Bab satu

459 Words
Sudah sembilan tahun menikah namun Aditya dan juga Naya belum juga dikaruniakan seorang anak, namun walaupun begitu Aditya tidak pernah mempermasalahkan nya. Toh, ia sangat mencintai Naya. Diberi Tuhan buah hati mereka bersyukur belum diberi Tuhan mereka bersabar. Naya juga tidak mendapat tuntutan dari ibu mertuanya untuk segera hamil karena ingin keturunan dan memilik cucu. Walaupun tidak ada yang mendesak atau pun memaksa Naya tetap saja Naya merasa sedih. Apa yang diharapkan setelah menikah? tentu saja seorang anak? Lalu sampai sekarang rumah tangganya belum ada tanda-tanda akan ada anak. Naya sudah sering periksa kedokter tidak ada masalah dengan rahimnya atau pada yang lainnya begitu juga dengan Aditya. Mereka berdua sehat, namun Tuhan masih belum memberi mereka seorang anak. Naya bahkan sering menangis diam-diam karena belum dikaruniakan seorang anak, Naya setiap hari berdoa pada Tuhan agar rahimnya segera diisi. 9 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk seseorang berumah tangga, pasti ada titik jenuh diantara mereka. Naya bisa saja setia namun apa kabar dengan Aditya? Aditya tentu saja harus mempunyai penerusnya apalagi sekarang Aditya sudah 37 sebentar lagi kepala 4. Belum lagi ibu mertuanya yang sudah mulai menginjak 65 tahun. Drt...drt... Naya kembali dari dunia lamunannya dan mengambil ponselnya melihat siapa yang menelponya. Senyum Naya mengembang ketika melihat nama suaminya tertera dilayar ponsel. “hallo sayang? Jadi pulang hari ini kan? aku akan menyiapkan makanan kesukaanmu” ujar Naya dengan nada riang, Naya bisa mendengar helaan nafas dari sebrang. “maaf sayang aku belum bisa pulang, masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan diRoma” jawab Aditya penuh rasa sesal. Naya tersenyum, walaupun Aditya tidak melihatnya. “ya sudah ga apa-apa mas, mas disana jaga kesehatan. Cuaca dingin kan disana?” ujar Naya membuat Aditya menganggukan kepala tanpa sadar. “iya sayang, sekali lagi maafkan aku ya. Aku akan usahakan segera pulang” “iya mas, yang penting pekerjaan mas selesai dulu” “terima kasih sayang, ah aku sangat merindukanmu sangat banyak sayang” “aku juga merindukan mu mas, mangkanya cepat pulang biar bisa ketemu melepas rindu” “iya sayang, ini aku juga lagi mengusahakan pekerjaanku cepat selesai agar bisa segera bertemu denganmu” ujar Aditya membuat Naya tersenyum. “mas kerja yang benar, aku tutup sekarang aku mau berangkat kekampus” “hati-hati sayang, aku mencintaimu. Sampai jumpa” “aku juga, bye” Naya meletakan ponselnya kedalam tas lalu mengambil tas kerjanya, hari ini ia ada kelas iam 10 pagi dan sekarang jam sudah menunjukan pukul setengah 10 pagi. Naya segera mengambil sepatu olahraga keluaran terbaru, yap dari dulu hingga sekarang Naya masih belum bisa memakai high heel terlalu lama apa lagi untuk pergi kekampus. Naya adalah dosen kesenian disalah satu universitas dijakarta, tentu saja Naya melanjutkan kuliahnya setelah menikah dengan Aditya. Walaupun kebutuhan Naya sudah terpenuhi tetap saja, Naya tidak akan betah untuk tinggal dirumah dan tidak melakukan apapun. Jangan lupa like n komen dan bila perluh tolong dukung karya ini dengan memberikan koin. Terima kasih sebelumnya. To be continue,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD