Kesalahan Pertama

1514 Words
Sampai di apartemen, aku ganti seluruh pakaian basah tadi dengan yang baru dan masih hangat. Satu dari banyak keuntungan yang aku dapat karena tinggal sendiri ialah bisa bebas berkeliaran hanya dengan menggunakan pakaian dalam di apartemen. Kumasukkan semua pakaian kotor dan basah ke dalam mesin cuci. Pakaianku akan bersih dalam lima puluh menit. Lalu aku pergi ke kamar yang jaraknya hanya beberapa meter dari area mesin cuci. Apartemenku tidak terlalu besar, bahkan aku bisa mendengar suara mesin cuci dari kamar. Sepertinya, tidur siang pilihan yang tepat saat ini. Aku akan mendengar mesin cuci jika sudah selesai dan akan mengeluarkan pakaiannya nanti. "Hanya lima puluh menit," kataku sebelum menutup mata. Suara alarm membangunkanku. Aku bergerak sedikit tidak nyaman di tempat tidur, menyipitkan mata karena sinar matahari yang masuk melalui jendela. Setelah beberapa detik mencoba untuk bangun, aku lihat layar ponsel dengan cemberut. Kemudian mataku benar-benar membulat karena terkejut. Aku langsung bangkit dari tempat tidur. Astaga! aku tertidur semalaman bahkan melupakan mesin cuci. Aku keluarkan pakaian kemarin yang ternyata sudah lembap. “Olivia! Kenapa harus ketiduran, sih!” umpatku. Aku berlari ke ruang makan dan menggantung pakaian itu di kursi. Setelah itu aku mandi. Kesialan terbaru di pagi ini, keran air di kamar mandi masih saja rusak, padahal kemarin mereka bilang sudah diperbaiki. Akhirnya aku pakai air di wastafel dan mulai membersihkan seluruh tubuh dengan handuk. Bukan mandi yang menyegarkan, tapi setidaknya aku tidak akan bau sepanjang hari. Setelah itu aku kembali ke kamar dan mengambil celana jeans, blus merah muda pastel untuk dipakai pagi ini. Beberapa barang di kamarku masih sedikit berantakan karena belum dirapikan. Jadi aku hanya mengambil sepatu pertama yang kutemukan. Aku lihat bayanganku di jendela. Rambut yang kusisir pakai jari terlihat masih oke. Masa bodoh! Aku terburu-buru. Penampilanku memang tidak terlalu bagus, tapi setidaknya aku sudah mandi dan tidak akan bau. Pukul 6.30, aku berangkat. Taksi yang aku pesan beberapa menit lalu sudah menunggu di lobi. Masih ada beberapa blok lagi sebelum sampai di perusahaan, tetapi aku baru ingat harus membeli kopi untuk atasanku setiap pagi. "Pak berhenti!" seruku. Aku membayarnya dan cepat-cepat keluar dari taksi. Aku masuk ke sebuah kafe di sana. Sayangnya, antrean panjang menyambutku dan tanpa ragu aku pergi dari sana. Tidak ada banyak waktu untuk mengantre. Begitu tiba di kafe yang tepat, aku memikirkan kopi seperti apa yang akan atasanku suka. Aku bahkan tidak mengenalnya dan tidak ada yang bilang jenis kopi apa yang harus dibeli. Kalau untuk orang tua yang lelah membaca atau meninjau dokumen malam sebelumnya, dia pasti membutuhkan sesuatu yang sangat kuat untuk membuatnya tetap terjaga sepanjang hari. “Double shot-nya satu, ya!” Setelah dapat, aku buru-buru pergi dari sana tanpa taksi. Aku berlari dengan cepat agar sampai tepat waktu. Gedung kantor sudah ramai dengan pekerja. Aku langsung berlari ke lift dan menuju lantai paling atas. Syukurlah. Aku bisa bernapas lega karena sepertinya atasanku belum datang. Dengan sisa waktu yang ada, aku melakukan semua yang diperintahkan Sonia kemarin. Menyiapkan berkas, menyalakan komputer, dan membersihkan kedua meja kami. Setelah selesai, tampaknya aku masih punya banyak waktu sebelum atasan datang. Jadi, aku perbaiki kabel di bawah komputer agar terlihat lebih rapi. Masih jam sembilan kurang lima menit. Aku putuskan meninggalkan ruangan dan berdiri di samping pintu, alih-alih menunggunya tiba. Pintu lift terbuka setelah berbunyi. Sonia langsung berdiri dan tersenyum ke arah lift. Sontak aku jadi ikut menoleh. "Selamat pagi, Pak Habil!" sapa Sonia penuh keramahan. Aku terkejut melihat pria yang baru saja tiba. Ekspresinya tampak sangat serius. Dia pria yang tinggi, sepertinya 1,8 m, berkulit putih, rambut hitam pekat yang sangat keren, dan mata cokelat madu. Jas yang dikenakannya sangat pas dengan tubuhnya yang kencang dan terlihat sangat gagah. "Selamat pagi, Pak Habil! Saya yang akan menjadi asisten baru Anda ...." Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, dia sudah melewatiku dan masuk ke dalam kantornya. Pasti pipiku memerah karena malu. Aku memandang Nona Sonia yang memberi isyarat agar aku masuk ke kantor menemuinya. “Oke. Aku masuk sekarang,” ucapku seraya berjalan ke sana. Dia duduk di depan mejanya dan mengambil kopi yang kutinggalkan di sana. Aku tersenyum puas, senang karena aku telah memenuhi semua tugasku meskipun terlambat bangun. Senyumku menghilang setelah dia menyesap dan mengerutkan wajah. "Kopi apa ini?!" Suaranya rendah dan bergema di seluruh ruangan. Untuk beberapa alasan aneh, suaranya membuatku merinding. "Itu kopi ...." Aku tergagap, tatapannya mencerminkan kekesalan. "Double shot, saya kira Anda suka kopi itu.” "Singkirkan!" katanya. Dia meletakkan kopi itu di mejanya. Satu kesalahan. Aku tidak mendapatkan kopi kesukaannya pagi ini. Dengan cepat aku berjalan ke mejanya untuk mengambil kopi itu dan membuangnya. "Apa agenda saya untuk hari ini?" tanyanya saat aku membuang kopi. Aku mendekat dan mengambil agenda yang sebelumnya telah dicetak. Aku buka map dan meletakkan kertas-kertas itu kembali di mejanya. "Ini agenda Anda untuk hari ini," jawabku, tapi dia malah tidak melihat kertas-kertas itu. Dia terus menatap komputernya. Akhirnya aku ambil dan mulai membacakan seluruh jadwalnya. Begitu fokus aku membacanya sampai tidak sadar dia melirikku sepanjang waktu. Setelah selesai membaca, aku menoleh dan baru sadar dia menatap langsung ke mataku. "Terima kasih," katanya sambil menatapku. Aku menatap matanya, tetapi segera mengalihkan pandangan dan hanya mengangguk. Ini pertama kalinya ada seseorang menatap mataku dan aku lebih suka dia tidak melakukannya lagi. Aku tidak mau dilihat seperti itu karena seolah-olah mengintimidasi. "Anda masih punya 30 menit sebelum rapat. Apa Anda ingin saya ambilkan kopi lagi?" tanyaku sambil sedikit meremas map di tanganku dengan takut. Aku benar-benar ingin memperbaiki kesalahan pertamaku pagi ini. "Siapa nama Anda?" tanyanya yang masih sepenuhnya mengabaikan pertanyaanku. Baru aku membuka mulut untuk menjawabnya, dia sudah menyela. "Rina Renata.” Oke. Dia pasti membaca lamaranku yang dikirim personalia. "Baiklah, Nona Renata, saya akan memberi Anda beberapa info yang saya ingin Anda ikuti mulai hari ini." Saat itu, aku ambil buku catatan dan mulai menuliskan apa yang akan dia katakan. "Ambil tablet dan berhenti menulis data penting di buku catatan Anda! Sudah terlalu kuno kalau menulis pakai kertas! Beli tablet baru dengan kartu perusahaan." Aku menatapnya. Bibir bagian bawah kugigit karena malu. "Jangan bawakan aku kopi tadi lagi kecuali kau ingin membunuhku. Aku mau kopi biasa," katanya. Aku mengangguk. Oke, dia tidak suka double shot, hanya suka single shot. "Selama saya tidak memanggil, Anda harus tetap di luar ruangan ini!" katanya. Aku mengangguk mengiyakan. Apa lagi yang harus aku katakan? Aku hanya bisa patuh. "Kau bisa menyetir?" tanyanya. "Bisa, Pak!" jawabku. "Sempurna, kau akan menyetir, kalau diperlukan," jawabnya. "Jika perlu, kau harus menemaniku ke rumah untuk menyelesaikan beberapa dokumen. Jangan khawatir, kau bisa tinggal di kamar tamu dan hanya beberapa kali saja kalau mendesak. Kau akan dapat uang lembur dua kali lipat. Ada pertanyaan?" Untungnya hanya diperlukan. Awas saja sampai setiap malam. Yang ada aku tidak bisa pergi sama teman-teman nanti. Apa perlu aku bawa piama ke rumahnya? "Tidak, Pak Habil," jawabku dengan percaya diri. "Nona Renata, menurutmu berapa usia saya?" tanya pria ini yang membuatku menatapnya dengan terkejut. Mengapa dia menanyakan itu padaku? Aku menatapnya dengan tidak percaya selama beberapa detik, ekspresinya tetap tidak berubah. Berarti dia serius dengan pertanyaannya. Dengan hati-hati aku memeriksa wajahnya. Meskipun memiliki beberapa garis ekspresi, aku tidak berpikir dia terlalu tua. "Tiga puluhan," jawabku. Dia tersenyum tipis. Setelah itu, tawa keluar dari bibirnya, cara dia tersenyum padaku agak mengejek. "Saya tidak tahu apa saya harus merasa tersanjung atau tersinggung," katanya seraya menggelengkan kepalanya. “Jangan panggil saya dengan sebutan Bapak. Saya belum terlalu tua.” "Oke!" kataku sedikit gugup. Akan aneh memanggil bosku dengan nama. Masa bodoh! Pokoknya setelah ini, aku akan tetap memanggilnya Pak. "Sepertinya kita harus pergi. Anda ada rapat beberapa menit lagi," kataku dan dia mengangguk. Dia bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan kantor. Aku mulai berjalan di belakangnya. Setelah keluar dari lift, kami menuju ruang rapat. Semua orang yang melihat Erik menyapanya dengan hormat, meskipun dia tidak menanggapi siapa pun. Sepanjang perjalanan, aku memperhatikan semua wanita di sini mengenakan rok formal dan blus berkancing. Untuk sesaat, aku merasa sangat tidak nyaman karena aku satu-satunya wanita di perusahaan yang mengenakan jeans dan blus. Untungnya, aku punya rok, blus formal, dan beberapa sepatu hak tinggi yang bisa kupakai besok. Beginilah sisa hari itu berlalu. Kami berpindah dari satu tempat ke tempat lain agar dia bisa menghadiri berbagai rapat. Aku perhatikan kebanyakan orang yang bekerja di sini memandang Erik Habil dengan sedikit rasa takut. Sering kali, saat mereka melihatnya berjalan di lorong, beberapa orang akan mengambil jalan yang berbeda untuk menghindari berpapasan dengannya. Sebagian besar rapat bersifat informatif, membahas proyek-proyek masa depan. Ketegangan suasana sering kali menyelimuti, walaupun Erik tampak sangat santai dan percaya diri menanggapinya. Kami semua, termasuk saya sendiri, malah tampak sangat gugup. Erik Habil adalah salah satu orang yang benar-benar tidak Anda inginkan sebagai musuh. Selain itu, dia sangat mengintimidasi semua orang, bahkan karyawannya. Setiap intervensinya dalam rapat membuat semua orang di meja terdiam. Dengan pertanyaan sederhana, dia bisa menghancurkan presentasi karyawannya jika dia berniat melakukannya. Hari ini, jam kerjaku selesai jam 10 malam. Aku sampai di apartemen jam 12 karena jalanan masih saja macet. Saat tiba di apartemen, aku benar-benar sudah terlalu lelah. Sepatu yang kupakai kulempar dan langsung melompat ke tempat tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD