POV 3rd
Di sebuah ruangan, duduk di singgasananya. Pak Edward Takahasi sedang menatap tajam kedua orang yang berdiri di hadapannya. Wajahnya terkesan tak bersahabat, namun dua orang di hadapannya itu, pun tampak tak menunjukkan ekspresi yang sedang takut terhadap Pak Edward.
Jika di lihat dari penampilannya, justru Pak Edward terkesan berpenampilan selayaknya pengusaha seumurannya, namun cukup santai. Pagi ini dia hanya menggunakan pakaian casual, baju kaos berwarna hitam, dan bawahannya menggunakan jeans denim. Serta sepatu kulit berwarna coklat.
Berbeda dengan dua orang yang berdiri di hadapannya saat ini. Laki-laki dan perempuan itu, adalah yang selama ini menjadi Bodyguard Pak Edward. Penampilan si Pria memakai jas hitam, yang menutupi tatto di seluruh tubuhnya. Dan di balik jasnya, terdapat dua ‘Katana’ berwarna hitam.
Sedangkan wanita di sebelahnya, hanya memakai jaket kulit berwarna hitam, bercelana leging hitam, sepatu kets hitam. Memakai kaca mata hitam, pun ikut menatap ke Pak Edward.
“Bagaimana pergerakan mereka?”
“Sejauh ini, aman dan terkendali. Boss!” Si wanita langsung menjawab.
“Hmm, ok!”
Saat Pak Edward ingin bersuara kembali, telfon di ruangannya berdering. “Wait!” gumam Pak Edward. Kemudian ia memegang gagang telfon, lalu menaruhnya di telinga.
“Halo!”
“Bos! Joe mencari anda.”
“Oke. Suruh ke ruanganku sekarang.”
“Baik boss!”
Pak Edward lalu meletakkan kembali gagang telfon di tempat semula. Kemudian ia menatap dengan senyuman tipis di wajahnya, kepada dua orang di hadapannya itu. “Joe ada disini, kalian bisa tinggalkan ruangan ini...”
“Baik Bos!”
“Ok Boss!” Keduanya langsung berbalik, dan melangkah meninggalkan ruangan Pak Edward.
Saat mereka baru tiba di pintu, mereka berpapasan dengan seorang pria berjaket coklat. Pria itu, menatap keduanya dengan seringaian, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan.
Setelah pria itu sudah berada di depan singgasana Pak Edward, ia tak melepaskan pandangannya kepada pria berumur 50-an tahun dihadapannya itu. Dimana, Pak Edward pun membalas tatapannya dengan tajam. “Joe!” gumam Pak Edward.
“Pak Edward!”
“Berhasil?”
“Menurut anda?”
Tak ada jawaban...
Tak ada suara...
Mereka saling memandang, dan dua detik kemudian. Keduanya tampak melempar senyum yang penuh arti. Yang hanya di ketahui, maksud senyuman itu oleh mereka berdua.
“Good!” gumam Pak Edward.
“Thanks!” Balas Joe dengan seringaian tipis di wajahnya.
~•○●○•~
POV Reno
Akhirnya libur pun tiba. Mengingat kejadian kemarin dimana Eko dan Rizal menjadi korban, membuat andrenalinku naik. Namun, sejauh ini, aku masih tetap bisa mengontrol agar tak bertindak apapun di kampus.
Apakah aku tetap akan bertahan seperti ini di kampus? Belum lagi, wanita bernama ‘Lidya Wijaya’ yang sempat bermasalah denganku, makin membuat rumit kondisi ke depannya nanti. Maka aku gak tau lagi, akan seperti apa jika mereka benar-benar menyentuhku.
Setelah kejadian dengan Lidya, maka aku dan Adit, beserta Cindy membawa Eko dan Rizal ke rumah sakit. Begitu tiba di pintu UGD, kami di sambut oleh beberapa orang yang setelah melihat kondisi Rizal dan Eko, maka mereka pun menyiapkan dua ranjang sekaligus, lalu membawa mereka berdua ke dalam ruangan untuk di periksa terlebih dahulu.
Tak lama, kami telah mendapatkan hasilnya, dimana mereka hanya luka-luka lebam akibat berantem, namun tak ada luka yang serius.
Setelah itu, maka aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, kemudian berjanji akan kembali lagi. Adit dan Cindy stand by di rumah sakit, sedangkan aku pulang ke kontrakan yang kebetulan letak RS dan kontrakanku cukup dekat.
Saat tiba, aku lalu menanyakan ke Adit bagaimana kabar Rizal dan Eko. Adit menjawab, dimana memang kondisi Eko yang paling parah lukanya. Tapi salah satu Dokter mengatakan jika akan membaik seiring waktu, mereka hanya di sarankan menginap sehari atau dua hari di RS, baru akan di izinkan untuk pulang.
Aku dan Adit tak mengira jika Cindy menawarkan diri, untuk menginap di RS untuk menjaga keduanya. Aku dan Adit, hanya saling mengangguk pelan. Namun kami tak langsung pulang, nanti waktu telah menunjukkan pukul 3 dini hari, baru kami berdua memilih untuk pulang beristirahat.
Pagi-nya aku dan Adit kembali ke RS. Dimana kedatanganku di sambut dengan senyuman oleh Rizal maupun Eko yang memang sengaja di tempatkan berdua di dalam satu kamar.
Awalnya Eko sempat mengeluarkan kata-kata kasar kepadaku maupun kepada si Adit. Namun, kami beralasan, khususnya si Adit yang mengatakan jika dia juga gak tau harus berbuat apa. Eko pun mengerti, karena dia berfikir kami berdua memang lemah! Yah, lebih baik seperti itu, dari pada Eko mengetahui siapa aku sebenarnya.
Mengetahui kondisi Rizal dan Eko sudah sadar, maka aku pun berpamitan dan mengatakan jika ada acara keluarga di luar kota. Awalnya mereka ngambek, namun aku tetap beralasan dan memaksa mereka untuk mengizinkanku pulang. Aku bukannya teman yang tidak baik, melainkan aku gak bisa berlama-lama berada di RS. Aku takut, jika sesuatu yang terjadi. Ditambah lagi, aku memang paling gak suka tempat keramaian.
Meski kami berada di dalam kamar VIP 1, namun balik lagi. Aku itu gak tenang! Maka ku putuskan untuk pulang sore jam 4 tan tadi. Dan berjanji, untuk kembali lagi besok pagi-pagi sekali.
Oh iya setelah dari RS, aku memilih untuk langsung ke kontrakan. Dan sore ini aku baru saja selesai mandi, dan karena libur. Aku bingung mau ngapain.
Yunita! Sejujurnya aku cukup kangen juga ma dia. Dari pada gak ada kerjaan, mending aku nelfon Yunita saja sekarang.
Maka ku raih ponselku, lalu menghubunginya...
Setelah menelfonnya, kami janjian malam ini untuk bertemu di sebuah hotel.
Beberapa saat kemudian...
Aku memarkir motorku di parkiran hotel, sebelumnya Yunita yang memang menginginkan untuk memesan kamar hotel, karena dia mempunyai potongan diskon jika memakai kartu miliknya. Entahlah! Yang jelas, memang Yunita cukup banyak mengenal relasi. Lalu aku menghubunginya, dan mengetahui jika Yunita sudah tiba di lobby. Dan juga telah check in terlebih dahulu.
Aku pun melangkahkan kaki masuk melalui pintu lobby hotel. Aku lihat Yunita berdiri, menyambutku. Malam ini, dia cukup cantik, tatapannya masih tak teralihkan dariku. “Hai!” katanya menyapaku. Aku hanya tersenyum. Lalu Yunita menarik lenganku “Yuk…” Ujar Yunita.
Kami melangkah bersama menuju ke lift yang terletak tak jauh dari lobby.
Ting!!! Tong!!! Terdengar suara lift, dan pintunya pun terbuka di hadapan kami.
“Ren… Aku dah nafsuh banget.” Kata Yunita berbisik di telingaku, saat kami sudah berada di dalam lift.
“Hmm,” Mendapatkan deheman dariku, membuat Yunia menjadi gemas.
Dia lalu menyentuh selangkanganku dibawah. “Eh… Yun, ini masih di lift.” Kataku. Lalu ku gelengkan kepalaku saat mendapati pandangan protes darinya.
“Lagian, udah seminggu kita gak ketemu Ren.”
“Iya, sabar!” kataku menjawabnya.
Akhirnya kami tiba di depan kamar, lalu Yunita menyentuhkan Smart Cardnya di dekat gagang pintu. Klik!!! Terdengar suara kecil, tanda jika pintu kamar sudah terbuka.
Ceklek…!!! Yuni lalu menyalakan lampu kamar dan tak lupa, menyalakan AC.
“Ahhhhhh, dah lama gak nginap bareng yah sayang!” kata Yunita, lalu ia mendorong tubuhku bersandar di dinding. Tak lupa, lenganku bergerak menutup pintu kamar. Kan gak lucu, kalo ada orang lain yang melihat kami.
“Sabar...” jawabku kepada Yunita. Maka, aku mendorong pelan tubuh Yunita. Kemudian mengajaknya untuk berjalan menuju ke ranjang. Aku menyetel TV, dan ku baringkan badan ke atas ranjang.
Aku sempat melirik ke Yunita, dia cemberut. “Hehehehe, kenapa?”
“Tau ah!”
“Jangan ngambek! Katanya kangen...” aku mencoba menggodanya, lalu aku kembali duduk di tepi ranjang.
Yunita beranjak dari duduknya, dan ku lihat ia melangkah ke arah kulkas kecil yang berada di samping bagian bawah TV. Aku hanya memperhatikan gerak-geriknya, yang ternyata mengambil dua kaleng BIR yang memang di sediakan oleh pihak hotel. Setelahnya Yunita kembali berjalan ke arahku. Senyumannya cukup menggoda, namun aku membalasnya dengan mengernyit.
“Nih Ren!” aku menerima sekaleng Bir, kemudian membukanya terlebih dahulu. “Tos...” selanjutnya, Yunita mengajakku tosan sebelum meneguk isinya bersama-sama.
Setelah itu, aku meletakkan sisa minuman di samping meja kecil, belum sempat bernafas Yunita telah menerjangku. Tentu saja aku yang belum siap, langsung terdorong hingga terjatuh di atas ranjang.
“Aku bakal buat kamu puas sepuas-puasnya sayang.” Kata Yunita. Tumben, malam ini dia terlihat agak beda. Makin binal sih menurutku.
Yah! Meski demikian, aku sih gak masalahin. Toh, aku senang jika dia makin binal. Namun, aku maunya dia melakukan hal ini, hanya denganku saja. Yunita lalu menindihku, ia juga makin merapatkan tubuhnya. “Dah siap sayang?” Tanya Yunita berbisik.
“Menurutmu?”
“Hehehehe...” dia hanya terkekeh. Lalu Yunita menghembuskan nafasnya, sambil menggerakkan wajahnya. Kami berciuman sesaat.
Lalu melepaskan ciuman kami. Senyumku terkembang, begitupun Yunita. Selanjutnya, kami kembali berciuman. Namun kali ini ia tak sekedar mengecup. Malah kami saling mengecap, tak lupa aku menggigit tipis. Merasakan manisnya bibir Yunita dengan sangat b*******h. Kemudian saat aku membuka mulut, Yunita mulai memasukkan lidahnya. “Mmmmffffhhhhh”
Tubuh kami saling merapat. Kemudian sambil sedikit menundukkan kepala, kami bergantian saling bertukar air liur menikmati sesi ciuman panas ini. Lidah kami saling menerobos bergantian. “Hmmngghh.. Ughh…” Erangan erotis pun kerap kali terdengar. Apalagi saat lidahku sengaja menggelitik bibir Yunita.
Karena merasa cukup, maka aku yang melepaskan ciuman kali ini. Tatapan Yunita menyipit kepadaku, lalu kedua tanganku menyentuh pundaknya. “Kamu makin berat.”
“Ihhhh Reno, masa sih? Aku gemukan yah? Duhhhh!” kata Yunita yang segera beranjak, dan duduk membelakangiku. Setelahnya ia berdiri, lalu menatapku dengan tatapan tak suka. “Reno jahat... Masa bilang aku gemukan sih?”
“Loh, yang bilang gemuk siapa?”
“Tadi, kamu yang bilang...”
“Kan aku hanya bilang, kamu makin berat.” Kataku memasang senyuman penuh arti kepadanya.
“Sama aja... Ihhhh! Tuh kan, harus fokus diet lagi nih.”
“Aku gak tau kalo kamu gemukan atau tidak, kan aku gak lihat.”
“Maksudmu?”
“Masa harus dijelasin lagi?”
“Maksudnya, kamu mau liat aku telanjang gitu? Hihihi!” kata Yunita menatapku dengan kerlingan mata.
“Menurutmu?”
“Wait yah…” Ujar Yunita.
Aku masih menatap lurus kepadanya, dan kini ia mulai mengangkat lengan kanannya, dan jari telunjuknya menujuk ke arahku. Lalu jari itu ia gerakkan se-akan memanggilku.
Lalu, ia perlahan-lahan melangkah maju, lalu tubuhnya mulai bergoyang pelan seakan ingin menggodaku. Tak ku pungkiri, aku mulai bernafsu juga melihat ia bergoyang seperti itu. Apalagi saat jemari nya mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya.
“Uhhhhh… Reno sayang” Yunita membuat desahan sendiri, aku hanya tersenyum membalasnya.
Masih meliuk-liukkan tubuhnya, satu persatu Yunita melempar pakaiannya ke arahku. Tepampanglah ke-indahan itu, saat ini dimana Yunita hanya menggunakan Bra tipis berwarna hitam dengan G-string tipis yang hanya menutup bagian vital.
Sangat Indah pandanganku kali ini…
Selanjutnya Yunita mengangkat kedua tangannya, memegang rambutnya sambil menaikkan keatas seakan makin menggodaku, dengan tarian striptise yang saat ini ia tampilkan di hadapanku. Lalu makin mendekat, dan saat ini jarak kami hanya semester doang.
“Baby, take it slow so we can last long,” Yunita berbisik, dengan mengeluarkan desahan. Aku pun tetap tak melepaskan pandanganku dari tubuhnya, sangat seksi dan menggairahkan. Apalagi gundukan p******a Yunita terlihat naik turun mengikuti goyangan tubuhnya.
Sesekali ia berjongkok, lalu berdiri kembali sambil menyentuh beberapa tubuhnya sendiri di hadapanku. Yunita juga sesekali memasukkan jari ke dalam mulutnya sendiri, kemudian menjilatnya dengan menggunakan lidah.
Setelah itu, Yunita menggerakkan jarinya, dan dengan jelas bergerak ke bagian bawah. “Ughhhhh…” Desah Yunita saat jemarinya sendiri menyentuh vaginanya dibalik G-stirng.
Yunita lalu makin mendekat, “Sayaaaanghhh! Uhkkk” kemudian, ia duduk di pangkuanku.
Dengan gerakan cepat, ia menyambar Bibirku, dan kini bibir kami kembali menyatu, menikmati cumbuan panas di-iringi suara musik sayup-sayup dalam kamar, yang terputar dari TV yang menayangkan sebuah lagu R & B menambah suasana makin erotis. Ditambah lagi cahaya yang sedikit redup, membuat kami makin b*******h. “Mmmmm…. Fffffhhhhhh… sssstt,”
Kami makin saling bergesekan. Dan dengan liarnya Yunita mulai menciumi leher, hidung dan mataku bergantian.
Yunita kembali menjilat leherku, sambil menghembuskan nafasnya membuat sekujur tubuhku bergetar. Geli Euy!
“Geli yah sayanggg… uhkkk.” Bisik Yunita disela-sela cumbuannya di leherku.
Aku yang gak sabar dan di landa nafsuh yang tinggi, “Aku buka yah…???” Mendengar pertanyaanku, membuat Yunita tersenyum sesaat. Kemudian beranjak dari pangkuanku.
Yunita menatapku, “Sabar!”
Lalu...
Yunita membuka BRA, dan juga menurukan Cdnya, hingga terlepas sudah dua penutup terakhir di tubuhnya. “Tangkapppp!”
Aku berhasil menangkap CD beserta BRAnya, “Hmmmmmm.” Aku menghirup aroma CD itu, aroma khas Yunita yang selama ini ku kenal.
“Hihihihi... Reno jorok!”
Aku gak perduli...
Aku menghirup Cdnya sambil menatap gundukan miliknya. Lalu mataku melirik ke bawah. Dimana ku lihat, sesuatu yang sangat Indah dan siap untuk ku sodok.
“Sini...” Kataku memanggilnya. Yunita pun, seperti b***k yang di perintah oleh tuannya, maju mendekat. Aku mulai menyentuh payudaranya dengan penuh gairah, sambil memainkan lidahku di bulatan kecil berwarna merah muda miliknya.
“Uhhhh, Ren… nikmatttttt.” Erangan tipis terdengar ditelingaku. Sedangkan tubuh Yunita mulai naik ke pangkuanku.
Aku menghentikan aktivitasku sesaat. Terlihat bulatan kecil milik Yunita mulai bersinar, karena sejak tadi bergantian menjadi mainanku, baik bagian kiri maupun kanan tak lepas dari sapuan lidahku.
Ku lanjutkan lagi, menyapu dengan lidah. “Oughhhhttt… Jilattt Ren… puaskan aku sayaaangggg.” Erang Yunita saat aku menghisap dalam-dalam putingnya.
“Oughhhh Ren…” Desahannya makin keras, saat jemariku mulai meremas kedua payudaranya. Sambil tak lupa lidahku mulai memelintir putingnya bergantian.
Karena merasa tak sabar ingin merasakan sesuatu yang lebih, aku mengangkat tubuh sintal Yunita, lalu berbalik dan menjatuhkannya pelan di atas ranjang. “Auwwww…” Pekik Yunita sambil tersenyum menatap wajahku penuh gairah.
Aku lalu naik, dan mulai menindih tubuhnya. Aku mulai kembali mencumbunya.
Saat aku mulai menjilat setiap inci tubuhnya, aku rasakan kemaluanku pun makin menegang saat berada di perut Yunita. Tangan ku mulai bergerak nakal, dimana satu tanganku mulai meremas buah pantatnya, sedangkan tangan satuku sangat ketat mendekap punggungnya.
“Mmeeeeffffffmmm” Yunita dengan cepat, menyambar bibirku.
Setelah puas berciuman, melepaskan ciuman lalu berpindah mencium leher Yunita. “Uhhkkk Ren... Please!”
Tanganku yang tadinya meremas-remas buah p****t Yunita, mulai bergerak menyentuh selangkangannya. Aku lalu menarik p****t Yunita ke atas hingga s**********n kami menyatu.
“Ohhhh Ren... kamu curang ihhh.” Kata Yunita, dan aku juga tersadar dimana kondisiku masih berpakaian lengkap. Yunita segera melepas bajuku dan melempar ke lantai.
Lalu berpindah, dimana dengan lincahnya, Yunita mulai membuka resleting celanaku. “Bantuin gih…” Kemudian aku, membantu membuka celanaku sendiri beserta CD.
Dan saat ini, aku yang setengah berjongkok di hadapannya, memperlihatkan penisku yang mengacung dengan gagahnya. Yunita lalu menyentuhnya.
Aku tersenyum, sambil mengangguk...
Aku membalas perlakuannya, dengan menyentuhkan jemariku di paha bagian atasnya. Sangat dekat dengan bibir v****a gadis itu. “Hhsshh… Oughh…” Sontak ku dengar Yunita sedikit melenguh. Lalu aku kembali ke posisi sebelumnya, yaitu menindih tubuh Yunita. Kemudian kembali mencium bibir Yunita dengan penuh gairah. “Mmmmfhhhhh…”
Mendengar lenguhan Yunita, aku melepaskan ciuman. Kemudian turun menjilati leher gadis itu. Aku juga menjilat-jilat mulut Yunita dan turun ke dagunya. Ku rasakan Yunita semakin gelisah menerima rangsangan ini, apalagi tanganku yang tadinya hanya mengusap wajahnya, mulai meremas-remas kedua payudaranya bergantian. Tubuh Yunita kembali bergoyang-goyang kegelian menahan serbuan tangan nakalku yang sudah mulai merambah ke daerah selangkangannya.
“Oughtttt Ren… siksa aku please.” Erang Yunita saat jemariku mulai menyentuh bibir k*********a. Tanganku yang nakal semakin liar mengaduk-aduk daerah sensitifnya. Mulutku juga kian gencar menyedot-nyedot leher jenjang Yunita yang mulus dan putih.
Yunita makin merengek-rengak tak jelas, Seolah tak peduli dengan rengekannya, aku terus saja bergerak. Kini tangan ku mulai menggelitik labia mayoranya yang sudah mulai basah berlendir. “Shitttt…. Nikmat banget …. Oughtttt.”
Tubuh Yunita tersentak saat jari tanganku mulai menyusup ke dalam labia mayoranya dan mulai mengorek-ngorek tonjolan c******s-nya. Lalu ku gerakkan jari ini berputar-putar menggesek clitorisnya. Dengan intens, aku terus memutar-mutar jariku di tonjolan c******s itu, dan mungkin karena gak tahan, ku rasakan Yunita yang sepertinya sudah mulai kepanasan hanya bisa mengacak-ngacak rambutku.
“Uhkkkkkk, udah Ren... aku dah gak tahan lagi.”
Timbul niat isengku, maka ku lepaskan jemariku sesaat.
“RENO!” Teriak Yunita sesaat. “Kenapa berhenti… ughhhhh shit.”
“Hehehehe... sengaja!” kataku, membuat Yunita ku lihat sedikit dongkol.
“Buruaaaaannnnn ihhhhh Reno jahat.”
Aku hanya mengangguk, lalu sengaja aku bergerak turun dan kini berjongkok di depan selangkangannya. Saat ini, wajahku berada dekat sekali dengan s**********n Yunita. “Aw.. Ohh…” Tubuh Yunita ku rasakan kembali tersentak saat tiba-tiba aku menyurukkan wajah, dan mulutku mulai menyedot-nyedot bibir k*********a.
Lidahku makin menerobos masuk di antara labia mayora Yunita dan mengais-ngais daging hangat lubang vaginanya. Tangan Yunita ku rasakan kembali meremas rambutku. Tanpa bicara, aku terus bekerja! Ya sedikit bicara banyak bekerja! Ini benar-benar tepat untuk keadaanku saat ini.
Aku mulai mempermainkan c******s Yunita dengan lidahku, yang tampak sudah semakin mengembang. “Shh… Ouhh… Shh.. Ter.. Rushh Ren.. Don’t Stoppppp please,” Mulut Yunita tak henti-hentinya berdecap. Tangan Yunita juga merengkuh kepala ku agar semakin ketat menempel ke selangkangannya.
Aku sangat paham apa yang akan terjadi selanjutnya. Dimana Yunita sebentar lagi akan mencapai o*****e. Maka Lidahku semakin gila mempermainkan clitorisnya. Bibirku juga sesekali menyedot seluruh cairan yang semakin membuat v****a Yunita basah.
Saat sedikit lagi…
Timbul niat isengku lagi, Maka ku hentikan kegiatanku sesaat. “HAAAAAAAAHHHHHH... RENOOOO BANGSAAAAAAATTTTTT, koookkkk... uhhhh,” Teriak Yunita kesal karena saat hampir saja mencapai klimaksnya, aku tiba-tiba menarik kepala.
Ku lihat p****t Yunita tanpa sadar bergerak keatas mengejar wajahku. Hahahaha! Puas banget meyaksikan Yunita seperti ini. Dan menurutku, aku telah berhasil mempermainkannya. Napas Yunita juga terdengar sudah ngos-ngosan karena didera nafsu. “Sabar yah,” Bisikku kepadanya. “Pelan-pelan saja, kan kamu yang bilang tadi… hehe,”
“RENOOOO BRENGSEKKKKK!!! BURUAAAANNNN” Teriak Yunita di sertai, tatapannya yang berubah menyala, pasti dia merasa kesal karena aku masih suka mempermainkannya. Terlihat, wajahnya tiba-tiba cemberut membuat aku melempar senyum jahil.
“Buruuaaaaannn Ihhhhh!”
“Iya.” Aku lalu beranjak dari posisi sebelumnya, lalu mengangkat tubuh Yunita untuk duduk.
Aku lalu mulai bergeser ke bawah, lalu membalikkan tubuh Yunita dan mengangkat sedikit pantatnya dengan gaya doggy style. “Ren... doggy?”
“Yap!” Kini Yunita merungkuk menghadap dinding. Kedua tangannya bertumpu di atas pegangan ranjang. Sedangkan tanganku mulai mendorong punggungnya sedikit membungkuk, hingga membuat posisinya agak menungging. Lalu kedua kaki Yunita ku geser sedikit agar lebih membuka.
“Uhhhhhhh…” Desah Yunita saat penisku, mulai bergesek-gesek di bibir k*********a.
Aku mendapati, Yunita menoleh ke belakang, ia menatap wajahku.
“Masukin Ren.” Katanya.
Aku gak menjawab...
Karena vaginanya yang sudah licin, sangat membantu penetrasi yang aku lakukan dari arah belakang. “Oghh…” Terdengar Yunita terpekik, saat ujung penisku mulai terjepit labia mayora Yunita. “Hkk.. Hh.. Shh.. Ouchh.” Kemudian Yunita mulai mendesis tercekat. Saat ku gerakkan penisku menembusnya secara perlahan-lahan.
Dengan pelan aku kembali menarik batang penisku dari jepitan lubang v****a Yunita. Lalu aku mendorongnya lagi, hingga bertambah dalam batangku menerobos masuk ke dalam lubang vaginanya. Sekarang gerakan maju mundur batang penisku mulai ku lancarkan.
Plokkk... plookkk... plookkk...!!! “Hugghh…”
Ku rasakan, hampir seluruh batang penisku sudah masuk ke dalam jepitan lubang v****a itu. Dan batangku itu terasa seperti di pijat-pijat oleh vaginanya.
Tanganku, yang tadinya memegang kedua sisi pinggul Yunita, mulai meremas kedua p******a sekal yang menggelantung Indah. Membuat Yunita makin kuat mengeluarkan desahan-desahan erotis dari mulutnya.
Sambil berpegangan pada kedua p******a sekal milik Yunita, aku terus mendorong dan menarik p****t. Gerakan batang penisku di dalam lubang kemaluan Yunita semakin lancar, ditambah lagi karena sudah banyak sekali cairan pelicin keluar dari lubang k*********a. Mulut ku tak tinggal diam, dimana aku menjilati kuduk Yunita. “Oughhhh Reno… sodok sayangggg…. Puaskan akuu sayanggggg.” Yunita mengerang tak karuan, menyebut kata-kata vulgar.
Plok…Plok…Plok….!!! “Uhkkkk Ren… percepatttt, aku dahhhh mau keluar.”
Plok…Plok…Plok…!!! “Oh My Goshhhhh… akuuuuu gak tahannn lagiiiii.” Erang Yunita kembali, dan ku rasakan v****a Yunita mulai berdenyut-denyut mengurut batang penisku. Lalu selanjutnya, “Ohhhhhhhhhhh… akuuuuuu sampaaaaaiiiiiiiiiiiii.” Teriak Yunita, sambil tiba-tiba tubuhnya terhempas di ranjang dan kedua tangannya melemas jatuh kebantal.
Aku tau, jika o*****e pertamanya pun ia capai, aku juga sengaja tak mencabut batang penisku dari lubang kenikmatannya, masih menunggu hingga keadaan Yunita mulai kembali pulih. “Hash… hash… aku puassss Rennn” Kata Yunita dengan nafas tersengal.
Aku hanya tersenyum sesaat, lalu melepaskan penisku. Ploppp!!! “Auwwww…” Yunita tercekak. “Sayannnggg… biarin aku istirahat dulu napa…” Kata Yunita karena sepertinya mengerti tabiatku, dimana aku gak akan membiarkan dia istirahat sebelum aku o*****e.
Tanpa memperdulikannya. Aku sudah membalikkan tubuh Yunita menghadapku, dan aku sempat menatap tubuh telanjang Yunita yang berbaring lemas di atas ranjang. “Hash…hash… aku… istirahat dulu 5 menit. Ekhhh!!!” Baru saja menyelesaikan ucapannya, Aku langsung menembusnya lagi. “Ohhh My Goshhh Renooooo… tega yah…”
Aku hanya tersenyum jahat, sambil mulai menggauli-nya kembali. Tubuh lemas dengan dua p******a sekal dan dua p****g menghiasinya membuat aku makin gemas. Tanganku meremas kembali p******a itu dan mulai melumat kembali bibir Yunita yang sedikit terbuka sambil menggerakkan penisku naik turun menghujam lubang kenikmatannya.
Menyerang tanpa memberi ampun, itulah yang saat ini aku pikirkan. Yah, sesuai ke-inginan dia kan tadi untuk menyuruhku memuaskannya. “Hhhmmmmfffmm” Bibir Yunita langsung menyatu dengan bibirkur. Lidah ku segera terdorong masuk mulai menggelitik rongga mulutnya.
Plok…Plok…Plok!!! Posisi dengan aku diatas menindih dan memompanya, tampaknya mampu membangkitkan gairah Yunita kembali. Aku melepaskan ciuman, lalu turun mengemut p******a beserta putting kecil miliknya bergantian. “Oughhhttttt…”
Yunita membuka mulutnya saat aku melepaskan ciuman. Aku lihat mulut Yunita sudah terbuka membentuk huruf ‘O’. Dan tatapan matanya sangat Indah, antara tatapan protes dan tatapan kenikmatan, membuat ku tersenyum. Tanpa membiarkan dia bernafas, aku kembali menyerang bibirnya, mulai memagut kembali bibir Yunita dan dengan lidahku yang kembali mendorong-dorong lidahnya.
Air liur kami saling tertukar, tak ada rasa jijik dan rasa aneh yang saat ini aku rasakan. Yang ada hanyalah sebuah nafsu. Sementara batang penisku makin intens bergerak naik turun menusuk-nusuk dalam tubuh Yunita. Menghujamnya tanpa ampun.
Plokkk... plokkk... plokkk..!!! “Renoooo… Bisa-bisa Yunita pingsan neeehhhh… oughttttttt.” Erang Yunita.
Aku yang merasa puas dengan gaya posisi menindih Yunita, aku mulai menarik tubuhnya. Ploppp!!! Aku juga sempat melepaskan penisku sesaat, kemudian memposisikan dirinya berbaring. Dan dengan sebuah kode, menginginkan Yunita berada di atasku. Sepertinya Yunita paham, dan segera bergerak naik ke atas tubuhku.
Dia Lalu mulai memegang batang penisku, dan langsung memasukkan kembali ke lubang vaginanya. “Uhhhhkkkkk…”
Yunita mulai bergoyang di atasku. Kadang naik turun, kadang juga dengan memutarkan pantatnya mengulek-ngulek penisku. Ougghhhhh Renoooo...”
Aku hanya tersenyum, lalu timbul kembali niat isengku. Maka aku menahan p****t Yunita.
“RENO... JANGAN KAYAK GITU.” Matanya melotot kepadaku.
Aku tak menghiraukan, maka aku mengambil alih permainan, lalu mulai menaik turunkan pantatku. Plokkkk…Plokkkk…Plokkkk!!! Penisku menusuk-nusuk dari bawah, membuat Yunita membelalakkan matanya.
“RENOOOOO… PLEASEEEE JANGAN KAYAK GINIIIIIII.... IHHHH OHHHHH GOSHHHHH!” Aku gak peduli. Terlihat tubuh Yunita mulai terhentak-hentak dan gerakannya sudah tidak terkendali saat mendapatkan serangan bertubi-tubi dari penisku di bawah sana.
Kepalanya bergerak bergeleng-geleng tak karuan, dan erangannya terdengar makin kuat saat aku mempercepat sodokanku. “ARHHHHHHH… RENOOOO... PLEASE STOOOPPPP!!!” Pinta Yunita, namun aku hanya menyeringai tanpa melepaskannya.
Yunita mulai mencakar dadaku, karena tak tahan dengan posisi seperti ini. Dimana ia mengangkang, dan pahanya melebar menerima tusukan penisku dari bawah.
Aku semakin cepat menaik turunkan pantatku, mendorong penisku naik turun untuk menghujam lubang v****a berlendir milik Yunita. “ARGHHHHHHHHH… RENOOO BANGSAAAAAATTTTTT... AKUUU DAHHH BILANGGGG STOOOPPPPP PLEASE!” Tiba-tiba Yunita mengerang dan meneriakkan sebuah makian sesaat sebelum tubuhnya kejang-kejang. “FAAAAAAKKKKKKKKKK….. hashhhhhhhhhhhhhhhh….” Erangan terdengar kembali, bersamaan tubuhnya yang lemas lunglai. Untung saja, aku dengan cepat segera menahannya.
Karena tiba-tiba p****t Yunita mulai bergerak-gerak seperti cacing kepanasan beserta keluarnya semburan cairan air seninya dari lubang vaginanya.
Segera aku pun melepaskan penisku. CRUUUUUUUTTTTTTTTTTTTTTT…!!! “KANNNNN ARGHHHHHH... UDAH KU BILAAAANGGG!” Yap! Yunita Squirt dan menyemburkan air seninya beberapa kali ke tubuhku.
Aku hanya tersenyum penuh kemenangan. Brukkkkk!!! Lalu tubuh Yunita jatuh ke pelukanku. Ku dengar nafasnya mulai naik turun tak karuan. “Hash… hash… tega kamu Renoooo ihhhhh!.” Ujar Yunita terputus-putus.
Aku hanya memeluknya tanpa menjawab ucapannya. “Ren… Hash...Hash...Hash! A-aku... hash... udah gak mampu lagi... Hash...Hash, dah capek!” Aku tidak memperdulikan ocahan Yunita, aku mulai memasukkan kembali penisku ke liang kenikmatannya.
“Ren tunggu dulu…” Telat! Aku menggerakkan penisku dengan cepat naik turun menembus liang kenikmatannya. Lalu ku peluk tubuh Yunita dengan erat, sambil memompa penisku makin cepat.
Plokkk…Plokkk…Plok!!! Beberapa menit dengan posisi seperti ini, ku lihat perubahan ekspresi Yunita, dimana ia kembali terangsang. Dan sepertinya, ia mulai menikmati setiap tusukan penisku di dalam tubuhnya.
“Oughhh Renooo Renoo... Ohhh ohhh... Reno jahat.” Aku yang terasa sesak atas pelukan Yunita. Kemudian membalikkan tubuhnya, sambil mengeluarkan penisku sesaat. Kemudian menindihnya kembali. Penisnya kembali memompa dengan cepat. “Uhhhkkkkk…”
Lagi-lagi…
Yunita sepertinya tak dapat menahan lagi, tubuhnya berkelojotan melepaskan ledakan birahi yang sudah tidak terbendung lagi. Ia-pun segera meraih kepala ku, lalu mulai mencium bibirku.
Yunita menggigit bibirku, dimana pada saat yang sama, tubuh ku-pun menggeliat dan tersentak-sentak seperti penari breakdance. Tubuh bagian kami yang saling berhantaman menggeliat secara bersamaan. s**********n yang menempel ketat dan seperti terpaku pada tulang kemaluanku, memutar tak terkendali.
“Arghh.. Shh..” seperti suara koor, kami berdua mengeram secara bersamaan. Otot-otot Yunita ku rasakan berdenyut-denyut mencengkeram penisku, yang menusuk keluar masuk sepenuhnya didalam. “Ohhhhhhh...” Plokkkk….Plok…Plokkkkk!!!
“Aku… akuuu keluaaaarrrr.” Aku teriak, sambil merapatkan pelukanku ke tubuh Yunita.
“Saaaammmaa…” Balas Yunita. Crooot... crooot.... crooottt...!!! Akhirnya p***s ku mengedut-ngedut dan hampir 7 kali menyemburkan cairan hangat. Dan juga bersamaan Yunita melepaskan orgasmenya.
Sesaat, kami enggan untuk melepaskan kesempatan detik-detik sisa terakhir o*****e kami berdua. Dimana aku dan Yunita, masih terus bergerak hingga tuntas sudah spermaku terperas denyutan lubang v****a miliknya.
Tak lama, akhirnya kami terdiam lemas tak berdaya. Napas kami saling memburu. Denyut jantungku pun berdentum setelah bekerja keras memburu kenikmatan.
Aku yang kelelahan tak mampu bergerak lagi. Hanya menggeser tubuhku dan menghempas berbaring disebelah Yunita. Ku raih jemarinya, dan kami pun saling memandang. Sebuah senyum kebahagiaan pun terlihat diwajah Yunita, dan aku membalasnya.
“Hash…hash… Thanks yah sayang.”
“Iya... sama-sama.” Beberapa saat aku menatap lekat-lekat wajah Yunita. Masih sambil tersenyum, hingga sedetik kemudian Yunita akhirnya memejamkan mata. Aku melihat, wajah Yunita tampak lelah, namun terlihat sedikit sunggingan senyum kepuasan.
.
.
.
Sejam setelahnya, aku tersadar. Dan sejenak melihat ponselku yang ku letakkan di atas meja samping ranjang.
Kemudian aku melirik ke Yunita, dan ku rasakan tubuhnya menggeliat. Lalu perlahan-lahan matanya terbuka.
Dari wajahnya, tersungging senyuman penuh kepuasan setelah pertemuran kami tadi.
“Ren!”
“Ya!”
“Hehehehe... bersih-bersih Yuk!” Kata Yunita, lalu duduk tanpa mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Kamu aja dulu,” kataku.
“Bareng aja...”
“Ntar aja, aku lagi malas berdiri.” Jawabku, kemudian kembali membaringkan tubuhku di atas ranjang.
“Ihhh dasar.” Kata Yunita, sambil menoleh kepadaku. Aku hanya melempar senyum, lalu ku pejamkan mata ini.
Selanjutnya, ku rasakan tubuh Yunita mulai memelukku. Saat aku membuka mata, kepala Yunita telah bersandar di dadaku.
“Capek banget yah Ren.”
“Iya!”
Ting!!! Sebuah bunyi pesan masuk, di ponsel lawasku baru saja terdengar.
“Sepertinya dari Pak Edward.” Gumam Yunita yang memang mengetahui, jika ada sms masuk di ponsel Nokia, maka jelas itu pesan dari Pak Edward.
“Sepertinya.”
“Yah sudah, kamu lihat gih.”
Ting!!! Bersamaan, saat aku ingin duduk, ponsel Yunita pun ikut berdering tanda adanya pesan masuk. “Sama...” gumam Yunita.
Aku saling berpandangan sesaat...
Lalu, aku menggidikkan bahu, selanjutnya ku raih ponselku yang terletak bersama-sama ponsel lain di atas meja.
Maka ku buka SMS dari Pak Edward.
Pak Edward :
“RAINY”
Begitulah bunyi pesan dari Pak Edward.
“Ren... Rainy!” Gumam Yunita yang juga baru saja membaca pesan Pak Edward di ponselnya.
“Bareng lagi?” tanyaku.
“Sepertinya...”
Dan sedetik selanjutnya. Ada pesan masuk lagi, di ponselku yang berbeda. Ting!!!
Ting!!! Dan juga pesan masuk, di ponsel Yunita. Kami membuka pesan itu bersama-sama.
Pak Edward :
Picture TO : -JPG File-
Name : Taufik Mansyuri
Asal : Sumatra
Location : Hotel Aston, Kamar 312.
Time : Before 00:01
Setelah membacanya, Aku dan Yunita saling berpandangan, dan kami kembali memandang ke layar ponsel kami masing-masing untuk memastikan pesan tersebut.
“So?” Tanya Yunita.
“Masih ada waktu...” Gumamku menjawabnya.
“Oke! Lets go...” Ku lihat, seringaian tipis di wajah Yunita.
Cukup Mengerikan!!! Hahahahahahaha...
Still Continued...