Pergi. “Sara, ke ruangan saya, sekarang.” “Baik, Pak,” Sara mengangguk dengan sopan, mengikuti langkah Tian dari belakang. Para staff menatap kedua orang itu lewat ekor matanya. Baru beberapa bulan menjabat sebagai CEO karena ayahnya yang sibuk si Jerman, Tian sudah menjadi incaran para karyawati. Tapi pria itu tak pernah melirik seorang pun dari mereka, terkecuali... Sara. “Ada apa, Pak?” tanya Sara segera setelah menutup pintu ruangan Tian. “Ntar pulang kerja temenin gue, yuk,” Tian duduk di sofa dan menepuk-nepuk sebelahnya. “Duduk, sini.” “Ada meeting dengan siapa, Pak?” Tian mengerutkan keningnya dalam. “Udah gue bilang kalo berdua di ruangan gak usah formal-formal.” Sara hanya menatap Tian dengan wajah datar, tanpa ekspresi. Tian yang selama dua bulan ini menyadari ada perubah

