Bab.3 Kemarahan Pak Brata

1304 Words
  “Tahan amarahmu pa! Jangan marahi anak kita seperti itu. Rosalie, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!” perintah Bu Rita.   Rosalie masih memeluk kaki ayahnya sambil terisak. Dia tahu, kemarahan Pak Brata tidak bisa dihindari. Sejak pertama ia memperkenalkan Kevin kepada orang tuanya, Pak Brata yang tidak setuju dengan hubungan mereka.   Seolah sudah memiliki firasat tentang apa yang akan terjadi. Ayahnya menolak kehadiran Kevin dengan terang-terangan. Bu Rita yang selalu mendukung apa yang Rosalie inginkan.   Bibir Rosalie terasa kaku untuk menjelaskan semuanya. Ia tak berani berucap di depan ayahnya. Hanya air mata yang terus menerus mengalir di pipinya. Mata Rosalie sudah semakin bengkak. Bu Rita membungkukkan badannya dan meminta Rosalie berdiri.   “Tidak Ma. Aku ingin dapat maaf dari Papa,” ucap Rosalie parau.   “Rasanya Papa sangat muak dengan masalah rumah tanggamu ini!! Beberapa kali aku tahu kamu sedih. Saat aku tanya, kamu tidak menceritakan yang sebenarnya. Lalu kamu selalu percaya pada suamimu itu! Papa lelah! Kamu tidak pernah mendengarkan nasehat Papa! Kamu terlalu dibutakan oleh cinta!” ucap Pak Brata dengan semua kemarahannya.   “Pa, sudahlah! Jangan buat Rosalie semakin sedih. Dia membutuhkan kita. Sebagai orang tua, kita harus ada di sampingnya dan mendengarkan keluh kesahnya. Apalagi dia sedang ditimpa musibah seperti ini,” ucap Bu Rita sambil menyentuh lengan Pak Brata dengan lembut.   “Dia menderita karena kamu selalu memanjakannya!” tegas Pak Brata sambil melangkah pergi.   Rosalie menangis tersedu-sedu sambil melihat ayahnya meninggalkannya begitu saja. Bu Rita menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menuntun Rosalie agar tidak bersimpuh di lantai.   “Mama akan coba jelaskan perlahan pada Papamu. Kamu tenang saja ya. Sekarang, ceritakan semuanya pada Mama,” pinta Bu Rita sambil merangkul Rosalie dan duduk di sampingnya.   Rosalie mengusap air mata yang ada di pipinya. Namun, berulang kali ia membersihkannya, air mata masih terus keluar seolah tiada henti. Belum sempat ia menceritakan semuanya, adik laki-lakinya pulang dari kampus.   Melihat Rosalie menangis, Barra berlari mendekati kakaknya. Ia tampak khawatir dengan keadaan Rosalie. Pak Brata dan Bu Rita, keluarga kaya raya itu hanya memiliki dua orang anak. Rosalie dan Barra, kakak beradik itu sangat akur sejak kecil.   “Mbak kenapa Ma??” tanya Barra.   Rosalie menatap adiknya. Seketika gadis itu memeluk adiknya dan menumpahkan air matanya lagi. Bu Rita tampak gelisah. Sebagai seorang ibu, ia merasa kalau masalah Rosalie kali ini benar-benar serius.   “Ros, sekarang ada Mama dan Barra. Lebih baik ceritakan apa masalahmu. Tak baik memendamnya sendirian. Mau bagaimanapun kami adalah keluargamu. Tempatmu bernaung,” nasehat Bu Rita.   “Aku ingin cerai Ma. Aku sudah tidak tahan lagi menjalani pernikahan dengan Kevin,” ucap Rosalie.   “Bercerai?? Apa yang terjadi? Apa Kevin punya wanita lain? Apa Kevin menyakitimu?” tanya Bu Rita.   “Biar aku hajar anak itu Mbak. Sekarang juga aku bisa buat si Kevin itu babak belur,” ucap Barra ikut emosi.   “Jangan Bar. Aku ingin menyelesaikan semua ini dengan cepat. Dan aku harus bercerai,” kata Rosalie dengan suara penuh keyakinan.   “Tapi apa yang terjadi, mama masih tak mengerti,” ucap Bu Rita.   “Ini memalukan Ma. Kevin penyuka sesama jenis. Dia mencintai laki-laki. Selama tiga tahun aku menikah dengannya, dia tak pernah menyentuhku. Aku sempat curiga dan akhirnya menyelidikinya. Lalu apa yang aku lihat, sungguh menjijikkan,” ungkap Rosalie.   “Astaga!! Mimpi apa aku semalam. Aku tak menyangka nasibmu akan seperti ini. Kevin benar-benar keterlaluan!” Bu Rita pun ikut geram.   “Kevin sama saja sudah mempermalukan keluarga kita Ma! Bisa-bisanya dia mempermainkan Mbak Rosalie begitu saja! Aku tidak terima Mbak! Aku akan kasih dia pelajaran sekarang juga!” ucap Barra sambil meninggalkan tempat itu.   Bu Rita dan Rosalie berteriak untuk mencegah Barra. Namun, lelaki itu terus melangkah ke arah pintu keluar. Ia tak terima kakaknya diperlakukan seperti itu.   Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah hubungan asmara. Kalau memang Kevin tidak mencintai wanita, lebih baik dia bilang sejak awal. Tak hanya Barra, Bu Rita pun juga berpikiran demikian.   Sakit hati Rosalie bukan hanya karena kenyataan yang menyesakkan d**a itu, tapi juga karena merasa dipermainkan. Hatinya sudah terlanjut dalam mencintai Kevin. Namun, apa balasan yang ia terima?   “Bar! Aku memang sakit hati! Tapi jangan lakukan hal itu! Kamu hanya akan membuat semuanya semakin kacau!” pinta Rosalie dengan suara parau.   “Tidak Mbak! Akan aku buat remuk hidungnya!” ucap Barra sambil terus melanjutkan langkahnya.   “Barra!! Kembalilah!” suara Pak Brata terdengar menggelegar.   Barra menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan melihat ayahnya keluar. Rupanya Pak Brata mendengarkan cerita Rosalie dari dalam. Barra pun kembali sesuai perintah ayahnya.   “Duduklah di sini! Papa mau bicara!” perintah Pak Brata.   Rosalie menggigit bibir bawahnya. Ia masih takut ayahnya akan memarahinya. Wajah Pak Brata memang masih terlihat penuh amarah. Beberapa kali Rosalie mengatur napasnya sementara Bu Rita mengusap punggungnya.   Pak Brata sejak dulu mendidik anaknya dengan sangat tegas. Rosalie melawan ayahnya karena cinta dan sekarang ia kena batunya. Kalaupun Pak Brata marah, itu adalah hal yang wajah bagi Rosalie.   “Aku tak menyangka akan seperti ini jadinya. Suamimu telah mencoreng nama baik keluarga kita. Jadi, aku sendiri tak bisa tinggal diam. Meski aku belum sepenuhnya memaafkanmu, Rosalie!” ucap Pak Brata.   “Tapi kenapa Pa? Mbak Rosalie sudah cukup menderita dengan semua ini. Kenapa Papa tidak bisa memaafkannya?” tanya Barra.   “Ini juga salah satu pelajaran untukmu! Seharusnya seorang anak mempertimbangkan nasehat orang tua. Tidak seenaknya menjadi pembangkang. Setelah semua terjadi seperti ini, orang tua juga yang repot! Jangan tiru kakakmu! Dan Rosalie, sebaiknya kamu menggunakan pengalaman ini untuk pelajaran seumur hidupmu!” tegas Pak Brata.   “Baik Pa. Aku terima keputusan Papa,” kata Rosalie pasrah.   “Jadi apa yang harus kita lakukan Pa?” tanya Bu Rita.   “Kita undang keluarga Kevin untuk makan malam. Papa sangat setuju kalau kamu ingin bercerai dengan Kevin. Aku yakin, orang tuanya juga belum tahu kedok busuk dari Kevin itu,” ucap Pak Brata.   Tidak ada yang menolak ucapan Pak Brata. Semua menghormati keputusan Pak Brata sebagai kepala rumah tangga. Rosalie pun mengambil cuti beberapa hari untuk mengurus perkara rumah tangganya.   Akhirnya malam yang dinantikan pun tiba. Mereka menerima kedatangan Kevin dan keluarganya. Pak Anton dan Bu Marni, orang tua Kevin sepertinya belum tahu adanya masalah itu.   “Terima kasih atas kedatangan bapak dan ibu. Maksud dari undangan kami ingin membahas perceraian Rosalie dan Kevin. Karena penikahan mereka dilakukan secara baik-baik, maka saya ingin perceraian ini juga dilakukan dengan cepat dan lancar,” ucap Pak Brata tanpa basa-basi.   “Perceraian??” tanya Pak Anton heran.   Pak Brata menjelaskan masalah yang terjadi. Kevin menundukkan kepalanya. Sementara wajah Pak Anton dan istrinya merah bak udang rebus. Mereka tentunya menahan malu.   “Apa benar itu Kevin?” tanya Pak Anton.   Suasana menjadi hening. Kevin seperti tak mau mengakui semua kelakuannya. Semua perhatian sudah tertuju pada Kevin. Bahkan Barra sudah sejak tadi mengepalkan tangannya bersiap untuk memberikan pelajaran pada kakak iparnya itu.   “Aku tidak mungkin melakukan semua itu! Ini semua hanya akal-akalan Rosalie. Mungkin saja dia punya lelaki lain. Jadi dia ingin bercerai,” ucapan Kevin mengagetkan seisi ruangan itu termasuk Rosalie.   “Bisa-bisanya kamu bilang seperti itu! Sudah jelas salah tapi malah mengkambinghitamkan orang lain!” Rosalie pun angkat bicara.   “Salah?? Apa kamu punya buktinya?Tidak kan?? Lagian ayah dan ibu apakah percaya dengan cerita asal-asalan itu?” tanya Kevin sambil menatap orang tuanya.   “Iya. Aku sebagai ibunya tidak merasa ada yang aneh pada Kevin. Dia normal sejak kecil,” ucap Bu Marni.   “Benar. Jadi jangan asal tuduh sembarangan! Pak Brata juga harusnya tahu itu. Apa putri bapak sudah siap menjadi janda? Coba kita selesaikan masalah ini baik-baik,” kata Pak Anton.   Sejenak Rosalie menatap Kevin dengan nanar. Lelaki itu tersenyum tipis merasa dibela oleh kedua orang tuanya. Rosalie menghela napas panjang.   “Baiklah, kalau memang ayah dan ibu butuh buktinya. Aku akan tunjukkan buktinya. Jadi siap-siap saja dengan kenyataan itu,” ucapan Rosalie membuat Kevin terhenyak.   Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD