pribadinya ini. Dia orangnya introvert sehingga privasinya memang benar-benar ingin terjaga. “Ehm … biar apa kayak gitu?" Jesuca berdehem sambil mencurigai Biyan. “Biar privasi abang tidak terganggu, abang kan introvert," jawabnya benar dan tidak ada yang di tutup-tutupi. “Emmm … kok aku curiga ya," sekidik Jesica sambil menatap Biyan penuh kecurigaan. “Apa yang di curigain?” Biyan merasa dirinya di sudutkan. “‘Curiga Abang suka bawa cewek cantik dari klub, atau karyawan yang cantik ke ruangan ini. Kan kalo mau nganu gak ada yang denger dan lihat.” Pikiran Jesica sampai sejauh itu, dia sekarang dalam mode cemburuan, pasalnya banyak karyawan yang ternyata cantik-cantik dan masih muda, mungkin juga banyak yang masih single. Penampilannya semua nyentrik dan sexy. “Ih Sayang jangan mikir kaya gitu.” Biyan buru-buru menghapus pikiran buruk istrinya. Dia tidak mungkin seperti yang Jesica bayangkan, dengan Kania saja dia sangat setia. Terkecuali saat tantangan mencari sugar baby. “Kali aja Abang kaya bos-bos yang lain.” Jesica menjawabnya ketus sambil merapihkan kotak makan bekas mereka makan tadi. “Sumpah deh Yank. Biarpun Kania gak setia dulu. Abang orangnya setia.” biyan mengangkat tangan kanannya. “Banyak lho karyawan yang suka sama Abang. Keliatan dari mata mereka pas liatin Abang.” Biyan melirik ke jendela. Melirik lorong penghubung ke ruangan karyawan. Tadi saat mereka berdua lewat, ternyata banyak juga karyawan perempuan Biyan. “Masa?” Biyan sendiri tidak menyadarinya. “Kaya si Sapi gitu, mata mereka gak bisa lepas liatin Abang biarpun ada aku.” Jesica mengerucutkan bibirnya. “Hati abang hanya buat Jesica Diatna seorang." Biyan memeluk Jesica dari samping. “Prett ….” “Abang janji nih. Demi apapun. Hatinya abang udah mentok milik kamu seorang. Gak mau ada yang lain, gak mau gagal lagi. Udah cukup kamu jadi yang terakhir," bisik Biyan di dekat telinga Jesica. “Serius, janji?” Jesica menoleh sambil menatap mata suaminya. “Janji suci. Janji di hadapan penghulu, kedua orang tua abang sma keluarga kamu emang gak cukup?” Biyan sampai mengabsen satu persatu, perjuangannya dari dulu memangnya kurang untuk pembuktian cinta? “Uwww ….”  “Jangan gampang cemburu ya, ya, ya. Yang cantik di dunia ini bagi abang kamu aja, yang baik, penyayang, paling pinter, ibu yang cerdas, pendamping yang baik bagi abang kamu aja. Jesica Diatna yang abang sayang sampai maut memisahkan.” Biyan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jesica sambil merayu. “Aih … bisa aja ngegombalnya.” Jesica mengacak rambut Biyan. “Bener ih, serius ini. Pukul abang boleh, mau jambak, cakar, marah, banting barang di rumah atau apapun kalo kamu kesel sama abang ya. Tapi jangan kabur-kaburan main pergi aja tanpa denger penjelasan abang kalo suatu saat nanti kita ada masalah.” Biyan ingat saat Jesica kabur ke vila, beruntung dia menemukannya, bagaimana jika tidak. “Iya.” Jesica mengangguk. “Kamu belum tau dan ngerasain bagaimana cobaannya pasangan yang baru nikah. Abang yang jadi nahkoda untuk mengarungi bahtera rumah tangga kita Sayang.” Biyan kali ini sedang bijak. “Iya, yang udah pengalaman.” “Jesica istri abang kan dewasa yah. Jangan mudah ngambek dan cemburu.” Biyan mengucek puncak kepala Jesica. “Iya. Tapi Abangnya yang setia ya?” Jesica menatapnya sambil mencubit kedua pipi Biyan. Biyan langsung memikirkan bagaimana jika Jesica berkuliah nanti. “Kamu juga ya! Nanti kuliah kan banyak cogan yang lebih ganteng dari abang.” “Setia lah, Abang cinta pertama dan yang terakhir!” Jesica yang balik menggombal, tapi memang Biyan cinta pertamanya. “Anak pinter! Eh istri pinter!” Biyan mengecup singkat kening Jesica. “Ngisi hari libur ngapain sebelum honeymoon? Aku bosen di rumah terus,” keluh Jesica yang biasa sibuk, banyak bergerak dan banyak beraktivitas di luar rumah, gara-gara libur, dia jadi tidak ada kegiatan. “Ngantor mau?” tawar Biyan memberikan solusi. “Jadi karyawan Abang?” Jesica antusias, tapi bagaimana cara dia bersosialisasi di tempat kerja. Belajar bisnis saja tidak pernah, kebanyakan rumus fisika, kimia dan matematika di otaknya. “Iya," jawab Biyan singkat. “Emang boleh lulusan SMA kerja di kantor yang gede kaya gini, lulusan SMA mungkin jadi OB atau yang lain.” Jesica merasa dirinya bukan siapa-siapa bekerja disini. “Buat istri abang ya jangan kerjaan kaya gitu lah. Kamu bantuin abang aja. Sekalian belajar bisnis yah ibu bos. Kan mau jadi mahasiswa jurusan bisnis. Istri abang biar tambah pinter.” “Bantuin kerjaan? Bantuin ngerecokin sih iya. Hahahaha … kan gak bisa urusan perkantoran. Soal urusan percintaan baru bisa!" Jesica tersenyum sambil mengajak bercanda, padahal dia tersipu malu di ajak untuk membantu Biyan, otomatis mereka tidak akan terpisahkan, Jesica juga tidak akan bosa berdiam diri di rumah. “Temenin abang, nanti abang peluk dan cium.” Biyan mempraktekannya, dia memeluk dan mencium Jesica. “Yang ada kerjaan Abang gak akan selesai-selesai kalo gitu. Nanti honeymoon gak mau terganggu urusan kantor ya, semua harus di selesaikan dari sekarang," pinta Jesica karena sekarang saja Biyan sibuk bekerja. “Hahaha … iya Sayang. Nanti semua beres. Abang mau ajarin kamu bisnis nanti, lumayan tujuh hari, daripada di rumah terus. Kursus sama dosen ganteng geratis nih.” Biyan membanggakan diri. “Hahaha … dosennya suami aku. Iya, mau. Di rumah Reginald gak ada terus, Bi Sur kan cuma pagi sampe sore aja, Abang malah ngantor. Aku takut ada hantu," keluhnya yang bosan tinggal di rumah sebesar rumah Biyan. “Masa iya ada hantu? Itu cuma halusinasi manusia aja.” Biyan tidak percaya soal itu. “Takut ada hantunya Kak Kania ih. Rumah segede gitu, luas banget, aku takut. Apalagi Kak Kania pernah tinggal disitu.” Jesica bergidik ngeri mengingat Kania yang sebelumnya adalah nyonya di rumah itu dan sudah meninggal. “Kok jadi penakut sih?” Biyan mencubit gemas hidung Jesica. “Maklum kebiasaan tinggal di tempat kecil dan sempit Abang.” “Di biasain tinggal di rumah abang ya.” “Takut ….” Jesica memeluk sambil menggelengkan kepalanya. “Kalo kamu gak beraniin diri, nanti malah setannya makin betah.” Biyan menakut-nakuti. “Ih ….” “Jesica … Jesica …. Hihihihihihi.” Dia mempraktekkan suara hantu. “Abang malah nakut-nakutin sih.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD