Sombong s****n

1458 Words
Sesuai instruksi Pak Erik Habil, aku berhasil memperbaiki kesalahan kemarin. Aku membeli tablet mode terbaru dan memindahkan semua hal penting dari catatan ke perangkat itu. Dua hari menjadi asisten pribadi Pak Erik mulai membuatku sadar bahwa lantai ini sepertinya agak misterius. Dengan lantai seluas ini, hanya ada aku, Sonia si sekretaris, dan bos kami. Bisa diartikan, berada di lantai ini merupakan kesempatan istimewa. Semua pekerja ada di lantai bawah. Aku jadi membayangkan bagaimana rasanya berada di lantai lain. Dari meja yang aku pakai untuk bekerja, aku bisa melihat Sonia di tempatnya, mulai dari melakukan hal dengan komputernya, menjawab panggilan telepon, dan bersantai jika memang tidak ada pekerjaan. Omong-omong, dia wanita yang elegan. Rambutnya selalu diikat tinggi dan menjuntai panjang ke bawah. Selama ini pakaiannya selalu berwarna pastel, bahkan aku baru sadar semua pernak-perniknya juga berwarna pastel termasuk pulpen, map, ponsel, dan hiasan-hiasan di mejanya. Saat sedang mengamati Sonia, telepon ruangan Erik berbunyi dan aku segera menghampiri untuk mengangkatnya. "Buat reservasi untuk dua orang di restoran yang sering saya kunjungi!” Itu perintah dari Erik di telepon. Aku belum menjawab, dia sudah menutup teleponnya. Tenang, ini perintah atasan yang harus dilakukan tanpa perlu aku menjawabnya. Setelah mengembalikan gagang telepon, aku berjalan ke meja. Kemudian aku ambil tablet dan melihat catatan reservasi yang pernah ada dari 15 hari yang lalu untuk menemukan restoran yang paling sering dikunjungi Pak Erik. Ada tujuh kali reservasi restoran dengan nama yang sama dan membuatku langsung menyadari untuk memesan di sana juga. Jika Pak Erik akan pergi siang ini untuk makan siang, berarti aku akan punya banyak waktu di kantor. Maka berarti aku bisa berbincang-bincang dengan Sonia untuk mengenalnya lebih baik. Setelah beberapa saat merapikan berkas yang berantakan, Erik mengabari dia akan pergi sekarang dan kembali jam dua siang. Dia juga bilang aku bisa keluar untuk makan siang selama dia di luar juga. Setelah dia masuk ke dalam lift, aku tersenyum bahagia. Akhirnya! Aku bisa bebas meninggalkan kantor. Aku lihat Sonia berdiri dan mengambil tasnya. Aku pun segera melakukan hal yang sama dan mendekati. "Bagaimana kabarmu, Sonia?" tanyaku sambil tersenyum. "Halo, Rina!” jawabnya sambil tersenyum juga. Ekspresinya sedikit terkejut, meskipun aku tidak tahu persis mengapa dia seperti itu. "Sebenarnya lagi menunggu beberapa mobil impor dari Eropa bulan depan dan saya harus melacak semuanya," katanya menjawab. "Bagaimana denganmu?" "Sejauh ini oke, walaupun sudah melakukan beberapa kesalahan, tapi saya rasa saya sudah tahu cara memperbaikinya," jawabku sambil tertawa kecil. Dia hanya tersenyum. "Apa kamu juga mau makan siang?" tanyaku penasaran. "Ya," jawabnya. "Sempurna. Saya juga mau makan siang. Mau pergi bersama?" tanyaku lagi sambil tersenyum padanya. Senyum tadi menghilang dan dia sedikit khawatir sekarang. "Maaf, Rina, saya sudah ada rencana dengan rekan kerja yang lain," jawabnya sedikit sedih. Aku tersenyum canggung. “Oh, tenang saja. Mungkin bisa lain kali. Semoga harimu menyenangkan, ya!” Setelah mendahuluinya, aku masuk ke dalam lift yang langsung membawaku ke lantai satu. Omong-omong, gedung ini ada satu lift khusus yang hanya tertuju pada lantai ini dan mungkin sebenarnya lift khusus orang di lantai ini. Sehingga saat keluar dari lift, aku masih belum terbiasa dengan tatapan penasaran orang-orang di sana. Tetap saja aku masih belum tahu pasti mengapa mereka begitu sinis menatapku. Apa karena caraku berpakaian? Oke, setelah ini aku akan membeli pakaian kerja baru agar terlihat lebih formal. Mungkin mereka menatap sinis karena aku hanya menggunakan jeans dan blus di kantor, sementara mereka memakai rok formal, kemeja, dan juga blazer. Sebenarnya aku tidak pantas memakai pakaian formal, tetapi apa boleh buat? Erik pasti menegur kalau aku terus berpakaian seperti ini apalagi menghadapi klien-kliennya yang sepertinya juga tidak kalah kejam. Mulai hari ini, aku berencana untuk membeli setidaknya satu pakaian untuk bekerja. Satu saja sudah cukup, bukan? Aku masih belum punya banyak uang untuk membeli yang lainnya. Saat suapan pertama, ponselku berdering panggilan dari nomor tidak dikenal. Tentu saja aku mengabaikannya karena aku tidak kenal. Namun, tampaknya dia tidak mau menyerah. Dia terus menghubungi ponselku berkali-kali sampai akhirnya aku muak. "Siapa ini?" tanyaku dengan mulut penuh makanan. "Saya sudah selesai makan siang. Sekarang saya mau kamu ambil setelan baju di alamat yang saya kirim.” Itu suara Erik. Mataku melebar, bahkan hampir tersedak makanan. Belum aku jawab panggilan itu karena kupikir dia akan menutup teleponnya. Namun, dia masih menghubungi saat aku tergesa-gesa. Aku cepat-cepat menelan makanan dan menjawab, "Baik ....” Belum selesai aku menjawab, dia sudah menutup panggilannya lagi dan itu membuatku kesal. "Mengapa dia selalu begitu?" gumam aku sambil memutar mata. Segera aku menyelesaikan makan, membayar, dan naik taksi ke alamat yang dia kirim. Yang membuatku terkejut lagi, bagaimana caranya dia bisa dapat nomor teleponku? Selama ini aku menghubunginya pakai email saja. Ya kalau begitu, hidupku semakin tidak tenang. Makan saja tadi diganggu, apalagi kalau aku di kantor dan berbincang-bincang dengan teman kerja? Setibanya di toko yang dia minta, aku pergi ke resepsionis untuk membayar jas permintaannya dan mengambil tas berisi pakaian. Berat sekali, apa yang dia bawa sebenarnya? Akhirnya, aku kembali ke kantor setelah berlelah ria dengan panasnya kota Jakarta. Mudah-mudahan Erik belum ada di kantor, aku bisa bernapas lega jika dia belum sampai. Ternyata, tidak ada siapa-siapa di lantai ini. Sonia juga belum kembali. Aku merasa lega tidak pergi bersamanya. Jika dia lama seperti ini, mungkin aku bisa kewalahan menuruti keinginan Erik yang seperti tadi dan butuh waktu lama untuk kembali ke kantor. Tapi, pintu kantor Erik tertutup. Apa jangan-jangan dia sudah kembali? Perlahan-lahan aku mendekat dan mengetuk pintu itu pelan-pelan. Kemudian aku buka pintunya dan sialnya aku tersandung saat berjalan masuk. Aku jatuh di sana dan semua barang bawaan ikut berantakan. "Maaf. Saya beresin sekarang," ucapku dan cepat-cepat berdiri untuk mengambil kedua tas dari lantai. Apa-apaan ini?! Kalau memang tidak membantu, setidaknya melakukan apa gitu? Apa sebegitu sulitnya dia peduli sama seseorang? Aku berjalan menuju salah satu mejanya yang kosong dan meninggalkan kedua tas di sana. "Ini barang-barangnya," kataku dan dia mengangguk. Saat berbalik untuk meninggalkan kantornya, dia berbicara dan membuatku berhenti sejenak. "Tolong lebih hati-hati! Kau bisa saja merusak barang-barangku," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari kertas yang sedang dibacanya. "Baik," kataku tersenyum palsu. Astaga! Aku jadi merasa tidak enak. Setelah keluar dari ruangannya, aku ke toilet untuk memarahi diri sendiri atas kecerobohan tadi. Benakku dipenuhi dengan adegan yang baru saja terjadi tadi: aku jatuh di depannya, dia tidak menolongku bahkan tidak punya sopan santun untuk membantu bahkan peduli, dan dia juga tidak menanyakan keadaanku setelah itu, malah menegur. Pria yang sombong, dia tidak peduli dengan orang lain, hanya peduli dengan uangnya. Setelah tenang, aku kembali ke meja dan mengumpat sekali lagi ke depan tablet. “Sombong s****n!” Aku mengerutkan kening sambil menggosok pergelangan kaki yang masih sakit. Baru saja aku ingin mengumpat lagi, aku terkejut melihatnya sedang menatapku dari jendela dengan tatapan tajam. Sial. Aku alihkan pandangan. Bagaimana jika dia membaca bibir aku dan mengerti bahwa aku telah memanggilnya sombong s****n? Tidak mungkin aku ambil pena untuk berpura-pura menulis, pena saja tidak ada di meja. Bagaimana aku coba berpura-pura? Aku diam-diam melirik ke arahnya, dan ternyata dia tidak lagi duduk. Mataku melebar karena terkejut. Setelah beberapa saat, pintu ruangannya terbuka, membuatku sangat gugup sehingga secara tidak sengaja menjatuhkan tempat pensil di meja. Astaga, Rina! Kenapa harus seceroboh ini kalau sama dia? Satu pensil terguling dan mendarat tepat di tempat dia berdiri. Dia mengambil pensil itu dan mengembalikannya. "Terima kasih," ucapku dengan cemas, tanpa menatapnya. "Ikut saya!” titahnya setelah mengembalikan pensil itu kepadaku. Saat hendak berbicara, aku hanya melihat pria itu masuk ke dalam lift. Aku mengikuti dari belakang dan berusaha sebisa mungkin menghindari tatapannya. Aku yakin dia pasti mengerti apa yang aku umpat tadi. Pasti sekarang dia akan memecatku. Kami tiba di lantai dua. Pintu lift terbuka, dia keluar dan aku berjalan di belakangnya. Suasana di lantai ini terasa cukup menyenangkan dengan beberapa orang mengobrol di depan mesin kopi. Ada juga yang berbicara ramah sambil bekerja. Namun, suasana menyenangkan itu hilang ketika mereka melihat Erik Habil. Semua percakapan berhenti dan satu-satunya hal yang bisa didengar adalah langkah kaki kami. Orang-orang yang lewat menyapa kami dengan hormat. Salah satu dari mereka, setelah menyapa, menghela napas lega seolah-olah melihat Erik Habil adalah hal terburuk di bumi ini. Setelah berjalan menyusuri lorong yang panjang, kami sampai di sebuah pintu dan Erik berhenti di sana. "Silakan masuk," kata Erik yang kini berbalik untuk melihatku. Aku mengangguk dan membuka pintu. Satu-satunya hal yang ada di pikiran adalah permintaan maaf karena memanggilnya "Sombong s****n" tadi. Semua kekhawatiranku menghilang saat melihat di mana kami berada. "Pak Habil, apa yang membawa Anda ke sini? Apa Anda sakit?" kata seorang dokter di sana. Begitu kesal dan panik dengan keadaan, aku sampai tidak sadar ada tanda ruang perawatan di pintu yang aku buka itu. "Tolong periksa pergelangan kakinya dan kamu harus lebih berhati-hati saat berjalan!" katanya. Dia menatapku dengan serius sebelum meninggalkan ruang perawatan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD