Dua buah mobil datang dari arah yang berlawanan dan hendak masuk ke dalam garasi mobil yang sama. Namun keduanya sama–sama berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahnya karena gak mungkin juga dua mobil masuk sekaligus ke dalam garasi rumahnya. Reyhan yang duduk dibalik kemudi mobil sedan putihnya menurunkan kaca mobilnya lalu melepaskan kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di hidung mancungnya. Keyhan yang duduk di kursi kemudi mobil sedan hitamnya juga menurunkan kaca mobil di bagian kursi penumpang, matanya lurus menatap saudara kembarnya yang juga balas menatapnya.
“Mundur bro, gue duluan yang masuk!” teriak Reyhan
“Lo aja yang mundur!” pinta Keyhan
Reyhan tersenyum sambil memalingkan wajahnya. Begini lah si kembar, walaupun sudah besar dan usianya sudah cukup dewasa selalu saja tidak ada yang mau mengalah. Keyhan pun terkekeh dalam mobilnya “Kayak biasa Rey, suit Jepang ya” ajaknya yang sudah menjadi kebiasaan mereka ketika salah satu diantara mereka tidak ada yang mau mengalah. Jalan terakhirnya pasti, suit.
Ya ampun si abang, ribet banget ya. Mau masuk garasi aja pake suit dulu
“Oke” Reyhan mengeluarkan tangannya keluar kaca mobil, Keyhan menjulurkan tangan kanannya yang masih bisa dilihat saudara kembarnya “Gunting, batu, ker—“
Belum selesai mereka melakukan hal konyol tersebut terdengar suara klakson dari arah belakang yang terus menerus berbunyi. Sontak Reyhan dan Keyhan menolehkan kepalanya ke belakng untuk melihat seseorang yang nampak tidak sabaran sejak tadi. Sebuah senyuman langsung terukir di wajah si kembar begitu mengetahui siapa yang ada di belakang mobil mereka.
“Minggir kalian. Biar ayah yang masuk duluan” seru Rean menyembulkan kepalanya keluar jendela mobil
Sang bos besar datang~
Mendengar ucapan ayahnya, si kembar pun saling berpandangan kemudian mengedikkan bahu bersamaan sebelum akhirnya tertawa bersama. Si kembar pun memundurkan mobil mereka, memberikan jalan pada sang ayah untuk masuk ke dalam garasi. Setelah mobil ayahnya masuk, si kembar kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti tadi. Melakukan suit. Dalam hitungan ke tiga mereka melakukan suit dan hasilnya, Keyhan menunjukkan gunting sedangkan Reyhan menunjukkan batu.
“Yes! Gue menang! Wuhuuuu ...” serunya berteriak kegirangan lalu melajukan mobilnya masuk ke dalam garasi diikuti oleh Keyhan di belakangnya dengan wajah yang cemberut karena kalah
Di dalam rumah, Aya baru turun dari lantai dua dengan celana pendek selutut berwarna putih yang dipadukan dengan kaos berwarna hitam. Ia melangkah menuju sofa ruang tengah lalu menyambar remote TV dengan sebelumnya mengikat terlebih dulu rambutnya. Setelah itu Ia menggonta–ganti channel TV mencari tayangan yang baginya menarik di sore hari. Sang bunda masih melaksanakan shalat ashar di kamarnya ketika terdengar suara pintu utama yang dibuka. Tanpa melihat siapa yang datang pun, Aya sudah tahu kalau kedua abangnya yang pulang.
“Assalamualaikum, abang ganteng pulang!” seru si kembar bersamaan membuat Aya yang mendengarnya mencibir tetapi kemudian menjawab salam abangnya
“Hai Aya” sapa Reyhan berlalu melewatinya dengan tangannya yang jahil mengacak–ngacak rambut adiknya membuat Aya mendengus sebal lalu merapihkan rambutnya dengan jemari tangannya.
“Sore Aya” kemudian terdengar suara abangnya yang satunya lagi yang juga berjalan melewatinya dan melakukan hal yang sama padanya. Mengacak–ngacak rambut adik semata wayangnya.
“Abaaaaaangggg!” teriak Aya kesal
Teriakan kencang adiknya membuat si kembar yang sedang menaiki tangga menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah adiknya dengan keadaan rambutnya yang sudah berantakan. Keyhan menatap Reyhan yang berada di beberapa tangga di atasnya, Reyhan mengedikkan bahunya sambil tersenyum disusul dengan Keyhan yang juga tersenyum kemudian menepuk bahu saudara kembarnya dan kembali menaiki tangga bersama masih terus menertawai Aya.
“Sore princess ayah” Rean yang baru masuk langsung mengambil posisi di sebelah putrinya lalu mencium sekilas pipi Aya “Loh kenapa? kok cemberut sih?” tanyanya melihat wajah Aya yang cemberut sambil merapihkan rambutnya dengan kasar
Kazna yang baru keluar dari kamarnya langsung menuju dapur untuk mengambilkan minum suaminya.
“Paling diledek si kembar lagi Mas” Kazna menyerahkan segelas air pada suaminya
Rean tersenyum sebelum akhirnya meneguk air putihnya. Aya merebahkan kepalanya di bahu sang bunda, Kazna mengelus rambut putrinya dengan sayang sambil sesekali mencium pucuk kepalanya. Menjadi putri semata wayang sekaligus anak bungsu dikeluarganya membuat Aya terkadang bersikap manja dengan ayah dan bundanya. Bahkan terkadang kalau memang lagi akur Aya tak segan–segan bersikap manja dengan kedua abangnya.
Makan malam keluarga Dirgantara, Kazna sudah selesai menata semua lauk pauk di atas meja makan beserta dengan nasinya. Tak lama berselang terlihat suaminya yang berjalan ke arah ruang makan, Kazna yang sedang meletakkan mangkuk kaca yang cukup besar berisikan buah menolehkan kepalanya lalu tersenyum melihat suaminya. Rean menarik kursi utama di meja makan lalu mendaratkan bokongnya di sana bersamaan dengan istrinya yang memanggil ketiga anaknya.
Tak lama berselang Aya yang sudah siap dengan setelan piyamanya langsung ikut bergabung di meja makan, disusul oleh Reyhan yang sepertinya baru saja selesai mandi karena rambutnya yang masih basah. “Key mana?” tanya bundanya yang sudah duduk di kursinya
“Tidur kali bun, kebiasaan dia kan emang begitu selalu tidur setelah pulang kuliah” jawab Reyhan sambil membalikkan piringnya siap untuk makan tetapi ayahnya langsung menepuk punggung tangannya “Tunggu Key dulu” cegahnya membuat Reyhan menghela nafas bersamaan dengan bahunya yang merosot
Kazna bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah tangga rumahnya “Key ... Keyhan, makan dulu” panggilnya dari tangga pertama di lantai satu
“Ya bun, otw nih” terdengar sahutan parau dari Keyhan
Bundanya menggelengkan kepala saat melihat Keyhan yang berjalan malas-malasan dengan wajah yang mengantuk dan rambutnya yang acak-acakkan. Kemudian Ia kembali ke meja makan dengan Keyhan yang berjalan di belakangnya sambil sesekali menguap. Setelahnya Ia menarik kursi yang ada di sebelah Reyhan lalu membalikkan piringnya dan mereka semua pun siap menyantap makan malam ini.
Tak lama berselang terdengar suara bel pintu yang berbunyi, bi Nah yang berada di dapur langsung menuju pintu utama dengan tergopoh-gopoh. Dibukanya pintu kayu tersebut yang langsung menampakkan seorang gadis cantik dengan sebuah paper bag di tangannya. Nadine—anak pertama Bian. Bi Nah pun langsung mengajak masuk Nadine dan mengatakan kalau semuanya sedang makan malam di ruang makan. “Siapa bi ?” tanya Kazna ketika melihat bi Nah sudah kembali
“Assalamualaikum semua” belum sempat bi Nah menjawab sudah terdengar suara Nadine yang langsung menginterupsi mereka semua lalu menjawab salamnya.
“Eehh Nadine, sini-sini ikutan makan dulu” ajak Kazna menghampiri keponakannya
Nadine tersenyum “Gak usah tante, aku cuma mau nganterin ini. Tadi mama buat kue trus minta aku buat anterin ini” Ia menyerahkan paper bag yang dibawanya
“Ya ampun repot-repot” Kazna menerima paper bagnya
“Kamu sama siapa Nad ?” tanya Rean sambil mengunyah makanannya
“Jalan kaki om, deket ini kan cuma ngelewatin lima rumah” rumah Kazna dan kakaknya memang berdekatan, hanya berjarak lima rumah seperti yang dibilang Nadine. Jadi jangan heran kalau mereka itu sering bertukar makanan seperti ini. Terkadang Alina yang membuat kue meminta putrinya untuk membawakannya untuk Kazna dan sebaliknya jika Kazna yang membuat kue maka Ia akan meminta salah satu anaknya untuk mengantarkannya ke rumah Bian dan Alina.
“Gak jalan lo Nad ?” tanya Keyhan menoleh menatap Nadine “Sama Darell” lanjutnya lagi. Mereka itu sepupuan tetapi lebih terlihat seperti teman.
Raut wajah Nadine langsung berubah ketika mendengar nama Darell “Gue udah gak kali sama dia” Ia menarik kursi di sebelah Aya lalu mendaratkan bokongnya di sana bersamaan dengan Kazna yang menuju dapur meletakkan kue yang dibawa keponakannya “Tante aku mau ya apelnya” ucap Nadine lagi sambil menyomot sebutir apel merah
“Ambil aja sayang, kayak di rumah siapa aja” teriak Kazna dari dapur
“Tau kak, anggap aja rumah sendiri” sahut Aya tersenyum menatap Nadine yang dibalas senyuman pula
Sontak Reyhan dan Keyhan menatap ke arahnya “Gila! Si Darell beneran playboy abiss” ucap Keyhan
“Njirr!! Tuh anak beneran nambahin populasi mantannya” Reyhan memandang Nadine tidak percaya jika sepupunya ini menjadi salah satu korban dari ke-playboy-an sahabatnya sendiri—Darell.
“Heyy mulut!! Kalo ngomong gak disaring” tegur Kazna yang memang tidak suka jika mendengar anak-anaknya mengumpat. Ia berjalan ke arah meja makan dengan membawa piring berisi kue tadi
Keyhan menutup mulutnya dengan tangannya “Kelepasan bun”
“Maapin bunda” sambung Reyhan. Sementara Rean hanya mendelik menatap si kembar bergantian dan Aya sudah terkikik geli melihat kedua abangnya mendapat omelan dari bundanya. Begitu juga dengan Nadine.
Penasaran dengan putusnya hubungan sepupunya dan sahabatnya itu membuat si kembar cepat-cepat menghabiskan makananya. Lalu meneguk habis minumnya dan bangkit dari duduknya, Reyhan menarik lengan kiri Nadine membawanya ke ruang tengah dengan Keyhan di belakang mereka. Mereka masih sangat syok mendengar putusnya hubungan mereka berdua pasalnya setau si kembar mereka itu baru jadian sekitar seminggu yang lalu dan sekarang sudah putus. Astaga, Darell memang keterlaluan playboynya. Ya memang diantara sahabat-sahabat yang lainnya, Darell lah yang paling terkenal playboynya. Sering gonta-ganti pacar dan jangka waktu pacaran terlamanya hanya sebulan. Bayangkan dari sekian banyaknya mantan yang Ia miliki, Ia berpacaran terlama itu hanya sebulan. Ck ck ck. Kalau si kembar bilang itu sudah termasuk rekor dalam hidup Darell bisa berpacaran selama sebulan.
Nadine sudah duduk diantara si kembar “Gimana ceritanya lo bisa putus sama si Darell? lo sih gue bilangin gak percaya, tuh anak emang playboy cap badak banget” tanya Keyhan.
Sejak awal si kembar juga memang sudah memberitahu bagaimana sikap Darell yang terkenal dengan playboynya tetapi Nadine tetap keras kepala dan tidak mendengarkan sama sekali ucapan si kembar sampai akhirnya hubungannya berakhir seperti ini.
Reyhan mengubah posisinya menghadap Nadine dengan satu kaki ditekuk di atas sofa dan satu tangannya bertumpu pada sandaran sofa “Dia selingkuh Nad ? atau lo yang selingkuh ?” Ia menyengir
Nadine langsung memukul wajah sepupunya itu dengan bantal sofa membuat Reyhan makin terkekeh geli lalu menggigit apelnya “Niat buat selingkuh aja gak ada ... Gue itu kayak kekasih yang gak dianggap selama jadian sama dia. Ngerasa pacaran yaa pas dia nembak gue doang, setelahnya dia nyuekin gue, gak ada kabar, gak ada telepon, chat dan lainnya”
“Lo gak coba ng-hubungin dia gitu ?” Keyhan sudah mengambil posisi yang sama dengan Reyhan
Gadis itu mengigit apelnya lagi “Males banget gue mulai duluan, harus banget emang cewek yang mulai duluan. Gue tuh ngerasa kayak lagi dijadiin taruhan ma dia”
Reyhan mengernyitkan dahinya “Maksud lo ?”
“Ya siapa tau aja ya kan dia lagi taruhan sama temennya buat dapetin gue, buktinya setelah gue nerima dia jadi pacar gue, sikap dia langsung cuek dan masa bodo aja sama gue. Gak peduli gitu ... wajar kan gue mikir begitu ?” jawabnya masih terus menikmati apelnya
Si kembar pun mengangguk-nganggukkan kepalanya. Apa yang diucapkan Nadine memang benar juga sih, tidak salah Ia memiliki pemikiran seperti itu. “Trus sekarang lo gimana ?” tanya Reyhan
“Ya gak gimana-gimana, gue udah gak kontek-kontekan lagi. Liat mukanya aja gue males ... sahabat lo tuh begitu! Jangan-jangan lo berdua juga begitu lagi” Ia memicingkan matanya menatap si kembar bergantian dengan jari telunjuk yang menunjuk ke arah mereka.
“Ih gak ya, kita mah setia kan Rey ?” Keyhan menatap Reyhan yang langsung menganggukkan kepalanya pasti
“Setiap tikungan ada maksud lo. Udah ah gue mau balik” Ia bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Kazna dan Rean yang masih berada di ruang makan untuk berpamitan.
“Heh kembar ... gue balik ya” Nadine mengangkat satu tangannya saat melewati ruang tengah
Si kembar pun ikut mengangkat satu tangannya sambil menatap ke arahnya “Yo. Mau dianterin gak ?” tanya Keyhan
“Lo kira gue bocah. Eh tempat sampah dimana sih ?” Ia mengacungkan apelnya tadi yang tinggal tersisa bagian bijinya saja
Reyhan menolehkan kepalanya “Lo telen aja sih Nad sekalian” Ia menyengir sementara Keyhan sudah terkekeh geli mendengar ucapan saudara kembarnya
“Sinting lo emang!” sahutnya kemudian berlalu menuju pintu utama untuk pulang
Mendengar jawaban Nadine pun membuat Reyhan dan Keyhan tertawa kemudian memilih untuk menonton TV yang menayangkan acara berita karena ayahnya yang baru saja menyalakan benda berbentuk persegi tersebut.
***
Kayra membuka pintu gerbang rumahnya lalu masuk ke dalam sambil menenteng sebuah buku di tangannya. Tak lupa juga Ia menutup kembali pintu gerbangnya lalu melangkah melewati taman kecil di depan rumah. Di taman depan rumahnya terlihat Bi Ela yang sedang menyiram tanaman. Ia menyapa sekilas asisten rumah tangganya lalu masuk ke dalam rumah. Rumahnya nampak sepi disore hari, hanya terlihat adiknya—Kelvin yang sedang bermain PS di ruang tengah sambil sesekali berteriak karena kalah bermain. Padahal cuma main sendiri tapi kayaknya seru banget.
Kayra menuju dapur, Ia meletakkan buku dan tasnya di atas meja makan lalu membuka kulkas. Ia mengambil teko kaca lalu menuangkan air dingin ke dalam gelas yang ada di tangannya. Meneguk habis airnya lalu meletakkan kembali gelasnya ke meja.
“Udah pulang Ra ?” tanya mamahnya yang baru masuk ke dapur
“Hmm. Ayah pulang kapan mah ?” Ia menenteng tas dan bukunya bersiap menuju kamar
“Nanti malam paling pulang” mamahnya mengeluarkan bahan makanan dari kulkas untuk menyiapkan makan malam
Gadis itu hanya ber-oh ria sambil mengangguk–nganggukkan kepalanya seraya berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Di kamar, Kayra langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang tidur membiarkan tas dan bukunya yang diletakkan secara sembarangan. Ingatan akan yang terjadi di kampus tadi melintas dipikirannya, ingatan akan dirinya dan Keyhan yang akan berpura–pura berpacaran agar bisa terhindar dari Dito. Memang selama ini Dito cukup mengganggunya, setiap kali Kayra berada di kantin atau pun di perpustakaan pasti Ia akan menyusulnya. Dan selama ini Kayra tak pernah sedikit pun bercerita mengenai Dito pada Keyhan karena jika Ia bercerita Ia sudah bisa menebak kalau nantinya pria itu akan meledeknya ditaksir oleh pria gembul macam Dito. Tetapi rupanya Keyhan secara diam–diam mengetahui itu dan malah ingin membantunya agar Dito perlahan–lahan menjauhinya.
Baik sih emang tapi lebih sering ngeselinnya, ucapnya menilai Keyhan
Ingatannya beralih saat Keyhan memanggilnya dengan sebutan ‘yank’ sambil mengedipkan matanya. Jujur bukannya senang dipanggil dengan panggilan seperti itu, Kayra malah geli mendengarnya. Mengingat selama ini Ia dan Keyhan memang berlaku layaknya seorang teman yang jarang akurnya, mereka lebih sering adu mulut atau pun pendapat dan saling meledek. Bahkan Kayra saja memanggil Keyhan dengan namanya secara langsung tanpa ada embel–embel ‘kak’ padahal notabenenya Keyhan itu lebih tua satu tahun darinya.
Kayra bangkit dari tidurnya lalu meletakkan buku dan tasnya di meja belajar setelah itu melenggang menuju kamar mandi saat terdengar suara dentingan kecil dari ponselnya. Ia yang sudah sampai di ambang pintu kamar mandi membalikkan badannya lalu berjalan menuju ranjang. Terdapat satu pesan masuk yang tertera di layar ponselnya. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat nama ‘Dito gembul’ sebagai si pengirim pesan.
From : Dito gembul
Kayra ... kmu bnran jdian sama kak Keyhan ?
Gadis itu menepuk dahinya. Rupanya sejak tadi Dito masih saja penasaran akan hubungannya dengan Keyhan. Apa mungkin karena saat bertanya tadi bukan Kayra sendiri yang menjawab pertanyaannya hingga membuatnya belum percaya sampai sekarang ? jemari–jemari lentiknya bergerak mengetikkan sesuatu membalas pesan Dito.
To : Dito gembul
Sperti yg kamu denger dri Keyhan tadi To ... Iya aku jadian sma Keyhan
Akui Kayra akhirnya walaupun Ia harus membohongi pria polos tak berdosa itu. Tetapi mau bagaimana semuanya sudah terlanjur. Kalau Ia mengatakan tidak, pasti Keyhan akan marah padanya dan itu artinya juga Dito masih akan terus menganggunya yang sudah pasti akan membuatnya semakin risih. Dibilang iya, itu berarti Ia akan membohongi Dito tetapi pada akhirnya itu yang dipilihnya walaupun Ia harus terlihat egois karena hanya memikirkan dirinya saja tanpa memikirkan bagaimana perasaan Dito. Jahatkah Kayra ?
Baru saja Ia meletakkan ponselnya di ranjang terdengar dentingan kecil lagi. Ia mengambil ponselnya yang terdapat satu pesan masuk lagi. Tapi kali ini bukan dari Dito melainkan dari Gina temannya yang tadi ingin ditemuinya di kantin kampus tetapi tidak jadi karena ulah si Keyhan. Gina mengajaknya untuk bertemu di cafe depan kompleksnya hanya untuk mengobrol–ngobrol. Tanpa berpikir panjang lagi Kayra langsung mengiyakan ajakan tersebut, mumpung ayahnya belum pulang pikirnya. Karena jika ada ayahnya pasti Tama akan melarangnya karena baginya itu hanya akan membuang–buang waktu saja.
Kayak gak pernah muda aja sih Tam
***
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, si kembar dan adiknya sedang serius menonton dvd yang baru dibeli Aya sepulang sekolah tadi. Aya ini memang salah satu penggila film luar tiap kali ada film baru pasti Ia akan langsung membelinya dan kedua abangnya hanya tinggal ikut nimbrung saja. Ayah dan bundanya baru saja pergi menghadiri sebuah acara dari kolega bisnis ayahnya. Aya yang duduk diantara dua abangnya menatap serius ke arah TV dengan punggung yang bersandar pada sofa dan memeluk bantal sofa. Kemudian Ia menoleh menatap bergantian kedua abangnya yang tampak serius menonton film, Ia mengambil remote dvd dan memencet tombol pause membuat filmnya berhenti. Sontak kedua abangnya langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh tanya.
“Kenapa di-pause si Ya ? lagi seru–seru juga” Reyhan berusaha merebut remote dvd dari tangan adiknya
Aya menyengir sambil menyembunyikan remote ke belakang tubuhnya “Bang, kayaknya nonton dvd sambil minum cappucino dan makan kentang goreng enak deh” Ia mengedipkan matanya menatap bergantian kedua abangnya
Keyhan dan Reyhan yang mendengar itu menghela nafas lalu merebahkan kepalanya ke tangan sofa. Kalau sudah begini mereka sudah tau apa yang selanjutnya akan terjadi, pasti Aya akan meminta salah satu dari mereka untuk pergi ke cafe membeli cappucino dan kentang goreng.
“Abang males ah ke cafenya” ucap Keyhan
“Abang juga. Udah lanjut aja deh nontonnya, besok baru beli cappucino ... lagi seru Ya filmnya, nanggung” timpal Reyhan
Aya mengerucutkan bibirnya “Bentaran aja kok bang” Ia menarik–narik lengan si kembar
“Sama abang Key tuh” Reyhan menunjuk kembarannya dengan dagunya
“No!”
“Kalo gak telepon si Bandi aja minta dia nganterin cappucino sama kentang goreng” usul Reyhan
Keyhan menegakkan tubuhnya lalu menoleh menatap Reyhan “Lo lupa pesen ayah, jangan ganggu Bandi kalo lagi kerja, kalo kalian mau cappucino dan segala macamnya pergi sendiri ke cafe jangan minta orang cafe nganter ke rumah. Manja” ucapnya sambil menirukan gaya bicara ayahnya
Reyhan tertawa mendengar Keyhan yang berbicara menirukan ayahnya. Sangat mirip pikirnya. Begitu juga dengan Aya yang tertawa melihat tingkah konyol abangnya. Dulu, si kembar memang pernah meminta pegawai cafe mengantarkan makanan untuk mereka yang malas pergi ke cafe dan semenjak itu mereka malah ketagihan dan hampir setiap hari meminta pegawai cafe mengantarkan makanan untuk mereka. Rean yang melihat itu pun merasa jengah sendiri sampai akhirnya Ia memperingati anak-anaknya agar tidak bersikap seperti itu lagi.
“Pokoknya kalo gak ada cappucino dan kentang goreng filmnya gak akan berlanjut. Ini kan dvd aku, jadi terserah aku dong” Ia bangkit dari duduknya lalu berniat untuk mematikan dvd nya ketika si kembar berteriak melarangnya
“Ayaaa!”
“Oke. Kita ke cafe sekarang” kata Keyhan akhirnya
“Abang tunggu di rumah ya” Reyhan sudah merebahkan badannya di sofa sambil tersenyum
Aya menoleh ke arah abangnya, menatap galak mata Reyhan dengan alis yang menyatu “Enak aja. Abang Rey sama Key harus ikut lah”
Reyhan menutup wajahnya dengan bantal sofa sementara Keyhan tertawa puas karena bukan hanya dirinya saja yang harus ke cafe membeli cappucino. Sementara Aya sudah beranjak ke kamarnya untuk mengambil sweaternya.
Dua puluh menit berselang si kembar dan adik semata wayangnya sudah berada di dalam mobil yang membawa mereka ke cafe milik ayah mereka. Keyhan duduk di kursi balik kemudi dengan Reyhan di kursi samping penumpang dan Aya di kursi penumpang bagian belakang. Pergi bersama dengan kedua abangnya bukan hal yang baru lagi buat Aya, selama ini Ia sudah sering kali pergi bersama dengan abang kembarnya lagipula pergi dengan abang kembarnya membuat dirinya hemat karena tiap kali Ia membeli sesuatu pasti salah satu dari abangnya yang akan membayar membuat uang tabungannya utuh. Walaupun kadang Ia harus mendapati pandangan sinis atau pun iri dari orang–orang yang melihatnya. Gimana gak iri, kalau Aya pergi bersama dengan dua pria muda tampan yang selalu menjadi cogan di kampusnya. Layaknya seorang princess yang dikawal oleh dua pangeran tampan.
Pengen deh jadi princess itu
Sesampainya di cafe, Aya langsung keluar mobil dan masuk ke dalam cafe ditemani dengan Reyhan karena abang satunya memilih untuk menunggu di mobil. Ketika mereka masuk secara bersama ke dalam cafe yang cukup ramai itu, semua mata pengunjung yang didominasi oleh kaum hawa langsung menoleh ke arah Reyhan yang tampak tampan hanya dengan celana pendek selutut berwarna hitam dan kaosnya yang juga berwarna hitam. Senyuman yang dilemparkannya pada semua pegawai cafe membuat para kaum hawa itu makin meleleh melihatnya. Aya yang menyadari itu memutar bola matanya jengah, sudah terlalu biasa bagi dirinya melihat pemandangan yang seperti ini. Gadis remaja itu langsung menghampiri Bandi—orang kepercayaan ayahnya di cafe ini dan menyebutkan semua pesanannya.
Beberapa tahun yang lalu Beno yang dulunya menjadi orang kepercayaannya di cafe berpindah posisi, saat ini Ia menjabat sebagai manajer di salah satu restoran milik Rean juga.
***
“Menurut lo gue jahat gak sih Gin? Gue egois ya?” tanya Kayra sambil mengaduk–ngaduk minumannya dengan sedotan
Gina mengambil kentang goreng lalu memasukkannya ke dalam mulut “Kalo menurut gue sih biasa aja. Ya selama ini kan, lo juga ngerasa gak nyaman dan keganggu juga sama sikap Dito yang kadang suka ngikutin lo kemana–mana terus juga ngirim sms terus menerus. Wajar sih kalo lo ng-hindar dari dia karena lo juga kan gak ada perasaan apa–apa sama dia cuma ... caranya aja yang kayaknya kurang tepat. Pura–pura pacaran, itu sama aja lo bohongin dia dan juga bohongin semua orang yang nantinya bakalan tahu”
Kayra menopang dagunya “Ini tuh ide gilanya si Keyhan. Makanya begini ... gue juga gak nyangka tuh anak bisa punya ide gila begini. Gak pake kompromi dulu lagi”
“Dia naksir Ra sama lo?” Gina sedikit mendekatkan wajahnya dengan wajah sahabatnya
Kayra mengernyitkan dahinya lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi “Gak mungkin. Gue yakin banget itu gak mungkin. Dia emang murni mau bantu gue aja”
“Atau jangan–jangan lo yang naksir dia? Hati–hati lo Ra, lo itu kan lagi mainin peran sebagai sepasang kekasih sekarang. Gak menutup kemungkinan lo bakalan suka nantinya sama dia. Awas baper” Gina memicingkan matanya
Kayra tertawa kecil sambil menatap ke arah lain “Itu gak akan terjadi Gina”
Gina kembali menyeruput minumannya, matanya menelisik ke seluruh penjuru cafe yang semakin ramai saja. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang begitu dikenalnya baru saja memasuki cafe. Ia langsung melepaskan sedotan dimulutnya lalu berseru “Kak Keyhan!” panggilnya membuat pria bersetelan serba hitam itu menolehkan kepalanya.
Kayra yang sejak tadi menatap keluar jendela menatap ke arah Gina kemudian mengikuti arah pandangnya. Ia membalikkan badannya untuk memastikan apakah benar yang dipanggil sahabatnya itu benar Keyhan. Gadis itu meneguk ludahnya begitu melihat pria yang diketahuinya bernama Keyhan itu berjalan menghampirinya.
Kenapa malam ini dia beda banget jadi tambah ... ganteng, batinnya
Kayra menggeleng–gelengkan kepalanya mengusir pemikirannya itu.
Pasti temen kuliahnya si Keyhan, samperin ah. Gak ada salahnya juga kan buat kenalan. Cewek lagi, uhuyy rezeki lo Rey, batin Reyhan terkekeh sendiri
Begitu sudah sampai di meja Kayra dan Gina, Reyhan tersenyum menatap bergantian kedua gadis itu tetapi kemudian tatapannya terpaku saat menatap Kayra yang juga sedang balas menatapnya. Ia seperti mengenal gadis di depannya itu, Ia seperti pernah bertemu dengannya. Tetapi dimana dan kapan, Ia sendiri belum berhasil mengingatnya. Ia berusaha untuk mengulang ingatannya, berusaha menggali ingatan mengenai gadis di depannya ini.
Oke. Gue inget sekarang! Dia Kayra—anaknya om Tama. Terakhir kali gue ketemu dia ... ah gak tau gue lupa. Wow. Makin cantik ya ... kenapa si Keyhan gak pernah bilang sama gue kalo Kayra makin cantik, pikirnya
Suara deheman Gina menyadarkan mereka dari tatapan mereka berdua. Kayra menatap ke arah lain sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Reyhan tersenyum sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sama sekali.
Kenapa jadi kaku gini sih, ini kan cuma Keyhan doang Ra. Orang yang tiap hari lo temuin di kampus, batin Kayra
“Kamu ngapain disini?” tanya Reyhan akhirnya
Kayra membulatkan matanya begitu mendengar pertanyaan Reyhan yang menggunakan kata ‘kamu’. Biasanya juga pake ‘gue-lo’.
“Gak usah sok manis pake kamu–kamu begitu, biasanya juga ‘gue-lo’” Kayra mengaduk–ngaduk minumannya
Sial! Lo salah Reyhan.
“Yaelah manis dikit emangnya gak boleh Kayra ?” pria itu tersenyum menggoda
Kayra menatap matanya “Gak. Terlalu manis gak baik buat kesehatan. Diabetes”
Reyhan terkekeh mendengar jawaban dari Kayra. Ia tidak menyangka kalau Kayra sosok perempuan yang menyenangkan. Selama ini Ia memang tidak begitu sering bertemu dengannya apalagi yang namanya mengobrol bersama. Tidak pernah sama sekali.
“Yaelah Ra yang manisan dikit kali sama pacar” sahut Gina meledek
Tawa Reyhan seketika berhenti mendengar sahutan gadis yang tidak diketahui siapa namanya itu. Matanya membulat dengan kedua alisnya yang menyatu. Pacar ? Keyhan sama Kayra pacaran ? Kenapa Ia gak pernah tahu soal ini ? Ia menatap Kayra dengan tatapan tanya.
“Apaan si lo Key ngeliatin gue kayak gitu ? Yang dimaksud Gina itu pacar pura–pura ya. Inget kita itu cuma PURA–PURA” Ia menekankan pada kalimat terakhirnya
Alis Reyhan makin menyatu. Ia makin tidak mengerti dengan ucapan Kayra. Pacar pura–pura ? Maksudnya Ia dan Keyhan sedang berpura–pura pacaran gitu ? Untuk apa ? Kenapa Keyhan gak sekalian aja pacarin Kayra ? Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam benaknya. Ingin bertanya juga rasanya tidak mungkin pasti Kayra akan merasa aneh dan bingung. Terpaksa Ia harus mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya sedang mereka rencanakan.
“Abaangg!” seru Aya yang sudah menenteng plastik untuk pesanannya. Ia berdiri dengan jarak tak jauh dari abangnya
Reyhan menoleh kemudian menganggukkan kepalanya sedikit. “Ra, gue duluan ya”
“Yaudah sana sana, pergi yang jauh. Bosen gue liat muka lo” Kayra menggerak–gerakkan tangannya seperti mengusir
Pria itu lagi–lagi terkekeh melihat tingkah Kayra yang baginya sungguh menggemaskan. Ia berjalan menghampiri Aya sambil sesekali menoleh ke arah Kayra yang juga sedang melihat ke arahnya.
Tumben banget dia gak bales ledekan gue malam ini, biasanya kalo diusir begitu dia langsung marah nah ini malah ketawa, pikirnya
Kayra keluar dari mobil Gina saat mobil tersebut berhenti tepat di depan rumahnya. Ia melambaikan tangan pada sahabatnya itu dengan sebelumnya mengucapkan terimakasih. Setelah mobil milik Gina sudah tidak terlihat lagi barulah Ia membuka pintu gerbang dan menutupnya kembali. Ia melangkah masuk ke dalam rumahnya sambil sesekali bersenandung dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung jaketnya.
Sambil mengucapkan salam, Ia membuka pintu rumahnya yang belum dikunci. Langkah kakinya yang akan membawanya ke kamar terhenti saat ayahnya yang sepertinya baru pulang menghalangi jalannya di ruang tengah. Kayra mengernyitkan dahinya bingung melihat tatapan tajam dari ayahnya. Apa Ia melakukan kesalahan sampai membuat ayahnya marah ?
“Darimana kamu ? Ayah kan udah bilang sama kamu, jangan keluar malam Kayra! Kamu tuh perempuan, gimana kalo misalkan nanti ada apa–apa sama kamu!” Tama menatap tajam putrinya dengan rahangnya yang sudah mengeras, nada suaranya sudah meninggi tidak seperti biasanya
Jantung Kayra langsung berdetak tak karuan melihat kemarahan ayahnya “Tapi kenyataannya sekarang aku gak kenapa–napa kan yah. Aku tuh cuma ke cafe depan komplek aja sama Gina ... dan ini, ini juga masih jam setengah sembilan yah. Masih dibawah jam sembilan” Ia menunjukkan jam tangannya
“Jangan bantah ayah Kayra!” ucap Tama dengan nada suara yang cukup meninggi membuat Kayra terperanjat kaget
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Kayra “Ayah tuh over protective tau gak, Kayra tuh udah gede yah gak seharusnya diginiin terus sama ayah. Mau ke sini gak boleh, ke sana gak boleh ... Kayra udah gede bukan anak TK atau SD lagi, aku udah bisa bedain mana yang salah dan mana yang bener. Kayra juga tau batasan–batasan pergaulan Kayra yah. Emangnya salah kalo Kayra pergi keluar sebentar sama Gina ? Aku cuma ke cafe depan kompleks ... itu salah menurut ayah ? lalu Kayra harus gimana yah ?” Kayra berkata dengan begitu panjang lebar dan air mata sudah turun ke pipinya
Tanpa mendengar ucapan ayahnya lagi, Ia langsung berlari ke kamarnya, menaiki anak tangga dengan cepat lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan sangat kencang hingga menimbulkan bunyi berdebam. “Over protective kamu Mas!” ucap Camira yang sejak tadi berdiri di belakangnya kemudian masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Tama seorang diri di ruang tengah
Tama mengacak–ngacak rambutnya kemudian melangkah masuk mengikuti istrinya ke dalam kamar. Di dalam kamar Camira—istri cantiknya duduk bersandar ke kepala ranjang dengan sebuah bantal di pangkuannya. Tama duduk di dekat istrinya tepi ranjang, melihat suaminya duduk di dekatnya Camira langsung memalingkan wajahnya. Kesal dengan sikap suaminya yang terlalu protective dengan putri nya. Wajar memang protective kepada anak tetapi tidak seharusnya seperti itu juga, selama ini Tama memang selalu melarang putrinya untuk keluar malam. Paling kalaupun keluar itu bersama dengan anggota keluarganya, Ia tidak pernah mengizinkan putrinya keluar bersama dengan teman–temannya. Karena apa ? Lingkungan kerja Tama yang berada di kampus, membuat Ia sangat tahu bagaimana pergaulan anak–anak kampus yang memang tak jarang dari mereka sudah mengenal, bergelut dan bahkan ketagihan dengan dunia malam atau pun pergaulan yang bebas. Memang tak semua mahasiswa seperti itu tapi ada dari beberapa mahasiswa yang seperti itu. Tama sangat tidak ingin putrinya ikut–ikutan seperti mereka, itu sebabnya Ia meminta Kayra untuk berkuliah di kampus yang sama dengannya agar Ia bisa mengontrol pergaulan putrinya di kampus.
Tetapi ternyata malam ini Ia lepas kontrol, disaat dirinya yang sangat lelah baru pulang dari luar kota dan begitu pulang mendapati putrinya tidak ada di rumah membuatnya langsung tersulut emosi. Pikiran-pikiran negatif langsung memenuhi otaknya.
“Maafin aku Ra. Aku emosi tadi, aku udah mikir yang macam–macam ... Aku cuma takut Kayra terseret ke pergaulan bebas, aku sangat gak mau putri aku seperti itu” Ia menggenggam tangan istrinya
Camira menolehkan kepalanya, menatap lurus mata suaminya “Ya aku tahu Mas kamu khawatir tapi gak segitunya juga. Kayra udah gede, udah dewasa dan aku yakin. Bahkan sangat yakin kalau Kayra bukan anak yang seperti itu ... Aku percaya sama dia, kalau Kayra bisa bedain mana yang salah dan mana yang bener. Kayra juga tau batasan pergaulan untuknya, buktinya dia pulang sebelum jam sembilan-sesuai dengan peraturan kamu” air mata mulai berkumpul dipelupuk matanya
“Aku beneran gak percaya kamu bisa ngebentak dia kayak tadi. Kayra cuma ke cafe depan Mas dan itu sama Gina. Bukan sama cowok, pacar atau pun yang lainnya ... Emangnya salah Kayra pergi keluar sebentar cuma untuk sekedar cerita–cerita sama temennya ? Kayra masih muda, dia lagi memasuki masa–masa mudanya. Biarin dia menikmati masa mudanya ... dan aku sangat yakin masa mudanya Kayra gak akan pernah tercampur sama pergaulan bebas yang selama ini kamu takuti. Gak usah terlalu jadi ayah yang protective, aku gak suka!” Ia melemparkan tatapan tajam ke suaminya
Sedari tadi Tama menyimak ucapan panjang yang diucapkan istrinya. Dalam hati Ia membenarkan semua perkataan istri cantiknya itu. Tidak seharusnya Ia memarahi dan membentak putri sulungnya seperti tadi. Pasti saat ini Kayra sangat marah dengannya.
“Maafin aku” Ia mengelus punggung tangan istrinya
“Ngapain minta maaf sama aku ? Emangnya aku yang kamu bentak ? Minta maaf sana sama Kayra ...” Ia menautkan kedua alisnya
Tama menggeser tubuhnya agar bisa lebih dekat lagi dengan istrinya “Besok pagi aku akan minta maaf sama Kayra, udah dong gak usah cemberut gitu. Makin cantik tau gak” Ia mengelus pipi Camira
Camira mendengus sambil tertawa kecil, menyeka air matanya. Tama tersenyum kemudian menarik tubuh istrinya dalam dekapannya dan mencium pucuk kepala istrinya. Ya beginilah mereka walaupun usianya sudah tidak muda lagi dan anak–anaknya sudah besar–besar tetapi keromantisan mereka tidak pernah pudar sedari dulu.
***
Siang menjelang sore yang cukup terik, terlihat seorang pria muda tampan yang sedari tampak luntang lantung tidak jelas. Sejak tadi Ia hanya sibuk menatap layar ponsel canggihnya dengan gerakan jemari tangannya yang mengetul-ngetul layar ponsel. Tubuhnya berbaring di sofa ruang tengah dengan kondisi TV yang menyala tetapi tidak untuk ditonton karena Ia sendiri sibuk dengan games di ponselnya. Keyhan. Pria itu sedang tidak ada kegiatan hari ini, Ia tidak ada jadwal di kampusnya sehingga membuatnya luntang lantung tidak jelas di rumahnya sejak tadi.
Bahkan bundanya sendiri merasa geram melihat tingkah putranya yang seperti itu sejak beberapa jam yang lalu tepatnya setelah dirinya selesai mandi.
“GOOLLLL!!! Wuhuuu!! Gue menang lagi coyy!” seru Keyhan heboh mengangkat satu tangannya ke atas
Kazna yang sedang berada di dapur menolehkan kepalanya saat mendengar seruan heboh putranya lalu menggelengkan kepalanya. “Key” panggilnya
“Hmm ?” Keyhan hanya bergumam menjawab panggilan bundanya
“Keyhan ?” panggil Kazna lagi tidak puas dengan jawaban putranya
Keyhan mempause gamesnya kemudian mengubah posisinya menjadi duduk karena Ia sendiri tau jika bundanya tidak puas dengan jawabannya barusan “Iya bunda ku yang cantik ?”
Bunda cantiknya berjalan ke menghampirinya “Nih daripada kamu luntang lantung gak jelas kayak gini, mendingan anterin botol susunya Maura ke rumah Om Obi, kemarin botol s**u Maura ketinggalan soalnya” Ia meletakkan botol s**u milik Maura—putri keduanya Obi di meja
“Oke deh bun. Siapa tau aku bisa sekalian ketemu jodohku di sore yang cerah ini” Ia bangkit dari duduknya sambil tertawa
“Skripsi dulu selesain baru ngomongin jodoh” sahut Kazna yang membuat tawa Keyhan makin kencang
Pria itu menaiki tangga ke lantai dua untuk mengambil kunci mobil di kamarnya. Ia menyambar kunci mobil di nakas sisi ranjang lalu berdiri di depan cermin, merapihkan rambutnya dengan jemari tangannya sambil bersiul. Setelahnya Ia langsung melangkah keluar kamar.
Bersamaan dengan itu Aya juga baru keluar dari kamarnya. “Mau kemana bang?” tanyanya begitu melihat kunci mobil di genggaman tangan abangnya
“Ke rumah Om Obi, ikut yuk” Ia sudah merangkul bahu adiknya erat lalu mencium pucuk kepalanya
“Tumben ngajak aku”
Keyhan menatap adik semata wayangnya yang masih dirangkulnya erat “Jadi gak mau nih? Abang ajak salah, gak diajak lebih salah lagi. Kayak Raisa kan abang, serba salah gini”
Aya mencebikkan bibirnya lalu memutar bola matanya jengah “Alay-nya kumat kan. Jadi gak?” Ia menatap abangnya
Keyhan tersenyum “Jadi dong. Yuk” ajaknya dengan sebelumnya mencium gemas pucuk kepala adiknya. Lagi akur nih ceritanya~
Dua puluh menit berselang Keyhan dan Aya sudah berada di rumah Obi. Aya keluar mobil dan langsung masuk ke dalam rumah Obi dengan membawa botol s**u milik Maura sementara Keyhan yang baru saja keluar mobil berjalan ke arah taman kecil yang berada di depan rumah om-nya memperhatikan tukang kebun om-nya yang sedang melakukan pekerjaannya.
“Key, masuk sini. Kamu ngapain disitu ?” seru tantenya di ambang pintu utama rumah
Keyhan yang sejak tadi asik memperhatikan tukang kebun sambil bertolak pinggang menolehkan kepalanya “Iya tante sebentar” jawabnya tersenyum
Tantenya itu tersenyum kemudian masuk kembali ke dalam rumah.
“Iya oma. Ini baru pulang kuliah”
Tiba-tiba terdengar suara lembut seorang gadis yang tertangkap indera pendengaran Keyhan. Ia yang merasa penasaran dengan suara tersebut menolehkan kepalanya ke luar gerbang. Di sana, tepatnya di jalanan komplek terlihat seorang gadis cantik yang memegang buku di tangannya dengan tas ransel coklat yang berada di punggungnya sedang mengobrol dengan seorang wanita tua di depan rumahnya yang berada tepat di sebrang rumah Obi.
Merasa tidak asing dengan wajah si gadis, Keyhan berjalan keluar gerbang untuk melihat lebih jelas lagi wajah gadis tersebut. Dahinya makin berkerut ketika melihat wajah si gadis yang kini tengah tersenyum manis. Otak Keyhan mencoba menggali ingatannya mengenai wajah si gadis yang kiranya memang tidak asing lagi baginya.
“Iya oma, Rania juga mau pulang kok. Kalo gitu aku duluan, mari oma”
Gadis tersebut berucap lagi lalu melanjutkan langkahnya. Mata Keyhan membulat mendengar gadis tersebut menyebutkan sebuah nama tadi. Rania ? Rania ? sepertinya Ia juga tidak asing dengan nama tersebut.
“Itu sih si Rania—temen SMA gue”
Ia teringat dengan ucapan Reyhan beberapa waktu lalu saat mereka berada di cafe dulu. Mata Keyhan lagi-lagi membulat ketika berhasil mengingat siapa gadis tersebut.
“Rania—gadis cantik gue yang di cafe. Wow gue ketemu lagi, jodoh ini kayaknya” Ia pun langsung menatap gadis tersebut yang sudah hilang dari pandangannya. Ia celingak celinguk mencari Rania yang sudah tidak terlihat lagi, entah gadis itu berbelok ke kanan atau ke kiri karena di jalanan kompleks tersebut terdapat dua belokan.
Keyhan baru saja akan beranjak dari tempatnya ingin mengejar Rania tetapi suara Aya langsung menghentikan langkahnya “Bang, balik yuk udah sore”
“Bentar Ya, abang mau ngejar dia dulu” Ia menolehkan kepalanya menatap adiknya kemudian kembali melanjutkan langkahnya dengan sedikit berlari
Dahi Aya mengernyit mendengar jawaban abangnya “Ngejar siapa sih bang ?” tanya Aya sedikit berteriak
“Jodoh abang dek” jawab Keyhan berteriak juga sambil menolehkan kepalanya menatap adiknya lalu tersenyum
Kerutan terlihat di dahi gadis cantik itu bersamaan dengan alisnya yang bertautan melihat tingkah abangnya. Ia pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian kembali masuk ke dalam rumah om-nya.