Bab.2 Di Ambang Kehancuran

1121 Words
  Kevin dan Novan terlonjak kaget mendengar jeritan Rosalie. Mereka saling menjauhkan diri dan mengambil pakaian masing-masing. Sementara Rosalie sudah berjalan dengan cepat menuju mobil yang mereka kendarai.   Elia tergopoh-gopoh mengikuti Rosalie. Pintu rumah kontrakan itu terbuka dan Kevin pun berlari mendekati Rosalie. Lelaki itu mencengkeram tangan Rosalie dengan kuat.   “Tunggu Ros! Kita bisa selesaikan semua ini baik-baik!!” bentak Kevin.   “Baik-baik katamu? Rasanya aku sudah tak ingin melihat wajahmu lagi!” tegas Rosalie sambil menahan air mata yang hendak keluar.   Elia berdiri di belakang Rosalie. Di lain arah, Novan juga berjalan mendekati mereka.   “Ayolah Ros, kita bisa bahas semua ini dengan kepala dingin,” ajak Novan.   “Diam! Aku tak punya urusan denganmu! Dan kamu Kevin, lepaskan aku!” perintah Rosalie sambil mencoba melepaskan tangannya.   Namun, Kevin terus mencengkeram tangan Rosalie sampai berwarna kemerahan. Beberapa orang yang kebetulan lewat kawasan itu menyaksikan kegaduhan Kevin dan Rosalie.   “Aku tak akan melepaskanmu Ros! Sekarang ikut aku!” perintah Kevin sambil menarik tangan Rosalie dengan kasar.   Elia mencoba membantu melepaskan genggaman tangan itu. Namun, upaya mereka tak juga memberikan hasil. Kevin terus memaksa.   “Kalau kamu nggak mau lepasin Rosalie, aku akan berteriak-teriak minta tolong. Dan aku akan beberkan kelakuan kalian pada warga sini!!” Elia dengan berani mengancam dua lelaki itu.   Sesaat Kavin dan Novan saling berpandangan. Mereka memikirkan ancaman Elia. Bagaimanapun hubungan mereka adalah hubungan terlarang.   “Jangan harap kamu bisa melakukan itu!” seru Novan sambil memegangi tangan Elia dan menyeretnya.   “Tolong! Tolong!!” teriak Elia begitu keras.   Melihat sahabatnya sudah berteriak, Rosalie pun ikut berteriak agar ada orang yang mendekat. Benar saja, beberapa saat kemudian para tetangga dari rumah kontrakan itu datang mendekat.   “Ada apa ini?” tanya seorang pria.   “Ini Pak, mereka mau melakukan kekerasan,” ucap Elia.   “Benarkah itu yang terjadi Pak Novan?”   “Tidak pak. Ini cuma salah paham. Kita cuma bercanda,” ucap Novan sambil tersenyum.   “Bohong Pak! Tolonglah kami. Lihat tangan saya saja dipegang sampai merah seperti ini!” ucap Rosalie.   “Pak Novan, kalau Anda dan teman Anda berbuat yang bukan-bukan lebih baik saya laporkan saja ke Pak RT. Nanti biar ada solusi yang tepat,” ucapan lelaki itu membuat Kevin dan Novan kembali saling menatap.   “Pak, asal bapak tahu, wanita ini istri saya sendiri. Jadi nggak perlu lah lapor ke RT!” pinta Kevin.   “Oh, justru karena itu Pak. Saya salah satu korban kekerasan dalam rumah tangga, KDRT! Jadi tolonglah saya!” pinta Rosalie sambil terisak.   “Baik! Kalau anda tidak mau melepaskan tangannya, kami akan lapor RT!” ancaman lelaki itu langsung didukung para warga yang sudah mulai berkerumun.   “Baiklah. Jangan laporkan kami. Aku akan melepaskannya,” kata Kevin.   Akhirnya Rosalie dan Elia pun bisa pergi dari tempat itu. Mereka segera masuk ke mobil. Dengan cekatan Elia memacu mobilnya dengan cepat. Mereka sudah aman dari Kevin dan Novan.   Napas Rosalie masih terengah-engah. Wajahnya merah padam karena malu dan kecewa. Sementara Elia masih memberinya ruang untuk diam. Rosalie harus bisa menenangkan dirinya.   “El, rumah tanggaku di ambang kehancuran,” ucap Rosalie mulai terisak.   “Aku paham perasaanmu Ros. Menangis lah agar kamu lebih tenang,” saran Elia.   Tanpa perintah dari Elia pun, air mata Rosalie sudah tak tertahankan. Bagaimana tidak? Ia melihat suaminya b******a dengan sesama lelaki. Tiga tahun usia pernikahannya, Rosalie sama sekali tak menyadari hal itu.   ‘Aku yang begitu bodoh. Aku bodoh! Kenapa aku tak segera sadar kalau ada yang aneh pada Kevin! Kenapa aku terus berharap pada lelaki yang tak pernah bisa aku harapkan? Ya Tuhan, penyesalanku tak bertepi,' batin Rosalie dengan air mata yang terus bercucuran.   Elia mengambilkan tisu untuk wanita malang di sampingnya. Sesekali ia menepuk-nepuk pundak Rosalie berharap agar wanita itu lebih baik.   Setengah jam berlalu, mereka sudah cukup jauh. Setelah air mata Rosalie reda, Elia mengajak sahabatnya untuk makan dan minum di sebuah cafe.   “Aku tahu perasaanmu Ros. Kamu pasti sangat kecewa. Aku juga tak pernah menyangka Kevin seperti itu,” ucap Elia mengawali pembicaraan mereka.   “Sepertinya, aku tak bisa menjalani rumah tangga ini lagi El. Hatiku sudah terlalu sakit. Aku tak mungkin bisa memaafkan lelaki itu,” kata Rosalie.   “Iya juga sih. Nggak ada jaminan kalau Kevin bisa menjadi lelaki normal seperti pada umumnya. Cintanya bukan untuk wanita. Em, tapi apa kamu baik-baik saja Ros??” tanya Elia sambil menatap sahabatnya lekat-lekat.   Rosalie menelan salivanya dengan berat. Ia sangat sakit. Ia begitu terpuruk. Saat ini Rosalie merasa sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Titik di mana ia tak menemukan kebahagiaan sedikitpun.   Namun, hidup harus terus berjalan. Ia tak bisa terus menerus meratapi kemalangan itu. Ia harus tetap hidup dengan semua tantangan yang ada. Rosalie menghela napasnya beberapa kali.   “Ros, jangan melamun. Maaf kalau kata-kataku ada yang salah,” kata Elia.   “Nggak kok. Aku sudah memutuskan semuanya. Aku akan bercerai dengan Kevin,” ucap Rosalie tegas.   Mata Elia membulat sempurna melihat ketegaran di wajah Rosalie. Bagi Rosalie itu adalah jalan terbaik.   “Bagaimana kalau Kevin menolak perceraian itu?” tanya Elia.   “Terserah. Yang penting aku tetap harus berpisah dengannya.”   “Aku takut dia menyakitimu. Sepertinya dia tidak segan-segan melakukan kekerasan.”   “Benar katamu. Baiklah, apakah aku boleh meminta tolong padamu?” tanya Rosalie.   “Minta tolong apa?”   “Antarkan aku ke rumah orang tuaku. Aku yakin papa dan mamaku akan melindungiku,” ucap Rosalie.   “Tentu saja aku mau. Kamu yang sabar ya. Aku doakan agar semuanya lancar. Jangan patah semangat!” saran Elia.   “Terima kasih El. Kamu sahabat terbaikku.”   “Sama-sama.”   Elia mengantarkan Rosalie pulang. Masih dengan pakaian kerjanya, Rosalie masuk ke rumahnya. Rumah yang mewah dan megah. Sementara Elia pamit pulang untuk memberikan kesempatan pada Rosalie dan keluarganya.   “Nona?? Mari masuk! Saya akan beritahu tuan dan nyonya,” sapa salah satu asisten rumah di rumah itu.   Rosalie masuk dan duduk di ruang tamu. Ia menunggu Pak Brata dan Bu Rita keluar. Saat melihat wajah ayah dan ibunya, Rosalie tak kuasa menahan tangis.   Dengan mata berlinang, ia berlari memeluk Bu Rita. Dua orang itu langsung panik melihat putrinya pulang dengan keadaan menangis. Beberapa kali Pak Brata mencari kehadiran Kevin, tapi ia tak menemukan siapapun.   “Kevin mana? Apa kamu datang sendiri?” tanya Pak Brata tampak marah.   “Maafkan aku Pa. Aku tidak menuruti perintah Papa. Sekarang aku menyesal!” ucap Rosalie sambil bersimpuh di depan kaki ayahnya.   “Ada apa ini Ros?? Jelaskan dengan baik-baik. Jangan buat kami bingung seperti ini,” pinta Bu Rita.   “Apakah rumah tangga kalian hancur? Sudah Papa bilang sejak awal, Kevin bukan jodoh yang tepat untukmu! Lalu setelah kacau seperti ini, kamu kembali ke padaku?? Apa kamu tidak malu Ros? Dasar anak pembangkang!” ucap Pak Brata geram.   Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD