Seminggu setelah kejadian di ruang perawatan, semuanya berjalan seperti biasa. Akhir-akhir ini, Erik tidak datang ke kantor dan aku bisa lega karena ada sedikit waktu istirahat dan bisa makan dengan tenang. Selama ini aku tidak bisa makan tenang bahkan melewatkan begitu banyak waktu makan sampai berat badanku turun sampai dua kilogram. Itu tidak baik, bisa saja aku sakit jika terus seperti ini.
Sekarang Erik tidak ada di kantor, aku bisa bekerja dengan tenang tanpa stres.
Erik memintaku mengumpulkan informasi dari enam bulan terakhir. Pekerjaan itu aku lakukan dengan sangat fokus sambil mendengarkan lagu dari headphone yang terpasang. Data lima bulan terakhir sudah selesai dalam beberapa jam dan tersisa satu bulan.
Aku bertekad untuk melakukan pekerjaan dengan baik.
“Rina!" Sonia menghampiri.
Aku segera melepas headphone untuk mendengarnya. "Ada apa?" tanyaku sambil tersenyum.
"Kayaknya kita belum pernah benar-benar kenalan. Namaku Sonia." Dia tersenyum kaku.
"Oh iya. Kau bisa memanggilku Rina," jawabku dengan senyum lebar.
Akhirnya, aku bisa berbicara dengan bebas bersama satu-satunya rekan kerja di lantai ini tanpa perlu bicara formal.
"Mau makan siang bareng aku dan teman kerja yang lain?" tanyanya sambil tersenyum lebar.
Hah?! Sudah pukul 12:00 saja. Padahal tadi masih jam sembilan. Aku terlalu fokus sampai lupa lihat waktu.
"Boleh banget. Aku juga sudah lapar,” sahutku sambil bangkit.
Aku ambil tas, kemudian kami turun ke lantai utama untuk bertemu yang lain.
"Untung kamu sudah turun. Kalau belum turun juga, mau kita tinggal tadi," kata seorang wanita yang rambutnya bergelombang, tampaknya seumuran dengan Sonia.
Sonia menjawab, "Maaf, masih ada kerjaan di atas sana. Ayo!"
"Aku sudah reservasi untuk siang ini, tapi kenapa minta tambahan untuk satu orang lagi?" tanya seorang pria. Dia berhenti ketika melihatku.
"Aku ingin memperkenalkanmu pada Rina Renata. Dia juga kerja bersamaku di lantai atas .…"
"Tentu saja, kami tahu siapa bunga ini. Namaku Gabriel!" katanya dengan senyum menawan. "Aku di departemen pemasaran, jika kau membutuhkan sesuatu suatu hari nanti, kau bisa mengandalkanku" Dia mengambil tanganku dan menciumnya. "Jangan ragu untuk telepon jika kau butuh sesuatu!" Dia mengedipkan mata padaku.
"Aku minta maaf atas perlakuan dia, ya, Rina? Dia selalu seperti itu dengan wanita," kata wanita lainnya sambil tertawa. "Tapi jangan khawatir, dia agak belok." Dia mengedipkan mata padaku "Aku Abigail dari departemen akuntansi.”
Kami berjalan ke restoran yang telah dipesan Gabriel. Mereka orang-orang yang hobi berbicara dan selama pembicaraan selalu melibatkanku. Jadi, aku bisa ikut merasa senang juga karena tidak dikecualikan dari kelompok.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di restoran. Kami memilih meja di belakang yang memiliki jendela besar menghadap jalan. Kemudian, kami memesan makanan yang diinginkan.
Aku merasa lega ketika melihat harganya yang tidak terlalu mahal. Kalau begitu aku tidak akan kesulitan karena tidak akan menghabiskan terlalu banyak uang untuk makan siang.
"Kalau boleh jujur, aku sudah melihatmu berkali-kali masuk dan keluar lift khusus, tapi aku tidak berani mendekat," kata Gabriel dengan senyum tulus. "Coba ceritakan bagaimana rasanya menjadi selebriti perusahaan?"
"Selebriti?" tanyaku tidak percaya.
"Tidak ada seorang pun di perusahaan yang tidak mengenalmu. Semua orang mengenalmu, walaupun kamu tidak mengenal kami," kata Abigail.
"Kenapa bisa begitu?" tanyaku sambil tertawa.
"Kau asisten pribadi CEO Pak Erik, kau selalu bersama salah satu pria paling penting dan berpengaruh di Jakarta." Abigail menjelaskan dengan serius. "Sekarang katakan, apa dia terlihat lebih menarik waktu dia membaca dokumen di mejanya?"
Aku tertawa melihatnya meletakkan dagu di kedua tangannya.
"Aku membayangkan menjadi asistennya. Berjalan sambil membawa banyak dokumen di tangan, terus secara tidak sengaja tersandung, menjatuhkan semua dokumennya. Terus Pak Erik datang dengan cepat untuk membantumu. Terus kalian tatap-tatapan sambil mengambil semua kertas itu bersama-sama." Dia menggigit bibir bawahnya dengan menggoda.
Kami semua tertawa terbahak-bahak dengan imajinasi Gabriel yang hebat.
Saat kami semua tertawa, aku mulai mengingat dan mencoba membayangkan skenario dengannya seperti yang digambarkan Gabriel, tetapi tidak ada. Sebaliknya, aku justru jatuh, tetapi dia tidak bangun untuk membantu, justru malah menegur. Walaupun akhirnya dia membawaku ke ruang perawatan, tetapi itu tidak seindah yang dibayangkan Gabriel.
Beberapa kali aku berhenti untuk mengamatinya saat dia membaca dokumen di mejanya. Sering kali juga aku dipergoki saat mengamatinya.
Singkatnya, aku rasa tidak akan terjadi seperti yang dibayangkan Gabriel.
"Aku tidak mau cerita." Aku meringis. "Dia sebenarnya menakutkan dan sangat mengintimidasi," sahutku yang membuat Sonia tertawa terbahak-bahak.
"Lihat! Sudah kubilang! Dia menakutkan!" Sonia tidak bisa berhenti tertawa.
"Ya kalau begitu mereka tidak akan pernah bisa menghilangkan julukan 'iblis'," kata Gabriel sambil tertawa.
"Kenapa iblis?" tanyaku penasaran.
"Waktu kami panggil dia iblis, itu bukan lelucon" kata Abigail. Perempuan itu menatapku dengan serius.
Aku mengangkat alis karena terkejut. “Maksudnya?”
"Setiap kali perusahaan lain menjadi ancaman bagi perusahaan, entah bagaimana caranya, semua perusahaan itu berakhir buruk. Satu-satunya perusahaan yang mampu lolos dari Pak Erik ya hanya perusahaannya Pak Liam,” jelasnya.
"Tapi kudengar kedua perusahaan itu memiliki hubungan baik," timpalku dengan alis terangkat dan semua orang mengangguk.
"Ya, tapi sepertinya hubungan baik itu bukan karena pilihan." Abigail menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan "Sebelum Erik Habil menjadi CEO, ayahnya yang mengemban jabatan itu dan ayahnya adalah sahabat CEO Liam Enterprises. Dengar-dengar Pak Erik tidak suka dengan CEO Liam.”
"Jangan mulai membahas bagaimana dia memperlakukan kita!" kata Gabriel. “Waktu itu aku naik lift bareng sama dia karena lift pribadinya sedang dalam perawatan. Itu momen terburuk yang pernah terjadi, sumpah! Aku kayak kehabisan udara. Semua orang di perusahaan takut sama dia. Kita juga tahunya si asisten sebelumnya menghilang setelah mengundurkan diri dan tidak ada yang mendengar kabar darinya lagi. Coba tebak!" Dia menatap langsung ke mataku.
Sontak aku bingung dengan semua penjelasan itu. Asisten pribadi? Jabatan yang aku emban kali ini?
"Mereka menemukannya tewas di apartemennya seminggu yang lalu," tambahnya, dan aku membelalakkan mata ketakutan.
"Berhenti bicara omong kosong, Gabriel! Rina jadi takut itu!" kata Sonia dan menepuk pundaknya sedikit.
"Jangan percaya! Mereka tidak menemukannya tewas. Asisten sebelumnya mengundurkan diri karena semakin tua dan akan pensiun," kata Abigail sambil tertawa.
Kehadiran Erik Habil begitu menakutkan dan mengintimidasi sehingga untuk sesaat aku pikir itu semua benar.
"Tapi kan yang itu juga benar,” sambung Gabriel mengakui.
"Ya, itu benar juga.” Sonia menegaskan. “Tapi itu dulu dan dia ada masalah percintaan.”
"Kenapa kau melamar jadi asistennya? Apa kau ingin mat jugai?" Abigail bertanya sambil tersenyum setengah.
"Ya, sejujurnya, aku bahkan tidak tahu pernah melamar menjadi asisten CEO," jawabku. "Aku sangat putus asa mencari pekerjaan sampai tidak ingat mengirimkan lamaran untuk menjadi asisten CEO.”
"Kau tidak melakukannya," kata Sonia menjelaskan "Asistennya yang lain akan selalu mengundurkan diri dengan cepat setelah beberapa minggu kerja. Dia sudah lama tidak dapat yang baru. Dia bilang pada departemen administrasi untuk mencari asisten. Kebetulan tim admin dapat CV-mu untuk posisi yang lebih rendah. Terus dia bilang kalau CV-mu meyakinkan, dia akan mengangkatmu," katanya.
Aku terkejut mendengar itu sekaligus membuatku menatapnya dengan ketakutan. "Maksudmu dia memilihku secara pribadi?"
"Ya," Sonia mengangguk.
"Sumpah, aku merinding," kata Abigail sambil menggosokkan tangan di lengannya.
"Kok bisa? Di mana kamu kuliah? Di harvard?" Gabriel bertanya sambil menatapku dengan heran.
"Jauh banget di sana," jawabku.
"Apa kau kenal dia sebelumnya?" Abigail bertanya.
"Tidak, aku bahkan bukan dari Jakarta.” Aku menggigit bibir bawahku dengan gugup.
"Kurasa aku sudah tahu siapa yang akan kuminta untuk membuat CV-ku berikutnya," kata Abigail bercanda.
"Tenang saja, bisa serahkan itu padaku!"
Kami tertawa setelah mendengar lelucon CV.
"Ngomong-ngomong, karena kau sudah di sini, mari kita bersulang untuk pekerjaan kita!" kata Gabriel. Dia mengangkat gelas jus jeruknya untuk bersulang.
Kami semua mengangkat gelas kami dan bergabung dengannya untuk bersulang.
Gabriel sangat lucu, dia selalu membuat kami semua tertawa. Setelah makan siang, aku semakin nyaman bersama mereka. Kami berencana untuk makan siang bersama lagi besok jika kami punya waktu luang.
"Kuharap Gabriel tidak mengganggumu tadi, kan?" Sonia bertanya sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak sama sekali. Aku sangat menyukainya," jawabku.
"Dia menyebut dirinya jiwa yang bebas. Kau harus melihatnya menari di klub malam, Gabriel benar-benar binatang buas, atau setidaknya itulah yang dia bilang.”
Saat kami keluar dari lift sambil tertawa terbahak-bahak, tawa kami menghilang karena melihat Erik di ujung lorong, di depan mejaku.
"Kita bicara nanti," bisiknya sebelum menuju ke mejanya.
Aku menghela napas kasar dan berjalan menujunya yang sepertinya sedang mencari sesuatu di meja.
"Saya tidak menerima panggilan apa pun kalau Anda akan tiba lebih awal dari biasanya. Kalau saya tahu, saya akan kembali lebih awal juga," kataku, memperhatikannya mencari sesuatu di mejaku.
"Jangan khawatir! Saya hanya mencari ini." Dia mengambil beberapa dokumen yang telah kusiapkan untuknya. "Sekarang ikut saya!"
Dia berjalan menuju kantornya, aku meninggalkan tasku di meja dan mengambil tablet untuk mencatat apa yang akan dia jelaskan. Beberapa detik kemudian, aku masuk dan dia sudah duduk di mejanya, menungguku.
"Saya ingin kamu membatalkan semua rencanamu malam ini. Kamu akan menemani saya ke beberapa pertemuan di rumah," pintanya dan itu berarti perintah.
"Aneh, saya tidak ingat ada pertemuan malam ini,” sahutku pelan, hampir pada diriku sendiri.
"Saya menjadwalkannya sendiri." Dia mengalihkan pandangan dari komputer dan menatapku lekat. "Jika kamu mau pulang untuk ambil pakaian, kamu bisa minta sopir saya untuk menjemputmu di sana."
*****
Sisa hari berlalu dengan normal. Erik mengizinkanku pulang kerja lebih awal sehingga aku bisa pergi ke apartemen untuk mengambil barang-barang.
Pukul 17.00, aku sudah di apartemen untuk mengambil pakaian yang dibutuhkan. Tidak terlalu banyak, hanya piama dan pakaian untuk besok. Aku berasumsi akan menginap dan harus mandi di rumahnya besok.
Erik mengirimku pesan. Dia bilang dia akan berada di apartemenku dalam waktu kurang dari satu menit. Aku berlari untuk mengambil tas dan meninggalkan gedung.
Saat di luar gedung, aku tidak melihat mobil hitam yang biasa digunakan Erik, jadi aku menunggu di jalan. Tiba-tiba Audi merah yang waktu itu memercikkan air terparkir di tepi jalan. Aku periksa kecocokannya dan itu mobil yang sama. Nomor B 1 RIK dan aku mengingat jelas.
Aku mulai tertawa seperti orang gila sambil mencari kunci apartemen di tas. Tidak ada orang di jalan, jadi tidak ada yang akan memperhatikan apa yang akan aku lakukan. Aku diam-diam berjalan ke belakang mobil. Lalu melihat sekeliling sekali lagi untuk memastikan tidak ada orang di dekatnya.
Setelah yakin, aku mulai dengan paksa menyeret kunci pada cat mobil dari belakang ke pintu penumpang.
"Siapa yang tertawa sekarang, dasar orang gila s****n?" kataku sambil tertawa.
Saat hendak berjalan menjauh dari mobil, mesin mobil menyala. Saat itu, jendela mobil terbuka dan aku hampir pingsan saat itu juga.
"Kau sedang apa, Rina?"
Astaga! Bunuh aku sekarang! Bunuh!!!!