PART 3 (Lusi Pembawa Petaka)

6334 Words
POV Reno   Untung saja dua harian ini aku tidak mendapat gangguan ataupun masalah dengan para penguasa yang menamakan diri mereka 4 Devil’s. Belum lagi para antek-antek 4 Devils yang sok berkuasa di kampus ini, bikiin muak aja. Sok jagoan, sok jadi penguasa, sok jadi paling ter ter lah dari segala ter. Jika mengingat kelakuan mereka, kadang jadi kesal juga sih. Yah selama mereka gak menyentuhku, aku tetap bersikap biasa-biasa saja. Aku paham, para pentolan 4 Devils itu adalah orang-orang paling terkaya di kampus ini, makanya mereka mempunyai kekuasaan karena hasil dari orang tuanya saja. Mungkin juga karena mereka kebal hukum, makanya se-enak udelnya menghajar orang-orang yang gak bersalah. Oops! Ngaca Reno. Tak terasa 3 hari aku telah berada di kampus ini. Menjalani hari-hariku seperti biasanya. Menimba ilmu dari kuliah yang dibawakan oleh dosen berbeda. Aku pun semakin akrab dengan para sahabatku, yang kadang tak segan juga untuk membully ku. Apalagi si Eko, super tengil, banyak banget kosa kata yang ia kuasai. Yang kadang otakku kudu berputar dulu, untuk mengartikan apa yang ia katakan. Eko Perkoso, paling ceria, paling rusak di antara kami ber-lima. Aku sih gak permasalahkan jika Eko mengolok-ngolokku seperti halnya dengan yang di lakukan ke yang lainnya. Nama Eko, kadang Adit plesetin jadi ‘Eko Perkosa’ dan di akhiri dengan bumbu-bumbu kalimat seperti, Perkosa Binor, Perkosa PL. Entahlah, aku cukup terhibur dengan candaan mereka. Melupakan segala tentang Yunita, untuk sejenak. Akhirnya kelas pertama dah usai. Eko langsung menepuk pundakku, “Ngudud yuk!” “Anak-anak lainnya?” kataku. Eko tak menjawab, matanya memperhatikan tingkah Rizal yang main nyelonong keluar dari kelas. “Woi Zal... kemana loe?” “Lah! Gak kompak loe ah.” Adit nambahin, sambil melangkah menghampiriku dan Eko. “Bentaran cug! Ada urusan dikit...” Kata Rizal sambil berlalu meninggalkan kelas. “Hahahahaha, paling loe nyariin si Lusi tuh.” “Lusi?” gumam Adit. “Iya, tuh anak lagi deket ma Lusi. Gak gitu paham juga, Lusi siapa.” Kata Eko. “Yuk ah... ngapain di sini mulu.” “Oke.” Kataku. “Yuk! Gue haus nih.” Kata Adit menimpali. Cindy datang, lalu berdiri di sampingku. Membuat Eko dan Adit mengernyit, dan melongo. “Mas Reno, Cindy ikut.” Mendengar itu, makin membuat Eko dan Adit keheranan. “Njirrr... Hahahahaha, ikut aja Cindy sayang.” Kata Eko. “Ihh apaan sih Mas Eko.” “Woi, Eko aja... Gak usah pake Mas segala, kesannya kok jadi gimana gitu.” “Udah, kalian berdua itu... Sukanya gini, bisa-bisa kalian berjodoh..” Kata Adit, sukses membuat Eko langsung melongo. Dan sempat, ku lirik pandangan Eko langsung mengarah ke Cindy. Eh! Bukan... Lebih tepatnya, mengarah ke d**a Cindy. “Cin... Eko lihatin d**a kamu tuh,” Kataku, sontak Cindy langsung membelalak sambil menutup dadanya dengan buku. “Wasyuuuu! Nih anak, kalo ngomong gak pake di pikir yah Dit. Hahahahaha, tapi loe gak salah juga kok Ren. Hahahahaha,” Kata Eko sambil tertawa terbahak-bahak.   “Mas Eko mesum.” Gumam Cindy, wajahnya tampak cemberut. “Duh neng Cindy, mas Eko itu hanya mau mesumin loe doan. Hahahahaha.” “Njir loe Ko! Hahahaha, lihat tuh... muka nya si Cindy langsung merah gitu.” Timpal Adit sambil tangannya nunjuk-nunjuk ke wajah Cindy. “Ihhh kalian jahat, mas Reno... bantuin Cindy.” Aku mengernyit. “Bantuin apa?” tanyaku ke Cindy. “Bantuin mesumin dia juga Ren... Hahahaha,” Kata Eko yang langsung menyela, dan menjawab pertanyaanku.   “Astaga kamu Ko... Hehe,” “Njir, dia masih gini responnya Dit. Sue bener loe ah Ren.” “Hahahaha, kek baru kenal aja nih anak.” Balas Adit. Aku hanya geleng-geleng kepala. Tapi, jujur aku terhibur dengan candaan mereka. Apa aku nya yah, yang gak bisa meng-ekspresikan dengan wajah maupun gesture tubuhku, jika aku juga ikutan terhibur? Aku hanya menggidikkan bahu, sebetulnya ingin menjawab yang di tanyakan oleh batin ini. Tapi, sukses membuat Eko dan Adit langsung menatapku sesaat. “Tuh kan... Hahahaha,” “Dia mah dah mati rasa Ko.” “Cindy suka, dengan sikap Mas Reno.” Gumam Cindy, dan kami bertiga langsung terdiam. Lalu, menoleh bersamaan ke Cindy. “Njir... Ren, loe di suka tuh ma Cindy.” “Reno, The Lucky Bastard!” balas Adit. “Dia bercanda, Dit... Ko!” gumamku. “Iya tuh Mas, mereka berdua suka kek gitu deh...” Kata Cindy. “Eh btw, jadi pada mau keluar gak sih?” kata Adit selanjutnya. “Hayo.” “Oke...” “Ikut.” Kata Cindy.   Maka kami ber-empat pun keluar bareng. Seperti biasanya, kami pun memilih untuk mencari cemilan maupun ngopi dan ngudud, bahasa si Eko. Melewati lapangan basket, dan tampak lapangan adem ayem, tak seperti kejadian hari pertama aku berada di kampus. Menuju ke kantin. Aku hanya ikut berbaur dengan mereka, meski aku yang paling irit mengeluarkan suara. Bukan apa-apa, takutnya aku lepas kontrol. Yang jelas kami berlima, bersama Cindy juga telah menjadi sahabat. Yah, meski tanpa adanya ikrar atau sumpah menjadi sahabat, namun kami sudah sangat akrab. Dan saat ini kami berempat baru tiba di kantin. Selama di jalan tadi, Eko masih saja ngoceh tak jelas, yang tujuannya sih mengajak kami bercanda. Hingga saat ia menyinggung Cindy, dan mendapat cibiran dengan kalimat mak-Jleb, maka Adit nyeletuk memberikan nama ke Eko dengan sebutan ‘Cinthungz’ yang artinya Cinta Tak Pernah Untung. Hahahaha! Dasar Adit, ada aja tuh istilah dia. Oh iya, kemarin waktu kami berlima nongkorng di kantin. Adit bercerita, sambil menatap ke arah depan. Berjarak 100 meter dari kantin tempat biasa kami ngumpul, sebuah cafe yang dijadikan tempat ngumpul para anggota 4 Devils. Dan menurut cerita jika kita tidak termasuk bagian dari mereka, maka di larang ‘KERAS’ untuk mendatangi tempat itu kecuali memang sudah bosan berkuliah di kampus ini. Pokoknya Adit selalu saja menyelipkan pesan di tengah-tengah obrolan kami, jika kita harus selalu menghindari para antek-antek 4 Devils. Apalagi ke-empat pentolannya, jangan pernah sekali-sekali mempunyai masalah dengan mereka. Jika tak ingin hari-hari kami di kampus di rundung masalah berkepanjangan. Hmm!!! Itu sih menurutmu Dit. Aku sih, selama mereka gak nyentuh fisik, aku akan tetap tidak melakukan apa-apa. “Ren... loe pesen apaan?” tanya Adit saat aku baru mendaratkan pantatku di bangku panjang. Di sampingku, sudah ada Eko berhadapan dengan Cindy. Sedangkan Adit. Duduk di samping Cindy, berhadapan denganku. “Eh tuh Rizal bakal gabung di sini gak sih?” tanya Eko. “Tau’” balas Adit. “Dit, aku mineral dingin aja.” Kataku menyela. Dan adit pun menyebutkan pesanan kami kepada ibu kantin.   “Nih pesanan kalian” kata Adit, saat dia kembali ke bangku dan membawa pesanan kami. “Thanks Dit.” Kataku, menerima botol mineral darinya. Kemudian ia memberikan minuman kemasan lainnya ke Eko maupun ke Cindy. Kami kembali mengobrol, sambil menikmati rokok bareng. Aku cukup dengan garpit, Adit tidak merokok. Sedangkan Eko, rokoknya Marlboro. “Eh iya Ko... Lusi tuh, anak fakultas Ekonomi juga kah?” tanya Adit di sela-sela. “Belum jelas sih Dit... Nanti aja, pasti tuh anak bakal cerita ke gue juga kok.” “Haha, yo wes lah.” “Kalian ngobrolin apa sih?” Tanya Cindy memasang wajah sok imut di hadapan kami. “Yang jelas, gak ngomongin elu kok, Cindy sayang... Hehehe,” Kata Eko. “Ihhh mulai deh mas Eko.” “Dari pada sama Reno, mending loe ama si Eko aja Cin.” Busyet nih Adit, sekali ngomong juga kadang langsung tepat ke sasaran. Sukses membuatku, dan juga Cindy melongo lalu saling berpandangan. “Ihhhh mana mau, Mas Reno ma Cindy.” “Hahahahaha, makanya sama Mas Eko aja.” “Njir loe Dit... udah ah, nape malah gue yang jadi bahan bullyan loe orang sih.” Kata Eko membuat kami semua tertawa bersamaan.   “Kalo Rizal berhasil dapat cewek di awal-awal kita kuliah gini, berarti dia jempolan deh... Hehehe,” Kata Adit lagi. “Jiahhhh, jangan harap... Tuh Rizal gue tau bener... Dedenya Dowo.” “Deqwo donk.” Celetuk Adit. “Nah cocok tuh, hahahahaha.... Kita panggil Deqwo aja tuh anak.” “Ok!” gumamku. “Hahahahahaha...” “Dah ah.” Akhirnya Rizal mempunyai nama baru, Deqwo. Nama yang diberikan oleh Adit lagi. Biar akrab katanya. Aku Cuma tau, arti kata Dede’ sedangkan Dowo aku sama sekali tak mengetahui artinya. Aku juga gak keinginan untuk bertanya lebih lanjut, meski setiap kali mereka menyinggung Dede Dowo semua pada tertawa, namun aku hanya ikut tertawa bareng mereka. Bukan tertawa sih, lebih ke memasang senyuman adalah yang paling terbaik ku lakukan di hadapan mereka.   Tak lama, Deqwo pun muncul. Kami semua menoleh ke dia. “Sorry gaes...” “Jiahhhh... Gimana, berhasil?” tanya Eko. “Berhasil donk.” Mereka kembali lagi, bercanda bersama. Aku hanya sesekali tersenyum mendengar candaan mereka. Dan hari ini yang menjadi korban adalah si Rizal aka Deqwo, sahabatku yang berasal dari jawa bagian tengah. Kalo menurutku, di antara kami semua, Deqwo inilah yang paling bloon. “Loe kenapa diam terus Dowo?” tanya Eko. “Hahahahaha... busyet, muncul lagi tuh nama.” Kata Adit. “Lah pan elu yang ngasih nama.” Kata Eko kepada Adit. “Tapi gak perlu loe terus-terusan manggil temen loe kayak gitu kali Tung.” “Tuh, loe juga baru nyebut nama itu lagi.” “Hahahahahahaha... iya iya sorry bro.” Kata Adit membuat mereka tertawa kembali. Aku lagi-lagi hanya senyam-senyum saja, masih berusaha membaca keadaan bersama mereka. Aku masih bingung harus memulai candaan dari mana.   “Oh iya gaes...” Eko menyela candaan kami. “What happend?” Tanya Adit. “Lanjutin gih, wo... gue juga lupa nanya, si Lusi itu anak fak mana?” “Hufhhh” Tampak wajah Rizal agak berat untuk menjelaskan ke kami. “Kenapa loe diam?” tanya Adit.   “Iya Mas Rizal... ke-kenapa diam?” kini Cindy ikut bertanya. Kami menoleh ke gadis itu. Mendapat pandangan dari kami semua, Cindy tampak memperbaiki letak kaca matanya, dan mengernyit memasang ekspresi malu. “Ke-kenapa kalian lihatin Cindy kayak gitu?” “Jiahahahahaha... lagian, langsung maen serobot aja dengan pertanyaan.” Kata Eko. “Biarin... Ihhh emang salah, kalo Cindy juga pengen tau?”   “Cerita aja Wo!” “Sue loe... pake panggil nama ntuh lagi.” Kata Rizal. Dan kami kembali tersenyum. Kemudian, ekspresi Rizal berubah. Dia begitu serius, meski ku sadari jika keseriusannya itu mengandung candaan. “Iya, jadi gimana Wo?” tanya Eko kepada Rizal. “Sahabat itu adalah tempat berbagi, jadi... alangkah baiknya loe juga cerita ma kami... jangan di pendam donk.” “Ok Ok... jadi gini gaes!” Rizal menatap kami satu persatu. Dan kembali menghela nafasnya sesaat. “Gue itu... baru jadian ma cewek dari fakultas Tehnik, namanya Lusi.”   “Hah?” Adit terkejut begitupun si Cindy. Sedangkan aku? Masih bingung, dan tidak terlalu menarik bagiku untuk mencari tau lebih dalam, siapa Lusi, dan apa yang membuat mereka terkejut ketika menyebut nama ‘Fakultas Tehnik’. Yah meski demikian, aku bakal turut gembira jika memang benar salah satu sahabatku telah jadian dengan mahasiswi di kampus ini. “Loe yakin Wo?” Adit bertanya lagi kali ini. “Nah itu dia Dit... hufhhh!” Tampak ekspresi Rizal berubah, ada sedikit kekhawatiran tergambar di wajahnya. “Kenapa?” kini aku tak sengaja melempar pertanyaan. Dan sukses, membuat mereka berbalik pandang kepadaku. “Ada apa dengan kalian?”   “Loe itu sama Cindy, sekali ngomong... langsung nyeplok yah!” kata Eko. “Maksudnya?” “Hahahahah... dah ah! Mending dengerin penjelasan Rizal dulu.” Lanjut Eko, membuatku tak lagi bertanya. Aku memilih untuk mendengarkan lanjutan penjelasan dari Rizal. “Ya sudah.” Balasku. “Ternyata yang gue denger dari sahabatnya si Lusi, kalo sebelum gue nembak ke dia... Salah satu antek-antek 4 Devils juga sempat nyatain cinta ke Lusi.” Kata Rizal yang sukses membuat Adit menepuk jidatnya sendiri. Sedangkan Eko hanya geleg-geleng kepala. Cindy, sempat bengong dan menoleh ke aku. “Apa masalahnya?” aku bertanya lagi. “Njir... beneran loe sepolos ini Ren?” tanya Eko. “Aku kan Cuma nanya.” “Pokoknya, hubungan Rizal ma Lusi bakal kena masalah!.” Kini Adit yang membantu menjawab pertanyaanku. Mendengar itu, aku lalu menggidikkan bahu, tandanya jika aku sudah tak ada lagi pertanyaan lanjutan. “Kalo saranku sih Zal! Mending loe ma Lusi... Backstreet aja dulu, nanti kalo di luar kampus, baru deh kalian bisa bersama.” Kata Adit kepada Rizal. “Harus gitu yah?” tanya Rizal. “Yah mau gak mau sih bro.” Kini Eko yang menimpali. “Kasiannn... orang baru jadian, harus kena masalah!” Kata Cindy. “Hufhhh!!! Nanti dilihat deh.” Kini Rizal yang berkata, sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Aku merasakan jika Rizal juga khawatir terhadap hubungannya dengan gadis bernama Lusi. Namun aku bukannya gak setia kawan, melainkan aku lebih baik menjaga amanah Pak Edward. Karena bisa saja, aku membantu sahabatku ini jika terkena masalah dengan para penguasa kampus, apa sih hebatnya mereka? Toh juga, mereka masih makan nasi kok. Sama seperti kami. Yang jelas, kalo mereka masih berdarah, maka aku gak akan pernah gentar.   Aku gak takut ama siapapun.   Diamku, bukan berarti takut.   “Gimana menurut loe Ren?” kini Adit bertanya ke aku. “No Comment Dit.” Jawabku. Adit hanya geleng-geleng kepala, karena tak mendapatkan saran dariku. Setelah bermusyawarah dan mendapat satu jawaban, dimana Rizal akhirnya mau gak mau harus menjalani hubungan dengan Lusi secara Backstreet. Jangan sampai ke cium oleh kawanan 4 Devils tentang hubungan mereka. Dengan berat hati, akhirnya Rizal pun mengiyakan saran yang telah di simpulkan oleh Adit bersama Eko tadi. Aku dan Cindy, hanya mengikuti kemana arah rencana para sahabatku ini.   ~•○●○•~   Ke-esokan harinya...   Semalam aku sempat telfon-telfonan lagi dengan Yunita. Dia mengungkapkan perasaannya seperti biasa. Aku juga, tak memberikan jawaban pasti kepadanya. Yang jelas, aku hanya bisa menjawab kepadanya, jika aku juga merindukannya. Tapi entah mengapa, Yunita masih tak ingin bertemu denganku dulu. Aku pun gak permasalahkan hal itu, jauh lebih baik memberikan dia waktu untuk berfikir lebih jernih lagi. Yunita aku lihat, sudah keterlaluan memakai perasaan yang cukup dalam berhubungan denganku. Aku mengingat kejadian kemarin di kantin. Membahas masalah hubungan Rizal dan ceweknya si Lusi. Semuanya awalnya baik-baik saja, gak ada masalah dengan para anggota 4 Devils. Setelah selesai istirahat kemarin, di kelas, maupun di taman, Aku juga kebanyakan ngobrolnya dengan Adit. Dimana aku ketahui jika Adit itu penggemar bola. Sedangkan aku? Berbeda dengannya, dimana aku sangat gak suka yang namanya olah raga Bola. Dan hari ini, setelah kelas break. Aku dan Adit, saat melihat 3 kawanku keluar sendiri-sendiri, maka kami berdua pun anya memilih untuk mengobrol di taman. Jangan kalian pikir, kami berdua seperti sepasang kekasih loh. Hahahah! Justru di taman inilah, tempat untuk cuci mata. Menurut Adit sih. Karena tempat berkumpulnya para mahasiswi yang cantik-cantik. Lagi asyik-asyiknya ngobrol di bangku dekat taman, sambil sesekali memandang para cewek-cewek di kampus, Eko mendatangi kami.   “Bro... pada liat Rizal kemana gak?” Aku dan Adit, saling memandang. Dan instingku mengatakan, sepertinya sesuatu bakal terjadi yang gak pernah kami duga. “Gak Tung... kenapa emang?” kata Adit balik bertanya. “Mungkin dia lagi bersembunyi ma Lusi.” “Gue nyariin di kantin... dia gak ada, gue nyariin dari tadi gak nemu-nemu euy.” Kata Eko menjelaskan. Kemudian dia duduk di samping Adit sesaat. “Loe tenang aja dulu, paling si Rizal lagi mojok tuh.” “Hufhhh semoga aja.”   Dari kejauhan kami melihat Cindy berlari ke arah kami. “Tuh Cindy... mungkin dia tau Rizal dimana.” Kata Adit sambil menunjuk ke Cindy. Bukan! Aku menatap ke Cindy, dan menurutku saat melihat raut wajah, dan sikapnya yang berlari terburu-buru, ada suatu informasi yang ingin ia sampaikan ke kami. Informasi, yang sesuai dengan instingku tadi. Cindy tiba, dan terlihat dia membungkukkan badan dengan dua tangan memegang lututnya sesaat. “Hash! Hash! Hash!” Dan Cindy saat ini sedang ngos-ngosan ketika baru sampai. Selanjutnya ia memandang kami satu persatu dengan ekspresi yang aneh. Kalo aku membaca ekspresi Cindy, sepertinya dia sedang ketakutan. “Kenapa?” Maka aku lebih dulu bertanya kepadanya. “Hash! Hash! Rizal... Rizal Dit... Ko... Ren” kata Cindy menggantung. “KENAPA DENGAN RIZAL?” Kini Eko yang langsung emosi. Dan ia berdiri, sambil tak sabar mendengar lanjutan cerita Cindy. Cindy langsung gemetaran mendapat bentakan dari Eko, sedangkan Adit dan aku, awalnya saling berpandangan. Lalu, mungkin karena tak mendapat respon dariku, maka Adit pun menarik lengan Eko. “Ko sabar! Tuh, si Cindy langsung gemetaran setelah loe gertak tadi.” Eko lalu menepis tangan Adit, kemudian maju mendekati Cindy. Eko menyentuh pundak Cindy, dan sedikit menggoyang-goyangkan tubuh Cindy. “KENAPA DENGAN RIZAL, CIN? AYO JAWAB...” “Loe sabar dulu Tung!” Adit masih mencoba menenangkan Eko. Dan lucunya, Adit masih saja memanggil Eko dengan panggilan Cinthungz.   “Di-dia...di-dia... tadi aku lihat, lagi di cafe 4 Devils!” “WHAT?” Eko terkejut, begitu juga dengan Adit. “Loe gak bercanda kan Cin?” tanya Adit yang tampak lebih tenang dari si Eko. “A-aku gak bercanda Dit...” “BANGSAAAT!” Umpat Eko, lalu saat ia ingin melangkah. Adit kembali menahan lengannya. “Tung... loe tenang dulu, kita sama-sama coba kesana gih!” kata Adit. “DARI TADI KEK... NGAPAIN JUGA KALIAN MASIH DISINI?” Teriak Eko penuh emosi. Dan akhirnya, kami semua beranjak bersama-sama untuk melihat apa yang terjadi di cafe yang di maksud Cindy tadi.   Aku berjalan berdampingan dengan Cindy, sedangkan Eko dan Adit berjalan di depan kami. “Ma-mas Reno, Ci-Cindy takut...” “Udah, kamu tenang aja!” kataku kepada Cindy. “Ma-mas Eko ma-mau ngapain?” tanya Cindy berikutnya. “Entahlah!” gumamku, sambil mengangkat kedua bahuku. Aku lalu melihat ke Eko, dimana tampak sekali jika Eko gak sabaran orangnya, dia mempercepat langkahnya sedangkan Adit berusaha mengimbanginya. Dimana Adit masih saja berbicara untuk menenangkan Eko. Dalam hati aku berfikir, mungkin Eko mempunyai sesuatu yang ia sembunyikan kepada kami. Karena gak mungkin dia seberani ini jika dia tak mempunyai pengalaman menghadapi masalah seperti ini sebelumnya.   “FAKKKK!!!” Eko lalu mengumpat keras, dan Benar saja. Saat kami baru saja ingin melewati gedung yang berbatasan dengan lapangan basket. Kami semua mendengar suara ribut-ribut di arah lapangan. “BANGSAAAT!” Eko, kemudian berlari membuat pegangan Adit terlepas. “Ko... sabar ko!” kata Adit mengejar langkah Eko.   Aku cukup terkejut ketika tiba di lapangan. Dimana di tengah lapangan, aku melihat Rizal sedang berhadapan dengan seorang pria. Yang jelas, Rizal sedang berhadapan dengan bukan pentolan 4 Devils. Mungkin pria itu adalah antek-anteknya saja. Kami berempat berdiri berdampingan, dan sempat melihat para pentolan 4 Devils hanya berdiri menyaksikan kejadian di tengah lapangan. “Sabar Ko... jangan gegabah dulu, pentolan 4 Devils juga ada disini.” Aku mendengar Adit masih saja menenangkan si Eko. Sedangkan aku, terpusat pandanganku kepada satu orang. Yaitu pemimpin dari 4 Devils yang berdiri di antara kawannya, sedang melipat kedua tangannya di d**a. Tatapannya tajam ke depan, dan ekspresinya itu jelas jika orang biasa yang melihatnya akan gentar. Tapi tidak berlaku untukku. Saat aku kembali menoleh ke samping, ternyata Eko mulai tenang setelah Adit berulangkali menenangkannya. Dimana Eko aku lihat masih mengepalkan kedua tangannya, dan bersiap-siap melakukan sebuah tindakan jika memang dibutuhkan.   Sejauh ini, aku masih berusaha untuk tetap tenang... Mencoba menenangkan, dengan sugesti dalam otak. Jika ini bukanlah urusanku, kecuali mereka mencoba menyentuhku. Maka, jangan pernah sebut namaku Reno, jika aku tak membalasnya. Pria dihadapan Rizal, makin mendekat. “ANJING LOE... BERANI-BERANINYA REBUT SI LUSI.” Teriak orang itu, dan aku lihat tinggi mereka hampir sama. “MANA LUSI?” Balas Rizal yang tak keras suaranya dengan pria di hadapannya. “GUE CULIK... HAHAHAHAHA, KENAPA?” Ku lihat, Rizal langsung emosi dan menatap wajah orang itu dengan tajam. Jika sesuai perhitunganku, Rizal sepertinya yang akan melakukan penyerangan di awal. “APA LOE? HAHAHAHA MAU LAWAN GUE?” Hardik lawannya. Benar saja, aku melihat Rizal tak mampu lagi menahan emosinya, dua kakinya aku lihat mulai terbuka sedikit, kedua tangannya terkepal, sepertinya dia telah memasang kuda-kuda.   “BANGSATTTT!!!” setelah Rizal teriak, dia lalu melayangkan satu pukulan ke arah lawannya itu. Ternyata, pukulan Rizal biasa saja. Sepertinya lawannya juga mudah membaca serangannya itu, membuat lawannya mengelak ke samping. Pukulan Rizal hanya melayang di udara. Dari ekor mataku, melihat jika Eko makin tak sabar untuk membantu Rizal. Namun, Adit tampaknya juga masih berusaha keras melarangnya. Sesekali ku dengar, Adit berkata ‘Tenang dulu Ko! Mungkin Rizal bisa menghadapi dia.’ Kami kembali fokus ke tengah lapangan, dimana Rizal yang tak sabaran menyerang kedua kalinya. Lawannya Rizal menghindar dengan mundur kebelakang. Menurutku, Rizal maupun lawannya sama sekali tak mempunyai pengalaman dalam ilmu bela diri. Serangan Rizal, maupun gerakan lawannya tercipta karena insting saja. Pukulan dari Rizal barusan benar-benar tak terarah, maka dengan mudah lawannya pastinya langsung mengindar. Setidaknya, lawannya itu lebih punya pengalaman sedikit cara bagaimana fight dengan lawan. Aku lihat Rizal hanya fokus kepada lawannya saja. Dia tak menyiapkan segala resiko dari berbagai arah. Maka dari itu, dari arah samping kanannya, melayang sebuah tendangan dengan gerakan cepat. Maka Rizal yang terlambat sadar, dan sepersekian detik dia sempat kebingungan akhirnya hanya memilih pasrah. BUGH!!! Satu tendangan telak menghantam bahu sebelah kanannya. Tubuh Rizal terdorong ke samping. “ARGHHHH...” Rizal teriak, dan kembali maju. Aku sempat mendapati, dua bola matanya bergerak antara melihat ke lawan pertama lalu ke lawan yang kedua. Jika ku tebak, dia sepertinya bingung mau serang yang mana. Maka dia berhenti melangkah, dan hanya memilih memasang kuda-kuda. “DASAR PECUNDANG... YUK BRO, KITA HABISIN SAJA DIA.”   “PECUNDANG!!!” “PECUNDANG!!!” “PECUNDANG!!!” Sorak sorakan dari beberapa orang, makin menambah rasa semangat dua orang lawan. Rizal menarik nafasnya sesaat, kemudian dia bersiap saat lawan pertamanya tadi telah bergerak ingin memberikan serangan balasan. Bukan hanya itu, lawannya yang kedua pun ikut berlari ke arahnya. Sedetik aku lihat Rizal kembali kebingungan, dan dengan cepat karena mengira serangan dari orang kedua lebih berbahaya, maka Rizal menghindari serangan dari samping kanan, dan serangan lainnya dari lawan pertama yang akhirnya bersarang ke tubuhnya dengan sebuah tendangan. Salah prediksi menurutku. Hantaman dari telapak kaki kanan yang cukup keras, membuat tubuh Rizal terdorong dua meter. Aku pun cukup terkejut, dimana Rizal yang hanya modal keberanian saja, menghadapi dua orang sekaligus. Akan tetapi, aku masih berusaha untuk tetap tenang. Jangan gegabah, karena ini bukanlah urusanku. Yap! Berulang kali ku katakan dalam hati, hal yang sama sebelumnya. “DIT... b*****t, LAWANNYA RIZAL DUA ORANG!” teriak Eko. “Tenang Tung... Tenang, lihat... Rizal masih bisa ngimbangin mereka kan?” Benar, ternyata Rizal cukup kuat untuk menerima serangan lagi. Tubuhnya hanya terdorong sedikit, lalu kembali maju. Tapi menurutku, ini adalah sikap yang konyol. Rizal lalu membalas serangan berikutnya yang datang secara tiba-tiba. Orang pertama dan Rizal, saling baku hantam dengan kepalan tangan kanan masing-masing. Hanya beda sedetik, orang kedua ikut menyerang. Cukup mampu terbaca oleh Rizal, dimana ia sedikit menunduk saat hook kanan ingin menghantam kepalanya dari samping. Kemudian dengan cepat, pria yang tadi berhadapan dengan Rizal di awal, langsung melakukan sleding kaki kanan, membuat tubuh Rizal terjatuh ke depan. Untung Rizal dengan cekatan, menahan tubuhnya dengan ke dua tangannya ke bawah sehingga dadanya tidak terhempas ke lantai berlapis semen. Saat posisi Rizal menghadap ke bawah, pria satunya segera berlompat dan menekuk lututnya. “AWASSSS WOOO!” Untung Rizal sempat mendengar teriakan Eko, dan Rizal dengan cepat memutar dan menggeser tubuhnya, sehingga kepalanya tak kena hantaman lutut dari lawannya. Dengan cepat, Rizal berdiri. Tampak ia mulai menyerang balik, sebuah tendangan ke arah d**a pria pertama, dan tepat sasaran. Tubuh pria itu terdorong ke belakang, dan Rizal kembali berlari dengan gaya setengah berlompat, melayangkan kepalan tangan kanannya ke arah wajah pria tadi. Namun menurutku, Rizal yang tak punya pengalaman selalu tak memperhatikan dan memasang kewaspadaan di sekelilingnya. Dan benar dugaanku, dimana aku hanya diam ketika melihat lawan satunya mencoba mencari posisi serang yang baik dan efektif. Merasa pas, ia langsung menendang pinggang bagian kiri Rizal, sebelum kepalan tangan Rizal mendarat di wajah pria pertama. Rizal terdorong ke samping, sambil sedikit membungkuk karena mungkin merasakan sakit setelah terkena di rusuk kirinya. “LAWAN WO... LAWAN DIA.” Teriak Eko, membuat perhatian pentolan 4 Devils teralihkan sesaat.   Aku sempat saling berpandangan dengan Oki Wijaya, namun hanya sesaat juga. Tak ada perubahan dari ekspresi Oki. Cukup dingin menurutku, berbeda dengan 3 kawannya, dimana mereka melempar seringaian dengan pandangan meremehkan kepada kami. Setelahnya mereka lanjut memandang ke arah tengah lapangan. Sampai sini, aku melihat dan membaca gerakan serangan Rizal sudah mulai lumpuh. Kedua lengan bagian depan, menjadi tameng untuk menangkis serangan bertubi-tubi. Rizal membalas, namun meleset. Beberapa kali dia menyerang baik menggunakan tangan maupun kaki, namun hanya 20% serangannya yang mengenai sasaran. Hingga ketika ia bergerak ke samping, pukulan Jab dengan posisi lurus ke depan dari lawannya, tak mampu terelakkan lagi. Rizal terkena di wajah, dan ia menyerang balik sambil membungkuk, dan melakukan Hook kanan menyamping sisi kanan wajah lawannya. Untung saja lawannya langsung membaca serangan Rizal, dengan memutar tubuhnya 90 derajat, sambil mengangkat kedua tangannya ke bagian wajahnya. Pukulan Rizal hanya mengenai dua lengan bagian depan. Lawan satunya, dengan gesit menghadirkan tendangan terputar ke punggung Rizal. Telak! Tendangan keras itu menghantam punggung Rizal, hingga tubuhnya terjengkal ke depan. Lagi! Saat Rizal ingin berdiri, lawan yang pertama tadi, menarik kerah leher bagian belakang Rizal, dan menghadiahkan pukulan ke wajah. Satunya lagi, menendang di d**a. Rizal terdorong ke belakang. Tak sampai di situ, keduanya merasa jika Rizal sudah kewalahan. Maka mereka kemudian maju bersama, melompat dan mengarahkan bersama-sama tendangan kaki kanannya ke tubuh Rizal.  Gak sanggup mengelak lagi, tubuh Rizal terkena dua tendangan bersamaan. Satu di kepala, satunya lagi di perut. Tubuh Rizal terhempas ke belakang, kemudian, saat Rizal ingin bangkit, pria pertama langsung menghadiahkan tendangan sepak yang cukup keras di pipi kanan Rizal. Sontak tubuh Rizal terhuyung dan terlempar ke samping. “AUWWWWW!” Ku lirik, Cindy di sampingku langsung menutup wajahnya dengan tangan. “b*****t!” Bersamaan Eko kembali mengumpat ketika mendapati, Rizal sudah tumbang. Dan terakhir, Rizal di hadiahkan bogem keras di wajah. BUGH!!! Sangat keras, sehingga Rizal benar-benar telah KO.   Kondisi Rizal telah terbaring di tengah lapangan, namun ia masih saja sadar karena aku lihat dia masih membuka mata. Eko, pun menoleh ke aku lalu berganti ke Adit. “WOI... LOE BERDUA, APA MASIH MAU DIAM SAJA LIHAT SODARA LOE DI PERMALUKAN SEPERTI ITU?” “Sabar Ko.” “ANJIINNG! GUE GAK BUTUH SABAR CUK! GUE BUTUH NGEHAJAR TUH ORANG.” Kata Eko dengan cara berteriak lantang, aku melirik ke arah lawan. Dimana teriakan Eko langsung menjadi pusat perhatian semua orang. “Ko!” “LEPASIN GUE DIT...” Eko menepis tangan Adit, dan dengan cepat tanpa Adit berhasil menahannya. Eko berlari ke tengah lapangan. “ANJINGGGG LOE BERDUA.” Sangat cepat, Eko melampiaskan amarahnya, sambil berlari, dia melompat dan mengarahkan tendangan kaki kanannya kepada pria pertama yang jadi lawan Rizal tadi. “Duh Eko... bikin tambah runyam!” gumam Adit. Dan aku hanya mengangguk pelan, sambil tetap fokus memperhatikan aksi di tengah lapangan. Tak mampu menghindar, lawannya itu terkena tendangan Eko. Kemudian, Eko mulai menghindar saat pria lainnya melakukan serangan dengan mengarahkan tendangan terputar ke wajah Eko. Ternyata Eko dan Rizal sama, tidak mempunyai pengalaman gerakan ilmu bela diri. Tapi setidaknya, Eko lumayan tangkas ketimbang Rizal tadi. Aku lihat, Eko mempunyai modal dari pengalamannya sendiri. Eko menghindari serangan tendangan terputar tadi dengan menggeser tubuhnya ke samping kiri. Setelahnya Eko berlompat, dan mendorong tubuh lawannya dengan gaya Body Ball, kemudiaan saat tubuh lawannya terdorong sedikit, Eko lalu melepaskan pukulan keras ke d**a orang itu. Orang kedua ikut menyerang, dimana cukup mudah dipatahkan oleh Eko dengan cara menunduk. Dan dengan cepat, Eko yang masih posisi menunduk menghantam telak perut lawannya itu. Sukses, lawannya terdorong ke belakang. Mungkin karena faktor pengalaman, meski style bertarungnya tidak terarah. Namun modal nekad, dan keberanian sukses Eko praktekkan saat ini. Sepertinya, dulunya Eko adalah petarung jalananan. Tak terarah, tak berpola, tapi keras dan cepat menyerang ke sasaran. Mungkin juga karena lawannya lemah sih, Tapi pukulan dari Eko tadi tak membuat lawannya tumbang. Kedua lawannya itu, lalu menyerang Eko kembali. Serangan keduanya, langsung bersamaan ke arah Eko. Dimana aku lihat, sepertinya Eko sudah memperhitungkan semuanya. Dengan gerakan cepat Eko berlari berputar mengelilingi kedua lawannya itu. Hahahahaha! Cara bertarung orang-orang yang suka ikut tawuran nih. ‘Hit & Run’ Pukul, lalu kabur, lalu pukul, lalu kabur. Dan begitu seterusnya. Cara Eko menurutku cukup sukses, dimana saat lawan satunya bingung mau menyerang tubuh Eko, dengan cepat Eko langsung berlompat ke arahnya, menghadiahkan Jab kanan, tepat di wajahnya. Tak sampai situ, Eko lalu menarik kerah bajunya, memaksa tubuh pria itu terdorong ke arah Eko. Sambil tak melepaskan pegangannya di kerah baju pria itu, dengan gerakan menyambit menggunakan tangan kanan, Eko melakukan pukulan upper cut, dari bawah ke atas, Telak! Serangan Eko menghantam keras dagu lawannya hingga memuntahkan darah segar. Lawan yang satunya mulai menyerang Eko, sasarannya aku baca ingin langsung ke wajah Eko. Dimana ia berlompat, melakukan serangan dengan kaki kanan. Eko menangkis dengan lengan kiri, dan memberikan serangan balasan dengan kaki kanan juga. BUGH!!! Kaki Eko berhasil menghantam keras d**a lawannya itu, dan Eko pun berlompat, dan sedikit menekuk lututnya, menghantam keras d**a, kemudian ia bergeser sedikit, melakukan hantaman hook kiri, dan job kanan. Lawannya yang sudah tak berdaya, di hantam bertubi-tubi, dan di akhiri dengan upper cut yang cukup keras di wajah. Berhasil! Eko menumbangkan ke dua lawannya, yang tadi menumbangkan Rizal di awal. “Hufhhhh! Eko tangguh juga yah Ren.” “Iya!” jawabku singkat kepada Adit. Sedangkan Cindy, tampak menyentuh lenganku. Dia bersembunyi di balik punggungku saat tersadar, beberapa orang ingin maju. Bahkan aku hitung berjumlah 5 orang, akan mengeroyok Eko. Namun, saat mereka ingin maju mengeroyok Eko, salah satu dari pentolan 4 Devils langsung masuk ke tengah lapangan. “Ren... Eko akan berhadapan dengan Gerry!” “Iya.” “Set dah! Simple banget jawaban loe.” “Terus... mau jawab apa?” “Ntahlah...”   Gerry aku lihat mulai maju mendekati lima orang itu. “Kalian jangan jadi pengecut, ngeroyok lawan kek gini...” Kata Gerry. “MUNDUR LOE SEMUA!” Kemudian ke lima orang itu pun mundur, dan kembali ke tempat mereka.   Lalu, Gerry kembali menatap ke Eko. “Ho Ho Ho! Rupanya loe hebat juga yah.” “Kami gak akan melawan, kecuali kalian menyakiti salah satu dari kami.” Kata Eko membalas ucapan Gerry. “Ohh! Jadi, gue harus bilang WOW gitu?” kata Gerry dan ku lihat Eko mulai memasang kuda-kuda. Bersiap untuk melawan Gerry. “Siapa nama loe?” tanya Gerry. “Eko...” “Oke Eko... gue gak akan menyuruh cerucut-cerucut itu untuk mengeroyok loe... cukup gue aja yang bakal ngabisin elu.” Kata Gerry. “Dan... bersiap-siaplah-“ Gerry menggantung ucapannya, dan dengan gerakan cepat tanpa Eko sadari, Gerry langsung berlompat ke depan, sambil mengangkat kaki kanannya setengah, kemudian mendorongnya dengan mengarahkan telapak kaki dengan lapisan sepatu ke tubuh Eko. BUGH!!! Eko yang memang belum siap, hanya menggerakkan kedua tangannya dan menaruhnya di bagian dadanya. Kaki Gerry memang tertahan dua lengan Eko, namun karena kerasnya tendangan Gerry, membuat Eko tetap terdorong ke belakang. “b*****t!” Eko teriak, kemudian berlari pelan, menerjang ke arah Gerry. Kejadian dimana Eko menyerang dengan menggunakan kaki, Gerry menghindar dengan menggeser tubuhnya ke kanan. Eko lalu menyerang dengan pukulan, Gerry menangkisnya. Begitu seterusnya, hingga saat dimana posisi Eko agak ke samping berjarak 30 cm dari Gerry. Aku baru menyadari jika Gerry sejak tadi memasang kuda-kuda, Style Beom seogi. Dan ternyata Gerry ahli dalam bela diri Taekwondo. Kuda-kuda dengan posisi kaki depan berada di belakang tapi menghadap lurus ke depan seperti langkah harimau. Sambil menekuk kaki belakang supaya tumpuan berat badan ada pada kaki tersebut, sementara itu kaki depan yang juga tertekuk ke depan, di mana aku lirik sesaat, ujung-ujung sepatu Gerry, seperti membuat jari-jarinya seakan menyentuh ke lantai. Ujung-ujung jari bagian kaki depan yang menyentuh lantai di sini, artinya adalah seperti dalam posisi ketika berjinjit. Untuk menjaga keseimbangan, namun ku akui cara Gerry melakukannya tergolong sulit. Sepertinya Gerry telah membaca gerakan Eko selanjutnya. Dimana Eko, yang berjarak sepersekian detik, langsung membuka agak lebar kedua kakinya. Hmm! Apa yang akan Eko lakukan? Batinku. Kemudian, Eko memutar tubuhnya. Sepertinya akan melakukan gerakan tendangan terputar. Salah Ko! Batinku, ketika membaca gerakannya sangatlah fatal. Dan benar saja, Gerry dengan santai melepas gerakan kuda-kudanya, hanya mengangkat kembali kaki kanannya untuk berisap-siap mengcekal serangan Eko. Ketika tubuh Eko kembali, beserta kaki kirinya yang hampir mendarat di tanah, dan juga kaki kanannya, yang hampir sampai ke sasaran, Gerry dengan cepat, langusng menggerakkan kakinya yang awalnya tertekuk, lalu terbuka dan melayangkan ke atas, arah telapak kakinya dengan bentuk telapak kaki yang sedikit miring. Dengan posisi seperti ini, sangat membantu Gerry dengan mudah memberikan serangan kepada Eko. Sukses, wajah Eko terkena telapak kaki Gerry, hingga membuat tubuh Eko terjatuh dan terhempas ke lantai.   “s**t!” umpat Adit. Aku menoleh, dan memandang ke arahnya. “So?” tanya Adit saat mengetahui aku melihatnya. “Sabar, dan gak usah gegabah! Sesuai saran kamu kan?” kataku kepada Adit. “Iya juga sih.” “Ya sudah.” Saat Eko ingin berdiri, Gerry dengan cepat berlari dan mendaratkan lututnya ke wajah Eko. Eko kembali terhempas ke belakang. Eko cukup kuat tenaganya, namun tetap pertarungan kali ini gak berimbang. Eko kalah tehnik dengan Gerry. Dan sepertinya Eko ingin melakukan serangan kembali. Dia berlari ke arah Gerry, dan menunduk saat Gerry menyerang dengan hook kiri. Eko memegang lengan kiri Gerry, Kemudian menurutku, serangan berikutnya dari Eko cukup mudah terbaca oleh Gerry, karena Eko menekuk lutut kanannya dengan cepat, sambil menarik lengan kiri Gerry agak ke depan. Memang tubuh Gerry terdorong ke depan, namun dengan cepat Gerry menangkis lutut Eko dengan dua telapak tangannya. Lalu Eko kembali mengayunkan lututnya dari setengah kebawah, lalu naik ke atas. Gerry menangkisnya lagi dengan dua telapak tangannya. Dan tanpa Eko sadari, dengan gerakan cepat Gerry menekuk lengan kanannya dengan posisi lurus ke depan dan ajun ditekuk di depan d**a. Jari-jari rapat dalam posisi berdiri mengarahkan ujung sikunya ke wajah Eko. Telak! Serangan siku dari Gerry menghantam wajah Eko. Mendapat hantaman keras di wajah Eko, pastinya membuat Eko pusing. Melihat pandangan Eko aneh, Gerry lalu menarik kepala Eko, menghadiahkan serangan lutut balasan, untung saja Eko menahannya dengan menyilangkan kedua lengannya di depan wajahnya. Saat itulah, Gerry melihat peluang. Dimana dia menggeser sedikit tubuhnya ke samping, kemudian melakukan serangan dari samping dengan hook kanan. Eko mengelak! Tapi justru di situlah kesempatan Gerry, dimana tangan Eko yang sudah kembali ke posisi samping, dan bagian dadanya terbuka, Gerry menggerakkan kakinya, dan menghadiahkan tendangan ke d**a Eko. Bukan telapak kaki yang kena di d**a Eko, melainkan bagian depan betis kanan si Gerry. Tubuh Eko terdorong ke belakang! Gerry tak menyia-nyiakan kesempatan, dia maju dan berlompat, tubuh Gerry yang melayang di udara, segera mengangkat kakinya 90 derajat, dan mengarahkan ujung telapak kakinya ke arah wajah Eko. Sukses, dan terlihat darah segar keluar dari mulut Eko. Tapi, Eko cukup kuat, dimana dia masih berdiri. Gerry hanya tersenyum mengetahui jika Eko belum tumbang. “Ho...Ho! Rupanya loe kuat juga.” “Cuih... loe kira, gue bakal kalah hanya dengan serangan seperti itu?” Eko maju, dan tampak Gerry menggerakkan badannya, berlompat-lompat kecil di tempatnya, menunggu Eko menyerang dahulu. “Ayo... sini maju.” Kata Gerry sambil mengangkat tangannya, menggerakkan jarinya seakan memanas-manasi Eko. “Rasakan nih.” Eko dengan cepat merengsek maju, kemudian Gerry yang baru saja tersadar, langsung mundur kebelakang. Dia menghindar serangan Eko, dan saat Eko ingin memberikan pukulan ke wajahnya, Gerry menggeser tubuhnya ke samping. Lagi, Eko menyerangnya dengan tangan kiri, tapi masih saja melayang di udara. Gerry masih saja menghindar, dan masih mengolok-ngolok Eko yang dimana serangannya hanya memukul angin. Hingga, Gerry yang melihat cela. Langsung berlari dan berlompat ke arah Eko. “RASAKAN NIH PECUNDANG!” Gerry menekuk lututnya, dan kedua lengannya pun ikut bergerak melayang di udara, tertekuk, hingga lutut kanannya pun bergerak dari arah bawah ke atas. Untung saja, Eko sedikit bergeser dan hanya menghantam di perut. Tak sampai disitu, Gerry menarik kepala Eko, dan menghadiahkan sebuah pukulan keras tepat di wajahnya. Gerry tak melepaskan pegangannya, lalu ia menarik kerah baju Eko. Dan saat posisi tubuh Eko telah pas menurut Gerry, maka Gerry melepaskan pegangannya, berjarak sepersekian detik, dengan gerakan cepat Gerry memberikan kombinasi serangan dengan dua pukulan keras di perut, lalu ke wajah. Dan lagi. Gerry menendang d**a Eko, hingga membuat Eko terlempar ke belakang. Tak sampai di situ, Gerry berlari, dan sedikit membungkuk sambil menggerakkan kaki kanannya. Saat itulah, saat dimana dia sudah dekat dengan Eko, Gerry pun menekuk lututnya dan menghantam telak wajah Eko dengan ujung lutut. BUGH!!! Hantaman keras itulah, akhir dari pertahanan Eko. EKO KO!   Gerry berjalan mendekati Eko, dan sempat meludahi wajah Eko. “Cuih! Belajar dulu cara berantem, baru bisa jadi jagoan di kampus ini.” Kata Gerry, kemudian dia kembali berjalan ke tempatnya semula. “Mas... Mas Re-reno... E-eko dan Ri-rizal!” “Iya... tenang Cin.” Kataku kepada Cindy yang telah bersandar di pundakku. Aku dan Adit saling berpandangan sesaat, kemudian kembali melihat ke lapangan. Beberapa saat, tampak orang-orang di suruh bubar oleh para antek-antek 4 Devils. Dan dimana semua orang mulai membubarkan diri, dan aku kembali saling berpandangan dengan pemimpin 4 Devils! Dalam hati, aku sedikit heran, kenapa sejak tadi Oki selalu saja melihatku? Apakah dia mengenalku? Entahlah! Aku gak ingin memperdulikan hal itu. Yang harus kami lakukan saat ini, menolong Eko dan Rizal yang telah terkapar di tengah lapangan. “Yuk Ren! Tolongin mereka...” kata Adit sesaat. “Iya.” “Cin... loe tau bawa mobil kan?” tanya Adit kepada Cindy. “I-iya Dit... kenapa?” “Nih kunci, loe bawa ke sini mobil gue... parkir di sana aja,” kata Adit sambil menunjuk ke arah jalan di samping lapangan. “Iya iya Dit...” “Loe tau kan, mobil gue parkir dimana?” “Iya tau!” “Nih kuncinya.” Maka Adit segera melemparkan kunci ke Cindy. Setelahnya, Cindy bergegas berlari meninggalkan aku dan Adit. Sesaat aku saling berpandangan dengan Adit, entah siapa yang memulai, akhirnya kami berdua segera berlari ke tengah lapangan. Adit ke Eko, dan aku ke Rizal. Rizal dan Eko sudah tersadar, meski kondisi mereka sudah parah. Darah juga keluar dari mulut, wajah nya penuh lebam akibat berantem tadi. Sempat aku menanyakan ke Rizal, apakah dia bisa berdiri. Dan dia mengangguk pelan, maka ku bantu tubuhnya untuk duduk. Setelahnya, kami menoleh ke samping. Ke arah jalan, ternyata Cindy sudah tiba membawa mobil Adit. “Yuk Dit.” Kataku kepada Adit. “Rizal dulu nih.” “Oke...” Maka Adit melepaskan Eko terlebih dahulu, “Cin... loe jagain Eko.” Lanjutnya, berkata ke Cindy saat gadis itu mendekat.   Aku dan Adit memapah Rizal, dan membawanya ke mobil. Adit melepaskan sesaat, dan membuka pintu bagian samping kanan bagian tengah. Dan kembali lagi, untuk membantuku menaikkan tubuh Rizal ke dalam mobil. “Loe tidur aja Zal!” kata Adit. Kemudian aku dan Adit kembali ke lapangan. Dan membantu Eko, yang kondisinya lebih parah dari Rizal tadi. Eko tak mampu berjalan, maka aku dan Adit akhirnya bersama-sama mengangkat tubuh Eko, lalu membawanya ke mobil. Dan saat tiba di mobil, aku lihat Rizal sudah meluruskan kakinya di jok tengah, maka akhirnya aku dan Adit bergegas ke samping kiri. “Cin buka pintunya.” “Iya Dit.” Lalu Cindy membuka pintu depan bagian kiri. “Mundurin kursinya,” kata Adit menyuruh Cindy untuk menarik tuas jok dan mendorong joknya ke belakang. Setelahnya aku dan Adit sama-sama memasukkan tubuh Eko ke dalam mobil, dan selesai sudah dimana kedua sahabatku sudah berada di dalam mobil.   “Mereka dibawa kemana?” tanyaku. “Langsung ke RS aja.” “Oke! Aku naik motor ikut dibelakang.” “Cindy ikut Adit aja, ya Ren.” “Iya.” Kataku. “Tungguin disini, aku mau ngambil motor dulu.” “Sip!”   Maka aku mengambil motor di parkiran. Setelahnya aku kembali ke mereka dengan motor lengkap dengan helm dan jaket. Dan berhenti tepat di samping kiri mobil. Dimana posisi motorku agak ke tengah jalan. Aku lihat Adit masih merokok dan menungguku. “Yuk Dit.” “Iya...” Saat Adit ingin berputar melewati bagian depan mobil. Dari arah berlawanan, sebuah mobil sedan berjalan kencang.   “Set dah... gak bisa pelan apa.” Kata Adit melihat mobil itu. “Tunggu Dit.” Saat aku ingin meminggirkan motorku. Mobil sedan itu, berhenti secara tiba-tiba tepat di depan motorku.   Sepertinya mobil ini gak asing bagiku. Dimana yah, aku melihatnya. Saat aku sedang memikirkan dimana aku pernah melihat mobil ini, pintu mobil depan bagian pengemudi terbuka. Seorang gadis, ikut keluar dari mobil.   Aku mengenalnya... Dia cewek yang mengambil KTP dan SIM ku. Aku membuka helm! Yang awalnya, aku ingin meminta maaf kepadanya karena sudah memarkir motor di tengah jalan. Ia melangkah mendekatiku, pandangannya tak lepas juga dariku. Menatap tajam sambil melipat kedua tangannya di d**a. Selanjutnya, ia sekilas berpaling pandangan ke Adit, lalu kembali memandangku. Pandangannya berubah, menjadi pandangan meremehkan kepada kami. Sampai disini, sejujurnya aku hanya bisa bersikap biasa saja. Aku gak takut, dan juga gak mencoba untuk mencari masalah. Yang aku hanya butuhkan, adalah keselamatan kedua sahabatku saja. Gadis itu makin melangkah mendekatiku. Aku lalu bertatapan dengannya... Saat dia telah berada di depan motorku. Ia menyeringai, “Ohhh, kamu kuliah disini juga? Baguslah...”   Aku mengernyit mendengar pertanyaannya. Dan sekilas, dari ekor mataku Adit menatapku dari samping. Ada apa ini? Apakah aku harus tetap bertahan untuk tidak melakukan apa-apa? Sambil mencoba mengalihkan pandanganku, gadis itu makin mendekatiku. “Eh!” Adit terkejut, saat gadis itu menjambak rambutku. Aku pun telah menatapnya, tapi dalam hati berkata kalo hanya seperti ini, aku masih bisa bertahan untuk tidak bertindak. Aku hanya tetap diam, dan ternyata gadis itu memiringkan kepalaku.   “Selamat Datang di kampus ini, Para PECUNDANG!” Jambakannya, sedikit menyakitkan sih! Tapi, aku masih bisa bertahan. “KAGET KAN? HAHAHAHAHAHAH...” “Sepertinya, besok gue bakal ngampus terus nih. Hahahahaha,” Setelahnya gadis itu pun melepaskan jambakannya, dan berjalan meninggalkan kami menuju ke mobilnya. Aku dengan cepat memindahkan motorku, dan saat mobil gadis itu berlalu di samping kami. Kaca bagian kirinya terbuka. Aku dan Adit memandang ke arah yang sama. Salam jari tengah kami dapatkan dari gadis itu. Setelahnya kaca mobil itu tertutup kembali.   Aku dan Adit saling berpandangan... “Dia Lidya,” kata Adit “Adiknya si Oki... pimpinan 4 Devils.” “Ohh!” aku hanya menggerakkan kedua bahu. Kemudian memasang kembali helm.   Adit yang mendapatkan respon seperti itu dariku, hanya geleng-geleng kepala. Kemudian ia melanjutkan masuk ke dalam mobil. Maka selanjutnya, aku dan Adit segera berjalan untuk membawa kedua sahabatku ke RS.     Still Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD