POV Reno
Sejujurnya hari ini aku agak malas ke kampus. Salah satunya karena masih tersisa rasa ngantuk. Semalam aku cukup di sibukkan mencari informasi mengenai TO dari misi yang sedang ku jalankan, terhitung sejak semalam setelah mengirimkan pesan ke Pak Edward, persetujuan menerima misi Autumn tersebut.
Berbabagai keterangan dari potongan-potongan informasi yang telah aku rangkum menjadi satu kesimpulan. Dimana aku mendapat dua pilihan, yang bersifat sementara saja. Karena aku belum begitu yakin menentukan pilihan, TO adalah orang yang sama, yaitu Antoni salah satu dari dua pilihanku semalam.
Karena keterangan dari pihak Associated, masih GREY. Intinya pelaku atau TO bernama HYENA ini, tentunya orang Berduit, memilih korban secara acak, eksekusi di losmen bukan di hotel. Tujuannya agar dia dengan mudah kabur setelah melenyapkan nyawa korban.
Pilihan pertama, telah aku beri tanda silang. Yang artinya, aku mencoret sebagai targetku. Anak dari salah satu pengusaha yang mempunyai catatan kriminal di kepolisian, sudah beberapa kali melakukan pembunuhan. Namun korbannya hanya tertusuk di perut, atau korban tertembak senjata api. Dan, karena kekuatan ayahnya, selama ini dia selalu kebal dari hukum, dan hingga saat ini keberadaannya pun belum di ketahui. Itu menurut informasi yang telah ku kumpulkan semalam.
Setelah fokus mempelajari kembali 4 korban pembunuhan.
Dimana korban pertama bernama ‘Rinjani’. Umur 21 tahun. Masih berstatus sebagai mahasiswi di salah satu kampus terkemuka. Belakangan ini, namanya cukup tenar karena postingan-postingan dirinya di i********:. Yah! Orang-orang menyebutnya Selebgram. Di temukan tewas 4 bulan yang lalu di sebuah Hotel kelas Melati dalam keadaan telanjang bulat. Pertama luka di lehernya, akibat di gorok menggunakan senjata tajam oleh si pelaku. Dan sebuah luka besar menganga di beberapa bagian. Di ketahui jika korban sempat melakukan hubungan s*x dengan pelaku. Dan mungkin si pelaku, melakukan dengan cara b**m. Perut yang tembus hingga punggung dengan benda berbentuk seperti huruf ‘L’. Beberapa bagian memar akibat terikat kencang menggunakan alat pengikat berbahan kulit. Semua bukti pun di temukan di TKP.
Kenapa di tarik kesimpulan jika korban sempat melakukan hubungan s*x? Karena ditemukan cairan s****a yang sudah mengering di tubuh dan juga di bagian alat kelaminnya yang dalam kondisi robek membentuk lubang yang cukup besar. Waktu kematian pukul 10:15 malam.
Korban kedua bernama ‘Putri Areke’. Kejadian selang sebulan setelah kematian korban pertama. Umur yang sama dengan korban pertama. Tapi bedanya, yang kedua ini sudah berstatus sebagai karyawan, atau staf admin di salah satu perusahaan swasta. Sama-sama, selalu memamerkan foto-fotonya di i********:. Dan, juga sudah menjadi tenar, namun mungkin karena kebutuhan maka ia memilih untuk mencari uang dengan cara menjual tubuhnya kepada pria yang akan menikmati jasanya.
Di temukan tewas di sebuah losmen kecil di pinggir kota, dengan kondisi pun telanjang bulat. Beberapa luka sayat di sekujut tubuhnya, dan juga luka cekikan di leher. Yang paling sadisnya, dimana kedua payudaranya terpotong, dan di temukan di sekitar mayatnya, seperti tercacah. Barang bukti lebih sedikit dari korban pertama. Namun, korban kedua juga sebelum di bunuh oleh pelaku, sempat melakukan hubungan s*x dengan cara seperti korban pertama yaitu ‘b**m’. Waktu kematian sekitar jam setengah 2 pagi.
Korban ketiga bernama ‘Maria Samean’ wanita berusia 25 tahun. Telah bekerja di perusahaan swasta. Juga, menjadi tenar sama seperti dua korban sebelumnya di i********:. Memang, dari ketiganya, Maria Samean, selalu memamerkan foto-fotonya dengan pose yang cukup menantang. Dan juga, tak malu untuk memberikan tag dengan sebutan ‘Open BO’.
Sudah pasti dia pun masuk dalam kelompok prostitusi negara ini. Korban di temukan di daerah pinggiran selatan ibu Kota. Korban ketiga ini, benar-benar kondisi mayatnya cukup menggemparkan berita. Dimana ia tewas dengan cara yang sangat tragis. Kedua kaki, tangan dan badannya bukan hanya sekedar dimutilasi tetapi di iris kecil-kecil dengan rapi. Hanya bagian penggalan kepala yang dibiarkan utuh. Meskipun begitu, luka di kepala juga sangat parah. Kedua daun telinga terpotong, kedua biji mata hilang dan sebilah pisau masih menancap di dalam kepala melalui lubang telinga kiri.
Dan korban terakhir dikenal dengan sebutan miss ‘Deva Clp’. Salah satu selebgram, yang memang terkenal seringkali mendapat bookingan dari orang-orang berduit. Kondisi mayatnya, hampir sama dengan kondisi mayat korban ketiga. Di cincang-cincang, bahkan kedua payudaranya pun di temukan berada 200 meter dari tempat kejadian. Tempat tidur dalam kamar hotel kelas Melati, memerah banjir darah. Waktu kematiannya, di perkirakan sekitar jam 1 pagi.
Jika dilihat dari lokasi kejadian yang jaraknya berbeda-beda, waktu kejadian pembunuhan dan gaya eksekusinya yang brutal, serta melihat kondisi ke-empat mayat korban, aku menyimpulkan jika pelaku seorang Psycopat. Maka dari itu, pilihan pertama aku delete. Dimana background nya tidak mempunyai catatan jika pernah atau sedang mengidap penyakit.
Untuk saat sekarang, aku memilih pilihan kedua. Yaitu Antoni, NAPI yang kabur dari Lembaga Pemasyarakatan, dan sempat melenyapkan nyawa 4 orang penjaga Lapas kala itu. Kenapa aku memilihnya, untuk saat sekarang? Karena sesuai hipotesisku, menguatkan dimana jika Antoni Ancuker Jabrik, adalah Pasien di RS ABZ yang mengidap penyakit ‘Mental Dissorder’ berupa ‘Skizofrenia’ yg punya kecenderungan Psikopat. Berasal dari keluarga yang berkecukupan, bahkan di kenal mempunyai beberapa usaha-usaha kecil di daerah jawa barat sana. Hanya berada 2 tahun di penjara, dia berhasil kabur karena dia dikenakan hukuman 20 Tahun penjara.
Hasil dari perbuatannya telah melakukan pembunuhan di Bandung dan Cirebon 2 tahun lalu. Memiliki catatan IQ 165 saat berusia 12 tahun, ia merupakan anggota termuda Milka Internasional (organisasi orang-orang jenius) dari SEA. Dan peraih gelar doktor termuda dalam bidang matematika. Dia juga di juluki pembunuh berantai termuda. Hanya dalam waktu setengah tahun, Antoni membunuh 5 orang. Tapi tidak ditemukan sidik jari di TKP. Helai rambut? Tidak ada. Jejak kaki dan air liur? Tidak ada. Hanya ada mayat korban.
Karena kebetulan, hari ini hari jumat. Mungkin lebih baik aku ke kampus. Karena besok selama dua hari, akan libur. Pagi sampai sore, sengaja aku tak ingin terganggu pikiran dengan misi, aku ingin fokus ke kuliah hari ini. Karena, beberapa petunjuk keberadaan si Hyena agak mulai ku mengerti. Tinggal mencari tau, apa motif dari pelaku membunuh para Selebgram itu. Dan juga, lebih pertajam lagi apakah benar Antoni adalah TO yang sebenarnya. Karena jangan sampai, aku salah melenyapkan nyawa orang. Meski, gak ada punishment yang bakal ku dapatkan dari pihak Associated. Namun setidaknya akan mengurangi poin sebagai Agen Type DD 01 di hadapan para hitman lainnya.
Pagi ini, seperti biasanya. Dengan mengendarai motor kesayanganku melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kampus. Hingga dari arah kejauhan, mulai terlihat pintu gerbang kampus, maka ku nyalakan lampu sein kiri, dan ku arahkan laju motorku menuju ke gerbang tersebut.
Saat tiba, dua pria, yang tak lain security segera menahanku. Aku diam sambil menghentikan motor.
“Berhenti dulu.” Kata salah satunya.
Aku membuka kaca helm. Lalu menatap keduanya bergantian.
“Jangan masuk dulu,”
“Ada apa pak?” tanya ku ke salah satu dari mereka.
“Pokoknya tunggu dulu, sampai kami ijinin masuk.” Aneh! Batinku. Ku lirik, sesaat arloji di lengan kananku. Dimana waktu telah menunjukkan pukul 8 teng. Aku menatap kembali kedua security itu bergantian, dan berfikir jika aku masih tetap bertahan di depan gerbang. Maka dipastikan, aku bakal telat masuk kelas. Dari pada hal itu terjadi, maka tanpa perduli dengan kedua secirity itu. Aku menepis tangan yang menahan stir motor sebelah kiri.
“Minggir Pak.” Gumamku, lalu dengan cepat menutup kaca helm. Bodoh amat, masa iya kami di larang masuk ke kampus. Apa iya, ada acara pengantin atau kematian di dalam?
“WOI JANGAN PERGI DULU...”
“TUNGGU!!!”
Aku gak perduli teriakan dari kedua security itu. Dari spion, sempat ku lihat mereka masih mengejarku. Emang bisa, ngejar laju motorku? Setelahnya, aku kembali memandang ke depan. Sambil tetap melajukan motorku, yang awalnya sedang, namun karena takut terlambat masuk kelas, maka ku tarik gas motor, hingga membuat motorku melaju dengan kecepatan tinggi.
Dari jarak beberapa meter di depanku, sebuah mobil alphard keluaran terbaru, berwarna hitam berjalan lambat. Mending aku lewatin aja, dari pada aku telat. Maka tak lagi menghiraukan siapa pemilik mobil itu, aku pun melaju hingga melewati bagian samping kiri mobil. Setelah melewati mobil, benakku sedikit merasakan keanehan. Dimana kondisi jalan di kampus tiba-tiba sepi. Sama sekali tak ada kendaraan berlalu kecuali mobil hitam tadi. Sempat terbersit di pikiran, apakah karena ini, dua security tadi menahanku di depan? Masa bodoh dengan kondisi sepi ini, aku lebih baik makin mempercepat laju motor.
Tak lama, akhirnya aku tiba di parkiran motor. Sempat saat ku buka helm, melihat beberapa pengendara motor hanya berdiam di parkiran. Instingku mengatakan, ada yang gak beres hari ini. Ataukah, mungkin karena mobil hitam tadi? Aku hanya menggidikkan kedua bahu, sesaat sebelum akhirnya aku berjalan meninggalkan motorku di parkiran.
Aku melangkah, di tangan kananku menenteng helm, sedangkan tangan kiri ku memegang tas. Aku sengaja membawa helm, dan akan meletakkan di depan kelas, karena biasanya helm di parkiran motor sering kecurian.
Bukan gak bisa beli, jika helm ini hilang. Melainkan, saat aku pulang tanpa menggunakan helm, malas berurusan dengan polisi di jalanan. Ponselku yang sejak tadi berdering, ku abaikan saja. Menurutku pasti Adit atau Eko yang menelfon dan menanyakan keberadaanku saat ini. Pastinya kelas kami sudah akan di mulai, maka tanpa berfikir lagi ku langkahkan kaki ini makin cepat, hingga aku hampir tiba di pintu masuk gedung fakultas ekonomi. Dimana aku menghentikan langkah, saat dari ekor mata kiri, melihat seseorang sedang berdiri memandang ke arahku. Setelahnya, aku menolehkan sedikit kepalaku ke arah kiri.
Dia lagi! Batinku, ketika mengetahui jika orang yang memandang ke arahku adalah si Lidya. Dia, Orang yang sama, yang sore itu menjambak rambutku. Teringat juga dimana ternyata SIM dan KTP ku masih berada di tangannya. Mungkin lain kali saja, aku minta dikembalikan.
Saat tersadar beberapa detik, kami saling bertatapan. Aku melihat dia menyeringai. Paling juga, dia kesal. Dasar perempuan aneh! Gumamku, maka aku menggidikkan bahu sesaat, kemudian berjalan dan memilih tidak menghiraukan tatapan gadis itu. Hingga langkahku terhenti, ketika gadis itu telah berada di hadapanku.
Bisa saja sih, aku mendorongnya untuk pindah dari hadapanku saat ini. Tapi, mengingat ini di kampus, dan aku sedang tak ingin mencari keributan. Maka, aku hanya bisa menunjukkan sikap yang ramah kepadanya, namun yang ku dapatkan sebuah ancaman karena telah berani menentang aturan yang telah di buat.
Aturan? Emang aturan apa lagi yang tak ku ketahui?
Setelahnya, gadis itu pergi meninggalkanku.
Tak lama, salah satu sahabatku menyapaku.
“Ren... busyet tumben loe telat.”
“Iya... macet!” jawabku ke Rizal. “Baru tiba?” lanjutku, dengan nada tanya.
“Gak! Tadi ngambil sesuatu di mobil. Hahahahah!”
“Ohh!”
“Yuk.” Kata Rizal, Maka kami pun berdua menuju ke kelas.
Langkahku terhenti saat mendapati, Lidya berada di kelas yang sama denganku. Mataku bergerak, dan kini mengambil kesimpulan jika bangku yang kosong selama beberapa hari ini, ternyata bangku gadis itu. Setelah itu, Ku helakan nafasku pelan, kemudian tak lagi menghiraukan tatapan darinya. Aku melangkah melewatinya menuju bangku di belakang.
“Napa loe gak angkat telfon gue, Ren? Tanya Adit saat tiba.
“Sorry! Gak dengar Dit.” Jawabku singkat.
“Makanya, pake HP ntuh... di gede’in volume deringnya. Hehehe,” Kata Eko menimpali. Aku hanya melempar senyum kepada keduanya, dan tampak Rizal ikut menoleh. Ternyata, aku gak telat hari ini. Dan Dosen pun menurut Eko, belum datang hingga saat ini.
Sambil menunggu dosen, aku mending diam saja mendengar candaan sahabatku. Sekilas aku melirik ke Lidya, dimana aku mengetahui jika sejak tadi ia menatapku. Dan ketika aku kembali menoleh, seperti sengaja dia melempar pandangannya ke arah lain.
Begitu seterusnya, hingga tanpa sadar, pandangan kami bertemu. Aku mengetahui, senyuman darinya hanyalah senyum meremehkan kepadaku dan juga sahabatku yang sedang bercanda.
Kemudian, aku melihat Lidya telah sibuk di bangkunya. Aku juga sudah gak lagi ingin mengetahui apa yang sedang ia kerjakan. Aku lebih baik, mendengar candaan dari sahabatku saat ini.
Dan sesi Eko pun dimulai...
“Ko! Jadi gimana nih ma si Cindy?” tanya Adit yang lagi bersandar di bangku si Eko.
“Hoho! Napa loe? Penasaran?” balas Eko, lalu aku melihat Eko menatap ke Cindy sesaat.
“Ke-kenapa dengan Cindy mas?” tanya Cindy yang masih duduk di bangkunya.
“Nggak sayang... Heheheh, mas Eko kangen ma yayang Cindy.”
“Kangen mau ‘Netek’ paling loe Ko!” Rizal ikut menimpali.
“NDASMU... Hahahahahah,” akhirnya, mereka tertawa bersamaan. Aku hanya melempar senyum ke mereka, sambil sesekali geleng-geleng kepala.
Setelahnya, Eko kembali melempar gombalan-gombalan kepada Cindy yang telah tampak tersipu. Rizal pun sering tertawa, dan tak segan membully Eko dengan umpatan-umpatan kasar.
Sedangkan Adit, kadang ikut nyeletuk menimpali bullyan ke Eko.
Hingga...
Aku melihat, beberapa orang masuk dari pintu. Ohh! Mereka rupanya...
~•○●○•~
POV Lidya
Gue senyam-senyum sendiri di bangku, senyum penuh arti sambil menantikan hari yang buruk buat si Reno. Yang jelas, gue gak sabar menunggu kedatangan Kak Oki bersama kawan lainnya. Apalagi Kak Oki, juga sudah mengkonfirmasi pesan gue tadi, dengan menjawab ‘Ok!’.
Pandangan gue sesaat ke Reno, namun ia sepertinya masih sibuk bercanda dengan teman-temannya. Gak sadar yah! Hehehe! Bentar lagi, bakal di buat malu ma teman-teman Kak Oki. Duhh! Gak sabar ihhh. Mana, kak Oki lama bener nyampenya.
Setelah tak lama, gue melihat kedatangan beberapa orang termasuk Kak Oki, beserta ketiga anggota 4 Devils lainnya. Di ikuti dengan beberapa senior, yang gak gitu gue kenal. Senyuman dan tawa orang-orang di kelas tiba-tiba terhenti.
Gue menoleh kembali ke Reno, lalu gue melempar senyuman kepadanya. Bukan senyuman genit, atau senyum wanita biasanya. Melainkan, senyum menyeringai, kemudian gue berdiri dan berjalan mendekati kak Oki.
Tak ada yang berani mengeluarkan suara, dan gue sempat kembali melirik ke rombongan si Reno, dimana juga mereka menatap ke depan. Reno? Masi juga loe masang ekspresi kek gitu? Gak nyadar apa. Hehehehe! Justru loe tuh yang lagi di cari ma kakak gue. Hihihihi!
“Kak” kata gue ke kak Oki.
Kak Oki tak jawab, justru kini pandanganya menyisir sekeliling ruangan. Pasti semua orang udah ketakutan nih gegara tatapan kak Oki seakan ingin menerkam mangsa!
“Lid?” suara berat dengan nada tanya dari Kak Oki, membuat gue tersadar sesaat. Maka gue mengangguk ke kak Oki, sambil mendekatkan wajah gue ke samping telinganya.
“Kak... cowok yang pake jaket hitam. Dia namanya Reno, dia yang Lidya maksud.” Gue berbisik di telinga kak Oki.
Kak Oki mengangguk pelan, lalu...
Lengan kak oki terangkat, dengan jari telunjuknya ia menunjuk ke arah Reno. Rasain loe Ren! Kata gue dalam hati.
“Panggil dia.” Gumam kak Oki, dan beberapa senior pun langsung bergerak ke arah bangku Reno.
Gue pun sudah memandang ke arah mereka, dimana Reno yang hanya diam, sedangkan teman-temannya menampakkan wajah terkejut ketika kawan-kawan kak Oki telah berdiri di samping bangku Reno.
BRAK!!! Salah satu kawan kak Oki, baru saja menggebrak meja Reno. “Loe yah... yang punya motor ninja, plat B 44 RJ”
“Iya!” Reno menjawab. Dan sempat gue melirik ke kak Oki, dimana kak Oki menatap tajam ke Reno. Pastinya donk! Kak Oki gak terima dengan sikap Reno yang cuek.
“SINI LOE.” Hahahaha! Akhirnya kejadian juga. Dimana kawan kak Oki itu, langsung menarik kerah baju Reno. “KELUAR CEPAT!” lanjutnya, sambil menarik paksa Reno untuk berdiri dari bangkunya.
Teman-teman Reno, sempat saling memandang. Dimana tampak wajah kekhawatiran yang terlukis di wajah mereka. Gue? Puas banget melihat ketakutan mereka. Semua orang terkejut, bahkan para sahabat Reno pun ikutan terkejut. Sempat juga gue melihat dimana pria berpenampilan aneh yang gak gitu gue tau namanya, mencoba untuk mengejar Reno, yang saat ini di tarik paksa menuju ke depan. Tapi, salah satu dari mereka mencoba menahannya. Gue lalu menyeringai kembali.
“AYO... LOE IKUT KAMI KE LAPANGAN!” Oke! Waktunya liat orang bakal di permaluin di lapangan. Hihihihi. Yap! Sekarang Reno yang tak berkutip di tarik paksa, dengan kawan kak Oki menuju ke lapangan.
Saat semua kawan kak Oki keluar, maka gue pun mengikuti langkah kak Oki yang juga berjalan keluar kelas. “Kak... tungguinnnn!”
Kak Oki hanya menoleh, masih dengan ekspresi yang biasanya. Ekspresi mengerikan bagi gue sih. Dan saat gue menoleh ternyata semua orang ikutan keluar mengikuti langkah kami menuju ke lapangan tempat eksekusi para mahasiswa/i yang tidak mengikuti perintah kak Oki maupun kawan-kawannya. Yang jelas, betapa gembiranya hati ini, melihat tubuh Reno yang tak berdaya di tarik seperti itu. Dimana lengan Reno di tarik, sedangkan ia hanya bisa melangkah mengikuti kemana ia akan dibawa. Yang jelas, ia bakal di permalukan di hadapan para teman-teman pecundangnya. Hahahahahaha!
Gue saat ini masih berjalan di samping kak Oki. Dan dari arah kejauhan, lapangan basket sudah terlihat.
Saat tiba di lapangan, gue gak ingin terpisah dari pentolan 4 Devils. Karena kak Oki, sudah berdiri menunggu Reno di tengah lapangan.
“Lid... sini.” Gue mengangguk, saat kak Virghost memanggil gue.
Kini gue berdiri di samping Billy, salah satu pentolan 4 Devils. Sahabat kak Oki. Pandangan gue masih ke kak Oki, dimana dia sudah berdiri berhadapan dengan Reno. Duhh! Gak sabar nih, liat Reno dihajar sampai babak belur ma kak Oki.
“HAJAR AJA BOS!” Suara teriakan mulai terdengar.
“MAMPUSIN AJA BOS!!!”
“MENDING! DI HAJAR AJA RAME-RAME!”
Semuanya berteriak. Hingga, saat kak Oki mengangkat tangan, semuanya langsung terdiam. Yap! Kak Oki, menyuruh dengan gerakan tangan ke atas, agar semua orang yang berteriak wajib ‘DIAM’.
Duhhh!!! Kok gue ikutan deg-deg an yah? Padahal kan, yang mau dihajar bukan siapa-siapa gue.
Gue melihat, kak Oki makin maju mendekat. Dan saat mereka sudah berdiri berhadapan, ternyata tinggi Reno dan kak Oki, hampir Sama. Hanya selisih tipis saja, dimana Kak Oki lebih tinggi dari Reno. Sempat gue melirik, dimana para teman Reno pun berada di pinggir lapangan, pastinya mereka bakal menyaksikan saat-saat dimana sahabatnya itu akan di eksekusi.
Ahh! Dari pada gue banyak mikir, mending saksiin aja deh pertunjukan kali ini. Hihihii!
Yah! Acara dimulai. Kak Oki, menatap tajam ke Reno. Dan Reno, masih memasang ekspresi yang biasanya. Gak ada kekhawatiran maupun ketakutan yang ada di wajahnya. Apa nih orang emang dasarnya seperti ini yah?
Dia gak sadar apa, sedang berhadapan sama siapa?
Tapi, kak Oki juga gak kalah mengerikan loh tatapannya. Setelah kak Oki melempar seringaian ke Reno, ia mulai mengeluarkan suara. “Nama kamu siapa?” Tegas, cool! Dingin, dan juga cukup sopan cara kak Oki berbicara. Gak seperti yang lainnya, loe- gue gitu. Hahahaha. Ops! Termasuk gue deng!.
“Reno!” Reno menjawab.
“Saya liat, kamu berani menentang aturan yang berlaku di kampus ini.” Kata kak Oki kembali.
“Aku sama sekali, tidak melanggar apapun.” Bukan hanya orang lain, gue pun ikutan narik nafas dalam-dalam saat mendengar jawaban dari Reno. Jujur, tubuh gue ikutan merinding. Gimana gak merinding coba? Nih anak! Gak ada rasa takut sedikit pun berhadapan dengan kak Oki.
“Ohh! Kamu yakin?”
“Yakin.” Hufhhh! Reno please de ah! Loe gak bakal bisa menang dari kak Oki.
Kini, tatapan mereka masih tak berpaling. Masih saling ber-adu. Dan jujur, saat ini baru gue sadari, sosok Reno agak nyeramin juga. Apa yang ia sembunyikan yah? Apakah dia juga jago berantem? Duhhh! Gak... gak mungkin. Walaupun dia jago berantem, gak mungkin bisa ngalahin kak Oki. Sekilas, gue lihat tangan Reno masih dalam posisi biasa saja, begitupun kak Oki. Keduanya gak ada yang mengepalkan tangan.
Apa iya, Cuma acara liat-liatan doank?
“Kak Vir.” Kata gue ke kak Virghost. Ia menoleh. “Kapan acara pukul-pukulnya nih?”
“Gak tau, Lid!” kata kak Virghost sambil menggidikkan kedua bahunya.
Gue sempat melihat, dimana raut wajah kak Virghost seakan heran dengan apa yang terjadi. Orang sekelas dia aja, heran apa lagi gue. Hufh!!!
Gue kembali melihat ke tengah lapangan. Dan, mereka? Uhhhh... Gue makin deg-deg an. Dimana baik kak Oki maupun Reno, ekspresinya hampir sama. Tenang, gak ada emosi, gak ada penekanan dari nada suara mereka. Justru seperti itulah, yang kadang bikin gue takut ma kak Oki.
“Rupanya, nyali kamu... Besar!” gumam Kak Oki.
“Maaf! Jujur... Aku belum paham, kenapa kita berada di tempat ini.” Balas Reno, yang juga bersuara pelan. “Jika memang, aku sudah berbuat salah! Aku minta maaf.” Lanjutnya! Tumben, bisa juga dia minta maaf. Hehehe! Jangan maafin kak. Minimal, kasih pelajaran dulu ma dia.
Kak Oki, menyeringai. Reno? Diam saja. Tapi, dia masih melawan tatapan mematikan kak Oki.
“Sepertinya dia bukan orang biasa.” Gue dengar, kak Virghost sempat bergumam pelan. Gue lalu menoleh ke dia.
“Kenapa Lid?”
“Gak kak! Hehehe.”
Gue lalu kembali fokus melihat ke depan. Dimana gue liat kak Oki kembali menyeringai...
Lalu! Nah gitu donk... dimana kak Oki menggerakkan tangannya, kemudian menyentuh pipi Reno, sambil tak melepaskan tatapan tajamnya, sedangkan Reno hanya diam saja.
Kak Oki menggerakkan telapak tangannya, melepaskan pipi Reno. Kemudian mendaratkan, sebuah tamparan. Plak!!! Plak!!! Plak!!! Beberapa tamparan di pipi Reno, dari kak Oki. Namun, Reno tak bergerak sama sekali. “Saya, tertarik dengan anda. Reno!”
Reno mengernyit...
Plak!!! Satu tamparan lagi, mendarat di pipi Reno. Kemudian, saat kak Oki ingin menepuk lagi pipi si Reno. Tap!!! Reno menggerakkan tangannya. “Sorry! Sudah cukup.” kemudian menahan pergelangan tangan kak Oki. Beuh! Berani juga nih anak.
Gue melihat, kak Oki seakan ingin menarik lengannya kebawah. Namun, cengkraman Reno cukup menyulitkan bagi kak Oki. Hmm! Apakah sekeras itu pegangan si Reno?
Kak Oki gue lihat sempat melempar senyuman tipis ke Reno. Hingga semua orang yang menyaksikan kejadian itu, mulai berseru. Hingga terdengar teriakan dari beberapa orang. “HAJAR AJA BOS!”
“IYA HAJAR AJA... MAMPUSIN AJA!”
“BELAGU... PECUNDANG, HAHAHAHAHA!”
Kak Oki membiarkan lengannya di pegang oleh Reno, kemudian kak Oki menoleh ke arah teriakan tersebut. Setelah mendapat tatapan dari kak Oki, entah siapa-siapa yang teriak tadi. Tiba-tiba suana kembali diam dan gue melihat beberapa orang hanya bisa nyengir seperti kucing bodoh. Lagian, beraninya bersuara saat kak Oki lagi ngomong.
“Mau saya paksa lepas, atau?” kata kak Oki.
Reno melepaskan lengan kak Oki. Hufhhh!!! Apa kak Oki takut yah? Gak! Gak mungkin, karena sepengetahuan gue, kak Oki punya segudang pengalaman untuk menghajar orang-orang.
“Kamu takut?” Itulah pertanyaan kak Oki selanjutnya ke Reno.
“Tidak!” Jawab Reno pelan, namun ada nada penekanan disana. “Karena aku tak merasa telah berbuat salah.”
“Hmm, saya lihat kamu cukup berani”
“Maaf, jika yang abang maksud... aku melajukan motor dengan kecepatan tinggi di kampus. Aku akan minta maaf! karena aku gak sengaja tadi.” Itulah jawaban Reno, tegas, pandangan masih tetap tak teralihkan. Ekspresi yang di tunjukkan pun sangatlah biasa saja, tak ada ekspresi takut, dan juga bukan ekspresi ingin menentang.
Hufhhh! Mana nih nafas jadi kerasa berat. Kak Oki, aku liat tersenyum ke Reno. Senyuman kak Oki, seperti mengisyaratkan akan sesuatu. Gue gak paham sejujurnya, tapi! Arhhhhhh...
“Kali ini, aku lepaskan.” Ucapan kak Oki. Hingga membuat gue emosi.
Hingga tiba-tiba, entah karena apa...
Kak Oki mendorong tubuh Reno. Tapi...
Kak Oki, sempat mengangkat alisnya satu. Saat mengetahui, tubuh Reno tak bergerak. Padahal gue lihat sendiri, dorongan tangan kak Oki di tubuh Reno, cukup kuat. Setelahnya kak Oki pergi meninggalkan Reno dengan sebuah tanda tanya di isi kepala gue, dan pastinya semua orang yang menyaksikan kejadian itu.
“Kak Vir... kenapa jadi gini sih?” tanya gue ke kak Virghost.
“Tumben!” kak Virghost hanya bergumam. Namun dia masih menatap ke Reno. Sedangkan Kak Oki, gue liat udah berjalan meninggalkan lapangan.
“HUUUHHH BUBAR DEH!” gue mendengar suara-suara kekecewaan dari orang-orang yang mengerumuni lapangan.
“HAYO BUBAR... BUBAR!” Dan keramaian pun mulai bubar.
Gue sempat melihat, kawan-kawan Reno langsung berlari ke tengah lapangan. Mereka langsung melempar pertanyaan ke Reno, yang gak gue perhatikan lagi. Karena gue saat ini menoleh ke samping, dimana kak Virghost baru saja ingin ikutan pergi bareng teman-teman lainnya.
“Kak Vir.” Gue menahan lengannya. “Kak, gue mau loe yang menghajarnya.” Kak Gerry dan Kak Deni juga ikut menghentikan langkahnya.
“Biar gue aja, yang hajar Lid. Hehehehe!” kata kak Gerry. Yah! Bagus deng kalo gitu. “Gimana Vir?”
Kak Virghost gue liat, hanya mengangkat bahunya. “Terserah.” Lalu ia bergumam.
Setelahnya, gue ma ketiga teman kak Oki, mendekati Reno yang saat ini sudah bergeser ke pinggir lapangan, dan ia sedang berbicara dengan beberapa temannya.
Mengetahui kedatangan kami, mereka kaget dan menatap aneh ke arah kami.
Saat tiba, gue menatap tajam ke Reno. Sedangkan kak Virghost sudah maju mendekati Reno. “Nama loe Reno?”
“Iya!” jawab Reno.
Gue ikut mendekat, dan kini berdiri di samping kak Virghsot. “Kak... udah, hajar aja langsung.” Bisik gue di telinga kak Virghost. Yah gue mau, minimal kak Virghost kasih pelajaran ke dia. “Dia itu, yang pernah nabrakin mobil Lidya loh kak.”
“Ohh?” Yes gue berhasil! Ternyata, kak Virghost terpengaruh dengan kata-kata gue. Hehehehe! Yap! Gue gak bohong kan? Mengatakan jika Reno yang nabrak mobil gue. Sedikit bumbu-bumbu dari gue malah menambah emosi kak Virghost.
Lalu selanjutnya...
Kak Virghost menarik kerah baju Reno.
“Bos!!! Perasaan, bang Oki udah lepasin temen gue deh! Kenapa kalian malah, pen ribut lagi ma kami?” Ternyata, salah satu dari kawan Reno. Berwajah aneh, rambut agak gondrong, berwarna norak, rada-rada tengil bin aneh, protes ke kak Virghost. Cari mati yah dia?
Kak Virghost, kini teralihkan pandangannya. Dia melepaskan kerah baju Reno, lalu menoleh ke Gerry.
“Ger! dia yang loe hajar kemarin kan?” Begitu kata Kak Virghost.
“Yap! Dia yang udah gue bikin babak belur. Hahahahaha!” kata Kak Gerry.
“Ya sudah... bagian loe!” kata kak Virghost.
“Oke!” Dan Kak Gerry pun maju, menunjuk tepat di wajah pria itu. Hahahahaha, rasain loe cowok aneh!
“Loe... belum kapok juga yah?” tanya kak Gerry sambil tak melepas telunjuk kirinya yang masih berada tepat diwajah orang itu.
“Sorry bang! Bukannya gimana... lagian, kami gak ingin cari ribut disini.” Salah satu dari mereka, mencoba untuk meredakan emosi kak Gerry. Namun, ia gagal.
Hahahahah! Rasain. Kak Gerry hanya meliriknya. “Mending loe diam...” Kata dia ke cowok yang barusan berbicara.
“Selesai dia... baru giliran loe gue hajar.” Kata kak Gerry selanjutnya. Kemudian, ia kembali menatap tajam ke cowok aneh itu. Kini jari telunjuk kak Gerry sudah menyentuh hidungnya.
“PECUNDANG!” Kata Kak Gerry dengan suara agak keras.
Namun...
Tiba-tiba, “Bang!” suara Reno terdengar. Bersamaan tangan kak Gerry di singkirkan pelan oleh Reno.
Sontak, membuat Kak Gerry tersulut emosinya. Belum sempat gue mengedipkan mata, tangan kanan kak Gerry langsung bergerak cepat, hingga mengarah ke wajah Reno.
TAP! “Eh!...” Gue terpekik, sambil membelalakkan kedua mata, dimana kepalan tangan kak Gerry yang menurut gue cukup cepat dan juga cukup keras, dan gue yakin, bakal terkena secara gratis di wajah Reno. Ternyata.... Arhhhhhh!!! Reno berhasil menahan kepalan tangan kak Gerry tepat berjarak beberapa centi lagi di depan wajahnya.
Gue lalu mengernyit, saat tangan kak Gerry di turunkan paksa oleh Reno.
Bukan! Bukan karena itu yang bikin gue heran. Melainkan mimik wajah kak Gerry. Antara heran, bingung, dan juga mengeras seakan saling bertahan. Antara Reno yang memaksa tangannya kebawah, dan Kak Gerry yang bertahan agar tangannya tetap pada posisinya.
Dan hasilnya? Tangan kak Gerry berhasil kebawah hingga berada di sampingnya. Lanjut! Kak Gerry melancarkan kepalan tangan kiri ke wajah Reno...
Namun...
WUSHH!!! Hanya berlalu di samping kiri wajah Reno.
Busyet! Oke oke... gue akuin, Reno cukup cepat dalam menggerakkan kepalanya. Tapi! Yang makin bikin gue terkejut, kini Reno menangkap tangan kiri Kak Gerry dan lagi! Memaksanya ke bawah. Arhhhhhhh!!! Jadi posisi kedua tangan kak Gerry, berhasil di turunkan ke bawah oleh Reno.
“LEPASIN TANGAN GUE ANJINGGGGG!” hardik kak Gerry. Setelah berteriak, gue melihat kak Gerry yang sudah emosi tingkat tinggi, menggerakkan kaki kanannya. “ARGHHHHHHHHH!!!!” Lah! Kak Gerry tiba-tiba teriak. Dan bersamaan, gue melihat seperti gak terjadi apa-apa. Apa Reno udah nendang kak Gerry? Karena dimana gue sempat melihat posisi kaki Reno, mendarat di lantai. Apakah Reno sudah menendang kaki Kak Gerry dengan gerakan cepat, sampai-sampai mata gue gak sempat menangkap gerakannya?
Tak menerima perlakuan Reno, kak Gerry kembali menendang dengan kaki kanan. Dan berhasil!
Bukan karena tendangan kak Gerry berhasil mengenai Reno, melainkan gue berhasil melihat gerakan kaki Reno. “ARHHHHHH!” Hingga membuat kak Gerry, mengerang ke sakitan. Apakah sesakit itu tendangan Reno? Padahal hanya ujung sepatunya doank yang menyentuh mata kaki kak Gerry.
Jangankan gue. Kawan-kawannya Reno saja sampai melongo melihat apa yang sedang terjadi. Gue lalu melihat kembali ke Reno.
“Kami gak pengen nyari ribut di kampus... kami, ingin belajar dengan tenang untuk masa depan kami kelak! Please... kalo perlu, aku akan berlutut dihadapan kalian untuk meminta maaf.” Ucap Reno tiba-tiba.
Kak Virghost, menyentuh pundak Kak Gerry! “Mundur loe...” gumam kak Virghost. “Lepasin tangan dia, Ren!” lanjutnya kepada Reno.
“Sejujurnya, gue gak ingin kena protes dari Oki... Loe tau, nama yang tadi ingin menghajar loe? Dia adalah pimpinan kami... So, kali ini gue lepasin loe.” WHAT! Kak Virghost tumben jadi baik.
“Baik bang!” Reno mengangguk. Kemudian melepaskan kedua tangan kak Gerry yang sejak tadi ia cengkram dengan kuat. Karena kulit kak Gerry yang putih, tercetak memerah bekas cengkraman Reno di pergelangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya, sempat gue melihat, kak Gerry mengusap di bajunya.
Lalu! setelahnya, Kak Gerry yang gak menerima perlakuan Reno. Dia masih ingin memberikan pukulan ke Reno, namun sayang. Kak Virghost yang kini menahan lengannya. “Udah Ger... jangan sampai, gue yang malah hajar loe sampe babak belur.” Arhhhh! Kenapa sih kak Virghost jadi cemen gini.
“Udah lah Ger! Loe gak bakal menang, berantem ma dia. Hahahahaha... gue berani masang taruhan, milih nih anak!” Tumben, nih orang satu akhirnya bersuara juga. Yap! Dia Kak Deni. Orang yang kebanyakan diam, dan sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Yaitu main game di ponsel. Seperti yang tadi ia lakukan.
“Hufhhh! Oke...” Akhirnya kak Gerry mundur.
Gue yang gak menerima sikap kak Virghost, makin emosi sejadi-jadinya. “KAK VIR!” Hardik gue ke dia. Pandangan gue ke kak Virghost, seakan ingin memprotes sikapnya yang cemen seperti ini.
Kak Virghost malah tersenyum. “Sudah Lid, jangan sampe Oki murka gegara kita ngehajar dia.”
Duhhh! Kenapa sih kalian jadi cemen gini.
Gue yang gak menerima, maju mendekati Reno. Dengan cepat melayangkan telapak tangan kanan gue.
PLAK! Telak menampar pipi Reno. Tumben, dia hanya diam.
Gue menatapnya. Dan dia tersenyum. “Sudah Lid, yuk! Sudah puas kan nampar dia.” Terdengar, suara kak Virghost di samping gue.
Hufhhhh! Mau gak mau, gue pun mengangguk pasrah lalu mundur ke belakang.
“Dan loe Ren! Bakal berhadapan ma kami lagi, nanti!” kata kak Virghost, lalu ia pun melangkah lebih awal meninggalkan Reno dan kawannya.
“AWAS LOE!” kata gue, sambil menunjuk wajah Reno. Setelahnya, mau gak mau gue akhirnya ikut melangkah bersama Kak Gerry dan Kak Deni yang ahhh nih orang sejak tadi malah diam aja. Gue sempat menoleh ke kak Deni, dia hanya nyengir. Paling, dia lagi kobam ganjaa tuh.
Gue mempercepat langka, mengejar langkah kak Virghost. “Hash... Hash!” Karena cara jalan kak Virghost cukup cepat, gue yang udah berada di sampingnya cukup ngos-ngosan habis mengejarnya. “Kak Vir.”
“Kenapa lagi Lid?”
“Kenapa sih, kakak lepasin tuh anak?” tanya gue ke dia.
Kak Virghost sempat menoleh ke belakang. Gue pun ngikutin dia. Dimana, gue melihat kak Gerry masih memasang wajah kesal. “Loe liat tadi?”
“Apaan?” kata gue membalas kak Virghost.
“Dia bukan lawan seimbang buat Gerry!” kata kak Virghost.
“Iya sih... tapi kan, bukan berarti. Kak Virghost juga bukan lawan seimbang dia.”
“Siapa yang tau Lid.” Katanya, sambil menggidikkan kedua bahunya.
“Arhhhhhhh!!! Cemen ah.”
“Heheheheh... dah, loe makin jelek, kalo ngambek mulu.”
“Biarin.”
“Mending. Loe nanya ke Oki gih... dia aja, lepasin Reno. Masa gue gak sih!” kata kak Virghost. Dan dalam hati, gue membenarkan ucapan dia.
Oke! Bakal gue cari tau ke kak Oki. Kenapa, dia melepas Reno tadi.
Dan gue, masih bakal nyuruh mereka untuk menghajar Reno lagi. Tapi nanti...
Gue bakal, ngambek ke kak Oki! Kalo dia gak bantuin gue. Liat aja Ren! Hihihihihi.
Still Continued...