Seorang gadis remaja menuruni anak tangga dengan selembar kertas ditangannya. Ia mengenakan hot pants hitam, merah muda dengan rambut sebahunya yang terbuat dari helai rambutnya yang berjuntai lebih panjang dari yang diperkirakan. Ia mengedarkan pandangannya menyapu ruang tengah tetapi apa yang dicarinya tidak ada. Ia menuju ruang kerja, membuka sedikit pintunya lalu menyembah tetapi tidak ada. Ia menutup kembali pintu kamar dibuka lalu berinisiatif menuju dapur untuk bertanya pada sang mamah.
Di dapur seorang wanita muda cantik tengah menyiapkan makan siang untuk rumah tangga. Ia menata nasi melalui lauk pauk di atas meja makan putri sulungnya menghampirinya lalu duduk dikursi meja makan. Tangannya terulur mencomot sepotong nugget yang tersedia dipiring.
“Kayra, cuci tangan dulu” ucap mamahnya menepuk punggung tangan putrinya
Gadisnya itu tetap melanjutkan gerakan setuju mencomot nugget “Terlanjur mah. Oh ya, ayah dimana sih mah? ”Tanyanya setelah menggigit nugget
“Kenapa cari ayah? kangen sama ayah? ”tiba - tiba terdengar suara berat khas pria yang menyahut
Kayra dan mamahnya langsung menoleh ke sumber suara, di dekat pintu dapur dilengkapi dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
“Pede banget” Ia membalikkan bola mata jengah yang membuat mamahnya tersenyum balik “Ini yah, aku udah mutusin mau kuliah dijurusan apa” jawabnya sambil menunjukkan formulir pendaftaran universitas
Tama — sang ayah menghampiri putrinya yang lalu mengambil formulir tersebut, mengatakan, membaca seluruh isi “Kamu mau jadi dokter Ra?”
"Iya. Emang kenapa? ”Jawabnya sekarang kembali lagi mencomot nugget yang lagi - lagi mendapat pukulan dari mamahnya melalui pelototan. Kayra hanya menyengir memamerkan giginya
“Kenapa gak jadi dosen aja sih kayak ayah? Udah lah jadi dosen aja ”Tama menarik kursi meja makan lalu mendaratkannya di sana
Kayra menggigit nuggetnya lagi “Ih gak mau. Aku mau jadi dosen masa depan. Gak bervariasi banget, gak mau ah ”
“Yaudah Mas biarin aja Kayra milih sendiri masa depan. Yang dipilih juga bagus kan — dokter. Kalo diaktifkan juga, gak bagus ”sahut Camira
Merasa mendapat pembelaan dari mamahnya Kayra tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya ke Arah mamahnya.
"Yaudah ayah ikut kamu tapi kuliahnya dikampus ayah minta ayah sekalian bisa ngontrol kamu"
Kayra membelalakan matanya “Ya ampun yah, masa harus disana sih. Di rumah dikontrol, dikampus juga ... aku kan bukan anak kecil lagi yah” Ia merajuk ayahnya
“Bagi ayah kamu itu tetep putri kecil ayah” jawab santai Tama sambil menaik turunkan alisnya
Kayra mencebikkan bibirnya kesal “Aku kan mau satu kampus sama Denna yah”
“Mau jadi dokter tapi di kampus ayah atau jadi dosen tapi bareng Denna ?” Tama menatap mata indah putrinya
Gadis itu menundukkan kepalanya pasrah mamahnya dan ayahnya yang melihat itu tersenyum simpul.
“Yaudah dikampus ayah sesuai sama permintaan ayah” ucapnya dengan mulut yang dimanyunkan sambil bangkit dari duduknya kemudian berjalan meninggalkan meja makan dengan langkah kaki yang dihentak – hentakan.
Tama terkekeh melihat tingkah lucu putrinya. “Ngambek tuh Mas anak kamu” ucap Camira menyenggol lengan suaminya
“Biarin aja Mah, paling cuma sejam ngambeknya” Ia tersenyum