PART 6 (Zima Mission)

4148 Words
POV Reno   Aku dan Yunita bertemu di depan kamar 312. Yunita menutup pintu kamar, lalu bersama-sama meninggalkan hotel melewati tangga darurat. Yang jelas kami tak perlu membersihkan semua mayat yang terkapar di lantai 3 tadi. Yang harus kami lakukan, segera meninggalkan hotel. Membiarkan semuanya menjadi suatu pembunuhan yang tak diketahui siapa dalang semua itu.   “Lets go!” gumamku, ketika kami telah tiba di mobil. Segera ku jalankan mobil, dan bersikap biasa ketika tiba di pintu keluar. Sempat melempar senyum kepada penjaga di pos keluar, lalu memberikan uang 10rbu untuk biaya parkir mobilku. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi makin menjauh dari hotel Aston. Hotel yang menjadi saksi kematian seorang pengusaha asal Pulau Andalas sana. Aku sangat puas dengan hasil kerjaku malam ini, tak ada yang tersisa. Semua anggota bodyguard, bagian dari anggota Black Jack! Mafia terbesar di negara ini telah ku lenyapkan nyawanya. Sedangkan target sendiri, entah seperti apa cara Yunita melenyapkan nyawanya. Aku belum menanyakan hal itu ke Yunita, dan juga gak punya niat sih untuk bertanya lebih lanjut. “Ahhhhhhhh! Berhasil juga.” Tiba-tiba Yunita berucap, sempat mengerang dengan menggerakkan kedua lengannya ke atas, lalu ke depan. Aku hanya menoleh, melempar senyum kepadanya. “Mobil kamu?” tanyaku kepada Yunita. “Udah ada yang ngurusin kok!” jawab Yunita. “Ohhh!” Aku lalu tak lagi bertanya lebih jauh kepada Yunita. Karena aku paham, jika Yunita bergerak pastinya penuh dengan perhitungan. Dia dan aku, memang mempunyai skill yang hampir sama. Cara mengeksekusi target, kadang menurut cerita dari teman-teman lainnya. Yunita jauh lebih sadis dariku. Bahkan beredar kabar juga, dimana Yunita di sebut sebagai Psycho Woman!!! Tapi aku gak lihat kegilaannya setiap kali bersamanya. Mungkin saja Yunita melakukan jika saat ia bekerja saja. Entahlah! Yang jelas, aku gak permasalahkan hal itu.   “Kemana?” Tanya Yunita di sela-sela. “Menurutmu?” “Heheheh! Mau Honeymoon! Ya ya ya...” Aku tersenyum, lalu ku anggukkan kepalaku untuk menyetujui permintaan darinya. Aku mengarahkan mobilku keluar dari ibu kota menuju ke pinggiran. Aku lalu berfikir, ada baiknya kami menghabiskan waktu di daerah puncak saja. Toh juga, pastinya Pak Edward gak akan memberikan kami misi satu atau dua hari ke depan. Biasanya sih seperti itu, dimana setelah kami menyelesaikan misi, maka kami tidak akan mendapat misi selanjutnya dalam waktu dekat. Bahkan kadang jedahnya, bisa seminggu atau dua minggu. Selama perjalanan, aku dan Yunita mengobrol biasa. Kadang terselip candaan-candaan darinya. Dimana selalu ia mengatakan jika aku bau darah-lah, atau, aku bau lah. Yang jelas aku hanya membalas candaannya dengan senyuman. Kadang pula ku gerakkan tanganku menggapai kepalanya. Terlihat sekali, meski dia lebih tua dariku. Namun, setiap bersamaku, justru aku lah yang kelihatan lebih tua darinya. Eit! Bukannya aku bermuka tua. Tapi, kadang sikap seseorang-lah yang menjadikan umur tidak sesuai wajah. Dan memang sikap Yunita, jika bersamaku selalu saja manja layaknya gadis-gadis yang seumuran denganku. Bahkan jauh dibawahku kali. Aku menyadari jika aku masih menggunakan seragam hotel, yang ku tutupi hanya dengan jaket hitamku. Maka, ku lepaskan jaketku. Membiarkan seragam hotel terlihat oleh Yunita.   “Cie...cie... yang udah jadi RoomBoy...” “Tadi, minjam sama salah satu karyawan hotel.” Jawabku ke Yunita. “Pinjam atau maksa?” “Kalo pinjam secara langsung... mungkin butuh waktu.” “Hahahahahah dasar Reno.” Yang jelas selama perjalanan, kami sengaja tak menyinggung kejadian tadi. Sama-sama saling mengertilah menurutku. Karena ini bukanlah pengalaman pertama, aku bekerja bersama Yunita. Semua yang terjadi tadi seakan terlupakan begitu saja. Bahkan saat ini, menurutku Yunita lebih memilih untuk bermesraan denganku.   Kami keluar dari jalan tol ibu kota, menyisir jalan di pinggiran untuk nyampai ke jalan yang akan mengarahkan kami ke tujuan. Yaitu daerah puncak. Aku lalu melajukan mobil, dan setelah saling mengangguk. Akhirnya kami memilih sebuah cottage di pinggiran ibu kota. Cottage yang selalu saja kami gunakan, ketika ingin berlibur di daerah sana. Dan, tentu saja. Aku dan Yunita, ingin menikmati malam panjang ini dengan party. Apalagi kalau bukan, seks sepanjang malam. Setelah keluar dari hotel tadi, ada pesan SMS masuk dari Pak Edward di ponsel kami berdua. Bahwa dana telah di transfer ke rekening pribadi kami masing-masing. Jumlahnya, ohhh tentu saja sangatlah besar. Tak perlu aku sebutin berapa jumlahnya. Yang jelas, bisa membeli 1 unit mobil Range Rover.   ~•○●○•~     POV Yunita   HUAAAAAA!!! Betapa bahagianya, aku saat ini. Duduk di samping Reno, memandang wajah tampannya, dan juga coolnya seakan memberikanku kebahagiaan yang begitu berkepanjangan. Meski sikapnya cuek, namun ku tau jika dia menyayangiku. Hihihi! Pede banget yah. Oopss! Sepanjang perjalanan tadi, aku dan Reno sama sekali tak menyinggung lagi apa yang kami kerjakan tadi. Seakan semuanya berlalu begitu saja. Yah! Bukan aku sih yang memulai, melainkan Reno, yang memang menunjukkan sikap jika ia enggan untuk membahas pekerjaan kami. Ahhh! Dasar Reno, itulah yang selalu membuat jantungku berdebar-debar. Puas rasanya, tadi sudah memotong kemaluan si taufik. Hahahaha! Kemaluan yang entah keberapa, yang sudah aku potong. Oh iya! Setelah menyelesaikan misi malam ini, aku dan Reno memilih untuk menghabiskan malam di sebuah cottage. Cottage yang sama, selalu kami gunakan untuk memadu kasih, memadu kenikmatan tentunya. Hihihi! Duhhh, mana libidoku sejak tadi udah naik. Aku harus tuntasin secepatnya, masih terngiang-ngiang sentuhan p***s Taufik tadi di kemaluanku. Bahkan, saat ini denyut-denyutan di bawah sana, memaksaku untuk langsung menerkam Reno saat tiba nanti. Aku melirik ke samping. Cakep! Batinku saat ini. Siluet wajahnya, benar-benar menggambarkan seorang laki-laki yang mempunyai sifat keras, namun penyayang. Meski, hal itu tak mampu ia ungkapkan di hadapan semua orang.   Reno yang sibuk menyetir, sesekali menoleh kepadaku. Yah!!! Jantungku berdebar-debar saat ini. Jauh lebih berdebar-debar dari pada mengeksekusi seorang TO.   Aku mencintainya... Sangat mencintainya... Meski dia jauh lebih muda dariku, tapi aku tak perduli.   Dan saat ini, kami sedang memasuki kawasan kurang penduduk. Aku lalu menggeser tubuhku. Ku raih lengannya, dan ku genggam jemarinya dengan penuh perasaan. Sempat juga, ku kecup lembut punggung tangannya. Dan Reno, hanya menoleh tanpa mengganti ekspresi di wajahnya. Aku memanyunkan bibir ini, saat Reno kembali menatap ke jalan di depan. “Hufhhh!” “Kenapa?” tanyanya. “Gak... gak kenapa-kenapa... Hihihi,” “Dasar!” gumam Reno. Aku hanya memanyunkan bibirku kembali.   Hening sesaat... Hanya suara musik samar-samar menemani perjalanan kami malam ini. Ku putar kembali ingatanku tentang Reno. Sosok pemuda, yang memiliki tanggung jawab penuh atas pekerjaan yang diberikan oleh Pak Edward. Sosok pemuda, yang selalu menjunjung tinggi kesetiaan terhadap pimpinannya. Inilah yang kadang membuatku gemetar, jika mengingat kedekatanku dengan Reno makin lama makin erat. Kadang aku takut, jika sesuatu terjadi kepada Reno.   Aku gak sanggup hidup tanpanya... Aku gak sanggup melihatnya, merasakan kesedihan. Aku akan selalu siap, menemaninya sampai kapanpun. Mungkin terdengar lebay seperti cewek-cewek ABG jaman sekarang. Tapi, itulah diriku yang sebenarnya. Mencintai dia, dan tak akan bisa jika menjalani hidup tanpanya. Gak tau apa yang akan terjadi, jika ternyata Reno memilih wanita lain. Aku pastinya akan murka. Bahkan hal buruk, aku akan membunuh wanita itu. Yah! Aku gak akan membiarkan wanita lain merebut Reno dariku. “Kamu kenapa?” suara Reno baru saja membuyarkan lamunanku. Ku tolehkan kepalaku, dan makin mengeratkan genggamanku di tangannya. Reno membalasnya. Ia melempar senyum kepadaku.   Entah mengapa, malam ini perasaanku sungguh tak mengenakkan. “Bisa berhenti dulu...” Ujarku kepada Reno. “Ok!” maka dia pun menjawab, lalu menepikan mobil di pinggir jalan. Saat mobil berhenti, ku tarik tuas jok hingga ku dorong dengan tubuhku ke belakang. Aku lalu berbaring, mencoba untuk mengalihkan rasa aneh dalam diriku. Reno menatapku dalam-dalam. Ku tau, jika tatapannya itu adalah tatapan heran akan sikapku yang tiba-tiba berubah seperti ini.   “Kamu kenapa?” Tanya Reno lagi. Pertanyaan yang sama, dan ku lihat ia menatapku heran. “Hmm, pengen aja... berhenti di sini.” Jawabku ke Reno. Reno menggerakkan tubuhnya, melakukan hal yang sama denganku. Aku memejamkan kedua mata, ketika jemari Reno mulai mengusap lembut punggung tanganku yang masih tergengga,. Ku resapi dalam-dalam kebahagiaan yang diberikan olehnya. Meski ia masih belum berterus terang kepadaku. Namun aku merasakan sebuah kasih sayang yang diberikan olehnya, dengan sentuhan-sentuhan lembut darinya. Aku kenapa bisa se-sedih ini sih?? Batinku sesaat. Ku buka mata ini, lalu melirik ke Reno. “Makasih…” Ahhhhhh! Kenapa aku makin sedih sih...   Aku tak lagi melanjutkan ucapanku. Dan ku rasakan dadaku makin sesak. Dua mataku makin perih terasa, menjaga agar mata ini tak meneteskan air mata dihadapan Reno. Namun, tak mampu di pungkiri, semakin ku tahan. Malah semakin nafasku terasa sesak. Dan saat ini, suara tarik nafas dariku berganti dengan suara se-senggukan menahan kesedihan yang tiba-tiba melandaku.   Aku... Menangis... Yah! Menangis dihadapan Reno, dan ku rasakan Reno menyentuhku lagi. “Kenapa nangis?” Tanya Reno. “Enggak tau sayang! Tiba-tiba aja, sedih gitu.” Gumamku. Kemudian Reno ku dengar baru saja mengehela nafas panjang. Begitu juga denganku. Aku lalu memilih diam dan menikmati setiap detik kebersamaanku dengan Reno. Ku kuatkan genggamanku, seakan tak ingin melepaskan Reno dari sisiku. Kami cukup lama terdiam, menikmati kehangatan satu sama lainnya. Dan sempat ku lirik, ternyata Reno sudah memejamkan mata. Aku pun melakukan yang sama. Aku menggerakkan jemariku. Dan kini lengannya ku elus dengan lembut. Reno membuka mata, dan menatap wajahku dengan ekspresi yang sukar untuk aku tebak yang sedang ia pikirkan saat ini. “Makasih… makasih, sudah memberikan kebahagiaan seperti ini ke aku. Dan, aku berharap semoga saja kebahagiaan ini akan tetap bertahan selamanya.” Guman ku pelan. Dan ku lihat, Reno tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan. Jujur, aku masih bingung kenapa harus aku katakan kalimat tadi yah? Ada apa denganku? Apakah, ini tanda-tanda jika aku akan kehilangan Reno? Ku gelengkan kepalaku, mencoba melawan kekhawatiran dalam diriku saat ini. “Mau lanjut?” Tanya Reno. “Ren…” Aku melepaskan genggamanku, lalu sedikit ku condongkan tubuhku mendekatinya. “Sini.” Kata Reno, lalu ia mengecup bibirku dengan begitu lembut. Hatiku benar-benar bahagia, serta ada secuil kesedihan yang tersembunyi di dalamnya. Apa itu? Aku juga belum ketahui.   Setelahnya, kami berhenti berciuman. Ku pegang wajahnya, menatap dua bola matanya dengan pikiran yang tak mengenakkan. “Hmm, boleh minta sesuatu?” “Apa?” jawab Reno singkat. “Aku serius.” Jawabku, dan Reno hanya mengangguk mendengarnya. “Sampai kapan kita kerja seperti ini, Ren?” Reno tak menjawab. Dia memalingkan lirikannya, dan dua bola matanya, sudah tak lagi memandangku. Sikapnya yang masih saja dingin seperti ini, seakan makin mengiris-ngiris kecil hati ini. “Jujur... aku pengen banget, hidup seperti orang-orang normal di luar sana... membina keluarga denganmu. Toh juga, tabunganku... dan juga tabunganmu, sudah cukup untuk membiayai masa depan kita berdua!” “Aku belum bisa jawab!” ujar Reno. “Dan! Aku ke depannya, ingin fokus ke kuliah dulu... Tapi juga, gak akan jauh darimu.” Saat mendengar lanjutan ucapannya, tetesan air mata ini mengalir di pipi hingga membuat pandanganku mengabur. “Aku sayang sama kamu, Ren!” “Iya aku tau!” “Kamu tau, tapi ka-“ “Sudah Yun! Ini mau lanjutin jalan atau Cuma disini aja?” Kembali, ku keluarkan semua tangisanku yang penuh kepedihan. “Hikz…hikz… Aku gak akan sanggup, berpisah denganmu Ren.”   Semoga Reno, bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ku saat ini. Lalu, Reno tiba-tiba memelukku. Senang rasanya, ternyata Reno tidak bertahan dengan egonya. Di kecupnya bibir ini kembali, cukup lama kami berciuman... Aku butuh Reno, memberikan kekuatan kepadaku. “Yun... Aku yakin, semuanya telah ditakdirkan oleh yang maha kuasa. Dan, kamu harus kuat… karena, pekerjaan yang saat ini kita jalankan, sangatlah berbahaya... Aku jujur, gak tau, sampai kapan akan seperti ini. Yang jelas, kamu harus tau, jika... aku gak sanggup jauh darimu.” “Hikz…hikz…hikz, iya Ren… jujur aku bahagia banget bisa mencintaimu… Hikz..hikz..” “Iya … udah, jangan terlalu berfikir lagi. Hidup memang tak sesempurna yang kita bayangkan, tapi... Jalanilah semaksimal mungkin, sesuai hati dan nurani kita.” Kata Reno selanjutnya. “Aku gak bisa janji, tapi aku hanya bisa bilang... Aku, gak bisa jauh darimu.”   “I-iya” “Dan, aku selalu merindukan senyumanmu... So, senyuman itu jangan pernah luntur… Ok?” Reno kembali berucap dengan nada tegas. Jujur, anggukanku ini sebagai bukti jika aku bahagia mendengar semua ungkapan secara tidak langsung darinya, jika ia pun menyayangiku. “Makasih yah Ren, hikz…hikz… makasih banyak, karena telah begitu perhatian kepadaku.” Aku kembali meneteskan air mata kebahagian dihadapan Reno. “Udah, jangan menangis lagi yah…” Kami kembali terdiam, dan masih terdengar suara sesunggukan dariku.   “Yuk!” gumam Reno. “Iya.” Akhirnya, Reno kembali menjalankan mobil. Dan tanpa Reno sadari, Aku kembali melamun dengan pikiran kosong dan pandangan lurus ke depan.   Ting! Suara notifikasi sebuah pesan di ponselku, membuyarkan lamunanku.   “Ren... kamu juga, dapat SMS tuh dari Pak Edward!” kataku ke Reno, karena aku mengetahui jika SMS terkirim ke ponsel Reno yang jadul. “Iya.”   Aku dan Reno, melihat SMS di ponsel kami masing-masing.   Pak Edwrad :   “ZIMA”   DEGH!!! Tiba-tiba aku merasakan tubuhku merinding, sungguh aku sepertinya merasa antara mimpi atau tidak. Aku benar-benar terkejut setelah membaca pesan dari Pak Edward itu. Sambil menahan nafas, aku kembali membaca isi pesan tersebut. “Z-I-M-A!” gumamku mengeja satu kata yang tertera di layar ponselku saat ini.   Apakah ini, jawaban dari pertanyaan dalam pikiranku sejak tadi? Apakah, semuanya akan berakhir hari ini? Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku bersedih... Gak tau, apakah aku akan kuat saat ini?   “Hikz...Hikz...Hikz...” Aku menangis, benar-benar menangis. Kemudian Ku tolehkan pelan kepalaku ke samping, dan menatap dalam-dalam wajah Reno. Wajah yang akan ku lihat untuk terakhir kalinya. Sampai detik ini, aku heran melihat ketenangan Reno. “Ini ZIMA lho Ren !!” Dia tak jawab!!!   Tubuhku makin merinding, dan air mataku makin berlinang dan tak mampu aku bendung. “Ren... Hikz...Hikz... Ma-maaf!” gumamku, dan ku gerakkan perlahan-lahan tanganku untuk mengambil tasku yang ku letakkan di samping kiri. Setelah itu, aku membuka resletingnya. Sepersekian detik, jemariku telah menggenggam benda yang ada di dalam tas. Sebuah Glock Silencer yang sama dengan punya Reno. Meski berat namun aku harus lakukan.   Aku... Mencintainya. Setelah tarikan nafas panjang, aku bergerak cepat, mengeluarkan Glock Silencerku dan mengarahkan ke kepala Reno. Gerakanku lebih cepat darinya, hanya berbeda sepersekian detik. Ternyata, Reno juga melakukan hal sama.   Sesaat, ku tatap dengan penuh kesedihan wajahnya. Ekspresi dari Reno begitu dingin. Aku lalu melempar senyum dengan linangan air mata kepadanya. Semua telah berakhir... Saat-saat indah bersama Reno, ternyata hanya sampai disini.   Maka, ku anggukan pelan kepalaku. “Maaf Ren!” Ku pejamkan mata ini...   GELAP! Mataku tertutup secara perlahan-lahan. Maaf Ren, aku gak bisa menarik pelatuk pistolku... Hikz...Hikz... Aku gak bisa melakukannya. Selamat Tinggal, Kekasihku! Reno Januarta!     TFFF!!! TFFF!!! TFFF!!!     ~•○●○•~     POV Reno   Kejadian barusan seperti saja hanya terjadi di dalam mimpi. Dan aku menghempaskan tubuhku ke jok. Aku gak menyesal melakukannya. Inilah aku, Reno Januarta. Yang mempunyai sifat tak mengenal lawan maupun kawan. Aku lebih dulu akan menghabisi siapapun untuk tetap bisa selamat dari segala bahaya apapun yang mengancam nyawaku. Aku memasukkan kembali Glock Silencer ke dalam tas, kemudian menoleh ke samping. Aku hela nafasku, sambil menatap wajah Yunita yang sudah memejamkan mata. Tubuh bersimbah darah sama sekali tak membuatku bergidik.   Aku Membunuhnya...   Yah! Memang benar ini nyata. Kejadian 2 menit yang lalu, masih terngiang-ngiang di kepalaku saat ini, meski aku merasakan kehilangan dirinya. Sekilas benakku bertanya-tanya, apa tujuan Pak Edward memberikan misi ‘ZIMA’ kepada kami berdua. Misi yang mengharuskan kami saling menyerang? Apakah Pak Edward, mengetahui jika aku akan mudah melenyapkan nyawa Yunita? Zima! Sebuah kata, dari bahasa ‘RUSIA’ yang artinya musim salju. Mengisyaratkan sesuatu yang akan hilang dari diri kita. Misi Zima, adalah misi paling mahal, dan levelnya paling tertinggi di antara misi-misi lainnya. Yang jelas, misi dengan nama Zima, adalah misi antara hidup dan mati, dan selama setahun belakangan ini, baru dua misi yang terjadi. Pertama misi, dimana kedua kawanku kehilangan nyawa mereka. Mereka berdua, mendapatkan misi sepertiku, yang harus melenyapkan nyawa di antara mereka berdua, dan salah satu yang selamat, akan mendapatkan bayaran setimpal. Persis dengan apa yang aku lakukan bersama Yunita. Namun Naas! Kedua kawanku itu, saling menembak, sehingga keduanya terkapar dengan peluru bersarang di kepala masing-masing. Siapa saja yang tidak menjalankan misi tersebut, dan memilih untuk menghindarinya. Maka, siap-siap saja, mereka akan menjadi target para team lain! Dan yang berhasil melenyapkan nyawa kedua orang itu, maka bayarannya di lipat gandakan.   Siapa yang gak mau coba? Dan itu, yang aku gak inginkan. Aku masih menyayangi nyawaku sendiri. Kadang memang jalan hidup kita, tak sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan. Siapa yang sangka, justru aku dan Yunita yang mendapat misi Zima tersebut. Dan mengharuskan antara aku dan Yunita, harus ada yang selamat salah satunya. Dan Yah! Aku yang menang.   