Mengapa Kamu Diam Saja, Rei?

1207 Words
Pagi menjelang dengan cara yang sama seperti ratusan pagi sebelumnya, namun bagi Reina, udara yang ia hirup terasa berbeda. Tidak ada lagi kepasrahan yang membebani dadanya. Yang ada hanyalah es dingin dari sebuah tekad yang telah membeku sempurna di dasar hatinya. Ia menyiapkan sarapan, memastikan seragam Rio bersih, semua dilakukan dalam keheningan yang tak biasa. Di meja makan, suasana terasa lebih mencekam dari biasanya. Indri menatap Reina dengan tatapan menyelidik, seolah bisa mencium perubahan dalam diri menantunya. "Tumben kamu diam saja dari tadi, Rei? Biasanya pagi-pagi sudah ngoceh kayak burung kenari," sindir Indri sambil menyendokkan nasi goreng ke piring Reno. Reina mengangkat wajahnya, memaksakan seulas senyum tipis. "Cuma lagi nggak enak badan aja, Bu. Sedikit pusing." "Pusing? Halah, alasan saja itu," cibir Indri. "Bilang saja kalau kamu masih marah soal yang kemarin. Kamu itu jadi perempuan jangan pendendam. Nanti rezekinya seret, lho." Reno, yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, akhirnya mendongak. Alisnya berkerut, menatap Reina dengan jengkel. "Kamu kenapa lagi, sih? Ibu itu ngomong baik-baik, lho. Jangan mulai cari masalah pagi-pagi, deh. Bikin mood kerja jadi jelek aja." Dulu, kata-kata seperti itu akan langsung menusuk jantung Reina, membuatnya ingin menangis. Sekarang, ia hanya merasakannya sebagai musik gratisan. Seorang pria di hadapannya bukanlah lagi suaminya, melainkan boneka milik ibunya. "Nggak ada masalah kok, Mas. Aku beneran pusing," jawab Reina datar, suaranya nyaris tanpa emosi. "Mungkin kecapekan." "Makanya aku bilang, jadi istri itu jangan sok sibuk! Urusan rumah sama anak saja sudah cukup, nggak usah mikirin yang aneh-aneh," timpal Reno tajam sebelum kembali menunduk pada layar ponselnya, mengakhiri percakapan. Reina menatapnya sejenak. Pria yang dulu berjanji akan menjaganya dari siapapun yang menyakitinya, kini menjadi pelindung utama bagi orang yang paling sering melukainya. Sebuah kenyataan yang begitu pahit. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Rio, yang makan dalam diam, matanya bergerak cemas antara ibu, ayah, dan neneknya. Hati Reina teriris. Demi bocah ini, ia harus kuat. Demi masa depan Rio, ia harus memenangkan pertarungan ini. Siang itu, saat Indri pergi ke acara arisan dan Reno bekerja, Reina mulai menjalankan misinya. Ia memanfaatkan waktu untuk memetakan medannya. Gudang belakang adalah tujuannya. Kuncinya, seperti yang ia ingat, tergantung di sebuah rak kayu di dapur, bercampur dengan kunci-kunci lain yang jarang terpakai. Kunci berkarat dengan gantungan usang bertuliskan ‘GUDANG’. Ia mendekati rak itu, jantungnya berdebar. Tangannya gemetar saat menyentuh kunci dingin itu. Sejauh ini mudah. Tantangan sebenarnya adalah malam nanti, saat ia harus bergerak dalam gelap tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Pikirannya terus berputar, menyusun strategi. Ia harus memastikan Rio tidur nyenyak. Ia akan membacakan dongeng lebih lama dari biasanya. Ia juga harus memastikan Reno dan Indri sudah masuk ke kamar mereka masing-masing. Indri biasanya tidur cepat setelah menonton sinetron favoritnya, sekitar jam sepuluh. Reno, sebaliknya, sering terjaga hingga larut malam bermain gim di ponselnya. Itu adalah rintangan terbesarnya. Ia harus menunggu hingga Reno benar-benar terlelap. Malam harinya, semua berjalan persis seperti rutinitas biasa, sebuah sandiwara yang Reina mainkan dengan sempurna. Ia tersenyum, melayani makan malam, dan bahkan menanggapi obrolan ringan Indri tentang gosip di arisannya. Ia adalah aktris terbaik di panggung nerakanya sendiri. "Rio sudah tidur?" tanya Reno saat Reina kembali masuk ke kamar mereka setelah menidurkan putranya. "Sudah, Mas. Kelihatannya capek banget hari ini," jawab Reina sambil menyiapkan pakaian kerja Reno untuk besok. "Baguslah," gumam Reno, matanya terpaku pada layar ponsel, jarinya bergerak lincah. Suara tembakan dan ledakan dari gim memenuhi keheningan kamar. Reina berbaring di sisinya, membelakangi Reno. Ia tidak memejamkan mata. Ia menunggu. Setiap menit terasa seperti satu jam. Detak jam dinding di ruang tengah terdengar seperti genderang perang. Satu jam berlalu. Dua jam. Suara dari ponsel Reno akhirnya mereda. Reina menajamkan telinganya, mendengarkan perubahan pada pola napas suaminya. Tak lama kemudian, dengkuran halus yang sangat ia kenal mulai terdengar teratur. Inilah saatnya. Dengan gerakan yang diperlambat hingga nyaris tanpa suara, Reina menyingkap selimutnya. Kaki telanjangnya menapaki lantai dingin dengan kehati-hatian seekor kucing. Ia berhenti sejenak setiap beberapa langkah, memastikan dengkuran Reno tidak berhenti. Jantungnya terasa seperti akan melompat keluar dari dadanya. Ia berhasil keluar dari kamar dan menutup pintu sepelan mungkin, menyisakan celah sedikit agar tidak menimbulkan bunyi ‘klik’. Lorong rumah terasa gelap dan asing. Satu-satunya penerangan adalah cahaya rembulan yang menyusup tipis dari jendela ruang tamu. Reina bergerak menuju dapur, matanya sudah beradaptasi dengan kegelapan. Tangannya meraba rak kunci. Ketemu. Kunci gudang terasa dingin dan nyata di genggamannya. Langkah berikutnya adalah yang paling berisiko, membuka pintu belakang yang terhubung ke halaman kecil menuju gudang. Engsel pintu itu terkenal suka berderit. Reina menahan napas, memutar kenop pintu dengan gerakan super lambat. Terdengar bunyi ‘krieeet’ pelan yang di telinganya terdengar sekeras jeritan. Ia membeku, menunggu reaksi dari dalam rumah. Hening. Tidak ada suara apa pun. Dengan sedikit kelegaan, ia menyelinap keluar dan menutup pintu kembali dengan sama hati-hatinya. Gudang itu berdiri di sudut halaman, gelap dan menyeramkan. Reina menggunakan lampu senter dari ponselnya untuk menemukan lubang kunci. Butuh beberapa saat sebelum kunci berkarat itu akhirnya bisa memutar slotnya dengan bunyi ‘krak’ yang keras. Di dalam, bau debu dan apek langsung menyergap hidungnya. Dengan sorotan cahaya ponsel, ia melihat tumpukan barang-barang tua, perabotan rusak, dan kotak-kotak kardus yang entah apa isinya. Matanya mencari-cari. Di sudut paling belakang, di bawah sebuah meja kayu yang kakinya patah, ia melihatnya. Sebuah tas laptop hitam yang sudah kusam. Dengan napas terengah, ia menarik tas itu keluar. Debu tebal berhamburan, membuatnya terbatuk pelan. Ia segera membekap mulutnya, takut suaranya terdengar. Setelah memastikan keadaan aman, ia membuka ritsleting tas itu. Di dalamnya, terbaring laptop tua berwarna perak milik Reno. Harapannya kini bertumpu pada benda mati ini. Ia tidak punya waktu untuk membawanya ke kamar. Terlalu berisiko. Ia harus memeriksanya di sini, sekarang juga. Reina duduk bersila di lantai gudang yang kotor, meletakkan laptop itu di pangkuannya. "Ayolah... nyala," bisiknya pada diri sendiri, lebih seperti sebuah doa. Ia menekan tombol daya. Hening sejenak, lalu terdengar suara kipas prosesor yang berputar dengan berisik, tanda bahwa mesin tua itu masih hidup. Layar laptop menyala, menampilkan logo Windows versi lama yang memuat dengan sangat lambat. Reina menatap layar itu tanpa berkedip, cemas sekaligus penuh harap. Setelah penantian yang terasa selamanya, layar desktop akhirnya muncul. Reina menghela napas lega. Tidak ada kata sandi. Keberuntungan pertama malam ini. Tangannya yang sedikit gemetar menggerakkan kursor menggunakan touchpad. Ia membuka 'My Computer', lalu 'Drive D'. Matanya memindai nama-nama folder 'Kuliah', 'Musik', 'Foto Lama'. Semua terlihat normal. Dimana Reno akan menyembunyikan sesuatu? Mungkinkah kecurigaannya salah? Lalu, sebuah folder menarik perhatiannya. Namanya aneh, hanya serangkaian angka '110_215'. Tidak seperti nama folder lainnya. Dengan jantung berdebar kencang, ia mengklik dua kali folder itu. Isinya bukan dokumen atau foto. Melainkan puluhan rekaman audio dengan nama file yang diberi tanggal. Reina memilih file paling atas, file dengan tanggal paling lama, sekitar sebulan sebelum Reno melamarnya. Ia mengklik file itu. Hening sejenak, lalu sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar dari speaker laptop yang pecah. "...pokoknya kamu harus ikutin rencana Ibu, Reno. Jangan sampai melenceng sedikit pun. Perempuan itu, si Reina, kelihatannya gampang ditaklukkan. Toko kuenya juga lagi maju-majunya..." Itu suara Indri. Tepat saat itu, di tengah keheningan malam yang pekat, terdengar suara langkah kaki yang jelas dari luar gudang. Langkah yang mendekat. Disusul dengan bunyi kenop pintu belakang rumah yang diputar perlahan. Seseorang telah bangun. Dan orang itu kini berada hanya beberapa meter dari tempat persembunyiannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD