bab 8.

1227 Words
“Pembantu baru lo cantik juga,” celetuk Bagas saat Keira datang dengan beberapa camilan ringan. Langkah Keira sempat ragu, namun ia tetap melangkah. Tangannya gemetar halus saat menurunkan nampan ke meja. “Itu mah asisten pribadi, kan sekalian buat pemuas nafsu,” cerca Dicky, yang langsung disambut gelak tawa semua orang. Suara tawa itu terasa seperti pisau yang menggores telinga Keira, satu per satu, tanpa ampun. “Udah-udah, nggak baik menghina orang terus,” Kevin berusaha menghentikan teman-temannya untuk tidak membully Keira. Suaranya terdengar paling waras di ruangan itu, namun terlalu lemah untuk menutup hinaan yang sudah terlanjur terucap. “Eh kenapa lo yang sewot? Lagian yang punya nggak marah. Apa jangan-jangan lo juga mau cobain servis tuh anak Sastra Inggris?” jawab Dicky, semakin mempermalukan Keira. “Than, gue mau dong cobain servis gratis dari asisten pribadi lo, kayaknya nikmat banget dah, buktinya sampe jadi,” celetuk Bima yang baru datang dari kamar mandi. Perkataan Bima membuat Keira merasa sangat rendah. Tangannya berhenti menata beberapa camilan. Jantungnya berdegup tidak karuan. Untuk sesaat, ia menoleh ke arah Nathan--menunggu. Berharap. Meski jauh di dalam hatinya, ia tahu harapan itu hampir mustahil. “Ya udah sih, kalo mau coba ya coba aja. Nggak usah minta izin sama gue, lagian gue juga nggak sudi sentuhan sama dia,” jawab Nathan santai. Kalimat itu merobohkan sisa harga diri Keira. Dadanya terasa kosong. Harapannya runtuh tanpa sisa. Ia sadar, bahkan sebagai istri pun, ia tidak pernah layak dibela. “Kalo nggak sudi, kenapa dia sampe bunting, t***l,” maki Bagas sambil melempar kulit kacang. “Ya kan gue nggak sadar, jadi wajar-wajar aja lagi,” jawaban Nathan benar-benar membuat Keira merasa sangat sesak, seolah udara di ruangan itu mendadak habis. Selesai melayani teman-teman Nathan, Keira langsung pergi dari ruang tamu. Ia memilih menuju teras rumah, ingin menjauh dari suara tawa dan hinaan. Namun baru tiga langkah, langkahnya terhenti. “Keira, bikin jus jeruk lagi. Udah habis.” Tanpa menjawab, Keira berbalik. Sesampainya di dapur, air mata gadis malang itu bercucuran deras. Tangisnya pecah tanpa suara. Hatinya terasa remuk mendengar hinaan yang dilontarkan teman-teman suaminya--dan diperparah oleh sikap Nathan sendiri. Mungkin memang benar, hidupnya hanya ditulis dengan takdir buruk, tanpa sedikit pun ruang untuk kebahagiaan. Sejak awal menikah, batinnya terus terguncang oleh perkataan lelaki yang dinikahinya. Hidup dalam kondisi hamil justru membuat segalanya terasa semakin berantakan, meskipun Nathan bertanggung jawab secara materi. Jika boleh memilih, Keira lebih rela tinggal bersama orang tuanya--meski dalam kemiskinan dan tanpa kasih sayang--karena penderitaan itu tak akan separah ini. Terutama setiap kali Nathan bersama teman-temannya, Keira merasa dirinya semakin hancur dan stres. Hari sudah malam. Kini gadis berwajah lugu itu kembali sibuk menyiapkan makan malam untuk teman-teman suaminya. Semua ia lakukan sendiri. Tubuhnya terasa sangat lemas, kepalanya berat, namun Keira bertahan. Ia menelan rasa sakitnya sendiri, takut jika terlihat lemah, hinaan yang diterimanya akan semakin kejam. Mereka akhirnya makan bersama di meja makan. Keira ikut makan saat Kevin mengajaknya. Tadinya ia sempat menolak karena Nathan tidak mengajaknya, namun Kevin menarik tangannya dan memintanya duduk di sebelahnya. Kevin memang sangat berbeda--selalu berusaha melindungi Keira. Setiap kali Dicky hendak melontarkan kata-k********r lagi, Kevin selalu menghentikannya. Namun Nathan kembali membuka luka yang belum sempat mengering. “Kamu suka sekali cari muka rupanya. Setelah sama mama saya, adik saya, dan sekarang kamu cari muka di depan Kevin. Kelihatan banget ya kalo perempuan nggak bener, suka cari muka sana sini. Dasar jalang cilik,” maki Nathan dengan memandang remeh Keira, yang sejak tadi hanya diam dan menunduk. “Saya jadi ragu anak yang kamu kandung itu anak saya atau bukan.” Duarrr. Seketika bom waktu di dalam d**a Keira seperti diledakkan dengan sengaja. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya memanas seiring kepergian Nathan dari ruangan. Bulir-bulir bening jatuh deras, membanjiri pipi putihnya tanpa bisa dicegah. Kakinya tak lagi sanggup menopang tubuhnya. Dengan perlahan, Keira merosot dan terduduk di lantai dapur yang dingin. Dadanya terasa sesak, napasnya terputus-putus karena tangis yang tak kunjung reda. Tak terasa, dua jam berlalu, gadis malang itu masih terduduk di sana--sendiri, hancur, dan tak terlihat oleh siapa pun. Dengan sisa tenaga yang ada, Keira menguatkan kakinya untuk berdiri, bertumpu pada meja dapur karena tubuhnya terasa sangat lemas dan kepalanya berdenyut hebat. Untung kamarnya tidak terlalu jauh. Ia melangkah tertatih menuju kamar. Tanpa meminum obat dan vitamin, Keira langsung merebahkan diri di ranjang dengan posisi yang tidak nyaman. Air matanya kembali mengalir, hingga perlahan ia tertidur dalam kelelahan dan kesedihan yang teramat dalam. *** Di kamar lantai atas, Nathan berdiri dengan wajah gelap. Dadanya terasa panas melihat orang-orang yang begitu mudah bersikap baik pada gadis yang kini berstatus sebagai istrinya. Rasa jengkel itu mengendap, mengeras, lalu berubah menjadi kebencian yang sulit ia kendalikan. Ia tidak suka jika ada orang yang dikenalnya bersikap baik pada Keira, dalam bentuk apa pun. Ia lebih menyukai jika gadis malang itu dihina, dicaci maki, dan direndahkan oleh orang-orang di sekitarnya. Seolah penderitaan Keira adalah satu-satunya cara untuk menenangkan hatinya sendiri. Terlebih Rafael. Nathan sangat kesal setiap kali melihat adik tersayangnya itu memuji apa pun yang dilakukan Keira. Setiap perhatian Rafael terasa seperti tamparan. Baginya, Keira adalah gadis yang telah menghalangi hidup bahagianya bersama Melissa--gadis yang seharusnya berdiri di sisinya sekarang. Untung saja Melissa melanjutkan studinya di Amerika. Tunangannya itu tak tahu apa-apa. Tak tahu bahwa ia telah menikahi gadis miskin yang bahkan tak pernah ia cintai. “Setelah wanita munafik itu melahirkan, aku akan langsung menceraikan dia dan menikah dengan Melissa,” gumam Nathan dengan pandangan kosong. “Aku tidak peduli dengan anaknya itu. Biarkan saja dia tidak memiliki ayah. Lagipula dia punya ibu yang akan merawatnya nanti.” Ia tertawa kecil, hambar. “Aku juga akan memberikan uang bulanannya, tanpa harus bertemu dengan mereka.” Tangannya mengepal semakin kuat. “Ini semua gara-gara Mama yang kasihan sama dia,” lanjutnya dengan nada penuh dendam. “Jadi aku harus mengorbankan hidupku. Padahal kalau disuruh aborsi, Keira pasti mau. Tinggal kasih uang, masalah selesai.” Wajah Nathan mengeras membayangkan satu nama. “Bagaimana kalau nanti Melissa tahu aku sudah menikah? Pasti dia sangat terpukul. Aku nggak tega melihat gadisku mengeluarkan air mata cuma gara-gara jalang cilik itu.” Kekesalannya makin memuncak. Kata-kata buruk terus meluncur tanpa saring. “Apa perlu gue racun dia biar nggak ada lagi yang ganggu hidup gue?” gumamnya pelan namun dingin. “Anak yang dikandung juga seharusnya mati. Gue nggak sudi punya anak dari w************n kayak Keira.” Pikiran-pikiran gelap itu terus berputar di kepalanya, mencari cara untuk menyingkirkan Keira dari hidupnya. Sejak awal, Nathan tak pernah berpikir akan menikah dengan seorang gadis yang tidak ia cintai--bahkan tidak ia kenal sama sekali. Ditambah lagi orang tua Keira yang gemar meminta uang, membuat kebenciannya semakin dalam. Baginya, Keira bukan hanya kesalahan, melainkan beban yang harus dihapus. “Apapun caranya, dia harus pergi dari hidup gue,” tekadnya mengeras. “Setelah anaknya lahir, tanpa pikir panjang Keira harus gue ceraikan. Lalu kasih dia uang sebanyak mungkin, suruh dia pergi sejauh mungkin.” Ia menarik napas panjang. “Dan semua ini harus terus disembunyikan sampai kapan pun. Urusan anak, Keira bisa mengurusnya sendiri. Nanti gue akan kasih uang setiap bulannya.” Rencananya kini telah matang. Begitu Keira melahirkan, ia akan langsung menceraikan istrinya itu tanpa pikir panjang. Kehadiran Keira benar-benar membuat hidupnya berantakan. Tak ada lagi hari indah bagi Nathan--karena setiap hari bertemu Keira, ia hanya melihat satu hal: sumber penderitaannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD