bab 9.

1584 Words
“Keiraa!” Gadis yang tengah meringkuk di pojok kamarnya itu terhenyak kaget. Suara keras tersebut menyadarkannya dari lamunan panjang yang penuh kelelahan dan kecemasan. Keira langsung mengangkat kepalanya saat pintu kamarnya dibanting dengan kasar, dentumannya menggema hingga ke dadanya. “Kamu itu selain nggak guna juga bodoh ya ternyata,” bentak Nathan tanpa menahan amarah. “Kalau saya nggak datang ke dapur, pasti rumah saya ini sudah terbakar. Kalau nggak niat masak buat saya, ya nggak usah masak sekalian. Atau kamu memang sengaja mau bakar rumah saya?” Keira menunduk, jemarinya saling menggenggam erat, tubuhnya gemetar. “Pokoknya mulai sekarang kamu nggak usah masak lagi. Kamu juga nggak perlu keliaran di rumah saya. Kalau pulang, langsung masuk kamar ini dan jangan sentuh apa pun. Saya nggak mau ambil risiko kalau nanti kamu buat saya rugi. Wilayah kamu di rumah ini cuma kamar yang kamu tempati saja, nggak lebih.” Setelah mengatakan semuanya panjang lebar, Nathan langsung berbalik dan pergi, meninggalkan Keira yang kembali menangis dengan sesenggukan, suaranya teredam oleh sepi kamar yang dingin. Perkataan Nathan yang kasar dan keras menekan batin Keira tanpa ampun. Tangisnya semakin menjadi, membuat perutnya terasa kram. Rasa sakit itu perlahan menjalar, seperti ada tangan besar yang meremas-remas perutnya dengan kuat. Napasnya tersengal, penglihatannya mengabur, hingga akhirnya tubuhnya tak lagi mampu bertahan dan ia tak sadarkan diri. Di rumah sebesar itu, Keira hanya tinggal berdua dengan Nathan. Tak ada pembantu yang tahu jika ia tengah kesakitan dan tergeletak tak berdaya. Dan Nathan—lelaki yang menjadi suaminya—tak akan peduli meski seharian Keira tak keluar dari kamar. Malamnya, tepat pukul sepuluh, Keira tersadar dari pingsannya. Tubuhnya lemas, kepalanya berat. Ingatannya kembali pada perkataan Nathan—bahwa wilayahnya hanya kamar yang ia tempati. Dengan sisa tenaga, ia meraih sebungkus roti yang kemarin sempat dibelinya. Itulah satu-satunya yang bisa ia gunakan untuk mengganjal perutnya yang perih. Setelah itu, ia meminum obat mual dari dokter. Sudah satu bulan berlalu, obat-obatan lain dan vitamin telah habis, dan ia tak mampu membelinya karena tak memiliki cukup uang. Meminta pada Nathan adalah hal yang tak berani ia lakukan. Terlalu takut. Terlalu trauma dengan hinaan. Lelaki itu benar-benar membencinya. Pagi ini Keira memiliki jadwal kuliah pagi, membuatnya harus bergegas pergi ke kampus. Untuk sarapan, ia tak berani memasak lagi sejak kejadian kemarin. Lagi pula Nathan tidak menyuruhnya, dan itu sudah cukup menjadi alasan baginya untuk menjauhi dapur. Sebelum sampai ke kampus, gadis berparas cantik itu mampir ke warteg kecil di pinggir jalan untuk mengisi perutnya. Jika tidak sedang mengandung, Keira pasti akan memilih menahan lapar agar uangnya tetap aman di dalam dompet. Namun sekarang ia tak punya pilihan—uangnya akan terus berkurang demi bertahan hidup. “Sungguh malang nasibmu, Nak,” bisiknya sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit. “Ayahmu adalah anak orang kaya, bahkan punya perusahaan sendiri. Tapi kamu harus makan seadanya.” Matanya berkaca-kaca. “Maafkan bunda ya, belum bisa beliin makanan yang layak buat kamu. Tapi bunda janji, setelah kamu lahir, bunda akan berusaha memenuhi semua kebutuhan kamu.” Langkahnya terhenti sejenak. “Jadi kamu jangan rewel kalau bunda harus ajak kamu kerja keras. Kita harus kuat, Nak… supaya nanti kita bisa hidup, meski tanpa siapa pun.” Keira kembali melangkah, membawa tekad rapuh seorang ibu yang hanya ingin satu hal: anaknya kelak tidak merasakan luka yang sama seperti dirinya. Keira terus berjalan sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit, sesekali mengajak anaknya berbicara dengan suara lirih, seolah hanya mereka berdua yang saling menguatkan di dunia ini. Setelah makan di warteg sederhana tadi, hanya butuh waktu lima menit baginya untuk sampai ke kampus. Senyum perlahan merekah di wajah Keira saat matanya menangkap dua sosok yang sangat ia rindukan. Vika dan Karin sudah berdiri di depan pintu masuk kampus, melambaikan tangan dengan wajah cerah. Tanpa sadar langkah Keira menjadi lebih ringan. Ketiganya langsung masuk bersama dengan bergandengan tangan. Suasana pagi itu terasa hangat dan menenangkan—untuk sesaat, Keira lupa pada luka-luka yang menunggunya di rumah. “Kei, nanti kita jalan-jalan yuk. Udah rindu ngumpul bareng nih,” ajak Vika ceria. Keira tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Maaf ya, aku nggak bisa.” “Yah, kenapa? Padahal aku tuh pengen banget cerita banyak sama kamu dan Vika,” kata Karin dengan wajah lesu. “Iya, tau lo Kei, gue kangen pas kita bareng-bareng,” sambung Vika. Keira menarik napas dalam-dalam, lalu mengusap perutnya pelan. “Maaf ya… soalnya aku harus kerja buat tabungan masa depan aku dan calon anakku ini,” ucapnya lembut, berusaha meminta pengertian. Karin mengerutkan dahi. “Tabungan masa depan maksudnya?” Keira tersenyum samar. “Besok-besok aku ceritain, ya. Kalau nggak lupa,” katanya cepat, lalu menunjuk ke arah gedung. “Sekarang kita masuk kelas dulu aja. Kayaknya dosennya udah mau datang.” Keduanya mengangguk, meski rasa penasaran jelas belum terjawab. Di rumah mewah kediaman Nathan, suasana justru jauh dari kata tenang. Lelaki itu tampak meluapkan kekesalannya dengan memukul samsak yang tergantung di sudut kamarnya. Pukulan demi pukulan mendarat keras, seolah ingin melampiaskan seluruh amarah yang menumpuk sejak pagi. Pikirannya kacau setelah percakapan singkat dengan ibunya di telepon. Wanita itu dengan nada tegas memberitahukan bahwa besok malam akan diadakan pesta keluarga besar, dan Nathan harus memperkenalkan Keira sebagai istrinya di hadapan semua orang. Hal yang paling ia takutkan sejak awal pernikahan itu—besok malam akan benar-benar terjadi. “Sial,” gumam Nathan kesal. “Mama ada-ada aja. Kenapa harus sekalian ngenalin Keira di depan keluarga besar segala?” Tangannya kembali menghantam samsak dengan brutal. “Mau ditaruh di mana muka gue kalau semua keluarga besar tahu istri seorang Nathan cuma cewek kampung yang gue nikahi gara-gara kejadian menjijikkan itu?” desisnya penuh kebencian. Nathan terus melontarkan kata-kata buruk untuk Keira, baik dalam pikirannya maupun lewat u*****n yang keluar dari mulutnya. Dalam amarah yang gelap, bahkan terlintas harapan keji—berharap gadis yang sedang mengandung anaknya itu keguguran agar ia bisa segera bercerai dan hidupnya kembali seperti dulu. Hingga malam tiba, Nathan tak kunjung berhenti memukul samsak. Tinju dan kata-kata kasarnya seolah menjadi satu, sama-sama melukai—meski tak menyentuh Keira secara langsung. Di lantai bawah, Keira yang baru pulang dari kerja menghentikan langkahnya saat melihat mobil mewah Nathan terparkir rapi di bagasi. Ada rasa aneh yang langsung menyelinap di dadanya. Tak biasanya suaminya ada di rumah pada jam seperti ini. Tak ingin mendengar bentakan atau hinaan, Keira memilih diam. Ia langsung bergegas ke kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Tempat kerjanya hari ini sangat ramai, membuatnya kewalahan mengantarkan pesanan sekaligus mem-packing barang-barang yang akan diantar oleh rekan kerjanya. Baru saja kelopak matanya tertutup, saat tubuhnya mulai menyerah pada lelah-- Tok. Tok. Tok. Ketukan kasar itu menghantam pintu kamarnya, memecah ketenangan yang bahkan belum sempat ia rasakan. “Kenapa lama sekali?” Bentakan itu langsung menyambut Keira begitu pintu kamarnya terbuka. Tatapan Nathan dingin, nyaris tanpa emosi. “Besok malam jam enam tiga puluh kamu sudah harus ada di rumah dan ikut saya. Jangan sampai telat. Jangan banyak tanya. Awas saja kalau kamu telat.” Tanpa menunggu jawaban, Nathan langsung berbalik dan pergi, meninggalkan Keira berdiri kaku di ambang pintu. “Apa dia sebenci itu sama aku…” gumam Keira lirih. “Sampai berbicara pelan pun tak bisa?” Matanya mulai berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak, seperti ada beban berat yang terus menekan dari dalam. “Tuhan… apa aku diciptakan hanya untuk menerima semua derita ini?” bisiknya dengan suara bergetar. “Apa aku memang nggak berhak bahagia selamanya? Kalau aku harus menderita, aku masih bisa bertahan. Tapi bagaimana nanti dengan anak ini, Tuhan? Aku nggak akan sanggup kalau anakku harus hidup dengan penderitaan seperti aku…” Air mata Keira jatuh semakin deras. Tangisannya pecah, tak lagi bisa ditahan. Perasaannya gelisah, dadanya terasa semakin sesak, seolah udara di kamar itu habis tersedot oleh kesedihannya sendiri. Dengan tangan gemetar, Keira mengambil buku hariannya. Ia duduk di tepi ranjang, menuliskan isi hatinya sambil terus menangis. Air mata menetes di atas halaman buku, membuat tulisannya sedikit bergetar dan buram. Matanya yang bulat kini membengkak, hidungnya memerah—wajahnya tampak kacau, penuh luka yang tak terlihat. Dear hati, Tuhan, apa salahku sampai aku tak pernah diberi kebahagiaan? Kenapa Engkau mengirimkanku lelaki yang bahkan tak mampu memandangku sedikit pun dengan lembut? Apa dia akan terus seperti ini padaku? Atau lebih buruk lagi… apakah dia juga akan menyakiti anakku nanti? Aku bisa menerima semua yang dia lakukan padaku sekarang, tapi aku tak akan sanggup jika kelak anakku ikut tersakiti. Jika aku bisa mengubah nasib, aku ingin pergi dari hidup lelaki yang menjadi ayah dari calon anakku ini. Aku ingin menemukan seseorang yang mau menerima anak ini dengan tulus… Di luar kamar, Nathan berdiri terpaku. Tanpa sengaja ia mendengar isak tangis Keira dari balik pintu. Suara itu menusuk telinganya—pelan, rapuh, dan penuh kesakitan. Tiba-tiba ada rasa nyeri yang asing menjalar di dadanya. Nathan mengangkat tangannya, menekan dadanya pelan, mencoba memahami perasaan aneh yang baru saja muncul. “Apa gue sejahat itu?” gumamnya lirih. “Apa gue keterlaluan sama wanita yang lagi ngandung itu?” Untuk sesaat, niatnya membuka pintu dan berkata sesuatu muncul… lalu menghilang begitu saja. “Maaf, Keira,” bisiknya hampir tak terdengar. “Gue udah jahat. Tapi gue juga nggak bisa nahan emosi tiap lihat wajah lo. Rasanya semuanya lepas kendali. Kata-kata jahat itu keluar sendiri…” Ia menghela napas panjang. “Sekali lagi… maaf.” Beberapa menit Nathan berdiri di sana, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi. Ia tak sanggup lagi mendengar tangis wanita yang kini berstatus sebagai istrinya—tangis yang diam-diam mulai melukai nuraninya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD