Malam ini Keira kembali diminta untuk memasak oleh Nathan. Padahal ini sudah malam, seharusnya mereka sudah beristirahat. Meskipun tidak terlalu larut, tetapi hari ini Keira merasa sangat lelah sejak pulang dari tempat kerjanya sore tadi. Namun mau bagaimana lagi, Nathan sudah memerintahkannya untuk memasak, jadi dia harus menuruti perintah itu jika ingin tinggal dengan aman di rumah suaminya.
Untung saja kali ini Nathan hanya ingin dimasakkan mi instan dengan dua telur mata sapi setengah matang. Jadi Keira tidak perlu khawatir dengan masakannya yang tidak enak nantinya. Untuk telur mata sapi, dia sudah biasa membuatnya untuk almarhum kakaknya dulu. Hanya butuh lima belas menit, masakan Keira sudah siap. Tak lupa segelas air putih dan secangkir kopi panas juga ia siapkan untuk Nathan.
Setelah selesai memasak dan membersihkan dapur, Nathan meminta Keira untuk langsung pergi ke kamarnya. Seperti biasa, Keira langsung menurut tanpa mengucapkan apa pun lagi. Mengingat Nathan yang membencinya, Keira selalu berusaha menjaga sikap dan ucapannya di depan lelaki berwajah datar itu.
Sebenarnya Nathan adalah orang yang asik, tapi hanya saat bersama keluarga dan sahabatnya saja. Tidak saat bersamanya. Keira selalu mendapat tatapan yang sangat tajam dan kata-kata yang begitu menyakitkan hati.
Sesampainya di dalam kamar, Keira membuka buku hariannya dan mulai menuliskan sesuatu di sana.
Dear my heart,
Tuhan menciptakan manusia sebagai pelengkap dunia.
Tuhan menciptakan wanita dan pria, yang pasti untuk saling berpasangan dan membuat kehidupan lebih indah dan berwarna.
Tapi mengapa, Tuhan, Engkau malah memberikan aku cobaan yang begitu besar untuk membangun kehidupan yang indah dan berwarna? Aku tak sanggup jika hidupku seperti ini. Dan apa Nathan benar-benar jodohku kelak?
Jika bukan, mengapa Engkau mempersatukan kami dengan menghadirkan anak ini dalam kehidupan kami?
Tuhan,
Tolong kuatkan aku dalam menghadapi cobaan yang Engkau berikan. Aku percaya jika Engkau memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Mu. Dan aku percaya jika Engkau juga mempercayaiku untuk menyelesaikan cobaan yang begitu berat ini.
Tuhan,
Tolong jaga anakku ini dengan baik sampai dia lahir dan melihat dunia yang begitu indah ini. Dan untuk suamiku, tolong buat dia menerima anakku nanti, meskipun kelak dia akan membuangku demi wanita lain yang lebih sempurna dariku.
~•~
Pagi-pagi sekali Keira sudah terbangun dari tidurnya dan langsung memasak sesuai permintaan Nathan semalam. Ia hanya memasak nasi putih dengan sayur capcay dan lauk ayam kecap manis. Mengingat mereka hanya tinggal berdua, Keira tidak perlu memasak terlalu banyak.
Kebetulan hari ini Keira harus berangkat pagi karena jam kuliahnya dipindah ke pagi. Jadi dia harus berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu. Untuk berpamitan pada Nathan, Keira menaruh memo untuk suaminya dan memberi tahu jika dia sudah berangkat lebih dulu.
“Di mana cewek itu? Kenapa nggak nongol?” gumam Nathan ketika sudah turun ke meja makan.
Tanpa mencari Keira, Nathan langsung memakan sarapannya sambil memainkan ponselnya. Saat ingin mengambil minum, matanya menangkap kertas kecil di bawah gelas. Dengan pelan ia mengambil dan membaca isinya. Tidak ada reaksi apa pun, Nathan kembali meletakkan kertas kecil itu dan melanjutkan makan dengan tenang.
Di kampus, Keira mengikuti pelajaran dengan tenang hingga akhirnya waktu istirahat tiba. Untung saja Keira membawa bekal makanan, jadi dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makanan di kantin. Ia duduk bersama dua temannya yang sedang menunggu pesanan mereka.
Keira menjalani hidup dengan sangat sederhana, hal itu justru membuat Vika dan Karin senang berteman dengannya. Di antara mereka bertiga, Keira adalah yang paling muda. Kecerdasannya membuat ia melompati beberapa kelas hingga mendapatkan beasiswa di universitas bagus. Namun beasiswa itu harus dicabut karena kejadian naas yang dialaminya dua bulan lalu.
Sebenarnya Keira akan berhenti kuliah jika saja Nathan tidak menikahinya dan membiayai hidupnya. Meski tidak semua kebutuhannya dipenuhi, Keira tetap bersyukur masih bisa kuliah dan mendapatkan makan gratis di rumah itu.
“Eh, eh, siapa yang nyuruh kalian duduk di sini?” tegur seorang senior.
Dia adalah Dicky, salah satu sahabat Nathan yang memang selalu membenci Keira dan mencari gara-gara.
“Maaf ya, Kakak Senior yang terhormat. Ini kan kantin kampus untuk semua orang, jadi suka-suka kita mau duduk di mana saja,” jawab Vika lantang.
“Wah, nyolot lu ya. Gue cipok, tau rasa lo,” balas Dicky santai, disambut tawa teman-temannya.
“Cih, najis. Mending gue cipokan sama monyet,” balas Vika tak mau kalah.
“Vik, sudah. Jangan diladenin. Mending kita makan,” pinta Karin.
“Nggak bisa. Dia datang-datang ngajak ribut,” tolak Vika.
“Eh, cewek nggak tahu malu. Ngapain lo duduk di kantin ini? Mau caper sama Nathan lo?” suara gadis dari belakang Bima membuat Keira terkejut.
“Tau lo, Nathan nikahin lo karena kasihan. Jadi lo mending jauh-jauh dari Nathan,” sambung temannya.
“Dan lo inget ya, Nathan itu cuma milik Melissa. Setelah anak haram itu lahir, lo bakal diusir dari keluarga Weldon.”
Tawa mereka pecah. Nathan hanya diam memperhatikan wajah Keira yang menahan tangis.
“Kita cari tempat makan lain aja ya. Aku nggak mau ganggu yang lain,” ucap Keira akhirnya.
Ia melangkah keluar dari kantin sambil membawa kotak bekalnya. Namun beberapa langkah kemudian, kakinya dijegal oleh Lifia hingga makanannya terjatuh ke lantai. Beruntung Vika sigap menangkap lengannya.
Saat Vika hendak memaki Lifia, Keira sudah menarik temannya untuk pergi.
“Akhirnya pergi juga mereka,” ujar Salsha santai.
“Sebenarnya gue kasihan lihat Keira dipermalukan kayak gitu,” ujar Bagas.
“Elah, santai aja. Orang suaminya aja nggak marah,” jawab Dicky acuh.
Di taman kampus, Keira dan kedua sahabatnya duduk sambil memegang buku. Gara-gara kejadian di kantin, mereka kehilangan selera makan. Keira sebenarnya sangat lapar karena tidak sarapan dan bekalnya tumpah.
“Ra?” panggil seorang lelaki tampan.
“Eh, Rafael. Ada apa?” tanya Keira lembut.
“Lo lagi bawa keponakan gue. Nih, makan,” ujar Rafael sambil menyodorkan makanan.
“Kamu nggak perlu repot. Aku bisa makan nanti,” tolak Keira.
“Nggak ada penolakan, Keira,” ucap Rafael tegas.
“Ehemm… cuma Keira aja nih yang dikasih makan?” goda Vika.
“Iya, kita juga laper,” sambung Karin.
“Kalian kan nggak hamil, nggak makan seminggu juga nggak apa-apa,” tawa Rafael pecah.
“Sudah-sudah, kita bisa makan bareng kok,” lerai Keira.
“Tapi gue suka lihat perhatian lo ke sahabat gue ini,” ujar Vika.
“Iya, kenapa bukan lo aja yang jadi suaminya Keira?” celetuk Karin.
Rafael salah tingkah. Keira hanya tersipu, pipinya memerah.