Bab dua

489 Words
Naya langsung kekelasnya setelah memarkirkan mobilnya, tanpa keruangannya dulu karena laptopnya sudah ditangan proyektor? Mahasiswa sudah menyiapkannya didalam kelas. Naya mengecek jam tangannya 5 menit lagi kelasnya dimulai, Naya masuk dengan senyum lebar diwajahnya. “selamat pagi” sapa Naya membuatnya mendapat respon yang sama persis. “bu, beli baju nya dimana?” “itu sepatu keluaran terbaru kan bu?” “bu, tas yang dipakai udah habis stocknya. Tau tempat beli yang lain?” “rambutnya ga rusak bu diwarnain gitu?” Naya menghela nafas, beginilah kalau menjadi dosen populer dan fashioneble dikalangan mahasiswa, masalah rambutnya yang berwarna bolonde itu karena memang dari lahir rambutnya sudah seperti itu bukan diwarnain atau apalah. “jadi pacar saya mau ga cantik?” Naya hanya menatap datar mahasiswa yang baru saja menggodanya, dia Abimanyu semester akhir yang memang selalu menggodanya. “saya sudah menikah” jawab Naya sambil tersenyum dan menunjukan cincin nkahnya pada Abimanyu. “saya tau kalau ibu dosen cantik sudah menikah” ujar Abimanyu lagi membuat Naya mengangkat sebelah alisnya. “saya kira kamu tidak tahu” “mangka dari itu, saya tunggu lanjangnya bu!” teriak Abimanyu membuatnya mendapat sorakan dari mahasiswa lainnya. Abimanyu bukannya malu ia malah semakin bangga karena sorakan teman-temannya. Memang dikalangan mahasiswa hanya Abimanyu sajalah yang berani menggoda Naya secara terang-terangan. “kamu doain saya cerai dengan suami saya?” tanya Naya marah tapi Abimanyu sama sekali tidak merasa begitu, menurutnya sekarang Naya begitu lucu. “iya, kalau cerai langsung nikah sama saya” “impossible, oke kita lanjutkan lagi pelajaran pekan lalu” “saya serius bu” “saya lebih serius, buka buku kamu!” perintah Naya galak membuat Abimanyu cemberut lalu membuka halaman buku tebal didepannya sekarang. Naya meregangkan kedua tangannya setelah sampai diruangannya, yap. Naya adalah dosen tetap dan mempunyai ruangan sendiri. Jadi diruangannya Naya bisa melakukan apa pun yang bisa ia lakukan tanpa dilihat oleh dosen lainnya. Tok...tokk.. Naya membenarkan letak duduknya dan mengambil buku dan membukanya, “masuk!” Naya melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya, Naya menatap datar Abimanyu yang masuk kedalam ruangannya. Iya, dia Abimanyu yang sama. “ada apa?” tanya Naya dengan nada kurang suka. “ibu mah sensi sama saya, saya jadi suka” jawab Abimanyu sama sekali tidak tersinggung dengan Naya. Naya hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. “saya mau bimbingan sama ibu” “sama saya? Saya bukan dosen pembimbing kamu! Ga usah mengada-ngada kamu!” ujar Naya karena memang tidak termasuk dosen pembimbing, ia murni hanya dosen yang mengajar saja. “iya memang bukan ibu, kalau ibu mah saya senang tiap hari ada alasan buat nemuin ibu dihari libur” jawab Abimanyu cengengesan. “siapa dosen pembimbing kamu?” “pak Haikal” “pak Haikal?” “iya” “ya kamu ke pak Haikal dong Abi, kan pembimbing kamu disana. Kamu lupa dimana ruang pak Haikal? Saya antarin kamu kesana!” “iya umi, mau” Naya mengacak rambutnya kesal sekarang, Abimanyu memang bisa membuat moodnya jadi jungkir balik seperti ini. “jadi kamu datang mau buat saya kesal?” “engga” “terus apa Abimanyu?” “saya mau bimbingan dulu sama ibu, nanti baru ke pak Haikal. Ibu tau kan pak Haikal itu galak minta ampun jadi sebelum saya dimarahin karena ada yang salah mending saya bimbingan sama ibu duluan baru pak Haikal” Naya menghela nafas, ingin marah tapi ia tahan. “oke, saya nyerah. 10 menit lebih dari itu kamu keluar!” Abimanyu mengambangkan senyumnya lalu menganggukan kepalanya nurut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD