Dinding lorong yang dingin menjadi satu-satunya penopang bagi tubuh Reina yang mendadak lemas. Kata-kata terakhir Indri,dingin, penuh kemenangan, dan begitu kejam,menggaung di telinganya seperti lonceng kematian. Warisan. Rencana awal. Milik kita. Tiga kata itu menghantam kesadarannya, meretakkan fondasi pernikahannya hingga menjadi debu.
Pintu kamar Indri tertutup pelan dengan bunyi ‘klik’ yang seolah menyegel nasib Reina. Cepat-cepat, Reina menekan punggungnya ke dinding, menahan napas, takut bayangannya pun terlihat. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia merasa mual. Jadi ini semua bukan hanya tentang kebencian seorang mertua pada menantunya. Ini adalah konspirasi. Sebuah perampokan berkedok pernikahan.
Dengan langkah gemetar yang nyaris tak bersuara, Reina menjauh dari pintu neraka itu. Tujuannya hanya satu, tempat paling aman di seluruh rumah ini: kamar Rio. Ia membuka pintu kamar putranya sepelan mungkin dan menyelinap masuk. Di dalam, di bawah selimut bergambar dinosaurus, Rio tertidur lelap. Wajahnya damai, napasnya teratur, sebuah potret kepolosan yang kontras dengan kebusukan yang baru saja Reina saksikan.
Reina duduk di lantai dingin di samping tempat tidur Rio, memeluk lututnya sendiri. Air mata yang tadi ditahannya kini mengalir tanpa isak. Ini bukan lagi tangis kesedihan karena perlakuan kasar. Ini adalah tangis karena pengkhianatan yang begitu dalam dan terstruktur. Siapa ‘kita’ yang dimaksud Indri? Dan pertanyaan yang paling menusuk hatinya: apakah Reno, suaminya, pria yang ia cintai, adalah bagian dari ‘rencana awal’ itu?
Pikirannya melayang mundur, mencoba mencari kepingan teka-teki yang mungkin pernah ia abaikan. Ia teringat pada awal pertemuannya dengan Reno, pria yang terlihat begitu tulus dan gigih. Pria yang membuatnya percaya lagi pada cinta setelah hatinya pernah patah.
Lima Tahun Lalu
"Rei, ayolah... makan malem aja kok. Aku janji, kali ini nggak bakal ngomongin soal kerjaan sama sekali," rengek Reno dari seberang telepon. Ini sudah kali kelima ia menelepon hari ini.
Reina, yang sedang sibuk menata kue tart di etalase tokonya, tertawa kecil. "Mas Reno, aku ini lagi sibuk. Nggak lihat apa tokoku lagi rame banget?"
"Justru itu! Kamu butuh istirahat, butuh refreshing. Aku traktir steak paling enak se-Jakarta, deh. Gimana?" bujuk Reno lagi, suaranya terdengar penuh harap.
"Mas, kita baru kenal dua minggu lho. Itu juga karena Mas nggak sengaja numpahin kopi ke bajuku," balas Reina, pura-pura jual mahal, padahal sudut bibirnya sudah tertarik ke atas.
"Nah, itu takdir namanya! Takdir biar aku bisa kenal sama cewek paling manis pemilik toko kue paling enak. Ayolah, Rei. Satu jam aja. Kalau kamu ngerasa bosen, aku langsung anterin pulang. Janji!"
Reina akhirnya luluh. Kegigihan Reno entah kenapa terasa begitu tulus. "Oke, oke. Jemput jam tujuh, ya. Jangan telat."
"YES! Siap, calon pacar! Sampai ketemu nanti!" seru Reno sebelum menutup telepon, membuat Reina menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Malam itu menjadi awal dari segalanya. Reno adalah pria yang berbeda dari yang pernah ia kenal. Ia pendengar yang baik, selalu tertawa pada lelucon Reina yang paling garing sekalipun, dan matanya tidak pernah lepas dari Reina setiap kali mereka bicara. Ia membuat Reina merasa menjadi satu-satunya wanita di dunia.
Beberapa bulan kemudian, mereka duduk di sebuah taman kota pada malam hari. Reno menggenggam tangannya erat.
"Rei, aku serius sama kamu," kata Reno tiba-tiba, tatapannya dalam.
"Serius gimana, Mas?" tanya Reina, jantungnya mulai berdebar.
"Aku mau kita lebih dari sekadar pacaran. Aku mau kamu jadi bagian dari hidupku. Selamanya."
"Mas Reno..."
"Sebelumnya, aku mau kamu kenal sama orang paling penting di hidupku. Ibuku," lanjut Reno. "Aku anak satu-satunya, Rei. Sejak Ayah meninggal, cuma Ibu yang aku punya. Restu Ibu itu segalanya buat aku."
Hati Reina menghangat mendengarnya. "Pasti, Mas. Aku seneng banget kalau bisa kenal sama Ibu kamu." Baginya, pria yang begitu menyayangi ibunya pastilah pria yang baik.
Pertemuan pertama dengan Indri terasa... biasa saja. Wanita paruh baya itu tersenyum, meski senyumnya terasa kaku. Ia bertanya banyak hal tentang latar belakang Reina, pekerjaannya, keluarganya. Reina menjawab semuanya dengan jujur. Indri tidak banyak berkomentar, hanya mengangguk-angguk.
"Gimana, Bu? Reina baik, kan?" tanya Reno penuh semangat saat mereka hanya bertiga di ruang tamu.
"Baik," jawab Indri singkat. "Asalkan kamu bahagia, Ibu juga bahagia. Tapi ingat, Reno. Jangan sampai salah pilih. Pernikahan itu sekali seumur hidup."
Saat itu, Reina menganggap nasihat itu sebagai bentuk kehati-hatian seorang ibu. Ia sama sekali tidak menangkap nada peringatan tersembunyi di dalamnya. Baginya, semua tampak baik-baik saja.
Puncaknya adalah di hari ulang tahun Reina. Reno membawanya ke puncak sebuah gedung, di mana sebuah meja makan dengan lilin dan kelopak mawar telah disiapkan. Pemandangan lampu kota dari ketinggian begitu memukau.
"Rei," panggil Reno setelah mereka selesai makan. Ia berlutut di hadapan Reina, mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah dari sakunya.
Napas Reina tercekat. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca.
"Reina Adelia, aku mungkin bukan pria paling sempurna di dunia. Aku masih banyak kurangnya, masih harus banyak belajar," ucap Reno, suaranya sedikit bergetar. "Tapi satu hal yang aku tahu pasti, aku mau belajar dan jadi lebih baik bareng kamu. Aku janji bakal jagain kamu, nggak akan biarin siapapun nyakitin kamu selama ada aku di sampingmu."
"Mas..." bisik Reina.
"Aku mau setiap pagi bangun dan lihat wajah kamu yang pertama. Aku mau kamu jadi ibu dari anak-anakku nanti. Reina, maukah kamu menikah denganku?"
Di bawah kerlip bintang dan lampu kota, diiringi isak tangis bahagia, Reina mengangguk. "Iya, Mas. Aku mau."
Reno yang ia kenal saat itu adalah penyelamat, pangeran, dan jawaban atas semua doanya. Ia tidak pernah membayangkan pangeran itu akan berubah menjadi monsternya.
Reina tersentak dari lamunannya saat mendengar suara azan Subuh berkumandang dari kejauhan. Ia masih di posisi yang sama, terduduk di lantai kamar Rio. Kenangan manis itu kini terasa seperti racun yang membakar hatinya. Setiap janji manis Reno terdengar seperti kebohongan paling keji.
"Nggak akan biarin siapapun nyakitin kamu..."
Reina tertawa getir dalam hati. Nyatanya, Reno sendiri yang menjadi pelaku utamanya, seseorang yang paling rajin melukainya, atas perintah sang sutradara, ibunya.
Perasaan sedih dan putus asa yang selama ini membelenggunya perlahan menguap, digantikan oleh sesuatu yang baru amarah yang membeku. Dingin, tajam, dan mematikan. Ia sudah muak menjadi korban. Ia sudah lelah menangis. Informasi yang ia dengar semalam adalah sebuah senjata. Sebuah kunci untuk keluar dari penjara ini.
Ia harus mencari bukti. Ia tidak bisa melawan Indri dan Reno hanya dengan kata-kata. Mereka terlalu pandai memutarbalikkan fakta. Ia butuh sesuatu yang nyata, sesuatu yang tidak bisa mereka sangkal.
Pikirannya bekerja cepat, memindai setiap sudut rumah, setiap kebiasaan Reno dan Indri. Di mana mereka mungkin menyimpan rahasia? Ponsel? Terlalu berisiko. Brankas? Ia tidak tahu kombinasinya.
Lalu, sebuah ingatan samar muncul di benaknya. Sebuah laptop tua milik Reno. Laptop yang ia gunakan sebelum perusahaan memberinya yang baru. Laptop itu ia sebut 'rusak' dan disimpan di gudang belakang. Reina ingat, beberapa kali ia ingin membuang atau menjualnya, Reno selalu melarang keras dengan alasan yang tidak jelas. "Biarkan saja di sana, itu banyak data penting zaman kuliah," katanya waktu itu.
Padahal, Reno tidak pernah terlihat seperti orang yang sentimental pada barang-barang lama. Kecurigaan yang dulu tak pernah ia hiraukan kini terasa begitu kuat. Mengapa Reno begitu protektif terhadap laptop yang katanya sudah rusak?
Sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya. Rencana yang berbahaya, namun harus ia lakukan. Malam ini, saat semua orang sudah tertidur, ia akan menyelinap ke gudang itu. Ia harus menemukan apa yang ada di dalam laptop tua itu, apa pun risikonya.