Bagaimana, jika ternyata kejadian malah kebalik? Apakah Pak Edward tak akan merasakan kehilangan diriku? Entahlah! Aku kadang bingung, apa yang ada di dalam otak Pak Edward selama ini. Banyak hal yang ia lakukan, yang jarang di pikirkan oleh orang lain, termasuk aku. Andai saja, Yunita tak memakai perasaan kepadaku. Mungkin saja, aku yang akan kehilangan nyawaku terlebih dahulu. Karena posisi senjata Yunita, lebih cepat terarah ke tujuan, sedangkan aku, berselang sepersekian detik dari gerakan Yunita. Kesimpulan yang aku ambil, adalah memang benar yang selama ini ku lakukan, jangan terlalu bermain hati dengan seorang perempuan. Ku tolehkan kepalaku ke Yunita, menarik nafas dalam-dalam, lalu setelahnya aku menyentuh lengan Yunita, menggerakkan lengan kanannya kemudian meletakkan di atas dadanya. Ku lipat kedua tangannya, kemudian kembali menatap wajah Yunita. Mungkin inilah terakhir kalinya aku bisa melihat wajahnya. Aku harus kuat. Harus tetap bertahan agar mampu menjalani hari-hari ke depannya. Memang benar, Yunita bagian dari hidupku selama ini. Namun saat ini, yang jauh lebih penting adalah segera beraksi agar semua terlihat kematian biasa saja. Setelah membereskan semua perlengkapanku, aku keluar dari mobil. Sempat aku melihat lagi tubuh Yunita di dalam mobil. “Selamat Tinggal,” kemudian menarik tuas di bawah kemudi mobil. Tuas untuk membuka tangki bensin, lalu aku menutup pintu mobil. Selanjutnya ku langkahkan kaki menuju ke sisi kiri mobil, membuka tangki bensinnya. Tak lupa untuk mengambil sebuah alat kecil, berbentuk bulat. Sebuah alat penghancur yang mempunyai timer.   Aku menyetel timernya dengan waktu 5 menit. KLIK! Setelah menekan tombol, maka timer pun mulai berjalan. Aku melempar alat itu ke dalam tangki bensin. Kemudian aku melangkah menjauhi mobil dengan menahan rasa yang menderaku. Aku tak sedih, serius sama sekali tak merasakan kesedihan yang mendalam. Tapi, yang aku rasakan adalah kehilangan Yunita. Kehilangan sosok yang selama ini mengisi hari-hariku. Tak tau lagi, setelah hari ini, apakah aku akan kesepian atau tidak. Tak terasa langkahku makin menjauh, bahkan kini telah berjarak 500 meter dari mobil. Hingga sesuai dengan hitunganku, sepertinya 15 detik lagi alat penghancur yang aku masukkan ke tangki bensin, akan meledak. Aku makin mempercepat langkahku, bahkan kini aku berlari sekuat tenaga, hingga sepersekian detik...   DUARRRRRR!!!     Terdengar suara ledakan yang begitu menggelegar dari arah belakangku. Meledakkan mobil beserta Yunita yang berada di dalamnya. Ledakan yang mengiringi langkahku menuju kehidupanku yang baru tanpa adanya Yunita. Ku hentikan langkahku sesaat, kemudian meraih ponsel dari saku celana. Membuka sebuah applikasi layaknya, applikasi taksi online. Namun ini di khususkan untuk para pekerja seperti ku. Tujuanku hanya satu, mencari team yang posisinya paling terdekat. Setelah mendapat satu titik kedap-kedip berwarna biru, yang mendandai jika team yang posisi terdekat telah menyambut pesanku dengan baik. Titik itu mulai bergerak di maps, menuju ke posisiku saat ini.   Setelahnya, aku mengambil ponsel yang lain dari dalam tas. Ku telfon, pemilik mobil yang aku rental tadi. “Halo...” ujarku saat pria di seberang menjawab panggilanku. “Halo Reno... Sukses?” “Ya! Btw, aku akan membayar mobil kamu senilai 75% dari harga baru mobil tersebut yang beredar saat ini.” “Ohh! I know... Rekening sudah ada kan?” sepertinya, dia mengerti apa yang aku maksud. “Ada.” Kataku simple. Setelahnya, aku memutuskan sambungan telfon dengannya, dan membuka applikasi Mobile Banking di ponsel yang sama, mengirimkan dana sejumlah 325 Juta Rupiah ke nomor rekening yang tertera di layar ponselku. Transfer is Done... Ku kirimkan, pesan kepada nomor yang sama tadi. Tak ada jawaban, aku tak memperdulikannya. Tak lama, sebuah mobil SUV keluaran dari BMW. Berjenis X3, berwarna hitam doff tiba di hadapanku. Aku melempar senyum, bersamaan kaca mobil bagian kiri terbuka. “Gak terlambat kan?” tanya seorang pria yang berada di posisi kemudi. “Hmm. Sepertinya.” Jawabku, lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.   Dia lah Joe, Teman seperjuanganku. Yang ternyata menjemputku saat ini. Sejujurnya aku tak menyangka, rupanya Joe yang datang saat ini. Dia ku lirik, masih sibuk menyetir yang awalnya tak aku ketahui tujuannya kemana. Yang jelas aku hanya ingin, semakin menjauh dari tempat tadi, adalah jauh lebih baik sebelum para warga sekitar beserta pihak yang berwajib tiba di TKP. “Udah 2 KM kita berjalan... sepertinya udah aman.” Gumam Joe memecah keheningan. “Iya.” Jawabku. “Pastinya loe bertanya-tanya kan? Kenapa gue yang langsung datang menjemput loe?” tanya Joe. Aku hanya menggidikkan bahu, yang sejujurnya juga aku tetap bertanya-tanya dalam hati sejak tadi. “Hahahahaha! I like your style, Reno!”   Aku hanya menoleh ke Joe. “Gue jelasin, kalo gue tadi dapat info dari Pak Edward untuk stand by... dan setelah mendapatkan titik GPS dari beliau, yah gue ngikutin titik tersebut, dan gue emang sengaja menjaga jarak sekilo dari posisi loe, Ren.” “Ohh!” jawabku dingin. Memang aku sengaja tak banyak ngomong malam ini dengannya. Aku masih sedikit syok. Sejujurnya, aku juga masih gak tega kehilangan Yunita. Tapi, sudahlah. Semuanya telah terjadi, dan gak akan mengembalikan nyawa Yunita yang telah tiada. Dalam diamku, mengingat penjelasan Joe barusan. Dan menyimpulkan, ternyata Pak Edward telah memasangkan GPS di mobil sedan yang aku rental. Sejak kapan dia memasangnya? Arhhhh! Banyak hal yang kadang tak terbaca olehku, gerak-gerik team lain. Seperti kejadian malam ini. Aku sama sekali gak pernah berfikir, jika mobil yang aku kendarai tadi, sudah di pasang GPS. “Yunita sudah tewas!” gumamku sesaat. Joe hanya menoleh, dan melempar senyuman tipis. “Yap! Sesuai dengan rencana...” “Rencana?” Ku naikkan alisku satu, sambil menatap Joe dengan tajam. Apa maksud dia, sesuai rencana? Apa yang telah ia dan Pak Edward rencanakan?   “Oke...Oke... Gue emang gak bisa bohong ke elu.” Kata Joe sesaat. “Pak Edward curiga dan merasakan bahwa pikiran Yunita sudah tidak 100% ke assosiasi.” “Maksudnya?” “Yunita mulai mencintai 'kehidupan'. Loe ngerti maksud gue kan? Yunita sudah mulai kepikiran untuk resign dari asosiasi dan hidup sebagai cewek normal lainnya. No mission, no killing. Yunita lupa bahwa tidak ada istilah 'resign' buat orang seperti kita. Hidup lue, gue itu sudah beda. Kita sudah gak mungkin bisa jadi orang normal. Termasuk, sorry to say, loe kuliah jadi mahasiswa sekalipun. That was fake life, man.” Aku terdiam mendengar perkataan Joe. Aku tidak menyukai apa yang barusan dia katakan, tetapi itulah Joe. Dia selalu straight to the point. Joe beda. Dia full time hitman. Berbeda denganku. Part time hitman, part time college student.   “Ketika Pak edward ngasih kode Zima ke kalian berdua, dia sudah tahu Yunita yang akan mati. Elo yg akan survive. Singkatnya, beliau memberikan lo Privilige buat ngebunuh Yunita, bukan ke gue atau ke agen lain. Bro, Bukan elo yg nge-bunuh Yunita. Tapi perasaan Yunita yang lembek, yang ngebuat ia terbunuh. Sorry gue banyak omong. Gue tahu loe deket ma Yunita. So! take your time.” Aku hanya menggidikkan bahu, tak lagi ingin menyinggung masalah Yunita. Diam, adalah cara menutupi sebuah kekurangan. Dan kekuranganku saat ini, adalah masih adanya perasaan yang kecewa dengan semuanya. Oh iya! Sedikit ku ceritakan tentang Joe. Joe adalah satu-satunya kawanku yang paling dekat ketika berada di camp pelatihan di negara Rusia. 1 tahun lamanya, aku melalui latihan yang sangat keras di sana. Aku dan Joe, sama-sama menjadi yang terbaik dari sekian banyak anggota. Dan saat ini, umur Joe, terpaut jauh denganku. Joe, saat ini berumur 35 tahun. Sudah cukup segini dulu, ku jelaskan mengenai Joe. Selanjutnya, biarlah kalian mengetahui dengan sendiri, sesuai kejadian di masa akan datang.   ~•○●○•~   Beberapa hari kemudian...   Selama 3 hari ini sengaja aku tak ngampus. Aku hanya berdiam diri di sebuah hotel yang terletak di propinsi Jawa Barat. Selama 3 hari ini juga, satu-satunya nomor ponsel yang di ketahui oleh sahabatku di kampus, sengaja tak aku aktifkan. Sengaja aku ke tempat ini, setelah mengetahui semua dana milik Yunita di transferkan ke rekening pribadiku oleh Pak Edward. Dan menyisahkan sejumlah dana lainnya, yang di kirimkan kepada kedua orang tua Yunita, sebagai hadiah untuk kelangsungan hidup kedua orang tuanya. Pak Edward tentunya tak pernah tidak adil dalam memberikan upah kepadaku, setiap pekerjaan yang telah sukses aku selesaikan. Pekerjaan untuk melenyapkan ‘Target’ di Hotel Aston bersama Yunita, biayanya cukup banyak dan semua biaya baik aku maupun dana buat Yunita, semuanya di transferkan ke rekeningku. Dan pekerjaan kedua setelahnya, melenyapkan nyawa Yunita pun telah di bayar oleh Pak Edward melalui nomor rekening yang sama.   Aku sendiri sempat hadir selama 3 hari berturut-turut dalam acara ta’siyah di rumah Yunita. Benar-benar kondisi keluarga Yunita sangat terpukul. Yunita yang selama ini aku kenal adalah gadis periang. Menyayangiku apa adanya, dan tidak pernah mengeluh dengan sikapku selama ini. Aku benar-benar merasakan kehilangan Yunita. Aku tentu saja sangat terpukul akibat perbuatanku sendiri yang membunuh Yunita atas perintah Pak Edward. Aku bersedih? Iya! Aku juga gak bisa memungkiri akan hal itu. Namun, gak butuh lama, aku sudah kembali berfikir normal untuk hari esok yang akan aku jalani. Masih banyak hal, yang ingin aku lakukan. Maka malam itu, tanpa berfikir panjang aku pun langsung menembak Yunita. Dalam benakku, sedikit terbersik akan sesuatu. Perintah Pak Edward, memberikanku Misi Zima. Dan linked, dengan jawaban Joe kala itu. Namun semua pertanyaan di benakku ini, hanya bisa ku pendam saja. Dan tak ada niatan untuk mengemukakan kepada Pak Edward. Karena ada rules di associated, dimana semua agen patuh melaksanankan order dari Pak Edward tanpa bertanya “Kenapa aku mesti membunuh target”   Selama dua hari ini, berita pun menayangkan, jika Yunita terbunuh karena kecelakaan semata. Good Job! Pak Edward. Kerja anda, memang wajib di acungkan jempol. Benar-benar team Associated memanipulasi sedemikian rupa, kematian Yunita tanpa ada yang curiga, jika itu adalah perbuatanku. Menurut berita, dimana mayat Yunita ditemukan hancur menjadi abu. Berada di dalam mobil, yang entah apa sebabnya, telah hancur akibat ledakan, dan tak mampu di temukan sebuah bukti atas keganjalan kematian Yunita. Yah balik lagi, aku hanya melenyapkan bukti, dan Pak Edward yang memuluskan segalanya. Bukan masalah besar bagi kami, untuk melenyapkan bukti atas tindakan yang telah kami perbuat.   Dalam diamku saat ini... Aku kembali mengenang akan sosok Yunita. Hari-hari bersamanya, masih melekat dalam ingatanku saat ini. Ku hela nafasku yang terasa berat, aku menyeruput kopi di meja teras depan kamar. Sambil mencoba melupakan apa yang telah terjadi. “Huuuuuuhhhhhhfffff!” Aku pun saat ini mencoba menghirup udara segar. Aku hanya melirik ke ponselku. Dan tak berniat sama sekali, untuk menghubungi siapapun malam ini.   Sudah cukup, aku berdiam selama 3 hari ini. Dan besok, aku sudah harus menjalani aktivitasku seperti biasanya. Aku agak kangen dengan candaan para sahabatku. Mungkin juga mereka sudah menelfon nomorku berulang-ulang. Yah! Besok aku harus masuk kampus seperti sedia kala. Aku wajib, melupakan Yunita.   Bertemu dengan Lidya, gadis jutek. 4 Devils. Yah! Apa kabar mereka saat ini?   Apakah aku akan mampu melewati hari-hariku di kampus, dengan bertahan menutupi siapa aku sebenarnya?   Kisah Yunita, Finish sampai disini.     Still Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD