bab 7.

1025 Words
Keira terbangun dengan mata yang membengkak akibat terlalu lama menangis semalam. Kelopak matanya terasa perih dan berat, membuatnya sulit membuka mata dengan normal. Ia menghela napas pelan sebelum perlahan bangkit dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Keira langsung menuju dapur. Semalam, Nathan datang ke kamarnya hanya untuk menyebutkan menu sarapan--ayam kecap manis. Tak lebih dari itu. Tak ada sapaan, tak ada perhatian, hanya perintah singkat dari lelaki berwajah datar itu. Sudah hampir tiga bulan Keira menikah. Kini ia mulai pandai memasak. Ia belajar membuat berbagai macam hidangan yang biasa disantap kalangan berada--makanan yang dulu tak pernah ia kenal. Wajar jika Keira menyebutnya “makanan orang kaya”, sebab sejak kecil ia hidup sederhana dan tak pernah mencicipi masakan seperti itu. Semua yang ia pelajari berasal dari salah satu asisten rumah tangga di rumah mertuanya. Tak sampai tiga puluh lima menit, masakan Keira sudah tersaji rapi di atas meja makan. Aroma ayam kecap manis memenuhi ruangan. Tak lama kemudian, dua lelaki tampan menuruni tangga menuju meja makan. Rafael tampak sangat antusias melihat hidangan di hadapannya. Matanya berbinar menatap masakan yang dibuat wanita yang diam-diam ia cintai itu. Berbeda dengan Nathan—suami Keira—yang tetap menatap datar tanpa sedikit pun senyum terukir di wajahnya. “Wah, kayaknya enak nih,” puji Rafael sambil mencomot potongan ayam kecap manis buatan Keira. “Udah, nggak usah dicomot kayak gitu. Langsung makan aja,” celetuk Nathan dingin. Tanpa memedulikan kakaknya, Rafael segera mengambil nasi dan lauk, lalu menyantapnya dengan sangat lahap. Bahkan caranya makan terkesan berantakan. Keira hampir tertawa melihat tingkah Rafael yang begitu polos, namun segera mengurungkan niatnya saat menyadari keberadaan Nathan. Ia menunduk, menahan senyum. Nathan menatap adiknya dengan sedikit kesal. “Lo nggak pernah dikasih makan sama Mama, ya?” hardiknya. “Iya. Gue nggak pernah dikasih makan seenak ini sama Mama,” jawab Rafael santai. “Keira emang hebat. Kayaknya gue bakal sering nginep di sini.” Ucapan itu membuat Nathan semakin kesal. Masakan Keira memang jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia rajin belajar memasak demi Nathan. Walau hanya masakan sederhana, setidaknya itu cukup untuk menghindarkannya dari kata-kata menyakitkan. Nathan memilih diam. Ia tidak suka jika Keira dipuji oleh keluarganya. Entah mengapa, ia lebih senang jika Keira dihujat dan direndahkan. Dalam pikirannya, hidupnya telah hancur sejak kehadiran anak yang dikandung istrinya. Padahal kehamilan itu juga terjadi karena kesalahannya sendiri. Namun tetap saja, Keira yang selalu disalahkan. Tak ada yang mau menerimanya. Semua memandangnya rendah. Selesai sarapan, Nathan dan Rafael langsung pergi ke kampus. Sementara Keira memilih membersihkan rumah, karena hari ini ia tidak memiliki jadwal kuliah. Satu setengah jam berlalu hingga akhirnya rumah besar itu bersih seluruhnya. Asisten rumah tangga baru datang saat Keira sudah duduk di teras, menikmati udara pagi. ART itu memang datang agak siang karena hanya bertugas membersihkan rumah, lalu pulang, dan kembali lagi sore hari. “Bik, temenin aku duduk di sini, ya,” ujar Keira lembut sambil menunjukkan buku kehamilan. “Aku sudah bersihin rumah. Sebagai gantinya, bibi temenin Keira baca buku ini.” “Tapi, Non… kenapa bersih-bersih sendiri? Non nggak kuliah?” tanya sang ART ragu. “Nggak ada jadwal kuliah,” jawab Keira. “Oh iya, panggil aku Keira aja ya, Bik. Jangan panggil Non. Aku nggak terbiasa dipanggil majikan.” “Tapi, Non… saya nggak enak,” jawab ART itu sungkan. “Nggak apa-apa, Bik. Panggil Keira aja.” “Ya udah, Nak… Keira,” ucapnya akhirnya, meski masih terdengar canggung. Mereka pun duduk berdampingan di teras, membaca buku tentang kehamilan. Angin pagi berembus pelan. Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah mewah itu, Keira merasa tidak sendirian. Untuk pertama kalinya, ia memiliki teman bicara. *** Siang itu Nathan sengaja pulang ke rumah karena tidak ada pekerjaan penting di kantornya. Langkah ringannya terhenti saat matanya menangkap sosok Keira yang tengah duduk bersantai di sofa, menatap layar televisi sambil menonton film kartun. Tawa kecil gadis itu pecah, terdengar ringan dan polos—sesuatu yang jarang ia perlihatkan di rumah ini. Entah mengapa, rasa tidak suka langsung menguar di d**a Nathan. Melihat Keira tertawa seolah tanpa beban membuat perasaannya terusik. Tawa Keira seketika terhenti saat menyadari kehadiran lelaki itu. Tatapan tajam dan dingin Nathan membuat senyum di wajahnya lenyap dalam sekejap. “Buatkan saya nasi goreng saus tiram sama jus jeruk,” perintah Nathan datar, tanpa basa-basi. Tanpa menunggu jawaban, Nathan langsung melangkah pergi. Keira pun segera bangkit dan menuju dapur. Untung saja hanya nasi goreng—ia bisa menyelesaikannya dengan cepat. Setelah itu, ia berencana langsung berangkat bekerja. Kini Keira sudah sangat mahir memasak nasi goreng. Tak ada lagi rasa khawatir masakannya tidak enak. Hanya dalam waktu dua puluh menit, hidangan itu telah tersaji rapi di atas meja makan. Saat Nathan mulai menyantap masakan tersebut, Keira langsung menuju kamar untuk bersiap-siap. Lima belas menit kemudian ia sudah siap berangkat. Namun langkahnya kembali terhenti ketika suara Nathan memanggilnya. “Kamu nggak boleh keluar hari ini,” ujar Nathan singkat. Keira menoleh bingung. “Teman-teman saya mau datang. Kamu siapkan camilan dan makan malam,” lanjutnya dingin, seolah itu bukan permintaan, melainkan kewajiban mutlak. Keira menelan ludah. Ia tahu, jika Nathan sudah memerintah, tak ada ruang untuk membantah. Setiap penolakan hanya akan berujung pada kata-kata yang mampu melukai hatinya lebih dalam. Dengan terpaksa, Keira menghubungi bosnya dan meminta izin tidak masuk kerja hari ini. Syukurlah, bosnya memahami. Ia tahu Keira adalah pegawai yang rajin, disiplin, jujur, dan pekerja keras. Sikap lembut Keira bahkan membuat rekan-rekan kerjanya menyayanginya. Namun perasaan Keira tetap tidak tenang. Ada kegelisahan yang merayap perlahan di dadanya. Kedatangan teman-teman Nathan selalu membuatnya merasa tercekik. Dihina, dibully, dan direndahkan—itu sudah menjadi hal biasa baginya. Ia hanya perlu menunduk dan bertahan. Tapi jika semua itu terjadi di rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung, apakah ia sanggup? Belum lagi jika Nathan ikut melontarkan kata-kata tajam di hadapan mereka. Selama ini saja Keira sudah terbiasa menerima perlakuan kasar dari lelaki yang berstatus sebagai suaminya. Namun jika harus kembali mendengar hinaan demi hinaan, disaksikan banyak orang, Keira merasa hatinya tak akan sanggup menahannya. Ia berdiri diam di tengah rumah besar itu, merasa semakin kecil—seolah keberadaannya tak pernah benar-benar diinginkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD