Bab 6.

1139 Words
“Cie, tuh kah pipinya Keira jadi blushy,” Vika semakin menggoda Keira. “Udah-udah, nggak usah godain kita. Kasian tuh mukanya Keira udah kayak kepiting rebus,” sahut Rafael sambil tertawa. Mereka bertiga akhirnya tertawa mendengar perkataan Rafael, membuat wajah Keira semakin memerah karena godaan teman-temannya dan Rafael. Padahal hanya hal sederhana, tapi mereka tampak sangat bahagia. Bahkan ini adalah pertama kalinya Keira tertawa lepas setelah menikah dengan Nathan. Dari kejauhan, tampak seorang lelaki tengah mengawasi mereka semua dengan wajah datar. “Ya udah, gue pergi dulu, bey,” pamit Rafael, lalu meninggalkan mereka yang masih asyik tertawa. Entah mengapa perasaan Keira menjadi gelisah setelah tertawa lepas bersama Rafael barusan. Ia merasa seperti ada seseorang yang mengawasinya sejak tadi. Namun siapa pula yang mau mengawasi wanita sederhana sepertinya? Yang ada justru orang-orang yang melihatnya dengan tatapan tak suka, atau ingin kembali membully-nya seperti biasa. “Keira, tolong antar pizza ini ke meja nomor 05 ya,” pinta Kiki sambil menyodorkan dua porsi pizza. “Oke,” jawab Keira, lalu langsung mengantarkan pizza ke meja yang ditunjuk Kiki. Sekarang Keira memang sudah berada di tempat kerjanya. Setiap sepulang kuliah, Keira selalu langsung pergi bekerja. Sebenarnya dokter melarang Keira untuk bekerja agar tidak kelelahan, tetapi Keira menolak dengan alasan tidak ingin bermalas-malasan di rumah. Apalagi pekerjaannya hanya sebagai pelayan, jadi tidak akan terlalu menguras tenaga. Lagipula, jika ia tidak bekerja, Keira tidak akan memiliki tabungan untuk biaya hidup bersama anaknya nanti. Setelah berpisah dengan Nathan, ia pasti harus membeli rumah dan memenuhi semua kebutuhan hidupnya sendiri. Jika hanya mengandalkan uang yang mungkin akan diberikan Nathan untuk anaknya kelak, Keira tidak akan mampu membeli rumah. Karena itu, ia harus mulai menabung dari sekarang agar hidup anaknya nanti bisa terjamin. Hari ini Keira merasa sangat bersyukur. Tadi Rafael memberinya makanan dan sekarang ia pergi ke tempat kerja bersama Karin, karena gadis itu akan membeli pizza untuk sepupunya. Jadi uang yang biasanya digunakan untuk ongkos bisa Keira tabung seperti biasa. “Keira?” tanya seorang lelaki saat Keira setengah menaruh pesanan pizza. “Lo Keira, kan?” tanya lelaki itu lagi dengan wajah tak percaya. “Iya, aku Keira. Kamu siapa? Kenapa kamu tahu namaku?” tanya Keira bingung. “Gue Reno. Kita dulu ketemu di olimpiade matematika, lo inget? Dan beberapa bulan lalu kita juga pernah ketemu di taman, tapi lo langsung pergi.” “Oh iya, kamu cowok rese yang selalu banyak nanya itu, kan?” ujar Keira mengingat hal menjengkelkan yang pernah dilakukan lelaki itu. “Akhirnya inget juga. Eh, lo gimana kabarnya?” tanya Reno basa-basi. “Baik. Eh, aku mau balik kerja dulu ya, nggak enak kalau kelamaan ngobrol,” pamit Keira. “Eh, minta nomor dong,” pinta Reno sambil mengejar Keira. “Nomor apa? Sepatu?” tanya Keira jahil. “Elah, nomor WA lah. Ya kali gue minta nomor sepatu,” jawab Reno memutar bola mata. “Ya mungkin aja kamu mau kasih aku salam pertemuan kembali dengan beliin aku sepatu,” gurau Keira yang disambut tawa Reno. “Boleh, tapi lo harus kasih gue nomor WA lo dulu.” Karena tidak ingin berlama-lama, Keira langsung meraih ponsel Reno dan menuliskan nomor WA-nya. Setelah itu Keira kembali bekerja, meninggalkan Reno yang memilih bergabung kembali dengan teman-temannya. Sebenarnya Keira tidak suka memberikan nomor telepon pada sembarang orang, tapi karena Reno orangnya asyik, Keira ingin berteman lebih dekat dengannya. Apalagi Reno terlihat ramah dan mudah mencairkan suasana. Sore ini Keira ingin mengunjungi rumah orang tuanya dengan membawa beberapa bahan makanan dan uang lima ratus ribu untuk diberikan pada ibunya. Meskipun tak banyak, ia tetap ingin memberi seperti yang selalu ia lakukan sebelum menikah. Tak butuh waktu lama, Keira sudah sampai di depan rumah dan melihat kakaknya yang tengah menyiram tanaman. Senyum manis mengembang di bibir Keira saat kakaknya menyadari kehadirannya. Mereka langsung berpelukan hangat. “Hem, kamu kenapa ke sini nggak bilang-bilang dulu?” tanya Fifian. “Iya, aku sengaja mau kasih kejutan buat kakak,” jawab Keira lembut. “Ya udah, yuk masuk. Kakak buatin minum buat kamu.” Mereka masuk ke rumah sederhana itu. Baru sampai di ruang tamu, ibunya menatap Keira dengan tatapan tak suka. “Ngapain kamu ke sini?” sindir sang ibu. “Keira kangen ibu, ayah, sama kakak-kakak,” jawab Keira lembut. “Kalau ke sini nggak bisa kasih apa-apa, nggak usah ke sini. Pasti mau minta makan sama minum,” ucap ibunya kasar. “Ini, Bu. Keira cuma bisa bawa ini, dan ini buat bantu uang belanja ibu,” ujar Keira sambil menyerahkan kantong belanja dan amplop uang. “Halah, uang cuma segini. Mana cukup. Kamu pelit amat sih,” balas ibunya sinis. “Ibu, kenapa sih nggak ada syukurnya?” Arumi yang baru pulang kerja langsung membela Keira. “Eh kamu lagi. Nggak usah sok jadi pahlawan. Kamu, Keira, pulang sana!” bentak ibunya. Tak ingin membuat keributan, Keira memilih pamit pulang. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Sejak dulu, Keira tak pernah mendapat keadilan dan kasih sayang seperti kakak-kakaknya. “Nggak baik malam-malam nangis sendiri di pinggir jalan,” suara seseorang menyadarkan Keira. “Rafael? Kenapa kamu di sini?” “Kebetulan pulang dari rumah teman. Eh, malah lihat penampakan kakak ipar.” “Ih, aku bukan hantu,” protes Keira. “Hehehe, sorry. Udah yuk, gue antar.” Rafael menarik tangan Keira menuju mobilnya. Di perjalanan, Keira terdiam. Biasanya mereka banyak bicara, tapi kali ini Rafael memilih diam setelah melihat Keira menangis. Di rumah, Nathan sudah pulang. Langkahnya terhenti saat melihat mobil berhenti di teras. “Eh, Kak, gue nginep ya,” ujar Rafael santai. “Status kamu itu istri saya. Jadi jangan suka kelayapan malam-malam,” suara Nathan terdengar dingin dan tajam. “Kalau nanti kamu kena masalah, reputasi dan harga diri saya ikut terseret. Apalagi kalau sampai ada gosip kamu selingkuh dengan adik kandung saya--reputasi keluarga saya juga ikut jadi korban.” Nathan menatap Keira dengan penuh kejengkelan. “Sebenarnya kamu punya otak, nggak sih? Kenapa setiap hal yang kamu lakukan nggak pernah ada yang benar dan selalu membuat saya semakin benci sama kamu?” Setelah meluapkan seluruh kekesalannya, Nathan berbalik dan pergi menuju kamarnya tanpa sedikit pun menoleh. Tanpa peduli pada Keira yang berdiri terpaku di tempatnya. Keira, wanita cantik itu, hanya mampu menunduk. Ia menyembunyikan linangan air mata yang sudah terlanjur membasahi pipi putihnya. Dadanya terasa sesak, seolah setiap kata Nathan baru saja menghantamnya tanpa ampun. Ya, begitulah rumah tangga Keira dan Nathan. Lelaki itu membencinya--dengan cara yang sunyi namun menyakitkan. Apa pun yang dilakukan Keira selalu dianggap salah, tak pernah cukup, dan tak pernah benar di matanya. Sejak awal pernikahan, Keira tak pernah benar-benar tertawa di rumah besar itu. Rumah yang megah, namun dingin. Ia lebih sering merenung dengan wajah datar, seperti tembok yang kehilangan warna. Tatapannya kerap kosong, melayang entah ke mana, seperti seseorang yang hidup… tapi tak benar-benar memiliki kehidupan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD