PART 5 (My Job Season 2)

6369 Words
POV Reno     Pak Edward :   Picture TO : -JPG File- Name  : Taufik Mansyuri Asal : Sumatra Location : Hotel Aston, Kamar 312. Time : Before 00:01   Begitulah pesan SMS kedua dari Pak Edward yang masih terngiang di kepalaku saat ini. Sebelumnya aku dan Yunita mendapat pesan yang sama dari Pak Edward saat kami berada di hotel tadi. Aku dan Yunita, mendapatkan pekerjaan yang sama. Dan inilah pekerjaan yang aku geluti selama ini. Sudah saatnya kalian mengenalku lebih jauh, apa pekerjaanku. Dan siapa Pak Edward. Pak Edward adalah salah satu Director dari ‘Black Mysterious’. BM semacam Associated, wadah untuk mengumpulkan freelance semacam diriku ini, yang mempunyai kemampuan khusus. Pak Edward adalah Director yang khusus mengelola di negara Indonesia. Dan beginilah Pak Edward, dimana selalu saja memberikan misi kepadaku, dengan waktu yang sangat singkat untuk meng-eksekusi target. Aku sih gak mempermasalahkan hal itu, kecuali memang targetku banyak, mungkin aku harus memikirkan strategy yang jauh lebih baik dari pada seperti ini. Aku sendiri saja, bisa bekerja dengan waktu yang sedikit untuk melenyapkan korban. Apalagi saat ini aku di bantu oleh Yunita. Lumayan mudahlah menurutku. Yah! Hanya aku, Yunita dan Joe yang bisa melakukan semua ini. Kami bertiga, adalah team terbaik yang di miliki Pak Edward. Agen type ‘DD-01’ yang artinya Direct Of Death. 01 yang mengartikan, agen type DD yang mendapat predikat ‘A’ dari pihak Rusia, setelah menjalani segala macam tes untuk mendapatkan sertifikat tersebut. Pak Edward sendiri mengakui kemampuan kami bertiga, bahkan setiap kali mendapat misi dengan waktu yang sedikit, pastinya Pak Edward akan memberikan misi itu ke salah satu dari kami. Waktu kami tersisa beberapa jam saja, sesuai perintah dari ‘Customer’ dengan memilih misi (RAINIY) yang artinya hujan. Jika di asumsikan/di artikan adalah lenyapkan target secara langsung, tanpa perlu melenyapkan bukti, atau membuat kejadian seakan seperti ‘Crime Scene’. Dan kami harus melenyapkan target tidak lewat dari jam 00:01. Poin/Price in Action masih di bawah Misi ‘Autumn & Summer’ karena kedua misi itu membutuhkan waktu seminggu. Autumn, misi yang mengharuskan kami melenyapkan target, dan setelahnya melenyapkan segala macam bukti atau jejak di tempat kejadian. Sedangkan Summer, mengeksekusi target dan membuat skenario seakan-akan korban meninggal akibat kecelakaan. Menurutku butuh waktu, perencanaan yang sangat matang. Karena kami harus membenahi semuanya tanpa bekas, hasil kerja kami kala itu. Di atas Autumn, ada misi yang sangat mengerikan. Dan mengharuskan kami menerima pekerjaan itu, atau status kami berubah menjadi TO/target dari para team sepertiku.   Well!!! Sekilas telah ku ceritakan apa pekerjaanku di atas. Sebuah Hotel berbintang, dan aku mengetahui dimana letak hotel itu. Lokasi TO saat ini berada. Sebelumnya aku menyuruh Yunita untuk bergerak cepat, dia meninggalkanku 5 menit setelah mendapatkan 3 pesan berturut-turut dari Pak Edward, dan sempat menghadiahkanku kecupan di bibir. Aku hanya menggidikkan bahu, karena aku merasa Yunita memang tak akan mampu jauh dariku. Aku hanya memberikan pesan kepadanya tadi, untuk menyuruhnya bertindak secara hati-hati. Setelah itu, aku menghubungi teman yang selama ini membantu aksiku dengan menyewakan mobilnya. Aku menghubunginya karena ingin memakai mobilnya dalam menjalankan aksiku malam ini. Setelah mendapat kabar, 10 menit lagi mobil tiba di tempatku. Maka aku pun mempersiapkan segala keperluanku untuk nanti. Lokasi tempat target kami berada saat ini, adalah lokasi yang cukup ramai, maka dari itu, kami harus berhati-hati untuk menyelesaikan misi kali ini. Entah! Apa peran Yunita, yang jelas aku dan Yunita mempunyai peran berbeda-beda dan semua telah di atur oleh Part Of Company. Yang mengharuskan kami, tidak menginformasikan ke orang lain. Intinya, ada kode etik yang menjaga dan mengharuskan kami mematuhi aturan-aturan tersebut.   Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Setelah itu aku mengambil tas ransel, satu-satunya tas yang aku bawa sejak kemarin. Aku membuka ranselku. Dari kantung khusus yang ku buat tersendiri, untuk menyimpan beberapa senjata kecilku. Tak perlu aku sebutin yah! Nanti juga kalian akan tau, senjata apa yang aku bawa untuk menjalankan aksiku malam ini. Aku hanya memastikan, apakah aku lupa membawanya atau tidak. Dan semuanya telah siap. Maka, ku kancingkan kembali tas, dan mengambil jaket hitam beserta topi hitam bermerk ‘Volcom’. Tanpa melupakan headset wireless bluetooth kecil yang ku pasangkan di telinga kanan, yang akan menyambungkan aku dengan Yunita. “Cek... Cek! Yun...” “Yes sayang!” Suara Yunita menjawab panggilanku dari alat tersebut. “Oke! Good Luck!” “Muachhhh!” Dasar! Masih sempat-sempatnya nih anak manja-manjaan kek gini. Aku lalu mengirimkan pesan ke sebuah nomor, menanyakan apakah pesananku tadi sudah selesai. Aku sengaja memesan satu kamar di hotel Aston. Hotel yang sama, dimana target menginap malam ini, untuk ku jadikan tempatku bersembunyi sesaat. Sengaja aku memesan kamar yang ada di lantai dua. Karena menurutku, justru di lantai dua lah tempat yang sangat pas untuk melaksanakan rencana plan A ku. Tak begitu lama, sebuah pesan kembali masuk di ponselku. Nomor kamar, beserta nama yang tertera di nomor itu. Sepertinya mereka sudah mempersiapkan untuk aku, agar tidak memakai nama asliku saat check in nanti. “Kunci kamar, di anak tangga ke tiga, terselip di dus Rokok! Take care! And... Good Luck!” begitulah isi pesan selanjutnya.   Sepertinya mereka menginginkanku untuk tidak melewati pintu yang sebenarnya. Good Job! Setelah itu aku keluar dari kamar, dan melakukan check out, kemudian bergegas ke parkiran mobil. Berdiri pria berjaket di samping mobil sedan Honda All New Civic, juga berwarna hitam. Aku melempar senyum kepada pria itu, dan tanpa berkata ia langsung melempar Keyless Remote kepadaku. Tap!!! Aku menangkapnya, dan pria itu pun hanya mengangguk pelan lalu meninggalkanku berserta mobilnya.   Aku menjalankan mobil keluar dari hotel, dan ku letakkan tas ransel di jok samping. Di telinga baru saja terdengar suara Yunita. “Reno, posisi?” “Di jalan, menuju TKP.” “Oh! Oke deh... aku udah tiba... tapi masih di parkiran.” Kata Yunita yang berkata telah tiba di TKP. “Oke... kamu lanjutkan apa yang harus kamu kerjakan, aku akan kerja sesuai apa yang bisa aku kerjakan.” Kataku menjawabnya. “Sipp! See you, Reno sayang... Muach!” dia menyempatkan memberikanku ciuman jarak jauh di telfon. Setelahnya sambungan telfon antara aku dan Yunita ‘Silent’ tapi tidak terputus. Beginilah cara kami beraksi, berbicara secukupnya. Dan mengutamakan keselamatan, itu yang paling utama.   Pedal gas aku tekan makin dalam, melajukan mobilku makin kencang menuju ke Hotel Aston, tempat untuk meng-eksekusi target kami malam ini. Aku memilih memarkir mobil di bawah basement. Karena hotel itu biasanya untuk tangga darurat, ujungnya terletak di lantai bawah. Setelah memarkir mobil, aku lalu keluar dari mobil sambil membawa tas ranselku yang aku letakkan di punggung. “Oke! Aku sudah tiba...” kataku kepada Yunita melalui headset wireless bluetooth. “Oke becarefull, sayang!” balas Yunita. Aku lalu segera bergerak, melangkah menuju ke sebuah pintu dengan tulisan berwarna ke-abu abuan ‘Tangga Darurat’.   ~•○●○•~   POV Yunita   Aku baru saja mengetahui posisi Reno saat ini, dimana ia masih berada di jalan menuju ke Hotel Aston. Sebelumnya juga, aku mendapat telfon dari Pak Edward saat dalam perjalanan menuju ke appartemen pribadiku. Bahkan Reno sendiri tak mengetahui jika aku mempunyai appartemen, karena tidak semua hal tentangku harus Reno ketahui. Dimana Pak Edward menjelaskan tadi, jika aku malam ini cukup berperan sebagai ‘Wanita Panggilan’ yang entah seperti apa, semuanya telah di atur olehnya. Pesan terakhir dari Pak Edward mengatakan, target malam ini juga menyewa jasa ‘BLACK JACK!’ untuk menjadi bodyguard. Hmm! Cukup menantang nih. Karena yang aku ketahui, anggota Black Jack itu, gak boleh di pandang remeh. Mereka semua mempunyai kemampuan seperti kami. Selalu membawa senjata, baik berupa senjata api, maupun senjata tajam. Mereka punya keahlian mempuni untuk melumpuhkan lawan, bahkan tak jarang mereka akan membunuh jika saja ada yang mencoba mengusik tuannya yang telah menyewa jasa mereka. Hmm! Aku sih mengandalkan Reno saat nanti bertemu dengan para anggota Black Jack! Aku juga tetap harus memasang kewaspadaan tinggi, takutnya saat aku menjalankan aksiku sesuatu hal terjadi dan akan membahayakan keselamatanku. Tapi, ah! Aku gak masalah. Karena kalau hanya 2 or 3 orang anggota Black Jack, akan mampu aku lumpuhkan dengan kemampuan yang aku miliki saat ini.     Setelah mendapatkan instruksi, untuk segera menjalankan aksiku di awal dari Reno, maka aku keluar dari mobil. Malam ini aku menggunakan pakaian yang seksi. Karena pada umumnya, seorang pria memang sangat senang melihat wanita berpakaian seksi akan tetapi bukan berarti mereka menyukai wanita yang tampil berlebihan. Penampilanku tidaklah berlebihan, dan cenderung natural serta simpel. Seksi bukan berarti harus terbuka di sana sini kan? Hihihi! karena justru banyak pria yang beranggapan bahwa wanita yang menggunakan baju tertutup seperti yang aku pakai malam ini, yang terlihat seksi. Rasa penasaran mereka akan tertantang untuk segera melahap mangsa. Yang jelas hal yang paling terpenting adalah rasa percaya diriku. Karena waktu yang aku miliki tersisa 2 jam setengah. Apakah target akan cepat tergoda denganku? Ataukah target akan mengulur waktu untuk di temani menikmati sebuah minuman. Entah di kamarnya ataupun di suatu tempat. Jika memang seperti itu, aku akan mencoba untuk lebih menggodanya. Jika memungkinkan, aku akan langsung menanggalkan pakaianku dan bertelanjang di hadapan target. Heheheheh! Duh... jadi gak sabar, karena tiba-tiba saja libidoku naik. Oh iya aku memakai short dress berwarna hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhku malam ini. High heels di kaki, dan di ujungnya memang sudah tersedia sebuah besi tajam seperti pisau, yang saat aku tekan tombol di bagian dalam, maka pisaunya akan keluar. Sengaja aku membawa senjata yang berukuran kecil, dan harus tersimpan di posisi tersembunyi karena aku ingin masuk ke dalam hotel melalui pintu lobby. Penjagaan di lobby depan, sangatlah ketat. Akan adanya pemeriksaan tas, tubuh kita akan di periksa dengan Hand Detector. Setelahnya kita akan melalui sebuah alat Detector berbentuk sebuah pintu. For info, alat detector body di hotel, tidak akan mendeteksi logam jika kalian melapisi logam tersebut dengan kulit asli. Kecuali, hand detector yang selalu di pegang oleh para security hotel. Namun, biasanya mereka akan menggerakkan hand detectornya hanya sebatas lutut saja. Ini berlaku bagi perempuan, dan biasanya juga para security di malam hari. Semuanya laki-laki. Itulah plus poin buat cewek sepertiku. Heheheheh! Mereka tentunya agak segan untuk memeriksa tubuhku secara detail. Di telinga kanannku tersemat headset wireless bluetooth dan jika di periksa, kan aku akan beralasan jika aku sedang menelfon pacarku. Hihihi, cukup simple kan. Aku melihat 3 orang berjaga di depan pintu masuk. Semuanya memakai baju safari, yang jelas mereka adalah security hotel. Betul saja, setelah aku memberikan pesan ke Reno untuk menyuruhnya berhati-hati, Setelah memastikan posisi Reno berada saat ini, maka aku pun berjalan menuju ke pintu lobby. Dan aku di periksa oleh security itu. Mulai dari tas, suruh membuka tas. Dan salah satu dari mereka sempat menanyakan, sebuah kotak kecil. “Itu kotak make up,” jawabku kepada security itu. Mereka hanya mengangguk dan aku sedikit lega, karena mereka tak membuka kotak make up ku itu. Anda saja mereka membukanya, maka mereka akan menemukan dua tusuk kondek yang sengaja aku bawah untuk menjalankan misiku malam ini. Yah! Andai aku gagal memakai senjata di high heelsku, maka senjata terakhir yah tusuk kondek itu. Jangan salah, tusuk kondek itu... kecil-kecil gitu, sangat mematikan loh. Hehehehe.   Setelah pemeriksaan, aku dipersilahkan masuk melalui pintu yang telah di pasangkan alat detector. Aku berlenggak berjalan dan bersikap biasa saja. Mereka pastinya mengira jika aku tamu kehormatan dari salah satu tamu hotel yang menginap malam ini. Aku cantik, penampilanku, layaknya seorang artis. Hmm! Aku gak ke-pedean, tapi yah seperti itulah diriku sebenarnya. Tiba di Lobby, aku meraih ponsel dari dalam tas. Dan mengirim pesan ke sebuah nomor, jika aku telah tiba di lobby hotel. Oh iya sampai lupa, sebelumnya, atas perintah Pak Edward. Maka aku dan Reno mempunyai misi yang sama. Hanya kami berdua, dan kini berperan sebagai wanita panggilan yang telah di booking oleh target. Aku baru saja mengirim pesan ke nomor target, dengan menggunakan nomor baru yang sengaja aku beli tadi di counter HP.   Tak lama...   Dua orang memakai jas hitam, berkaca mata hitam, berwajah oriental, berjalan ke arahku. Itu adalah anggota Black Jack! Batinku. Aku mencoba melempar senyuman kepada keduanya. “Kamu Jingga?” kata salah satunya yang bertanya kepadaku. “Iya Pak.” Aku menjawabnya. Dan sekilas, aku melihat jika mereka sedang menatapku dengan seksama. Setelah aku mengernyit, dan mengangguk, maka mereka pun mempersilahkanku untuk jalan mengikuti langkah mereka berdua. Well! mereka biar si Reno saja yang menghabisinya. Kami bertiga berjalan menuju ke lift, dan bersamaan masuk ke dalam saat pintu lift terbuka. Ternyata kami menuju ke lantai 3. Oh iya, sampai lupa lagi. Target kami adalah salah satu orang terkaya di pulau sumatera sana. Dan malam ini, adalah malam terakhir baginya untuk menghirup udara di dunia yang fana ini. Setelah pintu lift terbuka, “Silahkan...” kata salah satunya, mempersilahkan aku untuk keluar lift terlebih dahulu. Aku mengiyakan, dan melangkah dengan anggunnya keluar dari lift. Sesaat, aku berdiri melihat ke arah samping. Ternyata, lantai 3 cukup clear. Tak ada tamu yang menginap di lantai ini, kecuali target di kamar 312. Itu menurut kabar yang aku dapatkan, dari pihak perusahaan yang sudah stand by memberikan beberapa petunjuk kepadaku maupun ke Reno. Aku dan Reno, masih tersambung dengan alat komunikasi di telinga, dan sudah tak lagi bersuara. Hanya mendengarkan saja, saat Reno mengatakan hal kecil, misalnya dia di tangga. Dia sudah tiba, dan lainnya. karena aku gak mau sampai mendapat kecurigaan sedikitpun dari berbagai pihak. “Di kamar 312.” Kata pria lainnya. Dan aku pun berjalan, di ikuti oleh mereka berdua berjalan di belakangku. Di luar kamar, 6 orang penjaga lainnya telah berhaga-jaga. Menurutku dibalik jas hitam yang mereka gunakan, tersimpan beberapa senjata baik senjata api maupun senjata tajam. Yang jelas, selama aku gak membuat gesture tubuh yang mencurigakan, maka aku akan berhasil bertemu muka dengan targetku nanti. Dan benar saja, aku berhasil dan saat ini aku telah berdiri di depan pintu kamar. Bertuliskan nomor kamar 312.   ~•○●○•~     POV Reno   Aku berdiri di depan pintu yang terbuat dari besi, dan bagian pembukanya terbuat dari besi panjang yang hanya aku turunkan tuasnya ke bawah, maka pintu terbuka. Aku naik anak tangga. Yah! Saat ini aku masuk lewat tangga darurat yang merupakan tempat yang paling aman untuk melakukan pengevakuasian penghuni bangunan, sehingga sistem proteksi kebakaran pasif ini harus direncanakan dengan baik. Dan juga tempat yang paling aman bagiku, untuk melancarkan aksiku malam ini. Pastinya setiap hotel maupun gedung apapun, yang berlantai lebih dari 3 lantai, harus dilengkapi dengan tangga darurat minimal 2 buah dengan jarak maksimal pencapainnya 45 Meter. Aku lalu naik dan sesuai petunjuk pesan SMS singkat tadi. Aku lalu naik ke anak tangga berikutnya, melewati ruangan lantai 1. Saat itu juga, aku menemukan sebuah bungkus rokok garpit. Di situlah aku menemukan Smart Key, untuk membuka pintu kamar dan juga mengakses lift tamu di hotel ini. Aku lalu melanjutkan langkahku, dan kini tiba di lantai berikutnya. Jelas saja, pintunya pasti terkunci. Dan aku mengambil dari tas sebuah besi kawat yang biasa ku gunakan untuk membuka pintu yang sedang terkunci melalui lubang kunci. Aku cukup terlatih menggunakan kawat tersebut. Ceklek!!! Dengan mudah aku bisa membuka pintu itu. Aku membuka pintu, dan mendapati lantai yang berkoridor, lengkap dengan pintu-pintu kamar yang aku ketahui berada di lantai dua. Sedangkan lantai satu, dikhususkan untuk lobby, dan beberapa tempat seperti lounge, cafe maupun restoran. Setelahnya, aku melangkah melewati koridor panjang beralaskan karpet dibawahnya. Dan tiba di depan kamar 144. Di sinilah kamarku, dan aku membuka kamar memakai Smart Key. Ceklek!!! Pintu kamar terbuka, dan daerah bebas dari CCTV yaitu setiap kamar di hotel ini. Aku hanya masuk sebentar, dan kembali membuka ponselku. Niatnya untuk melihat kembali gambar lay out hotel yang aku dapatkan tadi dari sebuah kiriman di ponsel. Maka aku mengetahui letak ruangan tempat berkumpulnya para room boy, berada di lantai ini. Aku hanya melihat gambar itu tidak lebih 2 menit, sudah langsung terekam di otakku. Selanjutnya, aku keluar kamar dan menutup pintu.   Tujuanku di awal, adalah datang ke ruangan Room Boy hotel. Aku berjalan, saat hampir tiba di tujuan, aku mendapati seorang pria baru saja keluar melalui pintu masuk. Pria berseragam hotel itu berjalan ke arahku. Aku sejak tadi berjalan, tak lupa memperhatikan letak-letak CCTV dan juga tempat-tempat untuk menyorot se isi ruangan. Memang sih, aku melihat tempat yang tak tertangkap kamera, yaitu di sudut dekat dengan lift. Tapi, di tempat itu ada meja dan kursi. Dan jelas saja, aku cukup kesulitan jika aku mengeksekusi pria itu di tempat ini. Maka pilihanku mengambil 1 kamar, adalah pilihan yang paling tepat. Saat hampir berpapasan, pria itu mengangguk sopan kepadaku. Dan aku pun melempar senyum sesaat. Saat pria itu sudah melewatiku, aku menghentikan langkah, “Mas.” Tegurku kepada pria itu. “Iya Pak.” Ia pun menghentikan langkahnya, dan menoleh kepadaku. “Ruangan room boy dimana yah? Kebetulan toiletnya bermasalah tuh!” kataku beralasan. “Oh kebetulan saya room boy juga Pak,” iyalah! Aku tau kalo kamu room boy. Batinku. “Jadi mas-nya bisa bantuin gak?” “Bisa Pak.” Aku tersenyum kepadanya, dan aku pun mengajaknya menuju ke kamarku.   Aku membuka pintu kamar, dan bersamaan masuk ke dalam. “Bisa kan mas?” tanyaku memastikan. Tak lupa, aku menutup pintu kamar. Dan ternyata pria itu tidak mempermasalahkan, toh juga memang seperti ini yang biasanya terjadi. Kenapa harus membuka pintu kamar, saat mereka sedang membantu tamu hotel jika terjadi masalah di kamar. “Iya mas... biar saya cek dulu.” Kata pria itu. “Sipp!” nah saat dia membelakangiku, beserta langkahnya ingin masuk ke dalam kamar mandi. Aku melaksanakan aksiku, mengambil dari saku celana, sebuah sapu tangan yang telah aku tetesi obat bius, dengan gerakan cepat aku menghantam lehernya dengan keras. Setelahnya, aku melingkarkan lengan kananku di leher. Kemudian, dengan tangan kiri aku letakkan sapu tangan menutup hidung dan mulutnya. Tak butuh lama, 10 detik, pria itu tak sadarkan diri. Aku tak perlu menghabisi nyawanya, maka ku buat dia pingsan saja. Efek obat bius yang aku gunakan tadi, cukup lama. Durasi pingsannya bisa 2 s/d 3 jam. Oke! Dia pingsan, dan aku cukup menanggalkan pakaiannya.   Aku membiarkan dia hanya tertidur di toilet, dengan kondisi hanya bertelanjang d**a beserta celana boxer. Karena seragamnya sudah ku pakai saat ini. Aku mengambil semua senjataku dari dalam tas ransel. Pistol dengan Silencer, aku letakkan di punggung belakang. Sedangkan kedua Black Kerambitku, aku letakkan di pinggang kiri dan kanan.   Hanya senjata itu saja aku bawa. Dan saatnya menuju ke tempat kedua. Aku yang telah berperan sebagai room boy, keluar dari kamar dan berjalan serta bersikap biasa saja menuju ke Ruang kontrol CCTV. Gak masalah bagiku untuk berjalan ke setiap ruangan. Karena aku sudah berseragam hotel. Tujuanku adalah tempat dimana satu-satunya ruangan sebagai pengawasan setiap kejadian di hotel ini. Aku telah tiba di depan ruang kontrol CCTV, yang menurutku saat ini telah memiliki sistem yang jauh lebih responsif. Aku tak mengetuknya, langsung saja membuka pintu masuk. Kriek!!! Salah satu pria memakai pakaian safari, menoleh kepadaku. “Loh, ngapain di sini mas?” tanya pria itu. Dan dua pria lainnya, ikut menoleh ke arahku. Sesaat aku melihat, beberapa layar komputer yang dijadikan sebagai alat monitor pengawasan ketiga pria itu. Dan aku tak menjawab, hanya melangkah maju mendekati orang yang paling terdekat. Ruangan ini cukup kecil, namun bukan menjadi penghalang bagiku untuk mengeksekusi mereka bertiga tanpa melenyapkan nyawa. “Mau ngapain mas?” pria yang terdekat, langsung berdiri dan tangannya bergerak akan menahan tubuhku. Namun dengan cepat, pergelangan tangannya ku pegang, lalu ku pelintir ke arah berlawanan. Ia mengerang kesakitan, dan dua orang lainnya langsung maju menyerangku. Aku sempat menghantam wajah orang pertama hingga membuatnya langsung terkapar. Dan dengan bantuan kursi, tangan kanan berpegangan ke bagian atas kursi, dan aku melompat melayangkan tendangan kaki kanan ke wajah pria kedua. Dia terlempar ke belakang, dan aku pun mengangkat kursi, lalu menghantam kepala orang ke tiga. Setelahnya, aku mendekati orang kedua, lalu berjongkok dan menarik rambutnya. BUGH!!! Aku menghadiahkan sebuah bogem mentah tepat di wajahnya. Pria ke dua, KO! Kemudian, aku maju mendekati orang ketiga dimana aku melihat dia mulai gentar. “Anda siapa?” sambil mengeluarkan tongkat dan mengarahkan kepadaku. Aku tak menjawab... Dia memberikan serangan dengan tongkatnya, namun dengan lengan kiri ku angkat ke atas untuk menangkis serangannya. Dengan gerakan cepat, sepersekian detik, aku menyerangnya dengan Jab kiri ke wajahnya, dia mengelak. Namun cukup mampu ku tarik lengannya ke arahku. Aku memutar lengannya, dan menghadiahkan hantaman lutut kaki kananku ke dadanya. Bugh!!! Tidak sampai situ, aku menggerakkan lengan kananku, melingkar di lehernya, kemudian aku kencangkan lenganku mengunci leher pria itu sambil posisi berdiri di belakangnya. Tangan kiriku segera mencabut kerambit dari pinggang kiri dan ku letakkan di lehernya. “Jangan bergerak, jika masih sayang dengan nyawamu.” Ancamku kepadanya. “I-iya... I-iya... a-ampun mas... ampun.” “Ok! Aku akan lepaskan setelah kamu membantuku.” “Iya mas...” “Dimana panel untuk mematikan semua CCTV di lantai 3?” Dia diam. “Dimana?” Aku makin mengeratkan cekikanku di lehernya tak lupa bagian kerambit yang tajam, ku tekan juga di lehernya. Tangan kanannya menunjuk ke arah panel. Maka aku mendorong tubuhnya, menuju ke tempat itu. Dengan bantuan pria itu, maka semua CCTV di lantai tiga telah off! Oke! Selanjutnya Time to Execution! Aku pun menghantam wajah pria itu, membuatnya pingsan seketika. Selanjutnya aku keluar dari ruangan, menuju ke lantai 3.   Saat berada di dalam lift, aku mencoba untuk tetap tenang. Berbagai rencana telah terpikirkan, dan mungkin jika di butuhkan, aku harus mengeluarkan Glock Silencerku untuk meng-eksekusi semua bodyguard yang menurut Pak Edward adalah orang-orang Black Jack. Ting! Tong! Pintu lift terbuka... Aku menarik nafasku sesaat, lalu berjalan keluar dari lift dengan bersikap yang normal. Di lantai 3, dari arah kejauhan aku mendapati beberapa orang pria berpakaian jas hitam sedang berjaga-jaga. Mereka berjumlah 8 orang. Dan aku harus bergerak cepat saat ini, maka ku bisikkan sebuah kalimat dengan nada bertanya. “Please Confimation! In your position?” Kebetulan dari headset wireless bluetoothku, aku mendengar jawaban dari Yunita menyebutkan sebuah kode rahasia “TL 01” yang artinya, Target Lock. 01 adalah jumlah orang/target di ruangan. Berarti di dalam kamar, hanya Yunita beserta target saja. Ternyata sesuai dengan rencana, dan sangat matang menurutku. Dimana apa yang dikhawatirkan Yunita sebelumnya, jika di dalam ruangan pastinya akan ada 1 atau 2 orang bodyguard yang menjaga target. Tampaknya tidak terjadi. Berarti keselamatan Yunita saat ini sedang tidak terancam, dan pastinya dia mampu melumpuhkan target jika hanya seorang saja. Yang aku harus lakukan, bergerak cepat, membabat habis hingga tak ada yang sadar jika kami baru saja melaksanakan sebuah misi. Aku melangkahkan kaki mendekati para anggota Black Jack. Salah satu pria berjas hitam ingin menahanku. “STOP! Kamu mau kemana?” tanya pria itu saat posisi berdiriku berjarak beberapa meter darinya. Di saat genting seperti ini, dengan tanpa membuat gerakan mencurigakan, aku menggerakkan tanganku meraih Glock Silencer di belakang. Dengan cepat setelah menggenggam gagangnya, ku keluarkan dan mengarahkan ujungnya ke pria itu.     TFTTT!... TFFTTT! Dua peluru berasarang bukan hanya ke pria pertama yang sempat menahanku. Melainkan ikut terkena pria ke dua, yang melihat gerakanku tadi mengambil silencer. Dua orang tumbang. Dan saat mataku menangkap gerakan orang-orang yang tersisa mengambil sesuatu dari balik jas nya. Aku berlari dan melancarkan tembakan tanpa bunyi ke arah mereka.   TFFTTT! TFFTTT! TFFTTT! TFFTTT! 4 orang lainnya tumbang, peluru sama sekali tak ada yang terbuang percuma. Semuanya bersarang tepat di kepala mereka. “Seharusnya kalian langsung tembak, baru tanya. Kaya gini” “b*****t!” Mendengar teriakan dari dua orang tersisa, aku segera saja menunduk karena ku lihat mereka berdua sudah mengeluarkan pistol dari balik jas. Aku lalu berguling di lantai sambil mengarahkan silencerku kepada mereka berdua dengan sangat cepat. Bergantian dari pria satu ke pria lainnya. TFFTTT! TFFTTT!   Dua peluru langsung bersarang di lutut keduanya. Tersisa 1 peluru lagi di Glock Silencerku. Karena aku pastinya gak punya waktu untuk mengisi kembali pelurunya. Aku berdiri, dan saat mereka ingin menembak peluru dari pistol mereka, dengan cepat aku pun mencabut salah satu Black Kerambit, dan mengayunkan lengan kiriku yang memegang Kerambit tersebut. SREKKK!!! Lengan kanan pria satu terkena tepat di pergelangannya, membuat pistol yang ia pegang terjatuh. Lalu, hanya bersarang sepersekian detik. Aku yang lebih cepat bergerak, tangan kananku segera menarik pelatuk Glock Silencer, dan menembak tepat di kepala pria satunya lagi. TFFTTT!!! Yeah! Berhasil. Tersisa hanya seorang saja. “SIAPA ANDA?” Tanya pria itu. Aku hanya menyeringai, dan berjalan mendekatinya. Dia ku lihat ingin mengambil ancang-ancang, yang bertujuan menunduk untuk mengambil pistolnya yang terjatuh di lantai. 1... 2... 3!!! Aku berhitung dalam hati, dan ku lepaskan Glock Silencer di tangan kanan hingga terjatuh ke lantai, sambil bergerak mengambil kerambitku yang lain, dan saat hitungan ketiga, bersamaan aku melompat, dia pun menunduk. Menurutku, sudah tak ada waktu lagi. Aku menganalisa dengan posisi melompatku. Jika ku serang dengan kedua tanganku. Maka pastinya, dia pun akan menembakku. Lalu, aku memutuskan untuk menyerangnya dengan cara lain. Maka ku arahkan tendangan kanannku ke arah kepalanya. BUGH!!! Sukses, telapak kaki menghantam kepala orang itu, namun dia pun sukses mengambil pistolnya. Ahhh! Gak ada waktu lagi. Maka aku pun menunduk dan mengarahkan kerambitku ke arahnya. Ku gerakkan ke dua tanganku, bergantian dari arah bawah lalu ke atas. ZRAAPPP!!! ZREPPP!!! Dua Black Kerambitku langsung menyayat wajahnya.   “ARGHHHHHH!!!,” Dia berteriak, namun aku lalu menghantam wajahnya dengan serangan Hook Kanan. Bedanya, aku memegang krambit, membuat pria itu tumbang. Darah langsung bercucuran di lantai...   And Finish!!! “Black Jack, is Done...” Aku mengucapkan kalimat itu, dan aku yakin meski Yunita tak memberikan jawaban. Dia mengerti maksudku tadi.   ~•○●○•~     Beberapa saat sebelumnya...   POV Yunita     Pintu kamar 312 terbuka, setelah salah satu bodyguard menekan tombol di dekat pintu. “Masuk saja.” Terdengar dari suara seorang pria yang masih berada di dalam. Aku langsung masuk, dan mendapati seorang pria sedang duduk di depan sebuah meja. “Hai!” kata pria itu melempar senyum kepadaku. “Iya.” Aku pun membalas senyumannya. “Duduk.” Kata pria itu. Aku melirik kepada dua bodyguard yang masih berdiri di sisi kiri dan kananku. Setelahnya, aku mengangguk kepada mereka berdua, lalu berjalan menuju ke meja pria yang aku ketahui bernama ‘Taufik Mansyuri’. Taufik beranjak dari duduknya, dan berjalan mendekatiku. Aku tersenyum, apalagi saat tangannya terulur mengajakku bersalaman. “Hi cantik... gue Taufik.” “Jingga Pak!” “Panggil Taufik Aja, Jingga sayang...” Katanya, dan akhirnya aku melepaskan tanganku duluan. Aku melirik saat Taufik dengan gerakan tangan kanannya memanggil salah satu bodyguard.   “Sepertinya, gue hanya ingin berdua dengan dia... so, kalian menunggu di depan kamar saja.” “Baik Pak.” Wah! Ternyata dugaanku salah. Kedua bodyguard di suruh keluar oleh pria itu. Lumayan, makin mempermudah aksiku. Tapi aku gak boleh gegabah dan bertindak dengan cepat, sebelum Reno melumpuhkan semua bodyguard di depan. Apalagi, yang aku ketahui karena sesuai pengalamanku selama ini. Dimana para bodyguard pastinya memegang Smart Lock Duplicate untuk sewaktu-waktu bisa membuka pintu kamar tanpa di perintah, saat mereka menyadari tuan mereka sedang terancam. Setelah dua bodyguard keluar dari kamar, maka aku kembali menatap wajah Taufik. Ku buat ekpsresi se binal mungkin, agar birahinya segera naik. Aku tak ingin berlama-lama berada di kamar ini, dan juga tak ingin jika ia menyentuh tubuhku terlalu lama. Karena tubuh ini hanya milik Reno seorang. Dari alat kecil di telingaku, aku mendengar suara Reno sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Yang jelas aku selalu menaruh kepercayaan penuh kepada Reno, bisa dengan mudah melancarkan aksinya. Reno sangat smart dalam memikirkan cara dan bagaimana ia melaksanakan sebuah misi. Bahkan kadang kala, dia yang memberikanku ide jika aku mendapatkan misi tersendiri dari Pak Edward. Begitulah Reno, dan itulah yang makin membuatku sangat susah untuk berpaling darinya. Hihihihi! Aku sih ingat janji Reno tadi, dimana setelah misi kita berhasil malam ini, maka dia ingin mengajakku berjalan-jalan ke puncak. Duhh!!! Jadi bahagia lagi nih akunya. Dan saat Taufik mulai memberikanku segelas minuman, aku kembali mendengar suara-suara berisik di telingaku, yang tersambung dengan Reno. Dimana jika ku tebak Reno baru saja melumpuhkan seseorang. Eh salah ding, beberapa orang.   “Minum sayang.” Taufik duduk di pegangan kursi, dan tangan kanannya memeluk tubuhku sambil mengajakku untuk bersulang. “Tos dulu Pak.” “Taufik aja, biar akrab!” katanya. Aku pun tersenyum kepadanya. “Baik Taufik sayang...” WEKK!!! Kalo bukan karena misi, gak bakal aku manggil sayang kepada orang ini.   Aku kembali mendengar jika Reno baru saja berhasil menon aktifkan semua CCTV yang ada di lantai 3. Good Job! Sayang. Gumamku dalam hati, kemudian selanjutnya aku makin menyerang Taufik dengan kalimat-kalimat erotis. Taufik menyentuh daguku. Duh Reno, buruan hancurin bodyguard di luar. Ini loh, kekasihmu bakal di cium sama laki-laki lain. Saat bersamaan, Taufik menarik wajahku agak sedikit kasar. Dan sedetik kemudian, aku merasakan bibirku tersentuh. Aku di cium Taufik, namun agar tak ada kecurigaan. Maka ku biarkan dia menciumku sesuka hatinya. Aku juga tak melakukan sebuah gerakan seolah-olah aku menolaknya. Aku tetap membalas ciumannya, dan saat ini kami berdua melakukan French Kiss. Di tariknya lenganku untuk berdiri, dan aku lihat Taufik bergerak. Ternyata dia merengkuhku. Di peluknya tubuh ini, sambil melancarkan ciuman ke bibirku. Meski merasa jijik, tapi aku tetap harus melakukannya. Apalagi, saat tangannya mulai menyentuh payudaraku sebela kanan. Ingin rasanya segera melenyapkan nyawa nih orang. Namun, aku masih saja mencoba bertahan. Demi Reno, dan juga demi keselamatan kami berdua.   Mana Reno belum memberikan penjelasan apapun, dimana aku sama sekali belum mengetahui sejauh apa aksi Reno di luar sana. Dan setelahnya, Taufik melepaskan dress yang aku gunakan dengan kasar. Aku mau gak mau, ikut melakukan hal yang sama. Aku pun membantunya membuka kancing kemejanya satu per satu. Dia bertelanjang d**a di hadapanku, sedangkan aku? Hanya tersisa Bra beserta CD ku. Aku berdiri, tanpa mencoba untuk memperlihatkan sikap malu atau menolak. Aku tersenyum genit kepadanya. “Gak sabar yah sayang?” Aku bergerak maju, lalu tangan kananku bergerak ke arah selangkangannya. Yah! Aku memegang penisnya dari balik celana kainnya. Selanjutnya aku pun membuka celananya, dengan dibantu dengan Taufik sendiri, maka lepaslah sudah celana kain yang ia gunakan dan menyisahkan CD berwarna putih. “b***h!” gumamnya. Aku hanya tersenyum membalasnya. Aku lalu menyerang lehernya, sambil menghembuskan nafas sehingga ku rasakan tubuhnya bergidik. Aku tak diam, aku lalu menarik turun CD milik Taufik, dan dengan menahan emosi, aku pun memegang penisnya yang sudah menegang. Penis yang keras dan menantang, sepertinya telah siap untuk memasukiku. Duh Reno, lama bener sih sayang. Aku masih saja merasa was-was, karena sampai saat ini, belum ada penjelasan dari Reno. Ahhh! Aku mending sabar saja menunggu, sambil makin menggoda Taufik. Yah! Aku cukup lihai dalam menggoda lelaki. Aku memiliki keterampilan meledakkan titik-titik sensitif setiap lelaki, tentu saja aku selama ini sudah berlatih untuk itu. Baik secara teori, maupun praktek langsung. Dan bahan praktekku selama ini, siapa lagi kalau bukan Reno sayang yang menjadi subjekku. Mulai dari sentuhan-sentuhan lembut, dan bibirku sudah mulai menghisap p****g Taufik. Dia pun melepaskan Bra ku. Dan membiarkan dua payudaraku tersentuh olehnya. Biarkan saja, lagian Reno terlalu lama di luar sana.   “t***t loe bagus banget, Jingga!” dia berucap, lalu setelahnya menghisap dan menjilati payudaraku. Aku sejujurnya, gak akan kuat jika bagian itu tersentuh oleh pria. Maka aku merasakan sensasi yang luar biasa saat Taufik menjilat, lalu menghisap p****g payudaraku bergantian. Aku menciumi lehernya, kemudian menggelitik lubang telinganya. Ku dorong tubuhnya ke belakang, hingga aktivitasnya di payudaraku terhenti. “Sabar yah sayang!” kataku. Lalu Taufik duduk di tepi ranjang, sambil memandangku penuh gairah. Dia hanya tersenyum, sembari aku berjongkok di hadapannya. Aku menarik Cdnya, dan menampakkan penisnya yang mengacung dihadapanku. “Hmm, delecius” gumamku, sepertinya kalimat itu makin membuatnya makin b*******h. Aku juga sejujurnya tergoda, namun aku masih tak ingin jika dia memasukiku. Aku gak mau, melakukan hubungan badan kecuali dengan Reno. Untuk mengulur waktu, maka mungkin yang aku harus lakukan adalah bermain santai tanpa mencoba untuk membuatnya klimaks. Ku genggam p***s Taufik. Kemudian mengocoknya perlahan. “Udah tegang... dan besar pula yah Taufik. Uhhh!” “Ahhhh sayang... Loe bisa aja,” desis Taufik. Kemudian kepala penisnya aku masukkan ke dalam mulutku. Sambil menahan nafas, aku kulum p***s itu dengan gerakan kepala naik turun. “Ohhhhh Jingga sayang... teruskan sayang.” Desah Mansyur, sambil tangannya menekan-nekan kasar kepalaku.   Slurppp!!! Slurppp!!!   Makin lama isapanku makin cepat, dan akhirnya Taufik menahan kepalaku. “Sudah sayang... nanti gue muncrat!” “Hehehe, kan... setelah muncrat, kita masih bisa melakukan lagi. Hihihi!” “Iya... tapi gue maunya muncrat di dalam m***k loe.” “Duhhh Mansyur sayang... Kamu ihhh! Bikin aku jadi gemes.” Kataku, kemudian aku berdiri di hadapannya. Ku tanggalkan CD yang menjadi penutup terakhir. Dan ku lepaskan begitu saja, tanpa melepaskan highheels ku.   Dia memandangku tak berkedip, apalagi saat ia melihat ke arah vaginaku yang sengaja aku mencukur bulu-bulunya. Aku lihat, pandangan kekaguman darinya. Hmm, dia tak sadar. Jika malaikat pencabut nyawa sudah berdiri di sisi dan kanannya. Hahahahaha! “Loe seksi banget sayang.” Gumam Taufik. “Hehehe, ahhh! Bisa aja ih.” “Sini...” “Sabar sayang.” Kataku, yang sebenarnya bertujuan untuk mengulur waktu. Aku lalu kembali berjongkok sambil membusungkan dadaku ke arahnya. Ku jepit batang p***s Taufik di kedua payudaraku. Aku pun meremas dan merapatkan ke tengah-tengah, lalu menaik turunkan seakan mengocok p***s itu. “Ohhh sayang... ohhh yeahsssshhhh!” Tak lupa, sesekali ku cium kepala penisnya. Kocokan-kocokan lembut pun ku lakukan, sambil di iringi dengan kuluman-kuluman penaik birahinya. Tubuh Taufik ku rasakan menggeliat, bergetar. Merasakan sensasi kenikmatan yang aku berikan kepadanya.   Setelahnya, aku melepaskan p***s itu... “Sayang... kita pakai kondom kan?” “Iya donk...” Kata Taufik. “Aku ambil di tas dulu yah.” “Sipp... Sippp!” kata Taufik. Lalu aku berjalan ke arah meja, dan ku biarkan tubuh telanjangku di tatap olehnya. Nah saat aku berjalan, aku mendengarkan kembali suara Reno. Duhh! Lama banget sih. Batinku. “Please Confimation! In your position?” Begitu kata Reno.   Aku hanya menjawab dengan berbisik “TL 01” Aku tak perlu menjelaskan lebih detail, dan pastinya Reno mengetahui apa maksud dari kata yang aku ucapkan. Setelah mengambil kondom, aku kembali kepada Taufik. Kemudian aku berdiri, dan membungkuk dihadapan Taufik untuk memasangkan kondom di penisnya. Setelahnya, aku lalu duduk di sebelahnya. “Kenapa gak buka sepatunya sayang?” “Hehehe sengaja biar sensasinya kayak di film-film, sayang.” Jawabku berbohong.   Hahahaha! Padahal dia gak sadar, jika sepatu ini yang akan melenyapkan nyawanya. Taufik ku lihat tidak mempermasalahkan hal itu. Lalu ia menarik kepalaku, mencium bibirku penuh gairah.   Beberapa menit dia menggauliku, membiarkan tubuhku setengah berbaring di atas ranjang. Di hisapnya setiap titik sensitifku, mulai dari p******a, leher, bibir, pusar bahkan saat ini Taufik sudah bermain di selangkanku. PLAK!!! “FAK!!! SEKSI BANGETTT LOE.” Teriak Taufik, sambil menampar pantatku. Ku biarkan saja ia melakukan itu, yah mau gimana lagi. Karena aku belum mendengar Reno menyelesaikan aksinya di depan. Selanjutnya, Taufik menghentikan kegiatannya dibawah. Dia menatapku dari bawah. “Sudah siap sayang?” Aku mau gak mau, mengangguk! Dan ia mulai naik ke tubuhku. Penisnya yang sudah ngaceng dengan sempurna ku rasakan menyentuh dan bergesekan mulai dari betis, paha dan kini telah berada di atas lubang vaginaku. Duhhh Reno! Aku gak ikhlas kalo dia memasukiku. Kenapa kamu lama sekali? Maka aku membiarkan saja, bisa saja aku membunuh Taufik saat ini. Tapi, aku masih mencoba untuk tetap sabar. “Ehhhhh!” aku tercekak, saat Taufik mulai menggesek-gesekkan penisnya di bibir vaginaku.   Dan bersamaan samar-samar, suara berisik di luar kamar, menghentikan aktivitas Taufik. “Lah ada apa ini?” Kemudian aku menarik wajahnya. “Kenapa sayang?” “Ada suara ribut-ribut di depan.” Jawab Taufik. “Cuekin saja, tuntaskan dulu... yah yah yah.” Kataku, namun sepertinya Taufik tak berselera lagi. Dia beranjak. Saat dia ingin berjalan membelakangiku menuju arah pintu untuk mengecek sumber kegelisahannya, aku menekan tombol kecil di bagian tumit high heels.   Klik!!! Sebuah pisau keluar dari ujung sepatu. Pisau kecil sepanjang 10 cm, cocok untuk membunuh target hidung belang seperti Taufik. Wut!!! Aku melompat ke arah Taufik, dan melayangkan tendangan dengan gerakan memutar. CRASHHH!!! Sehingga membuat lengan kanannya berdarah-darah karena luka sayat yang cukup dalam dan panjang. Dalam waktu begitu cepat aku bisa melihat pergantian ekspresi Taufik dari gelisah, bingung lantas murka sekaligus ketakutan saat melihat pisau mencuat dari ujung sepatu. “p***k ANJING!! SIAPA LOE, HAH?!” hardiknya sambil memegangi lengan kanannya yang terluka parah, terbukti dengan rembesan darah yang semakin banyak. Aku tidak perlu menjawabnya, karena percuma berbicara dengan seorang calon mayat. Maka aku pun kembali menyerangnya dengan melancarkan Upper Kick dan menghantam wajah pria itu hingga terdongak ke atas. BUGH!!! Akibatnya darah segar pun mengucur dari lubang hidungnya. Aku sengaja tidak menekan tombol di sepatu sebelah kiri karena aku tidak ingin membunuh Taufik dengan instan, aku ingin bersenang-senang sejenak ya hitung-hitung sebagai balasan karena tindakan kasarnya saat mencumbuiku tadi. “SIAPA YANG MENGIRIM LOE KESINI? LOE DIBAYAR BERAPA? GUE BISA BAYAR ELO DUA KALI LIPAT ASAL LOE LEPASIN GUE!” Tawaran yang menarik sih, cuman menerima perintah dari pak Edward bukan melulu soal duit tetapi bentuk loyalitas kami kepada ‘Perusahaan’. “Hehe... aku adalah malaikat pencabut nyawa.” Jawabku, dan satu lagi tendangan kaki kanan kilat tidak bisa diikuti oleh mata tua Taufik, tahu-tahu saja ia memegangi pipinya yang berdarah. Ups bakal berbekas tuh! “Sorri... aku tidak pernah mau terima uang sogokan dari para TO. Aturan perusahaan, hihihi, namun tenang saja aku tidak akan membiarkanmu mati dengan cara mudah! EH!”   PRANKK!!! Aku terkejut saat Taufik tiba-tiba melempar vas bunga yang berada di belakangnya. Namun berkat insting dan refleks, aku bisa menghindari lemparan tersebut. Bukan hanya vas, ia meraih benda apa saja mulai dari remote TV, asbak, kotak tisu sebagai alat untuk menyerangku dengan sporadis. Tentu aku bisa menghindari lemparan-lemparan tersebut dengan mudah. “Udah puas main lempar-lemparannya?” “b*****t LOE p***n!… hosh hosh….” Jawab Taufik dengan nafas terengah. Rasa marah akibat terus menerus di lecehkan secara verbal dengan istilah ‘p***n’ membuatku murka, aku bukan p***n!! Rasakan ini, ku tendang dadanya. Dan membuat tubuhnya terdorong dan terjatuh ke atas ranjang. Dengan kondisi tubuh yang masih bertelanjang, aku naik ke atas tubuhnya. Aku menyeringai. Sengaja ku gesek-gesekkan vaginaku di penisnya yang sudah kendor. “Mau n*****t kan? Mau n*****t ma aku kan?” Aku mencabut pisau dari ujung sepatu heels kanan dan kugunakan untuk menyayat bagian d**a Taufik yang terbuka sehingga membentuk luka sayat berbentuk huruf ‘X’ di sepanjang kedua dadanya. “ARGGGHHHHHH!” teriaknya saat kedua bahu bagian dalam dekat dengan ketiaknya tidak luput dari seranganku. “Tadi saja, kamu bilang nikmat... sekarang teriak kesakitan!” Aku lalu menghantam keras wajahnya, hingga darah segar keluar dari mulutnya. Matanya memandangku dengan kondisi memerah. Juga mengeluarkan air mata. Pandangannya seakan ingin meminta ampun. Oh! Tapi, aku tidak akan mengampunimu. Bahkan membunuh TO seperti ini dengan gratis pun aku mau. Aku lalu menggeser maju selangkanganku. Dan kini, aku telah duduk di dadanya. “Kamu sudah berani menyentuh tubuhku... menyentuh yang bukan milikmu...!” Menduduki tubuh Taufik sambil menghunus pisau membuatku semakin leluasa bergerak. Kemudian tangan kiriku merambat kebelakang. “Loh kok udah loyo? Kenapa gak berdiri?” Aku bertanya saat merasakan penisnya sudah benar-benar layu. Tak habis akal, aku kocok p***s tersebut. Karena terus-terusan ku kocok, membuat p***s itu pun akhirnya mulai berdiri tegak. Aku menyeringai, dan ku dapati Taufik baru saja memejamkan mata. Sudah di ujung kematian, masih saja b*******h nih orang. Ck...Ck...Ck! Maka, dengan cepat, ku arahkan ujung pisau ku ke bagian pangkal penisnya.   And Then! CRASH!!! Yeahhhhhh!!! Ku rasakan darah menyembur punggungku, dari batang p***s yang telah tinggal setengahnya. Aku menoleh sebentar, setengahya lagi sudah teronggok di lantai yang berlumuran darah.   Yap! Aku memotong penisnya. Hihihiihi. Jika aku tertawa, lain halnya dengan Taufik yang berteriak histeris saat p***s kesayangannya sudah aku potong separuh. Badannya gemeteran, air ludah merembes dari sela mulutnya, lidahnya pun terjulur. Tatapan matanya menandakan ia tengah berada dalam rasa sakit teramat sangat. Sungguh, kesakitan yang luar biasa tentunya. Dan itu yang aku mau! Aku lalu beranjak berdiri dan mengambil setengah batang p***s Taufik sudah berlumur darah kental dan menunjukkan di hadapannya. “Kamu pikir, p***s ini akan berhasil menembusku? Hahahahaha... Tidak semudah itu, b*****t!” aku remas-remas hingga hancur potongan penisnya tepat di depan matanya, lalu aku sumpalkan ke dalam mulut Taufik. Aku kemudian menancapkan pisau di tengah-tengah tenggorokannya tepat di bagian jakunnya hingga pecah. JLEB!!! Darah terciprat mengenai tangan dan badanku. Taufik menggelepar tanpa bisa bersuara sama sekali, badannya kejang-kejang. “Satu…Dua…Tiga….” Ucapku lirih menghitung mundur tiga detik terakhir kematian Taufik. Dia pun mati dengan mata terbelalak dan mulut menganga berisi potongan penisnya sendiri. Saat aku turun dari ranjang, “Black Jack, is Done...” Suara Reno terdengar ditelingaku. “Mission Completed!!!” Kataku membalas Reno yang masih berada di luar, melalui alat komunikasi yang masih menempel di telingaku. “Wait sayang... aku bersih-bersih bentaran yah!” Dan dijawab ‘Oke’ oleh Reno. Setelah membersihkan diri. Aku kembali memakai baju. Kemudian mengambil ponselku dari dalam tas. ‘Mission Completed!’ Aku mengirim pesan beserta foto target yang telah tergeletak di ranjang bersimbah darah, ke nomor Pak Edward. Semua aku foto, bahkan kondisi p***s terpotong yang terjatuh ke lantai pun aku mengirimkannya ke beliau. Tak ada balasan darinya.   “Hihihihi, Reno... I’m Cooming.”   Still Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD