Chapter 1 | Princess Ngambek

5564 Words
Suara berisik dari jam weker di kamarnya berhasil mengusik tidur tampan dari seorang pria yang masih saja bergelung di balik selimutnya. Tangannya meraba nakas sisi ranjang untuk mematikan alarm yang berasal dari ponselnya. Setelah berhasil dimatikan, matanya menyipit untuk melihat jam di layar ponsel. Mata yang tadinya belum terbuka sempurna langsung terbuka lebar begitu melihat angka jam di layar ponselnya. Pukul 6:40, Ia ada kelas setengah delapan nanti. Buru-buru Reyhan mengubah posisinya menjadi duduk berniat untuk menuju kamar mandi. Namun sungguh disayangkan kakinya harus menginjak ujung selimutnya sendiri yang membuat kakinya licin hingga akhirnya, Gubrakk!!! Ia terjatuh dengan posisi terduduk. “s**t!” Reyhan mengerang kesakitan sambil memegangi pantatnya yang sakit. Ia masih merapatkan matanya sambil mengelus pantatnya yang benar-benar terasa sakit. Ketika Ia membuka matanya dan melihat selimut yang membuatnya terjatuh tadi, Ia langsung menariknya kencang dan melemparkannya jauh. Tidak peduli dengan omelan bundanya nanti. Reyhan berusaha bangkit sambil memegangi pantatnya kemudian berlalu menuju kamar mandi. Hanya lima belas menit Ia sudah selesai mandi, Ia keluar kamar mandi dengan langkah lebar dan menuju lemari. Ia langsung mengambil bajunya secara asal dan dikenakannya. Setelah selesai Ia beralih ke meja belajarnya memasukkan beberapa buku ke dalam tas beserta dompet dan juga ponsel. Setelahnya Ia berjalan ke arah pintu kamar tanpa peduli dengan rambutnya yang belum disisir. Tetapi baru sampai di ambang pintu kamar Ia teringat akan sesuatu. Tugas. Tugas yang semalam Ia kerjakan dan membuatnya begadang sampai akhirnya terlambat bangun pagi ini walaupun sebenarnya tidak begadang pun Ia memang akan tetap bangun siang. Reyhan membalikkan badan dan menuju meja belajarnya, Ia menyingkirkan semua buku-buku yang ada mencari tugasnya yang Ia yakini sudah Ia print semalam. Semua buku kuliahnya sudah berantakan di atas meja belajar karena ulahnya tetapi yang dicarinya belum juga ketemu. Ia mengusap wajahnya kasar sambil mendesah kesal. “s**t!” umpatnya lagi, lalu melirik jam di pergelangan tangannya, pukul tujuh tepat. Hanya tersisa tiga puluh menit lagi untuk sampai kampusnya, belum lagi Ia harus bermacet-macetan di jalan nanti, mau sampai kampus jam berapa kalau begini caranya. Tanpa banyak pikir lagi Ia langsung menghidupkan laptopnya dan me-print ulang tugasnya dengan sesekali terus menerus melirik ke jam tangannya. Sebuah deringan ponsel mengalihkan pandangan matanya dari laptop di depannya, Ia meraba saku jeansnya lalu kantung kemejanya tetapi tidak ada. Dimana ponselnya ? Ia meraba tas dan merasakan getaran ponselnya, buru-buru Ia membuka kembali tasnya dan tanpa sengaja matanya melihat beberapa lembaran kertas yang sudah dijilid rapih terselip di dalam buku. Reyhan menghela nafas sambil menundukkan kepalanya frustasi. Ternyata tugasnya yang sedari tadi Ia cari sudah ada di dalam tasnya, Ia lupa kalau tadi malam Ia sudah memasukkannya ke dalam tas. Astaga. Tanpa mematikan laptopnya lagi Ia langsung beranjak dari duduknya dan keluar kamar dengan langkah tergesa-gesa. Pria yang sudah tampan dengan blue jeans, kaos oblong putih yang dibalut dengan kemeja kotak–kotak tanpa dikancing berjalan dengan cepat menuju pintu utama rumahnya dengan tas ranselnya yang hanya diselempangkan ke salah satu bahunya. Ia berjalan dengan cepat sambil sesekali melirik jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangannya. Dari arah tangga lantai dua seorang gadis berseragam SMA dengan rambut yang dikuncir kuda berlari kecil mengejar abangnya sambil berteriak memanggil–manggilnya. “Abang, Aya ikutt. Aya nebeng dong” teriaknya berusaha mengejar abangnya namun sayang langkah abangnya terlalu besar “Kamu minta diantar Pak Bim aja, kalo gak bareng ayah atau gak minta dianter sama abang Key. Abang udah telat Ya” ucapnya sambil membuka pintu kemudi lalu melemparkan tasnya ke kursi penumpang di sebelahnya “Pak Bim kan lagi sakit, ayah berangkat siang, abang Key belum bangun ... pokoknya aku mau nebeng sama abang” kekeh gadis remaja itu sudah mulai menuruni beberapa undakan di teras rumahnya “Naik ojek online aja deh ya” mungkin jika bundanya mendengar Ia pasti akan mendapat omelan sekaligus pukulan dari bundanya karena telah meminta adik cantiknya berangkat sekolah dengan ojek online. Bundanya tidak pernah mengizinkan sedikit pun putri cantiknya naik ojek online, takut diculik katanya. Aya menghentakkan kakinya kesal dengan wajah cemberut. “Abang udah telat ini dek. Sekolah kamu sama kampus abang kan beda arah” “Bundaaa” teriak Aya Reyhan mencebikkan bibirnya sebal kemudian mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Kalau Aya sudah memanggil bundanya pasti urusan akan menjadi panjang. Karena Ia yakin bukan hanya bundanya saja yang akan keluar rumah menghampiri mereka tetapi pasti ayahnya juga akan ikut di belakangnya. Secara ayah dan bundanya itu sudah seperti perangko selalu menempel dimanapun. Dan juga adik semata wayangnya ini memang hobi sekali mengadu pada bundanya tiap kali dijahili atau pun keinginannya tidak dituruti oleh kedua abangnya. Tak lama berselang keluar seorang wanita muda cantik dengan hijab birunya datang bersama dengan pria yang seumuran bundanya. Ayahnya. Benarkan apa yang dikatakan Reyhan kalau bukan hanya bundanya yang datang tetapi lengkap dengan ayahnya. Bakalan panjang banget ini urusan, batin Reyhan mengusap wajahnya kasar “Kenapa sayang ?” Kazna memegang bahu putrinya dari belakang “Aya berangkat sekolah sama siapa bun ? abang Rey gak mau anterin aku” ucapnya dengan mulut yang dimanyunkan Kazna dan Rean langsung menatap putranya yang langsung keluar dari mobil sambil mendesah kesal “Bun, Reyhan udah telat. Aku ada kelas setengah jam lagi kalo aku anter Aya dulu, aku sampe kampus jam berapa coba. Arah kampus ku dan sekolah Aya berlawanan” jelasnya “Yaudah Aya biar ayah yang anter, kamu berangkat aja Rey” ucap ayahnya Reyhan tersenyum lebar “Thanks dad!” serunya lalu kembali masuk ke dalam mobil “Aku berangkat. Assalamualaikum” Ia mengeluarkan satu tangannya ke jendela mobil sambil dilambaikan Kazna, Rean dan Aya masih berdiri di teras depan rumahnya sampai mobil hitam Reyhan pergi meninggalkan pekarangan rumah. Rean beranjak berniat untuk mengambil kunci mobil ketika Keyhan berjalan keluar dengan langkah terburu–buru sambil men-resleting tas ranselnya. Ia sudah rapih dengan jeans hitam dan kaos abu–abu berlengan sesiku. “Kamu mau kemana Key ? bukannya kamu kuliah siang hari ini ?” tanya Ayahnya mengernyitkan dahi “Jam nya dipindahin yah. Setengah jam lagi kelasnya dimulai” jawabnya sambil melangkah lebar menuju mobilnya Astaga, kelakuan si kembar emang gak jauh beda. Flashback : on Tangan Keyhan meraba-raba kasurnya ketika deringan ponsel begitu mengganggu tidurnya pagi ini. Ia kuliah siang hari ini tidak ada salahnya bukan jika Ia juga bangun siang. Tanpa melihat siapa penelponnya, Ia langsung menggeser ikon berwarna hijau dan menempelkannya ke telinga. “Mmm ?” Ia hanya bergumam tidak jelas dengan ponsel yang menempel di telinga dan posisi tidurnya yang telungkup “Eh gila!! Kelas pertama dimajuin jadi setengah jam lagi” Mata Keyhan langsung terbuka sempurna, Ia mengubah posisinya menjadi duduk lalu menjauhkan ponselnya untuk melihat siapa si penelpon. Bima. “Lo serius Bim ??” tanyanya begitu sudah kembali menempelkan ponselnya ke telinga “Caelah masih aja gak percaya, udah buruan berangkat. Lo lupa mata kuliah pertama hari ini kelasnya Pak Tama” Mata Keyhan makin melebar ketika mendengar nama dosen tersebut “Shitt!!” Ia langsung mematikan sambungan teleponnya dan melompat turun dari ranjang menuju kamar mandi Flashback : off “Kamu udah sarapan ?” tanya Kazna ketika Keyhan membuka pintu mobilnya “Abang, Aya ikut!” Aya sudah berniat mendekat ke arah mobil abangnya ketika dengan cepat Keyhan membalikkan badannya “No, Aya! Abang udah telat. I’m sorry girl, love you” Ia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum “Nanti aja lah bun di kampus, gak akan keburu. Udah ya aku berangkat, Assalamualaikum” lanjutnya lalu sambil masuk ke dalam mobil Semua yang ada disana menjawab salam Keyhan sambil menatap dirinya yang sudah melajukan mobilnya keluar garasi. Kazna menggeleng–gelengkan kepalanya melihat sikap si kembar yang memang tak jauh beda. Setiap kali ada kuliah pagi pasti selalu begitu, selalu terburu–buru dan tidak pernah sarapan lagi. “Kelakuan anak kamu tuh Mas” Kazna menatap suaminya Rean menolehkan kepalanya menatap istrinya “Anak kita” koreksinya sambil tersenyum, istrinya mencebikkan bibirnya namun akhirnya tersenyum juga “Trus aku kapan berangkat sekolahnya ?” seru Aya kesal, wajahnya sudah sangat cemberut karena kesal dengan sikap kedua abangnya “Oh-iya iya sayang. Ayah lupa, tunggu ayah ambil kunci mobil dulu princess” Ia langsung masuk ke dalam rumah mengambil kunci mobilnya Kazna tersenyum sambil mengelus rambut putrinya lalu mengecup pucuk kepala putri semata wayangnya. “Gak boleh cemberut gitu ah, masa mau sekolah cemberut” Bertahun-tahun telah terlewati dengan sangat cepat, tak terasa saat ini si kembar sudah duduk di bangku kuliah. Sementara si kecil Aya duduk di kursi SMA. Sang Ayah masih setia memimpin perusahaannya yang semakin maju dari tahun ke tahunnya. Semua bisnisnya masih berjalan mulus sampai sekarang bahkan saat ini Ia sudah dibantu oleh istri dan dua putranya untuk mengurus bisnis–bisnisnya itu. Walaupun kembar tak selamanya mereka tetap sama buktinya saat ini mereka berkuliah di kampus yang berbeda dengan jurusan yang berbeda pula. Reyhan memilih jurusan kedokteran karena Ia tidak terlalu menyukai kerja kantoran yang nantinya akan menyita banyak waktu dan harus berkutat dengan berkas–berkas setiap harinya. Walaupun sebenarnya dokter juga tidak terlalu berbeda dengan itu. Sementara Keyhan Ia memilih jurusan bisnis sama seperti ayahnya, berkebalikan dengan Reyhan karena Ia tidak terlalu suka dengan sesuatu hal yang berbau darah apalagi yang namanya operasi. Melihat perbedaan anak kembarnya dalam memilih jurusan kuliahnya, Rean dan Kazna pun menyetujuinya karena Ia memang membebaskan si kembar untuk memilih jurusan kuliahnya sendiri. [Di kampus Keyhan] Ia memarkirkan mobilnya di parkiran kampus lalu langsung keluar mobil dengan langkah lebarnya. Ia menggendong tas ranselnya disebelah bahu sambil terus berjalan menuju lift. Ia memencet tombol anak panah ke atas disisi lift kemudian menunggu lift datang dengan sangat tidak sabaran memencet tombol anak panah ke atas, beruntung tombol tersebut tidak jebol karena sedari tadi terus dipencet-pencet oleh Keyhan. Ia terus menerus menengok jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah telat lima menit. Tiba–tiba terlihat seorang gadis yang kala itu mengenakan jeans hitam dengan blouse berwarna putih berdiri di sebelahnya dengan beberapa buku yang dipeluknya. Menyadari ada seseorang di sampingnya, Ia langsung menoleh sekilas lalu mengembalikkan kepalanya lagi menatap ke depan begitu tahu siapa yang ada di sebelahnya. Kayra. Putri dari anak teman ayahnya yang ternyata satu kampus dengannya. Awalnya mereka tidak saling kenal namun setelah berkenalan dan saling menyebutkan namanya barulah mereka saling ingat satu sama lain karena sewaktu kecil dulu mereka pernah beberapa kali bermain bersama. “Pasti telat lagi” sahut gadis itu dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai Keyhan menoleh “Ayah lo udah dateng Ra?” bukannya menjawab Keyhan malah melontarkan pertanyaan Kayra tampak pura–pura berpikir “Udah dari setengah jam yang lalu” Ia tersenyum “Aduh mati deh gue. Blacklist ini mah” ucap Keyhan menepuk dahinya Dalam hati Kayra tertawa puas melihat seniornya itu bersamaan dengan terdengar bunyi dentingan kecil dan pintu lift terbuka. Mereka berdua langsung melangkah masuk ke dalam. Kayra memencet tombol enam sementara Keyhan memencet tombol lima. Keyhan benar–benar merasa cemas pasalnya pagi ini Ia ada mata kuliah dengan Pak Tama—ayahnya Kayra. Dosen yang dari dulu terkenal ketegasannya dan kearoganannya yang masih berlanjut sampai sekarang. Dipertemuan terakhir minggu lalu, Keyhan tidak diperbolehkan masuk ke kelas karena telat lebih dari lima belas menit dan sekarang ... entahlah Ia masih diperbolehkan masuk atau tidak. Dan kalau sampai kali ini Ia telat lagi maka Ia akan diblacklist dari kelasnya Pak Tama karena Keyhan sudah lebih dari tiga kali datang terlambat. Walaupun Tama mengenal Keyhan sebagai anak temannya. Ia tidak pernah memperlakukan spesial dirinya, baginya semua mahasiswa sama dan peraturan tetaplah peraturan yang harus dipatuhi oleh semua mahasiswanya tanpa terkecuali. “Udah sarapan Key?” tanya Kayra basa-basi saat melihat kegelisahan seniornya, sebenarnya Ia bermaksud ingin meledek Keyhan Pria tampan itu menoleh sekilas “Belom” Kayra mengangguk-nganggukkan kepalanya “Mendingan sarapan dulu tar sakit perut loh belom sarapan. Udah gih sana sarapan dulu” Tak ada jawaban dari Keyhan, Ia terlalu cemas dan khawatir memikirkan nasibnya kali ini. “Key. Keyhan, ish diajak ngomong diem aja” ucap Kayra kesal, Ia memiringkan sedikit wajahnya melihat wajah Keyhan “Diem kenapa sih lo Ra. Hidup dan mati gue lagi dipertaruhkan ini” Ia mendorong wajah Kayra dengan telapak tangannya Melihat kegelisahan Keyhan membuat Kayra ingin sekali tertawa terbahak-bahak tetapi Ia hanya bisa menahan tawanya agar tidak keluar. Terdengar suara dentingan kecil lagi, pintu lift terbuka di lantai lima. Keyhan melangkah keluar dengan perasaan yang campur aduk. Gelisah bercampur takut. “Semoga berhasil sunbae*!” teriak Kayra lalu tertawa puas Keyhan tidak menanggapi ucapan gadis yang sudah dianggap seperti adiknya itu. Ia terus berjalan menuju kelasnya yang tinggal beberapa langkah lagi. Begitu sudah di depan pintu, Ia mengintip terlebih dulu melalui kaca yang ada di pintu tapi sayangnya kaca tersebut buram jadi Ia tidak bisa melihat dengan jelas. Ia menghembuskan nafas sebelum akhirnya memegang handle pintu dan membukanya. Ia siap, Ia siap jika harus diusir keluar dan diblacklist dari daftar nama mahasiswanya dan itu artinya Ia harus mengulang kelasnya di semester depan. Keyhan melongo ketika tidak mendapati Pak Tama di ruangan kelas, di kursi dosen hanya terlihat temannya yang sedang berlagak layaknya seorang dosen dan teman–temannya yang lain nampak sibuk dengan kegiatannya masing–masing bahkan ada yang melanjutkan kembali tidurnya. “Bim ... dosennya kemana?” tanyanya pada Bima yang duduk di barisan belakang “Gak masuk, keluar kota” jawabnya santai sambil mengutak-ngatik ponselnya Ia langsung membulatkan matanya, langkah kakinya lebar menuju ke arah Bima “Trus tadi lo ngapain nelpon gue bilang kalo kelasnya dimajuin?!” Bima tertawa terbahak-bahak padahal Keyhan sendiri sudah sangat kesal padanya. Ia bahkan tidak sarapan pagi ini dan di jalanan tadi Ia sudah seperti pembalap mobil yang sedang berlomba di arena, untung saja Ia masih selamat sampai di kampusnya. “Sorry Key, gue cuma iseng doang. Tapi emang bener kelasnya Bu Gita dimajuin” Ia melirik jam tangannya “Tapi masih sejam lagi” Ia mengenyir “Sinting lo dasar!” Ia mengeplak kepala Bima yang masih tertawa melihatnya Ia langsung membalikkan badannya lagi keluar kelas karena kelas selanjutnya juga baru dimulai satu jam lagi. Langkah kakinya membawanya ke kantin kampus untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. *** [Di kampus Reyhan] Suara dosen masih mendominasi ruangan yang ukurannya cukup besar ini. Dosen berbaju batik tersebut berdiri di depan kelas sambil menjelaskan slide per slide yang ditayangkan dalam power pointnya. Semua mata mahasiswa mengarah padanya tetapi tidak pada satu mahasiswi cantik yang duduk di barisan belakang. Namanya Stella, salah satu mahasiswi tercantik di fakultasnya. Fakultas ya bukan kampus. Sedari tadi Ia sibuk mencuri-curi pandang ke arah seorang mahasiswa tampan yang duduk berjarak beberapa kursi dengannya. Mahasiswa tampan itu pun tidak menyadari kalau sejak tadi Ia sedang menjadi pusat perhatian. Ia sibuk memutar pulpen di tangan kanan dan tangan kirinya menopang dagu dengan pandangan mata mengarah ke depan. Entah Ia mengerti atau tidak yang dijelaskan sang dosen yang terpenting duduk tenang saja dulu dan melihat ke depan, urusan mengerti itu urusan belakangan. Itulah salah satu prinsip yang dipegang Reyhan. Riyo. Teman yang duduk di sebelahnya menyenggol lengannya membuat Ia mendecakkan lidahnya lalu menoleh dengan alis yang terangkat. “Si Stella daritadi ngeliatin lo terus. Naksir lo kayaknya” ucapnya pelan Reyhan sedikit memajukan tubuhnya untuk melihat Stella yang memang sangat kebetulan sedang menatap ke arahnya dan ketika tertangkap basah oleh Reyhan Ia langsung gelagapan dan pura-pura melihat ke depan. Jelas sekali terlihat kalau Ia salah tingkah. “Udah biasa, gue tau gue ganteng dan udah pasti banyak yang naksir” Ia membetulkan sedikit kerah kemeja dengan gaya sombongnya “Njirr. Sombong banget lo Rey” ucap Riyo yang membuat Reyhan tertawa kecil. “Lo gak tergoda sama si Stella, primadona di fakultas kedokteran bro. Body-nya lo liat ... kayak gitar Spanyol” Ia membentuk gerakan meliuk menggambarkan body Stella dengan kedua tangannya Reyhan menyandarkan tubuhnya ke tembok karena Ia memang duduk di barisan belakang. Ia melirik ke arah Riyo yang masih tampak gencar mendeskripsikan Stella “Kantin yok, gak capek apa lo daritadi ngoceh mulu” Ia bangkit berdiri lalu memasukkan bukunya ke dalam tas Riyo melihat ke sekeliling ternyata dosen sudah keluar dari kelasnya dan beberapa mahasiswa juga sudah keluar kelas. Reyhan melangkah keluar kelas sambil mengecek ponselnya ketika Riyo memanggil-manggil namanya dari dalam kelas. “Rey” tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya Ia menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya, mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap gadis yang sejak tadi dibicarakan oleh sahabatnya tadi sudah berdiri di depannya sambil menebar senyum “Kenapa Stel ?” tanyanya langsung tanpa senyum sedikit pun membuat Stella sedikit malu. Padahal Ia sudah menebar senyum tetapi pria ini malah tidak membalas senyumnya sama sekali. “Reyhan!” Belum sempat Stella mengutarakan maksudnya sudah ada sebuah suara yang memanggil Reyhan lagi. Pria itu menolehkan kepalanya dan langsung tersenyum pada si pemanggil tadi “Woy Ran, bentar ya” Ia mengangkat tangannya “Kantin ya” teriak si pemanggil tadi “Oke” Ia mengacungkan jari jempolnya sambil tersenyum kemudian menoleh pada Stella lagi “Ada apaan tadi lo manggil gue ?” “Eungg ... engga, cuma mau nanya tadi lo nyatet materi barusan? Gue gak nyatet soalnya” “Gue jarang nyatet materi biasanya gue langsung minta soft copy filenya tapi tadi gue belum sempet minta ... minta sama Ulfy aja tadi gue liat dia ngcopy dari dosen. Udah ya gue duluan, udah ditungguin” Ia pun langsung pergi begitu saja meninggalkan Stella yang masih berdiri di tempatnya. Sebenarnya bukan itu yang ingin disampaikannya, sebenarnya Ia ingin mengajak Reyhan makan siang bareng tetapi melihat ada seseorang yang sepertinya sudah mengajaknya makan bersama Ia pun langsung mengurungkan niatnya. Riyo baru keluar dari dalam kelasnya entah apa yang dilakukannya sejak tadi sampai selama itu. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat Stella yang berdiri di depan kelas dengan pandangan lurus ke depan, Ia pun mengikuti arah pandangnya. Terlihat Reyhan yang berjalan cepat sambil melirik jam tangannya. “Kenapa lo Stel ? loh si Reyhan kemana kok gue ditinggalin” “Au ah” gadis itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Riyo yang semakin bingung melihatnya Di kantin, Reyhan langsung mencari sosok gadis yang tadi memanggilnya dan sudah menunggunya di kantin. Ia tersenyum ketika melihat sosok tersebut sudah duduk di salah satu kursi kantin sambil mengutak-ngatik ponselnya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju meja gadis tersebut. “Ada apaan Ran ? tumben lo nelepon gue semalem” Ia mendaratkan bokongnya di kursi depan Rania lalu meletakkan tasnya di kursi sampingnya yang kosong Rania—si gadis itu mendongakkan wajahnya lalu tersenyum sambil meletakkan ponselnya di atas meja. “Gak, cuma mau nawarin lo aja” “Nawarin apaan ? nawarin barang, jadi sales lo sekarang ?” Ia tertawa “Bukan itu Rey, gue mau nawarin lo jadi panitia acara reuni SMA. Anak-anak pada mau ngadain reuni tapi gak ada yang mau jadi ketua panitia, mereka nyaranin lo yang jadi ketua panitia ...” Bersamaan dengan itu Mang Ncup datang mengantarkan es kelapa pesanan Rania, Reyhan mendongakkan kepalanya “Mang satu lagi ya es-nya” ucapnya yang dibalas anggukan kepala oleh Mang Ncup kemudian Ia kembali menatap gadis di depannya “Gak mau lah gue, ribet jadi ketua panitia acara begitu. Gue mau terima jadi aja ... kenapa gak lo aja Ran, lo kan pernah jadi ketua osis waktu SMA dulu” Rania mengaduk-ngaduk es kelapanya dengan sedotan “Males gue, tugas lagi numpuk. Gak ada waktu ngurusin begituan” Ia menyeruput es kelapanya “Lo kuliah jurusan apa sih Ran ? gue sering ketemu lo di kampus tapi gue gak tau lo jurusan apa ?” Gadis itu tersenyum sambil menyeruput es kelapanya “Arsitek Rey” jawabnya setelah selesai menyeruput “Wuihh keren dong” “Biasa aja, lebay lo” Ia tertawa yang ikut menular pada Reyhan. Tak lama berselang Mang Ncup kembali membawakan pesanan untuknya dan mereka kembali terlarut dalam obrolan panjang sampai tidak menyadari kalau sejak tadi ada sepasang mata yang menatap tidak suka ke arah mereka. *** Kayra baru saja selesai mengikuti kelasnya hari ini. Ia berjalan ke arah kantin untuk menyusul temannya yang sudah menunggunya sejak tadi. Sesampainya di kantin, matanya mencari–cari sosok perempuan bernama Gina—temannya. Ia masih terus mengedarkan pandangannya sambil sesekali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Temannya belum ditemukan tetapi sudah ada sebuah suara yang memanggil namanya. Ia menoleh, matanya membulat begitu mengetahui siapa yang memanggilnya. Seorang pria yang pagi tadi ditemuinya dan sukses dikerjai olehnya. Astaga, Keyhan. Perasaan gue mulai gak enak. Ia langsung membalikkan kepalanya lagi sambil menggigit bibir bawahnya kemudian perlahan–lahan Ia mulai melangkah meninggalkan kantin dengan satu tangannya yang digunakan untuk menutupi wajahnya dari samping. “Eitss. Mau kemana adikku yang cantik” tiba–tiba ada sebuah tangan yang menarik lengannya Kayra memejamkan matanya masih terus menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya membalikkan badannya menghadap pria yang dikenal sebagai anak dari teman ayahnya itu. “Eeh-Keyhan” Ia menyengir “Kok gak masuk kelas?” tanyanya tanpa rasa berdosa Keyhan tersenyum lalu merangkul bahu Kayra namun langsung disingkirkan tangannya itu dari bahunya oleh Kayra tetapi sayangnya Keyhan malah mengulanginya lagi membuat Kayra pasrah “Pak Tama gak masuk, lagi keluar kota. Lo gak tau ayah lo keluar kota?” Gadis itu menepuk dahinya akting “Oh my God! Gue baru inget ayah emang ada tugas di luar kota. Lupa gue, ini pasti karena efek kebanyakan tugas gue jadi pikun begini ckckck” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya “Akting lo gak bagus!” ucap Keyhan lalu mengajak Kayra untuk duduk di bangku kantin Kayra berusaha menahan tubuhnya karena tidak mau duduk tetapi Keyhan malah kembali berdiri lalu memegang kedua bahunya dan menekan agar dirinya duduk. Akhirnya Kayra hanya bisa pasrah, Ia duduk di bangku panjang kantin depan Keyhan, Ia meletakkan bukunya di meja dengan sedikit dibanting hingga menimbulkan suara yang cukup kencang. Wajahnya sudah cemberut dengan bibir yang dimanyunkan. Maksud hati ingin makan bersama dengan Gina tetapi nyatanya Ia harus makan dengan pria yang selalu hobi meledeknya. Keyhan terus melanjutkan kegiatan makannya yang sedang menikmati ketoprak. Ia menahan senyumnya ketika melihat Kayra dengan wajah cemberutnya bahkan sejak tadi gadis itu terus memalingkan wajahnya dengan dagu yang ditopang. “Lo mau ngapain sih minta gue duduk disini ?! Lo mau manfaatin gue supaya gak dibilang jones banget gitu ?” Pria itu yang sedang meneguk minumannya hampir saja tersedak mendengar ucapan Kayra. Ia meletakkan kembali gelasnya, menelan minumannya sebelum akhirnya tertawa membuat Kayra menatapnya dengan tatapan aneh. “Kayra” terdengar suara seseorang lagi yang memanggil namanya. Sontak Kayra dan Keyhan menoleh bersamaan. Kayra menghela nafas frustasi melihat siapa seseorang yang tengah berjalan menghampirinya. Kenapa si bulet itu lagi sih, batinnya “Berduaan aja, kayak lagi pacaran” ucap Dito—pria berbadan gembul yang naksir berat dengan Kayra. Sifat jahil Keyhan langsung muncul ketika mendengar ucapan Dito, Ia tersenyum tipis sebelum akhirnya menanggapi ucapan Dito “Kita emang lagi pacaran To, emangnya belum tahu kalau kita udah jadian ?” Kayra yang mendengar itu langsung menatap Keyhan. Apa pendengarannya salah ? Ia tidak salah dengar kan ? Apa yang dikatakan Keyhan barusan, jadian ? Oh astaga, apa lagi yang diperbuat pria ini. Kaki Kayra langsung menendang betis Keyhan di bawah meja, sontak Keyhan mengaduh kesakitan lalu menatap Kayra dengan tatapan biasa–biasa saja malah Ia melemparkan senyum manis yang bisa membuat wanita manapun tergoda melihatnya. Kayra terus mendelik ke arah Keyhan yang masih tersenyum menggodanya. “K-kamu beneran jadian Ra sama kak Key ?” Dito memastikan hubungan mereka. Ada segelintir rasa sakit di hatinya begitu mendengar mereka berdua telah jadian. Selama ini Dito memang mengetahui kedekatan mereka tetapi tidak pernah tahu kalau mereka telah jadian. Jadian bohongan maksudnya. Yang ditanya masih diam bergeming, Ia bingung harus menjawab apa. “Iya kita baru jadian To. Kayra emang masih malu-malu ngakuinnnya malah kadang suka malu-maluin” Ia terkekeh sambil menatap Kayra yang langsung mendelik ke arahnya “baru tiga hari juga kita jadiannya, ya kan yank ?” lanjut Keyhan lagi, menjawab pertanyaan tersebut lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Kayra Kayra mengerjapkan matanya lucu ketika Keyhan memanggilnya dengan sebutan yank belum lagi dengan kedipan matanya itu. Ya Tuhan, apa yang salah dengan pria ini ? Otaknya benar-benar sudah tergeser dari tempatnya. Gadis itu menghembuskan nafasnya sambil memalingkan wajahnya. Ia benar–benar tidak percaya dengan Keyhan, jalan pikirnya tidak bisa ditebak sekalipun. “Oh gitu~yaudah gue duluan ya Ra, kak. Sorry ganggu” kata Dito lesu lalu pergi meninggalkan mereka Setelah merasa Dito sudah jauh meninggalkan kantin tawa Keyhan langsung menggelegar begitu saja membuat beberapa mahasiswa yang ada di sana menoleh penasaran padanya. Kayra yang sudah merasa sangat geram sekaligus gregetan dengan sikapnya langsung melempari kerupuk yang masih tersisa di piring ketoprak tadi ke arah Keyhan. “Lo tuh bener-bener gila tau gak sih Keyhaaannn! Lo kenapa bilang begitu sih ?! Ya ampun” Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya frustasi Keyhan menghentikan tawanya lalu menyeruput minumannya “Dito patah hati Ra. Eh-gue kasih tau ya, seharusnya lo itu berterima kasih sama gue, lo pikir gue gak tau ... selama ini lo ngerasa terganggu kan sama kehadiran si gembul yang kadang selalu muncul di depan lo kayak jelangkung gitu. Ya makanya gue bikin skenario ini, seolah–olah kita pacaran. Kurang baik apa coba gue, pagi tadi lo bohongin gue tapi sekarang gue bantuin lo ... baik banget sih gue astagaa” Ia tersenyum memuji dirinya sendiri Kayra mencebikkan bibirnya lalu menundukkan kepalanya di atas kedua tangannya yang dilipat di atas meja “Ya tapi dari sekian banyak cara kenapa harus pake cara ini Keyhan ? Harus pura–pura pacaran ? sama lo ? Oh my God, mimpi apa gue semalem” ucapnya masih dengan kepala yang ditundukkan Keyhan terkekeh geli melihat betapa frustasinya Kayra “Seharusnya lo seneng punya pacar seganteng gue, ya walaupun pura–pura. Lo tau kan gue ini cogan terkenal di kampus” BUGHH! Kayra menendang tulang kering Keyhan kencang yang langsung sukses membuat pria itu meringis kesakitan sambil mengelus tulang keringnya. “Sumpah! Tendangan lo sakit banget Ra” “Rasain! Makanya kalo mau apa–apa kompromi dulu” Ia menatap tajam Keyhan sambil bangkit dari duduknya kemudian berjalan meninggalkan Keyhan dengan cepat Keyhan tersenyum melihat tingkah Kayra “So, selamat datang dipermainan baru kita darling” serunya yang membuat beberapa orang menoleh lagi ke arahnya Gadis yang sudah hampir keluar kantin membalikkan badannya lalu menunjukkan kepalan tangan kanannya pada Keyhan dengan tatapan mata tajamnya membuat tawa Keyhan makin kencang. *** Sepulang kuliah hari ini Reyhan diberikan tugas oleh bundanya untuk menjemput adik cantiknya di tempat bimbel karena Pak Bim—sopir rumahnya sedang sakit dan ini juga sebagai balasan karena tadi pagi Reyhan tidak mengajak serta adiknya. Ia sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah tempat bimbel adiknya, Ia keluar mobil lalu berdiri bersandar di samping pintu dengan tangan yang terlipat di d**a. Ia memperhatikan satu per satu anak sekolahan yang keluar dari tempat bimbel tersebut. Segerombol anak perempuan berseragam putih abu-abu tak berkedip ketika melihat Reyhan di parkiran tempat bimbelnya malahan mereka tampak saling berbisik kemudian tertawa bersama dengan tatapan mata yang terus menatap ke arah Reyhan. Sikap jailnya pun mulai menjalari dirinya, Ia pun tersenyum pada segerombolan anak SMA itu lalu mengedipkan sebelah matanya membuat anak-anak sekolah itu makin tidak bisa diam dan tersipu malu. ck si abang Rey tebar pesona mulu. Bukan suatu hal yang langka bagi Reyhan melihat pemandangan seperti itu malahan Ia sudah terlalu sering melihat pemandangan seperti ini. Ia tahu Ia tampan dan banyak gadis yang terpesona padanya jadi Ia memaklumi itu semua, biarkan saja orang lain terpesona dengan ketampanannya toh itu juga tidak merugikan dirinya malah membuat Ia bangga terhadap dirinya sendiri. Mata Reyhan menyipit ketika melihat sepasang anak sekolah berseragam SMA baru saja keluar dari tempat bimbel. Seorang anak laki-laki yang dengan santainya merangkul bahu si anak perempuan dan mereka terlihat mengobrol akrab lalu tertawa bersama. Reyhan langsung menegakkan tubuhnya untuk memastikan kalau apa yang dilihatnya saat ini adalah benar. Gadis yang sedang dirangkul anak lelaki itu adalah adiknya. Rahang Reyhan langsung mengeras, tangannya terkepal, dengan langkah lebar Ia langsung menghampiri adiknya. Ia melepaskan tangan anak laki-laki itu di bahu adiknya “Ngapain lo rangkul-rangkul adek gue ? adek gue masih kecil belom boleh pacaran” ucapnya sambil menatap tajam anak laki-laki itu yang Ia yakini teman sekolah Aya karena seragam mereka sama “Abang apaan sih ? kita gak pacaran bang” Aya memegang lengan abangnya Reyhan menatap sekilas ke arah adiknya kemudian langsung menarik pergelangan tangannya menuju mobil dan memintanya masuk meninggalkan si anak laki-laki tadi yang masih berdiri terpaku di tempatnya menatap kepergian mereka. Aya terus memalingkan wajahnya menatap keluar jendela dengan wajah yang sudah cemberut. Ia paling kesal jika sifat protektif dari kedua abangnya sudah muncul seperti ini. Reyhan yang sibuk menyetir menoleh sekilas ke arah adiknya kemudian berdehem. “Abang cuma gak suka kalo kamu itu pacaran dek, kalian masih sekolah—belum cukup umur” “Tapi kita gak pacaran bang. Dia itu temen sekolah aku namanya Rengga” “Tapi abang bisa nebak kalo temen kamu itu suka sama kamu, keliatan dari tatapan dia ke kamu. Abang ini cowok Ya jadi abang tau mana tatapan cowok yang lagi naksir seseorang dan mana yang engga” Ia menoleh sekilas ke arah Aya lalu kembali menatap jalan Aya mencebikkan bibirnya sebal “Tau ah, terserah abang” “Awas ya kalo kamu pacaran, abang laporin ke ayah dan bunda” Gadis cantik itu menolehkan kepalanya dengan alis yang bertautan “Sekalian aja laporin ke satpam komplek supaya semua orang tau kalo aku pacaran ... dibilang gak pacaran masih aja gak percaya” gerutunya sebal Melihat ekspresi wajah adiknya saat ini membuat Reyhan tertawa, Ia lucu melihat wajah Aya yang begitu menggemaskan ketika sedang cemberut ditambah lagi dengan bibirnya yang dikerucutkan lucu membuat tawanya makin menjadi. Ia mengacak-ngacak rambut adiknya namun tangannya langsung ditepis oleh Aya. Mereka sudah sampai di rumah, Aya masuk ke dalam rumahnya dengan langkah cepat dan menenteng tas sekolahnya membuat bundanya yang berada di ruang tengah mengernyitkan dahinya bingung. Tak lama berselang Reyhan muncul, berjalan santai sambil bersiul dan memainkan kunci mobilnya. “Sore bunda ku yang cantik” Ia mencium punggung tangan bundanya lalu mencium pipinya dan duduk di sebelah sang bunda “Kamu apain lagi adik kamu sampe cemberut gitu ?” Yang ditanya pun hanya mengedikkan bahunya acuh sambil menggonta-ganti channel TV di depannya. “Reyhan, kamu apain adik kamu ? kamu sama Keyhan kan sebelas dua belas, seneng banget bikin adiknya kesel” Kazna memukul lengan putranya yang langsung membuat Reyhan meringis kesakitan “Aku gak apa-apain bun cuma dinasehatin doang, Aya-nya aja yang baperan dinasehatin dikit malah ngambek” akhirnya dengan paksaan dari bundanya Ia pun menceritakan awal masalahnya hingga akhirnya Aya ngambek seperti ini Plak!! Lagi-lagi Kazna memukul lengan putranya yang membuat Reyhan mengaduh kesakitan “Pantes aja Aya ngambek, makanya kalo mau ngomel tanya dulu yang bener ... Rengga itu emang sahabat Aya dari SD dan mereka emang udah akrab banget” Ia mendecakkan lidahnya “Tapi si Rengga Renggo Rambo itu emang beneran suka sama Aya bun, aku bisa liat dari tatapan matanya. Kalo sampe nanti mereka tetep barengan aku yakin mereka pasti pacaran” “Pacaran pacaran, sok tau kamu. Jangan-jangan kamunya aja yang lagi kepengen pacaran tapi gak punya pacar” ucap bundanya lalu beranjak dari sofa menuju kamar putrinya “Ih bunda kok ...” Ia melongo melihat bundanya yang meninggalkannya sendiri “Suka bener kalo ngomong” lanjutnya lagi kemudian kembali menatap TV di depannya dan menyambar setoples kacang yang ada di meja “Assalamualaikum, abang Key yang tampan pulang!” seru Keyhan sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya Reyhan menjawab salamnya sambil menolehkan sedikit kepalanya melihat saudara kembarnya yang berjalan ke arahnya sambil melihat ke sekeliling. Keyhan meletakkan tasnya di sofa lalu menghempaskan tubuhnya di samping Reyhan dan merebut toples kacang “Sepi amat nih rumah, bunda kemana ?” Ia memasukkan kacang ke dalam mulutnya “Lagi ngerayu princess yang ngambek” Mendengar ucapan saudara kembarnya Keyhan menolehkan kepalanya “Aya ? Pasti sama lo kan ? Lo apain ? Kalo ayah tau princess-nya dibikin ngambek diomelin lo pasti” “Kayak lo gak pernah bikin ngambek Aya aja. Abis tadi gue sebel aja ada temen cowoknya yang namanya Rengga Renggo Rambo itu ngrangkul-ngrangkul Aya ... sok akrab” “Banyak amat temen cowoknya, tiga orang ?” Reyhan mencebikkan bibirnya sebal “Satu orang. Namanya Rengga. Rengga dan Rambo itu cuma tambahan dari gue” Keyhan mengangguk-ngangukkan kepalanya mengerti “Temen sekolahnya ? cari kesempatan banget tuh bocah” Lihat kan bagaimana protektifnya si kembar ini pada adik semata wayangnya. Jadi jangan salahkan Aya karena sering ngambek. Terdengar deru mesin mobil di garasi rumahnya, sontak si kembar pun saling tatap menatap. “Ayah” ucapnya berbarengan Dengan cepat Reyhan menyambar tas dan kunci mobilnya “Gue mesti menyelamatkan diri sebelum ayah nanya yang gak-gak tentang princess” Ia langsung beranjak dari sofa dan naik ke lantai dua menuju kamarnya “Tungguin brother!” Keyhan pun sama, Ia meletakkan toples kacang di meja lalu menyambar tas dan ikut naik ke lantai dua kamarnya. Beginilah mereka jika baru saja selesai membuat adiknya ngambek pasti selalu menghindar dari sang ayah padahal ayahnya sendiri tidak pernah mengomel dengan nada membentak atau pun main tangan tetapi durasi omelan ayahnya itu yang membuat mereka selalu menghindar dari sang ayah. Kalau si kembar bilang omelan ayahnya itu sudah seperti tausiah berlembar-lembar, panjaaangg banget.   *sunbae : senior
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD