Prolog
Jeritan, kekacauan, dan tentu saja, kepanikan mulai menyelimuti hati orang-orang. Berita tentang pembunuh berantai itu menggelegar. Ditambah desa yang terbakar hangus oleh sang jago merah. Semua ketakutan melanda penduduk yang hanya berjumlah lima puluhan saja.
Lima detik pertama. Korban mulai berjatuhan. Tidak ada yang tahu persis di mana pembunuh itu. Yang mereka lihat hanyalah darah sanak saudara sendiri. Dan saat mata ini menangkap kenampakannya, saat itulah waktunya berakhir.
"Tidak!"
Deru napas seorang anak muda naik turun tak beraturan. Netra matanya menatap sekeliling. Percuma, dia hanya melihat kobaran api di mana-mana. Bahkan ia harus menutup mata, dikala melihat seseorang terbakar.
"Aku ingin hidup!" Kalimat itu menjadi mantera baru baginya. Staminanya tak pernah sebanyak ini sebelumnya. Untuk berjalan saja, dia masih membutuhkan bantuan orang lain. Namun, sekarang lihat kakinya. Mengayun cepat bagaikan angin yang terjebak dalam lingkaran api.
Ia memekik kecil tepat saat sebuah kayu yang terbakar jatuh. Raganya yang kaget terpental ke belakang. Bokongnya menyentuh tanah yang bercahaya kuning. Tersadar akan sesuatu, anak muda itu hendak memutar diri. Namun, di sanalah dia. Tak jauh di belakangnya dengan senyuman mengerikannya.
Enam belas detik. Hanya tinggal beberapa detik lagi hingga semua ini berakhir. Sayangnya, anak muda itu tak tahu menahu. Tatapannya melotot lurus ke arah sosok itu. Jantungnya berpacu dengan cepat, seolah berteriak ingin keluar dari rongga dadanya. Satu detik ia berkedip, satu detik pula jantungnya kembali tenang. Begitu damai hingga melupakan keinginannya untuk kabur.
Tatapan matanya sayu, anak itu jatuh sebelum menatap jelas siapa pembunuh itu.
"Dua puluh lima, hihi," Sosok bermata biru itu terkikik senang. Seringai di wajahnya melebar. Sembari membersihkan pisau kecil yang terkena noda merah, sosok itu berjalan keluar dari desa.
Api yang masih berkobar itu sangat membantunya. Selain membunuh mangsanya yang lain, jago merah itu juga menciptakan panggung yang sempurna untuknya. Kepanikan yang natural, untuk kematian yang ditakdirkan. Sosok itu menghentikan derap langkahnya. Menatap ke arah desa yang telah membesarkan dirinya tanpa rasa bersalah sama sekali.
Gila memang, wajahnya justru menerbitkan senyum terima kasih. Entah atas jasa karena membentuk karakternya atau atas percobaan pembunuhan yang dia lakukan pertama kalinya. Apa pun itu, suasana hatinya tetap bahagia. Kini, ia akan melanjutkan aktivitasnya di lain tempat. Bukan yang lain, sosok itu hanya ingin merenggut nyawa.
"Selanjutnya, aku bisa membunuh berapa orang, ya?"
***
"Satu."
Harmoni yang menyenangkan. Seorang lelaki menghitung sesuatu dengan bersenandung. Bernyanyi dengan nada yang dia buat sendiri. Ia berharap ada yang memujinya, lagunya terdengar luar biasa. Mungkin bisa mengalahkan lagu klasik milik W.A Mozart.
Namun, sebelum mereka sempat memuji, suara orang-orang itu menghilang. Meninggalkan tubuh yang sudah tak bernyawa. Jiwa mereka terbang tak terlihat menuju akhirat. Dan pria tadilah yang mengantarkan jiwa-jiwa itu. Sungguh berhati mulia, hanya pemikiran orang gila yang akan berkata seperti itu.
Muak dengan pedang kecilnya yang sudah bersimbah darah, pria itu melemparnya menuju jantung orang yang lari tak jauh darinya. Tangan yang tertutup sarung tangan menyusup ke arah mantel hitamnya, mengeluarkan benda yang lain. Sebuah pistol berwarna perak dengan pegangangan berwarna hitam.
Kaki-kaki telanjang itu berlari cepat. Hari menjelang pagi ketika ia sampai. Meski beberapa masih terlelap dalam mimpi, masih ada orang yang rajin bangun pagi. Dan itu menguntungkan bagi sang lelaki. Skenarionya telah tersusun apik.
"Oi! Selamat pagi!" sapanya melompat ke arah seorang kakek tua yang terkejut. Keduanya bertubrukan, sang lelaki mengarahkan moncong pistolnya ke arah kepala. Kakek tua itu bergetar ketakutan. Belum sempat ia meminta permohonan, timah itu menembus dengan cepat.
"Sepuluh!"
Perhatian lelaki teralihkan. Telinganya menangkap suatu benda yang terjatuh. Hihi, mangsa baru, pikirnya.
Namun, kakinya terhenti. Mata birunya mengamati manusia yang berdiri tak jauh darinya. Seketika, ia memasang wajah juteknya. Tanpa kata, lelaki itu meninggalkan sang gadis yang terpatung dengan raut wajah datarnya.
Gadis itu berbalik, hendak menanyakan sesuatu. Namun, sosok lelaki tadi sudah menghilang. Tak lama, ia mendengar suara jerit kuda. Melengking begitu keras, membuat orang yang mendengarnya menjadi was was. Orang-orang pun terbangun, apa lagi pemilik kuda. Kuda-kuda cokelat itu berlari tak tahu arah dan menabrak apa yang ada di depannya.
Kekacauan kembali terjadi. Itu berarti, nyawa seseorang kembali diambil. Suara pelatuk pistol ikut melengking. Menambah suasana riuh kota kecil itu.
Gadis berambut pirang itu berlari ke sana ke mari. Mencari sosok pembunuh di kota kelahirannya. Abai dengan jasad tetangganya yang tergeletak. Telinganya terus diperkuat untuk mendengar sumber suara pistol yang masih nyaring.
"Misi selesai!"
Gadis itu menghentikan langkah. Deru napasnya masih belum teratur. Pandangan matanya mengarah ke lelaki berjubah hitam tadi. Pistol yang ia gunakan berada di tangan kanannya, moncongnya ke tanah. Wajahnya menantang langit, tersenyum puas di atas mayat yang baru saja ia bunuh.
Bohong jika ia tak mengetahui sosok gadis yang sedang mengatur napasnya itu. Namun, ia mencoba abai. Itu bukan mangsanya. Tak lama, ia melompat turun dan membuang pistolnya sembarangan. Menyimpan kedua tangannya dalam saku.
"Tunggu!" Lelaki itu menuli. Langkah tegapnya tak gentar berhenti. Gadis itu pun kembali berlari. Berhenti tepat di depan lelaki berdarah dingin itu. "Kenapa?"
Lelaki itu diam saja.
"Kenapa kau tak membunuhku?"
"Aneh. Orang lain justru malah senang kalau nyawanya selamat. Kenapa kau malah bingung?" tanyanya balik tak mengerti gadis berwajah datar di depannya ini.
"Karena aku ... ingin mati."
"Oh," respon lelaki itu singkat dan berjalan melewatinya begitu saja.
"Tuan!" panggil sang gadis menarik ujung jubah lelaki itu agar kembali berhenti. Lelaki itu pun marah, bukan jengkel karena sikap gadis yang seenaknya itu, tapi karena dipanggil Tuan. Apa gadis itu tak melihat wajah mudanya ini? Sembarangan!
Gadis itu acuh tak acuh. Tatapannya menatap ke arah mata sang lelaki. Berbicara sejelas mungkin. "Tolong bunuh aku," pintanya kemudian.
"Nggak mau!" tolak sang lelaki menarik jubahnya. Namun, gadis itu tak melepaskannya dengan mudah. Kembali bertanya alasan kenapa ia tak mau membunuhnya. Padahal, baru saja ia membantai penduduk kota. Bukan hal sulit baginya menambah satu mangsa.
Lelaki itu berdecak. Lama-lama muak juga dia. "Lihat saja wajahmu! Kau membosankan, Nona! Saat pertama kita bertatapan saja hanya wajah datar yang kau tunjukkan. Kau tak memiliki rasa takut apa lagi panik."
"Apa masalahnya?"
"Itu masalahnya! Agh!" pekiknya kembali kesal. Lelaki itu menggaruk rambut yang sama pirangnya dengan sang gadis. Dia harus tenang, menjelaskannya perlahan pada gadis kecil tak tahu diri tersebut.
"Dengar, Nona. Aku ini hanya akan membunuh seseorang dalam keadaan panik. Kau pikir untuk apa aku susah-susah membuat kekacauan tadi? Jika aku memang bisa melakukan sama seperti ninja-ninja yang menghilang setelah membunuh," terangnya panjang lebar.
Genggaman tangan sang gadis mengendur. Ini kesempatan bagi sang lelaki untuk kembali melanjutkan perjalanannya yang tertunda.
"Kalau aku berada di hadapanmu dengan keadaan panik, apa kau mau membunuhku?" tanya sang gadis dengan nada tinggi.
"Ya."
Mendengar jawaban singkat yang dilontarkan padanya, gadis itu membulatkan keputusan. Kaki yang tertutup sepatu boots cokelat setinggi bawah betisnya berayun mendekat. Menyamakan langkah dengan sang lelaki.
"Mau apa kau?" tanyanya heran.
"Kalau kau mau membunuhku, bukannya aku harus berada di dekatmu? Siapa yang tahu aku bakal panik nanti? Kalau aku tak berada di hadapanmu saat itu, bisa repot."
Lelaki itu tertawa renyah. Gadis datar yang membosankan di sampingnya ternyata bisa menghibur. Pikirannya kembali tak acuh, terserah gadis itu saja. Ia tak mau peduli.
"Kau yakin mau ikut bersamaku? Yang kulakukan hanya membunuh lho," tanyanya yang bisa dibilang munafik. Pikiran berkata tak peduli, tapi mulut justru melontarkan kalimat kepedulian.
Gadis itu mengangguk dengan wajah andalannya, datar. "Aku akan membantumu. Anggap saja imbalan karena kau akan membunuhku suatu saat nanti."
Lelaki itu kembali tertawa. "Imbalan yang menyenangkan." Tatapannya beralih ke mentari yang kian meninggi. Sinar menyilaukannya tak menghentikan langkah mereka. Melangkah ke hari baru dengan takdir yang sudah menunggu.
"Tapi, pertama-tama. Kita harus sekolah."
***