PART 8 (Autumn Mission)

4234 Words
POV Adit   Gak terasa gue udah berada di kampus ini, hampir sebulan. Banyak hal yang telah terjadi sejak awal gue menjadi Maba. Sangat jauh dari apa yang gue harapin selama ini. Harapan untuk tenang menjalani masa-masa kuliahan, eh ternyata... Hufhhh!!! Yang jelas hal yang paling banyak terjadi, yaitu keributan. Suasana kampus, yang selalu saja tidak kondusif dengan adanya penguasa kampus dengan sebutan 4 Devils. Oh Iya, sedikit gambaran tentang gue yah! Gue adalah... yah gue. Lahir dari keluarga, yang lumayan berkecukupan. Tapi jangan di bandingin ama para pentolan 4 Devils loh! Mereka itu emang terkenal paling tajir di kampus ini, apalagi pimpinannya si Oki, anak Pak Wijaya yang dikenal sebagai orang terkaya di negara ini. Dengan modal pergaulan selama ini, yang menurut gue cukup luas. Sering nongkrong di berbeda-beda kampus, bareng teman-teman lain gue. Jadi sedikit banyaknya gue mengetahui informasi atau berita-berita aneh yang telah terjadi khususnya di kampus ini. Sebelum para pentolan 4 Devils berada di kampus ini, suasananya aman-aman saja. Tidak ada keributan, yah kecuali adanya perang antar fakultas doank. Biasanya sih, fakultas tehnik versus Ekonomi. Namun, setelah adanya 4 Devils. Perkelahian antar fakultas sudah tidak terjadi lagi. Semua aman terkendali, kecuali kepemimpinan mereka dengan cara diktator. Bukan pimpinannya sih! Lebih ke... Para antek-antek mereka yang sok berkuasa, dan semua lahan di mana pun di dalam kampus, seakan telah mereka miliki.   Oh iya, pasti kalian berfikir gue asli orang Semarang? Kalian salah besar. Kenapa gue di Semarang? Karena dua tahun lalu, sempat menghajar seseorang hingga tulang kakinya patah. Dan mengakibatkan gue harus mendekam selama 2 tahun di penjara. Tau gak siapa yang gue hajar? Juara 1 Karate tingkat Provinsi. Dan gue, akhirnya nantangin dia duel di tempat tersembunyi, tanpa alat. Duel tangan kosong. Gue ke Semarang, hanya untuk mengambil ijazah persamaan saja, dan gue balik lagi ke Jekardah utk berkuliah.   Singkat dan jelas, perkenalan gue kan? Well! Kita lanjut yah. Gue punya sahabat di kampus... Mereka cukup lucu, dan cukup membuat gue kadang terhibur. Apalagi si Duo Koplak Eko dan Rizal. Sesama m***m, yang selalu saling Bully membuat gue ma yang lainnya kadang ngakak. Gue akuin Eko cukup berani. Mempunyai nyali yang lumayan besar. Namun, kemampuan bertarungnya masih di bawah standar. Gue? Kasih tau gak yah... Hehehehe! Skipp aja dah. Saat kejadian yang mengharuskan gue tetap bertahan, dan tak menunjukkan di hadapan kawan-kawan gue, kalo gue sebetulnya jago berantem. Gue akhirnya juga mengingat kejadian kala itu. Jujur, kejadian pas Eko dan Rizal menjadi bulan-bulanan anggota 4 Devils di tengah lapangan, gue hampir saja gak bisa menahan untuk tidak membantu mereka. Namun, ada hal yang akhirnya gue bisa bertahan. Yaitu si Reno. Yap! Dia, sahabat gue yang sangat susah gue tebak, orangnya kayak gimana. Yang jelas, dia cukup pendiam. Bukan cukup, malah pendiam banget. Tak ada ekspresi apapun yang selalu ia tampakkan, kecuali ekspresi datar. Gak ada emosi di wajah itu. Kadang membuat gue, jadi keki sendiri. Dan hingga sekarang gue masih penasaran ma dia. Seperti ada yang di sembunyikan. Namun, karena sikapnya yang selalu tak banyak bicara, dan selalu ingin mengalihkan diskusi jika menyangkut tentangnya dengan cara menggidikkan bahu, maka sukses membuat gue ma yang lainnya hanya bisa menghela nafas.   Berakhirnya dengan hasil Eko dan Rizal babak belur, maka membuat gue gak yakin sampai sejauh mana tetap akan diam seperti ini. Kini, gue ma anak-anak lagi nongkrong di taman depan gedung Rektor. Awalnya kami mengobrol biasa... Seputaran hal yang mengingatkan kepada mereka, jika memilih diam jauh lebih baik ketimbang mencari masalah lagi dengan para anggota 4 Devils itu. Tak pernah berhenti gue selalu mengingatkan mereka. Eko, yang kadang suka menyela perkataan gue, karena balik lagi. Masih ada dendam yang tersembunyi dalam dirinya, setelah kejadian di tengah lapangan kala itu. Di tengah-tengah obrolan kami, mobil Billy aka Virghost melaju dengan kecepatan sedang di samping kami, hingga entah dia sengaja atau tidak, genangan air yang ada di dekat kami, tak di hindari. Akhirnya kami terkena cipratan genangan air itu. Gue makin yakin ma Reno, ada sesuatu yang ia sembunyikan. Dimana sempat gue lirik, si Reno masih dengan ekspresi yang sama. Bahkan ia tak berkedip sama sekali.   Setelah kejadian itu, dan berakhir dengan mendapatkan salam jari tengah. Maka kami hanya bisa menarik nafas. Dan tetap menahan sabar. Wong, Bapak bernama ‘SABAR’ saja bakalan mati kok.   Kami kembali mengobrol... Dimana sempat terjadi adegan konyol, dari si Cindy tuh. Apakah emang dia sepolos itu yah? Sampai-sampai mau nunjukin t***t dia ke Eko. Seriously gaes! Gue di buat speechless ma kelakuan dia. Yah! Kucing di kasih ikan, yah pasti gak nolak lah. Eko, dia mau mau aja. Wong gratis kok. Hahahahaha. Untung saja, tiba-tiba empat orang aneh datang menghampiri kami. Hingga Eko gagal menyentuh t***t si Cindy. Gue mikir 4 orang ini, adalah orang suruhan si Virghost nih. Mereka berbicara langsung mengolong-ngolok kami. Gue awalnya menatap ke mereka, namun karena mengingat jika kami bukan lawan tanding 4 Devils, maka gue merubah pandangan gue. Lalu berpaling, dimana sekilas gue melirik ke Reno. Busyet, dia masih diam saja... Ekspresinya biasa saja. Saat gue baru ingin kembali memandang ke empat orang itu, tiba-tiba salah satu dari mereka maju mendekat. Berjarak 5 detik, orang itu melayangkan pukulan ke arah wajah Reno. Yah meski, orang yang mau mukul, awalnya seperti mau gertak-gertak gitu. Tapi, tetap saja dia bakal mukul wajah si Reno. Ahhh! Reno, menghindar woi! Batin gue saat melihat Reno masih memasang wajah datar tanpa berkedip sama sekali. Karena merasa Reno akan terkena bogem secara gratis, maka gue pun menahan pukulan orang itu.   TAPP!!!   “Adit???” gue sempat mendengar suara Eko. Lalu gue menatap orang yang gue tahan pukulannya. “OHHH!!! BISA JUGA KEMAMPUAN LOE,” Kata orang itu. “HAJAR BRO!” Teriak kawan lainnya.   Orang itu marah. Dan, dari ekor mata gue, tangan kirinya bergerak dari bawah naik ke atas. BUGH!!! Gue emang sengaja membiarkan dia menghajar perut gue sekali. Yah, pukulannya cemen sih! “Uhhh ampun bang...” kata gue. “Awas loe, mau jadi jagoan di kampus ini... berhadapan dulu dengan kami.” “Iya bang ampun... ampun,”   “Dit!” gumam Eko, sempat gue dengar. Namun, dengan gesture memakai tangan kiri, tanpa orang itu sadari, gue menyuruh Eko untuk tetap tenang. Sahabat gue, mereka diam. Dan setelah meminta maaf kepada mereka berempat, sambil bermohon-mohon ampun. Maka mereka pun pergi meninggalkan kami. Sempat tubuh gue ke dorong ke belakang, namun gue tetap bisa menerima perlakuan darinya. Gue melirik ke Reno, ia masih memandang kepergian ke empat orang itu masih dengan ekpsresi datar seperti tadi. Arhhhhh! Nih orang gak ngerti apa, kalo dia hampir saja di pukul. “Loe gak apa-apa Dit?” Eko lalu berdiri, dan memegang bahu gue. “Iya Ko, gak apa-apa.” “Serius,?” “Iya... Hehehe, cemen sih pukulan dia.” “Njir, udah gue tebak! Loe pasti bisa berantem juga.” Kata Eko sambil nepuk-nepuk pundak gue. “Hehehe, biasa aja Ko!” “Gak... loe pasti jauh lebih jago dari gue ma Rizal! Dan itu bikin gue makin semangat nih.” Kata Eko, gue hanya geleng-geleng kepala. Yap! Setelah kejadian hari ini, gak akan lagi gue tutup-tutupin ke mereka. Akan gue ceritakan secepatnya, seperti apa gue yang sebenarnya.   ~•○●○•~   POV 3rd   Di sebuah kamar hotel bertype Suite. Berukuran selayaknya hotel berbintang lima. Lantai keseluruhan kecuali bagian dalam toilet, beralaskan karpet berwarna ‘Grey’. Dari pintu masuk, di sebelah kiri, toilet dengan lapis kaca buram. Setelah melewati Toilet, terdapat dua sofa dengan meja kecil, yang memang di sediakan oleh pihak hotel untuk type kamar seperti ini. Melangkah maju, di sudut kanan terdapat meja kerja terbuat dari besi. Kaca berbentuk bulat, dengan beberapa peralatan di atasnya. Terdapat laptop milik si tamu yang menginap malam ini. Di sebelah kanan, sebelum tiba di meja tersebut, ada TV berukuran 52 Inch. Dan berhadapan dengan ranjang king zise dimana di atasnya, sosok memakai kaos oblong berwarna putih, dengan celana pendek sedang berbaring, dengan dua lengan berada di bawah kepala.   Malam ini, Reno yang sedang berbaring di atas ranjang, kedua matanya menatap lurus ke TV. Meski demikian, pikirannya melayang kemana-mana. Sejujurnya Reno, memilih untuk tidak beraktivitas malam ini. Beberapa telfon dari kawannya pun, hanya ia abaikan begitu saja. Benaknya kini sedang memikirkan banyak hal, yang jelas salah satunya sempat terbersik ingatan tentang Yunita. Namun hanya sesaat saja, kemudian berganti dengan ingatan ke-kejadian siang tadi di kampusnya. Sebetulnya, dengan insting seorang agen type ‘DD 01’ sangat mudah untuk membaca pergerakan lawan. Apalagi yang melayangkan pukulan siang tadi kepadanya, tidak menguasai tehnik bela diri yang sebenarnya. Reno ingin memiringkan kepalanya saat kepalan tangan itu, sudah berjarak 2 centi darinya. Namun, dari ekor matanya ia sempat melihat adanya pergerakan. Maka Reno pun tetap diam. Benar saja, Adit yang akhirnya menahan kepalan tangan itu. Dan sukses buat Reno, langsung mengetahui jika selama ini Adit hanya menyembunyikan kemampuannya. Dan dari cara Adit menangkap kepalan tangan itu, menurut Reno jika Adit jauh lebih menguasai tehnik bela diri ketimbang dua kawan lainnya yaitu Eko dan Rizal.   Apakah Adit bagian dari Associated? Bukan! Reno yang menyandang gelar ‘Direct Of Death’ cukup mudah mengetahui tehnik, gerakan dan sikap para team seperti dirinya. Dia tak mudah di kelabui, meski sekuat apapun ia bersembunyi. Intinya, team yang bagian Enforcer/Penyerang. Seperti apapun ia bersembunyi, agen type DD 01 seperti dirinya, akan mudah menebaknya. Bahkan agen type “SD” penembak jitu jarak jauh pun cukup mudah Reno tebak jika memang dia sedang menyamar/bersembunyi di dekatnya.   Kecuali... Yah! Ada pengecualian. Dan hingga saat ini, Reno masih belum bisa merasakan kehadiran sosok itu jika berada di dekatnya. Hanya satu type agen yang Reno sangat susah tebak. Agen type ‘Death Scout’. Apalagi jika menyandang angka ‘01’ seperti dirinya. Apakah Adit agen type tersebut? Tentu saja bukan. Karena yang menyandang gelar DS 01, hanya ada dua orang di Indonesia. Dan keduanya, seorang perempuan. Hingga saat ini, Reno sama sekali belum pernah bertemu dengan kedua orang itu. Sebetulnya, agen type seperti ini tidak terlalu berbahaya buat sesama mereka. Karena agen DS masih jauh kemampuan bertarungnya, jika di bandingkan dengan agen type DD. Mereka yang mendapat gelar agen type DS hanya akan mendapat misi penyusupan, penyamaran, dan selalu saja akan membutuhkan waktu lama dalam mengeksekusi target. Dan untuk bagian eksekutor, selalu agen type DD, DB, dan DT yang akan melakukannya. Harapan Reno hanya satu...   Di antara sahabatnya, semoga tidak ada bagian dari anggota Associated! Jika ada, maka Reno gak segan-segan meminta ke Pak Edward untuk di berikan misi ‘ZIMA’ agar bisa menghabisi nyawa orang itu. Reno gak ingin, ada agen sepertinya berada di dekatnya. Cukup dengan Yunita saja, ia melakukannya. Dan itu, pengalaman yang cukup buruk bagi Reno. Namun yang membuat Reno sedikit bernafas lega, dimana agen bertype DD 01 sepertinya. Tersisa dua orang saja di Indonesia. Yaitu dia dan Joe. Mempunyai peringkat dan nilai yang sama dari segala sisi.  Perbedaannya hanya di tehnik bela diri saja, dan juga penguasaan menggunakan senjata tajam. Reno memilih menguasai penggunaan Kerambit. Sedangkan Joe, memilih pisau atau pedang, untuk mengeksekusi TO dengan menggunakan alat Sajam tersebut. Jika penguasaan senjata api? Mereka berdua imbang.   Tiba-tiba...   Lamunan Reno teralihkan dengan berita di TV, yang menayangkan sebuah kabar kematian seorang Selebgram dua hari yang lalu. Di temukan tewas di sebuah losmen, dengan kondisi tubuh yang sangat memprihatinkan. Korban di temukan sedang tergantung di atas besi dalam kondisi tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Beberapa peralatan yang terbuat dari besi, tertancap di alat vitalnya. “BDSM...” Gumam Reno sesaat. Ia lalu mengeraskan volume TV. Setelah dengan seksama mendengar keseluhuran informasi itu. “Psycopat?” Gumam Reno selanjutnya, dengan sedikit nada tanya. Benak Reno mulai bertanya-tanya, dimana ia belum pernah mendengar jika anggota Associated, melakukan pembunuhan sekejam itu. Kecuali Yunita. Itupun, Yunita hanya yang ter-ekstrim memotong alat kelamin TO. Bukan dengan cara seperti yang ada di berita saat ini. Selanjutnya, kening Reno makin mengerut saat dimana ternyata selama 4 bulan ini. Sudah di temukan 4 Selebgram tewas. Yang ternyata sebelumnya, menurut informasi ke 4 korban telah terjaring dalam prostitusi ibu kota. Orang-orang menyebut pelaku pembunuhan “HYENA?” Benak Reno bertanya-tanya, apakah pembunuh itu adalah bagian dari Associated? Kemudian Reno beranjak dari ranjang, lalu meraih remote TV di atas meja samping kanan ranjang. Reno mengganti channel TV, dan ia pun memilih untuk tidak memikirkan kejadian pembunuhan berantai tersebut. Toh, dia juga sering melakukan pembunuhan.   Setelahnya, ia berjalan menuju ke meja di sudut. Lalu ia membuat secangkir kopi untuk menemani kesendiriannya malam ini. Setelah menyeduh, dengan sendok kecil di tangan kanan. Reno mengaduk-ngaduk pelan, kopi tersebut. Dan indra penciumannya, langsung menghirum aroma kopi Robusta yang menggugah. Selanjutnya ia meraih sebungkus rokok Garpit yang ia letakkan begitu saja di atas meja. Di bakarnya ujung rokok, kemudian menarik dalam-dalam asap melalui filter. Reno lalu duduk di belakang meja. Di bukanya laptop, sambil tangannya mencoba mengklik-klik sesuatu. Intinya, Reno saat ini Gabut. Saat ia hanya menatap ke layar laptop dengan pikiran yang tak bersatu dengan raganya. Notif pesan SMS baru saja masuk di ponsel jadulnya. TING!!! Benak Reno langsung bertanya, misi apa yang akan ia dapatkan.   Reno meraih ponsel itu, lalu membuka pesannya.   Pak Edward :   “AUTUMN”   Kemudian, ponsel lainnya pun berdering tanda adanya pesan masuk. TING!!!   Pak Edward :   Picture TO : -JPG File- (Buram) Name  : HYENA Asal : Grey Location : - Time : 7 Days Accept or ignore?     Reno pun mulai membaca pesan selanjutnya, yang semua keterangan sangatlah abu-abu. Hanya foto target yang buram. Dan juga, nama TO yang disebut HYENA. Jika dimana, TO adalah pelaku pembunuhan, yang baru saja muncul di berita tadi. Seringaian tipis di wajah Reno, sambil menghisap dalam-dalam filter garpitnya. Lalu segera membalas pesan Pak Edward, jika dia akan menerima Case tersebut. “Accepted!” Akhirnya punya pekerjaan juga dia malam ini. Reno segera duduk di meja kerja, membuka kembali laptopnya. Menyalakan Wifi yang terconnect dengan Hotspot dari ponselnya. Sengaja ia tak memakai Wifi di hotel. Untuk menjaga-jaga saja menurut Reno, jika sesuatu hal akan terjadi.   Beberapa informasi telah tampak di beberapa page ‘Deep Web’ dimana semuanya tentang informasi kematian 4 korban Selebgram. Yang juga terdapat Informasi dari kepolisian tentang para korban, ciri-ciri korban semua wanita. Yah pasti, namanya juga selebgram. Beberapa sumber, dengan informasi secara sepotong-sepotong mulai di catat oleh Reno. Mulai dari profil ‘Selebgram’para korban pembunuhan. Kening Reno mengernyit ketika mendapati jika mereka berada di berbeda-beda alamat. Bahkan jarak rumah satu ke rumah yang lainnya sangat jauh. Dan, ketika membuka Applikasi i********: dan mensearching satu persatu nama korban. Dimana Reno tidak mendapatkan beberapa petunjuk jika para korban saling mengenal sebelumnya. Satu catatan kecil buat Reno, berarti korban di pilih secara acak. Jarak waktu kematian mereka, selisih 4 minggu. Tempat kejadian, pun tidak saling berdekatan lokasinya. Sepertinya pelaku juga melakukannya secara acak. Satu hal yang menarik buat Reno, dimana kejadian selalu berada di Losmen. Bukan di Hotel. Korban adalah bagian dari bisnis prostitusi negara ini, dengan biaya yang jelas tidak sedikit. Berarti pelaku, memiliki setidaknya uang berlebih untuk menarik perhatian korban. Dan hingga bisa mengajak korban untuk bertemu di losmen. Maka kesimpulan kedua, dimana pelaku berasal dari background orang-orang berduit. Karena menurut info yang ada, sekali menyewa Selebgram untuk Short time, harus menyiapkan dana minimal sebesar 15 – 20 juta rupiah.   Reno mengkrucutkan lagi tentang informasi dan keterangan yang telah ia tulis saat ini. Berduit, korban secara acak, eksekusi di losmen bukan di hotel. Tujuannya agar pelaku dengan mudah kabur setelah melenyapkan nyawa korban. Mulailah Reno menyatukan kembali puing-puing informasi yang tersisa, dimana akhirnya kesimpulan yang Reno ambil ada dua pilihan. Pertama, anak dari salah satu pengusaha yang mempunyai catatan kriminal di kepolisian, sudah beberapa kali melakukan pembunuhan. Namun, karena kekuatan ayahnya dia selalu kebal akan hukum, dan hingga saat ini keberadaannya pun belum di ketahui. Melihat kondisi ke-empat mayat korban, pilihan pertama yang akan merujuk ke pelaku Psycopat, tentu saja sangatlah jauh. Dimana background nya tidak mempunyai catatan jika pernah atau sedang mengidap penyakit. Maka, Reno menyilang opsi pertama.   Opsi kedua, dimana Reno menyasar salah satu NAPI, dengan beberapa potong informasi menjadi satu kesimpulan. NAPI yang kabur dari Lembaga Pemasyarakatan, dan sempat melenyapkan nyawa 4 orang penjaga Lapas kala itu. Napi itu bernama, Antoni Jabrik. Dan opsi kedua, di centang oleh Reno. Mungkin untuk malam ini, dan besok Reno akan mencari informasi lainnya. Di tangan kanan Reno, mulai menulis-nulis beberapa catatan kembali di buku agenda kecil yang biasa dibawanya. Mengumpulkan puing-puing informasi, dan juga mulai bermain dengan hipotesis yang ia dapatkan. Ia mulai mencatat, nama Antoni Jabrik. Napi LAPAS. Kedua, kabur dari Lapas dan sempat melenyapkan nyawa 4 petugas lapas. Ketiga... Nah ini yang sedikit membuat hipotesis Reno agak kuat. Dimana ia mendapat satu kunci jawaban, jika Antoni Jabrik, adalah Pasien di RS ABZ yang mengidap penyakit ‘Mental Dissorder’ berupa ‘Skizofrenia’ yg punya kecenderungan Psikopat. Berasa dari keluarga yang berkecukupan, bahkan di kenal mempunyai beberapa usaha-usaha kecil di daerah jawa barat sana. Terakhir, Antoni. Di kenakan hukuman 20 Tahun penjara, Pelaku kasus pembunuhan berantai di Bandung dan Cirebon 2 tahun lalu. Memiliki catatan IQ 165 saat berusia 12 tahun, ia merupakan anggota termuda Milka Internasional (organisasi orang-orang jenius) dari SEA. Dan peraih gelar doktor termuda dalam bidang matematika. Tapi yang paling menakutkan adalah dia juga di juluki pembunuh berantai termuda. Hanya dalam waktu setengah tahun, Antoni membunuh 5 orang. Tapi tidak ditemukan sidik jari di TKP. Helai rambut? Tidak ada. Jejak kaki dan air liur? Tidak ada. Hanya ada mayat korban.   “Benar-benar seorang psikopat.” Gumam Reno sesaat. “Oke. Menarik,” Lanjutnya.   ~•○●○•~   Ke-esokan harinya...   Mobil Alphard berwarna hitam. Baru saja mengambil jalan sebelah kiri, saat gerbang kampus baru saja terlihat. Saat tiba depan gerbang kampus, beberapa security yang melihat kedatangan mobil itu segera berlari, kemudian berdiri berposisi di kiri dan kanan jalan. Para security langsung membungkukkan sedikit badannya, untuk memberikan penghormatan kepada pemilik mobil tersebut. Dalam mobil samar-samar, duduk di bagian kemudi seorang pria berpakaian safari berwarna hitam. Sedangkan di bagian tengah, sepasang muda-mudi yang sebelumnya telah janjian untuk ke kampus bareng. Dialah Oki dan Lidya.   Saat mendapati penghormatan dari para security, Oki hanya menyeringai tanpa membuka kaca mobil sedikit pun. Begitu pun dengan Lidya. Sedangkan sang sopir, entah karena telah terbiasa, dan juga mengenal para security itu, akhirnya membuka kaca untuk menyapa security di bagian kanan. “Buat apa buka kaca,?” gumam Oki dengan tatapan dingin. “Ma-maaf tuan muda... ma-maaf!” Sang Sopir yang mendapat teguran keras dari Oki, langung ketakutan. “Lain kali, jangan di ulang!” “Baik tuan muda.”   Hening... Lidya yang duduk di samping sang kakak, hanya bisa menarik nafas. Ia juga, bergidik ketika sang kakak bersikap seperti ini. Menurut Lidya, sangat menakutkan. Sosok Oki yang selama ini Lidya kenal, paling jarang berusara. Tak kenal lawan, maupun kawan. Jika ada yang mencoba mengusiknya, maka hanya ada dua pilihan yang akan orang itu dapatkan. Rumah sakit atau kuburan. Beuhhh! Batin Lidya sesaat. “Kenapa?” tanya Oki dengan ekspresi dingin kepada Lidya. Sedangkan dengan adiknya sendiri, sikapnya seperti ini. Bagaimana dengan orang lain. “Tidak... Hehehe,” Lidya terkekeh. Namun, ia memanyunkan bibirnya ketika Oki kembali menatap ke depan.   Tampak dari luar, setiap orang yang melihat mobil tersebut, langsung pada menyingkir. Bahkan ada yang berlari terbirit-b***t seakan melihat hantu yang datang. Aura ketakutan tampak di semua orang, padahal jarak mereka berdiri cukup jauh dari jalan yang di lalui mobil itu. Semuanya, para pengendara mobil, motor dan pejalan kaki, pada memberikan jalan kepada mobil alphard tersebut dan benar-benar terlihat jalan di kampus langsung sepi. Tak ada satu pun yang berlalu lalang, ketika mobil berwarna hitam milik penguasa kampus berlalu. Lidya terkekeh sendiri melihat sikap semua orang yang berada di luar. Jelas saja, aura ketakutan pun langsung Lidya rasakan. Aura yang selalu saja, membuat tubuh Lidya bergidik. Ini salah satu hal yang kadang bikin Lidya malas untuk ke kampus.   Namun...   “Eh!” Lidya terkejut. Dan terpekik, saat mendapati satu motor melewati mobilnya begitu saja. Oki mengernyit, dan pandangannya tajam ke arah pengendara motor ninja tersebut. “Cari tau, siapa dia...” gumam Oki. “Baik tuan muda...” kata si sopir di depan.   Selanjutnya, mobil berhenti tepat di depan gedung Rektor. Keluar dari mobil, Oki dan Lidya. Setelah itu, mobil pun pergi meninggalkan tempat itu, dan seperti biasa. Akan balik lagi, ketika mendapat telfon dari empunya. “Oke deh! Lidya ke kelas dulu yah kak.” Kata Lidya berpamitan kepada Oki. Mereka harus berpisah di sini, karena letak gedung jurusan mereka berbeda.   ~•○●○•~     POV Lidya   Ahhhhh! Keadaan jadi makin aneh nih. Duhhh, gegara ada pengendara motor yang gak tau aturan. Ada juga yah yang berani melanggar aturan yang kakak gue buat di kampus, ck...ck...ck cari mati tuh orang. Gue sempat mikir sih, kek nya gak asing deh tuh motor. Pernah lihat dimana yah? Ahh! Nanti aja deh gue pikirin. Mending sekarang gue pamitan aja ma Kak Oki. Lumayan lama, gue gak ngampus. Lagian, siapa juga yang mau negur gue. Secara, kan nih kampus punya bokap gue juga. Hihihihi!   Beberapa hari ini gue selalu saja nongkrong di cafe nya si Mila. Sahabat gue sejak jama SMU dulu. Malas banget ngampus kalo selalu aja, ada keributan gak jelas. Oops! Meski keributan, yah gegara kak Oki juga sih. Setelah gue pamitan ma kak Oki, dan seperti biasa. Hanya dapat anggukan kepala dan muka yang cool gitu dari kak Oki. Gue langsung berjalan meninggalkannya menuju ke gedung tempat gue yang sebenarnya. Hufhh! Siapa coba yang bisa nahan deket-deket ma kakak sendiri, kalo sikapnya sama sekali gak ada bagus-bagusnya. Gue memasang headset di kedua telinga, nyambung dengan ponsel gue yang gue letakin di dalam tas. Beberapa orang yang gue lalui, seakan ingin menyapa gue dengan ramah. Ah masa bodoh! Gue gak perduliin. Mending gue cuek aja. Nikmatin music aja, cuek ma tatapan-tatapan aneh dari para cowok-cowok yang gue lalui.   Langkah gue terhenti, tepat di samping pintu masuk fakultas. Gue mengernyit, memfokuskan pandangan gue, yang kebetulan agak silau karena arah matahari sedang menyorot ke posisi gue berdiri saat ini. Hahayyy! Dia cowok yang sama. Dan ini udah kedua atau keberapa kali yah, bertemu ma dia. Cowok sok cool, sok kecakepan, dan sok... Pokoknya banyak soknya deh! Pandangan gue berganti, ke arah tangannya. Yang bikin gue makin heran, helm yang ia tenteng di tangannya... Helm yang sama, yang di gunakan pengendara motor tadi. Gue memutar kembali ingatan gue. Benar! Yah... Motor yang sama, yang goresin mobil gue di stopan kapan hari.   Senyum seringaian gue buat saat ia tersadar sejak tadi gue pandangi. Gue pun sedikit. Agak loh yah. Hihihihi! Merasa kek gimana gitu, saat dia pun membalas tatapan gue. Hanya sesaat, lalu gue liat dia udah berjalan kembali. Tuh kan! Sikapnya itu, cuek amat sih. Siapa coba yang gak keki kek gini, sejujurnya gue berharap dia takut, atau memasang ekspresi khawatir gitu. Secara kan, dia udah tau siapa gue. Dan apa hubungan gue ma kak Oki. Masa iya, dia sampai sekarang gak kenal Kak Oki. Dasar orang aneh.   Lahhh! Dia malah lanjut berjalan. Ihhhhh! Nih cowok bener-bener bikin gue BETE. Gue kejar aja deh.   And!!!   “STOP!” kata gue sambil menghentikan langkah tepat di hadapannya. Dan juga, menghalangi jalannya. Ekspresinya seperti biasa saja. Dan dia sukses bikin gue... Harus nyari cermin nih cepat-cepat, buat bercermin. Huh! Serius, apa ia dia gak menyadari kalo ada bidadari menghalangi jalannya? Dan apa iya, gue gak cantik menurut dia? Ahhh! Santai Lid. Mungkin, dia buta kali. Gue tatap matanya, dan dia tak berkedip. Keningnya juga mengernyit. Pasti dia bertanya-tanya, kenapa gue halangi jalan dia. Gue makin mendekatinya. Dan kini gue mendongak menatap wajahnya, yang emang dia lebih tinggi dari gue. Wajah ini gue buat seperti kesan sadis. Bedehhh! Gimana sih tuh kesan sadis? Hihihiih! Ok ok! Tenang Lid. Gak mungkin, nih cowok berani ngamuk. Secara pasti dia udah kenal, siapa gue... dan siapa kak Oki. Ya iyalah, pan udah gue sebutin pas ketemu pertama kali. Kalo gue itu anaknya Pak Wijaya. Karena dia gak lepasin tatapannya ke gue, maka ada rasa sedikit khawatir sih. Meskipun dia tau, siapa gue dan siapa kak Oki. Tapi kan, gak lucu kalo dia langsung mukul gue disini. Gue mendengus. Dan menunjuk tepat di wajahnya. “Hati-hati... Karena loe sudah berani menentang aturan di kampus ini.”   Beuh! Keren kan, kalimat gue? Hehehe. Setelah mengatakan itu, gue mengernyit. Benar-benar ekspresinya gak berubah. Sikapnya biasa saja, ahhhh! Seperti biasanya, dan sama sekali selalu membuat gue keki kek gini. “Arhhhhhhhh... AWAS LOE!” Maka dari itu, gue pun ninggalin dia yang masih berdiri. Gue hentak-hentakin kaki saat melangkah makin menjauh darinya. Gak tau deh, apa yang akan ia pikirkan tentang gue.   Akhirnya, nyampe juga di kelas. Setelah sejak tadi, jujur jantung gue degh-degh an euy! Mana lagi, ketemu ma tuh cowok aneh bin ajaib. Mana cermin... Mana cermin? Oh Gosh! Sadar Lid... sadar! Sejujurnya, gegara dia nih. Bikin gue sebetulnya malas ngampus. Pen cepat-cepat pulang aja kalo seperti ini. Dan dia sukses, membuat gue merasa kalo gue udah gak cantik lagi.   Gue melangkah masuk melewati pintu masuk. Awalnya suasana kelas yang riuh gemuruh oleh candaan dan obrolan beberapa orang, saat mengetahui kedatangan gue, kelas langsung hening. Hahahahaha! Takut yah loe pada? Selanjutnya gue melangkah gontai tanpa merubah ekspresi gue sedikipun.   “Minggir loe.” Kata gue saat salah satu cowok sekelas gue, ingin berlalu dan menghalangi jalan gue ke bangku. “Iya...” kata tuh cowok. Gue lalu melempar tas di atas meja, kemudian saat gue berbalik badan. Degh!!! Dia? Yah... dia ternyata berada di kelas yang sama. Gue hanya melempar senyuman meremehkan ke dia, saat mata kami saling bertatapan. Dia hanya menggidikkan dua bahunya, bikin gue jadi kesal lagi. Tapi, gue sabar dan bakal gue balas nantinya. Tunggu aja, tanggal mainnya. Reno! Yah... gue ingat, nama dia Reno. Karena SIM dan KTP nya masih gue sita.   Lalu, gue duduk di bangku gue yang semestinya. Dari ekor mata gue, beberapa pandangan yang tak ramah terarah ke gue. Namun saat gue mencoba untuk memalingkan wajah melihat ke mereka, semuanya langsung tertunduk. Hehe! Mereka cuma berani natap di belakang gue. Gue lalu menatap pergerakan Reno. Dimana dia berjalan melewati bangku di samping gue, dan duduk di dua bangku dari belakang. Dia sempat memandang ke arah gue, namun secepatnya gue alihkan pandangan gue ke depan. Terdengar di belakang gue, suara-suara berbisik. Entahlah, gue juga gak mau mikirin apa yang sedang mereka obrolin. Tapi, kalo gue boleh nebak! Paling mereka lagi nyeritain gue tuh.   Oopsss!!! Gue baru ngeh sekarang. Kejadian pagi tadi. Yah! Dia si Reno yang berani melewati mobil Kak Oki. Duhhh! Lidya, kenapa sih loe jadi pelupa gini? Ok ok! Tetap tenang, ambil ponsel loe. Dan telfon sekarang. Sekarang juga, jangan pake di tunda-tunda.   Lalu, gue mengambil ponsel dari tas. Dan mencari nomor kak Oki. Sesaat, gue palingkan pandangan ke Reno. Seringaian gue buat, namun yang gue dapatkan masih saja sikap yang sama darinya. Hufhhh!!! Oke. Sampai kapan loe bersikap kek gitu ke gue. Gue tersenyum penuh arti sambil dua jempol gue sibuk mengetikkan pesan yang akan gue kirim ke kak Oki.   Kak Oki.   “Kak! Orang yang kakak cari pagi tadi, ada di kelas Lidya tuh... Hehehehe, mau nyari mainan baru? Sok. Kesini aja.   Lidya tunggu. Bye!”     Still Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD