Pagi yang cerah untuk memulai beraktivitas, matahari bersinar dengan begitu cerianya menyinari alam semesta. Langit biru menaungi bumi dengan begitu cantiknya ditemani dengan semilir angin yang terkadang berhembus dan kicauan burung yang seakan membentuk alunan lagu dipagi hari. Seorang gadis cantik dengan jeans hitam dan kemeja berwarna peach dengan rambutnya yang diikat kuncir kuda asal berdiri di halte bis dengan tangan yang dilipat di d**a. Kakinya yang terbungkus sepatu kets bergerak – gerak seperti menggambar sesuatu diatas aspal halte dengan mata yang menatap ke bawah. Sudah lebih dari sepuluh menit Ia menunggu bis tetapi sampai sekarang bis yang ditunggu tidak kunjung datang.
Hari ini Ia memang sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya karena Ia sendiri sudah menduga pagi ini pasti ayahnya akan memintanya berangkat bersama. Sedangkan dirinya masih belum ingin bertemu dengan ayahnya karena hal semalam. Bahkan selesai bersiap – siap tadi Ia langsung berangkat ke kampus tanpa terlebih dulu sarapan dan hanya berpamitan dengan mamahnya. Kayra benar – benar tidak habis pikir ayahnya akan memarahinya dan membentaknya hanya karena hal sepele yang menurutnya tidak salah sama sekali. Kalau tau akan dimarahi dan dibentak seperti semalam lebih baik Kayra memilih berlama – lama berada dicafe.
Sedang asik sendiri menggambar abstrak dengan ujung sepatunya tiba – tiba sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti didepannya. Kayra mengangkat wajahnya sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga. Tak lama berselang kaca jendelanya terbuka menampilkan seorang pria tampan dengan kacamata hitam yang bertengger dihidungnya dan senyum menawan yang menghiasi wajahnya.
Sejak kapan Keyhan jadi ganteng begini sih, batinnya
Kayra sempat terpesona beberapa detik sebelum akhirnya tersadar dari keterpakuannya. Ia melepaskan sebelah tali tasnya dibahu lalu langsung berjalan ke mobil tersebut dan membuka pintu mobil, masuk ke dalamnya.
Pria yang berada didalam mobil mengernyitkan dahinya bingung. Ia melepaskan kacamatanya lalu menatap Kayra yang sedang mencari posisi nyaman duduknya sambil menyingkirkan rambut diwajahnya dengan kedua tangannya.
Belum ditawarin padahal, kocak nih cewek, batin si pria
Kayra yang merasa diperhatikan menolehkan kepalanya lalu tersenyum dengan kedua tangan yang dikibas – kibaskan di depan wajah si pria yang masih terpaku menatapnya. “Jalan Key. Lo mau ke kampus juga kan ?”
Pria itu gelagapan “Oh-i-iya gue mau ke kampus juga” Ia menghadapkan tubuhnya kembali ke depan tapi kemudian kembali menghadap Kayra dan memajukan tubuhnya hingga membuat wajah mereka sangat dekat. Jantung Kayra langsung marathon begitu mengetahui wajah mereka yang sangat dekat, bahkan Ia bisa merasakan hembusan nafas si pria dan aroma parfum yang begitu menggodanya. Ia menatap lurus mata si pria sambil meneguk ludahnya. Rona merah bersemu dikedua pipinya begitu mendapati tatapan darinya. Selama Ia mengenal Keyhan, pria itu tidak pernah seperti ini padanya dan selama Ia mengenal Keyhan, baru kali ini Ia menyadari kalau Keyhan benar – benar tampan. Padahal Ia hampir setiap hari melihatnya di kampus tetapi kenapa melihatnya hari ini Ia benar – benar terlihat sangat berbeda.
“Jangan lupa pasang seatbeltnya” pria itu memasangkan seatbelt ke tubuh Kayra sambil menahan tawanya
Kayra menghela nafas lega sambil memejamkan matanya karena pemikiran Keyhan akan menciumnya merupakan kesalahan besar. Walaupun kalau pun terjadi Kayra tidak akan menolaknya. Oh My God, Kayra!
Tetapi kemudian Ia menoleh tajam ke arah pria itu ketika Ia mendengar kekehan geli darinya sambil melajukan mobilnya. Sontak Kayra langsung memukul lengannya dengan tangannya berulang – ulang kali. Pria itu mengaduh kesakitan sambil sesekali mengelus lengannya.
“Stop Ra! Stop! Gue lagi nyetir” ucapannya sukses membuat Kayra menghentikan pukulannya. Ia kembali menatap ke depan masih dengan perasaan gondok karena ditertawai.
“Lo pasti mikir tadi gue mau nyium lo kan ?” lanjut pria itu lagi lalu terkekeh
Gadis disampingnya kembali melemparkan tatapan tajamnya. Wajahnya merah malu karena pikiran yang ada dibenaknya tadi diketahui oleh pria itu. “Keyhaaaannn!” teriaknya kesal yang sukses membuat tawa pria itu makin kencang
No, Kayra! I’m Reyhan
***
Keyhan berdiri didepan cermin, Ia merapihkan rambutnya dengan jemari – jemarinya kemudian mengambil parfume yang langsung disemprotkan ke tubuhnya. Begitu merasa sudah oke, Ia langsung menyambar tas berikut dengan kunci mobilnya dan keluar kamar. Ia menuruni anak triyo sambil bersiul riang dipagi hari, dimeja makan sudah terlihat bunda dan ayahnya yang sedang menikmati sarapan pagi. Pria tampan itu langsung menarik kursi disebelah ayahnya dengan sebelumnya meletakkan tasnya dikursi kosong disampingnya. pagi ini keluarga Dirgantara hanya sarapan bertiga karena si kembar satunya sudah berangkat sejak tadi dan Aya, Ia juga sudah berangkat barusan diantar oleh Pak Bim.
“Reyhan udah berangkat bun ?” tanyanya pada sang bunda
Kazna meletakkan sendoknya lalu mengambil gelas “Iya, udah dari pagi tadi”
“Tumbenan banget berangkat pagi – pagi begitu” Ia menyendokkan nasi goreng ke piringnya
“Kuliah kamu kapan selesai Key ?” kali ini ayahnya yang sejak tadi diam membuka suara
Keyhan menoleh sekilas ke arah ayahnya “Insyaallah tahun depan yah”
Rean tampak manggut – manggut sambil menyendokkan nasi goreng ke sendok “Gantiin posisi ayah ya diperusahaan. Tinggal setahun ini kan kuliah kamu”
Putranya yang sedang menikmati nasi goreng buatan bundanya langsung tersedak mendengar ucapan ayahnya. Ia terbatuk – batuk, sang bunda dengan sigap langsung menyodorkan segelas air putih yang langsung diterima olehnya “Nanti aja lah yah, Keyhan masih mau fokus sama kuliah dulu” jawabnya setelah selesai meneguk air
“Waktu ayah dulu, ayah juga pimpin perusahaan sambil kuliah loh Key”
“Bukannya seinget aku kamu mulai pimpin perusahaan papah setelah lulus sidang kan Mas ?” sambar Kazna
Keyhan terkekeh mendengarnya “Tuh kan yah, ayah aja setelah lulus sidang skripsi. Aku juga kayak gitu aja” Ia tersenyum
“Nyamber aja kamu yank” Rean melirik ke arah istrinya yang malah menyengir memamerkan barisan giginya
Putranya memperhatikan kedua orang tuanya itu dengan senyuman manis di wajahnya. Terkadang Ia merasa iri dengan ayah dan bundanya, usianya bukan termasuk muda lagi tetapi mereka terlihat sangat romantis. Tatapan penuh cinta selalu terpancar jelas dikedua mata mereka. Terlebih lagi rasa sayang yang selalu saja mereka perlihatkan didepan anak – anak yang membuat Keyhan ingin memiliki kisah cinta seperti mereka.
Selesai sarapan Keyhan langsung berangkat ke kampus dengan mobil hitamnya. Ia melajukan mobilnya dengan santai sambil menikmati kemacetan ibukota yang sudah sangat akrab dengannya. Sambil menyetir Ia menikmati alunan lagu yang diputar melalui radio dimobilnya, sesekali Ia mengikuti alunan lagu dengan jemari telunjuknya yang diketuk – ketukkan ke setir mobilnya.
Lampu lalu lintas didepan kampus Reyhan berubah warna menjadi merah. Keyhan menginjak pedal remnya, matanya menoleh ke arah kampus saudara kembarnya yang sudah ramai didatangi para mahasiswa dan salah satu mahasiswa dikampus itu adalah saudara kembarnya. Setiap kali ingin ke kampusnya Ia memang harus melewati kampus Reyhan dulu karena jarak kampusnya itu memang lebih jauh dari kampus saudara kembarnya. Merasa tidak ada yang menarik dikampus itu, Ia menengokkan kembali kepalanya menghadap ke depan. Sesuatu yang begitu menarik perhatiannya langsung terlintas didepan matanya. Di zebra cross kini tengah menyebrang seorang gadis cantik dengan jeans putih yang dipadukan dengan blouse berlengan sesiku berwarna hitam, rambut hitam sepunggungnya dibiarkan tergerai membuatnya bergerak bebas tertiup angin dan sesekali diselipkan ke belakang telinga oleh si pemilik. Sebuah tas berwarna hitam menggantung dibahunya. Cantik. Mata Keyhan terus mengikuti langkah kaki si gadis tersebut yang menyebrang jalan seorang diri sampai akhirnya masuk ke dalam area kampus.
Gue mesti tanya sama si Reyhan soal gadis itu
Suara klakson yang panjang membuatnya tersadar dari pesona gadis itu. Ia langsung terlonjak kaget sambil memegangi dadanya, Ia melirik ke arah lampu lalu lintas yang sudah berubah warna lagi menjadi hijau dan langsung melajukan mobilnya kembali.
Dua puluh menit berselang pria yang hari ini mengenakan kaos berlengan sesiku warna abu – abu dan hitam dibagian tangannya sudah sampai di kampus. Ia keluar mobil dan menyelempangkan tasnya disebelah bahunya. Berjalan menyusuri lorong kampus masih dengan pikiran yang dipenuhi oleh wajah gadis cantik tadi.
“Woy Keyhan! Pagi – pagi udah bengong lo” Bima yang datang entah darimana langsung menerjangnya dari belakang, Ia merangkul bahu Keyhan yang membuatnya kaget
“Gak usah ngagetin gila” Keyhan menoyor kepala Bima
Bima tertawa mengetahui temannya yang kesal kemudian tawanya berhenti ketika Ia teringat sesuatu “Oh ya, gw denger – denger lo jadian sama si Kayra ?” Ia memelankan suaranya saat menanyakan hal tersebut
Cepat banget gosipnya menyebar
“Kalo iya lo mau apa ?” Keyhan malah bertanya balik
“Jadi beneran ?” Bima membulatkan kedua matanya “Key, lo gak takut apa punya mertua macem Pak Tama begitu ?”
“Berisik lo ah, nanya mulu” Ia melepaskan rangkulan tangan Bima dan berjalan lebih dulu mengejar pintu lift yang kebetulan terbuka
“Woy Keyhan! Keyhan! Dengerin gue dulu, gue cuma gak mau aja nantinya lo tertekan karena punya mertua macem Pak Ttt—Pagi Pak“ teriakan Bima terpotong karena orang ingin disebut namanya terlihat berjalan ke arahnya
Tama hanya menganggukkan kepalanya sedikit dengan wajah datarnya ddan berjalan melewatinya.
“Untung gue bisa nge-rem mulut gue, kalo gak bisa – bisa diblacklist nih” Ia mengelus – ngelus dadanya
***
Kayra keluar dari mobil sedan berwarna putih tepat di depan kampusnya, dahinya mengernyit begitu melihat pria yang masih setia dibalik kemudi melambaikan tangannya padanya dengan sangat terpaksa Ia mengangkat tangan kananya namun tidak dilambaikan, hanya diangkat saja membuat pria tersebut terkekeh melihat tingkahnya. Begitu mobil tersebut hilang dari pandangannya, Ia berjalan memasuki area kampus.
“Kayra!” tiba – tiba terdengar suara seseorang yang memanggil namanya, Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Gina sudah berdiri beberapa meter darinya. Gadis yang mengenakan blouse berwarna biru itu menghampiri Kayra dan langsung memeluk sebelah lengannya.
“Ciyee berangkat bareng Keyhan nih. Orangnya mana ?” Gina celingak celinguk mencari sosok pria yang dimaksudnya
“Gak ada. Tadi katanya ada urusan dulu nanti baru balik lagi ke kampus. Lagian gue juga gak sengaja kok berangkat bareng tadi ketemu dihalte”
Gina tersenyum menggoda “Ya tapikan pada intinya berangkat bareng ke kampus” Ia mencolek dagu sahabatnya itu
Kayra menyingkirkan tangan sahabatnya dengan alisnya yang menyatu. Gina tertawa puas karena berhasil menggoda Kayra dipagi hari. “Ra, bokap lo tuh gak mau minta uang jajan” Gina masih saja meledek saat dirinya tak sengaja menoleh ke belakang dan melihat Pak Tama
Mata Kayra langsung terbelalak begitu mendengar ucapan Gina. Buru – buru Ia langsung mengambil langkah seribu, Kayra berlari meninggalkan Gina yang memandangnya dengan tatapan bingung. Tama yang menyadari putri cantiknya sedang menghindarinya hanya menggeleng – gelengkan kepalanya tak percaya. Mau dikejar juga tidak mungkin, mengingat mereka sedang dikampus. Gak lucu juga seorang dosen yang terkenal dengan ketegasannya berlari – larian mengejar anaknya.
Gadis itu memencet tombol pintu lift berkali – kali berharap pintu lift dapat dengan cepat terbuka. ia juga terus menerus menoleh ke sekitarnya takut – takut ayahnya sedan mengejarnya. Begitu pintu lift terbuka Ia langsung masuk ke dalam bersamaan dengan segerombolan mahasiswa lainnya yang langsung memenjarakan dirinya disudut. Ia terus mengatur deru nafasnya yang masih ngos – ngosan dan sesekali menyeka keringatnya yang basah dipelipisnya. Olahraga Kayra dipagi hari.
Dan tanpa disadarinya Keyhan yang baru saja tiba dikampus berada didalam lift yang sama dengannya. Namun sayangnya kedua – duanya tidak menyadari hal itu.
Tepat pukul dua belas siang, kelas yang diikuti Kayra selesai. Ia memasukkan semua buku dan alat tulisnya kedalam tas, setelahnya Ia melepaskan ikat rambutnya lalu merapihkan rambutnya dengan jemari – jemari tangannya. Setelah selesai Ia dan Gina langsung keluar kelas untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan karena sudah masuk jam makan siang. Baru saja Ia menginjakkan kakinya diluar kelas ketika terdengar suara seseorang yang memanggil namanya, suara yang sudah begitu hafal dikenalnya dan tak asing lagi. Ayahnya. Gadis itu langsung mempercepat langkahnya menuju triyo darurat meninggalkan Gina yang lagi – lagi menatapnya bingung. Tanpa sengaja pandangan matanya melihat Keyhan yang sedang berjalan menuju lift, Ia langsung mengejarnya dan bersembunyi dibalik punggungnya. Semua orang yang ada disana langsung menoleh ke arahnya dengan saling berbisik – bisik dan tersenyum.
Keyhan yang merasa bingung ketika ada seseorang yang bersembunyi dibelakangnya, menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat siapa orangnya. Ia juga berusaha melepaskan tangan Kayra yang mencengkram erat baju bagian belakangnya. “Ra, lo ngapain sih ?” Ia menolehkan lehernya ke belakang
“Sebentar aja Keyhan, please. Gue gak mau ketemu ayah gue” Kayra menyembunyikan kepalanya dibalik punggung Keyhan
Mendengar Kayra menyebut ayah, pria itu menatap lurus ke depan. Matanya langsung membulat seketika ketika melihat Pak Tama berdiri di depannya dengan raut wajah yang tidak terbaca.
“Bukan saya loh Pak yang nyembunyiin anak bapak, anak bapak sendiri yang mau ngumpet dibelakang saya” katanya takut dengan kedua tangannya yang diangkat ke atas. Persis seperti seorang maling yang tertangkap basah mencuri oleh polisi
Beruntung saat mengatakan itu semua mahasiswa yang tadi berada disekeliling mereka sudah tidak ada, mereka semua sudah menaiki lift yang baru saja turun.
“Keyhan lo apaan sih ?! lebay tau gak” bisik Kayra masih terus bersembunyi
“Gue cuma cari aman Ra, gue gak mau diblacklist nantinya” balas Keyhan berbisik dengan kepala yang sedikit ditolehkan
Tama menundukkan kepalanya sambil memijit pelipisnya lalu mengangkat kepalanya lagi “Bawa Kayra ke kantin Keyhan” perintahnya
“Hah ?” Keyhan melongo tapi kemudian Ia tersadar begitu mendapat pukulan dipunggungnya dari Kayra “Oh, i-iya iya Pak. Saya bawa Kayra ke kantin”
Keyhan berjalan mendekati lift lalu menekan tombol anak panah turun dengan Kayra yang sudah berpindah didepannya karena dirinya tidak ingin bersebelahan berdiri dengan ayahnya yang juga sedang menunggu lift. Dalam hati Tama ingin sekali tertawa melihat tingkah putrinya yang menurutnya sangat menggemaskan itu. begitu pintu lift terbuka, Kayra langsung buru – buru masuk ke dalam diikuti oleh Keyhan. Gadis itu langsung buru – buru menarik tangan Keyhan agar berdiri disampingnya lagi. Lebih tepatnya berdiri diantara Kayra dan Tama.
Seketika suasana lift berubah menjadi mencekam. Keyhan melirik takut ke arah Tama kemudian beralih ke arah Kayra yang terus memalingkan wajahnya dengan kedua tangan yang dilipat didada. Nih anak sama ayah kenapa sih ?
“Kayra Geraldi, sekarang lo jawab pertanyaan gue. Kenapa lo ngumpet dibelakang gue tadi ? Lo lagi ngindarin ayah lo ? Lo lagi berantem sama ayah lo ? Kenapa sih Ra ? Gak baik tau gak berantem sama ayah lo sendiri” Keyhan langsung memberondongnya banyak pertanyaan begitu mereka berdua sudah sampai dikantin
Kayra bertopang dagu dengan satu tangannya yang diletakkan diatas meja. Ia diam seribu bahas mendengar serentetan pertanyaan Keyhan. Merasa geram dengan sikap diam gadis didepannya, Keyhan langsung menarik tangan Kayra yang dijadikan topangan dagunya membuat dagu Kayra hampir terantuk meja sekaligus terlonjak kaget. “Issh! Keyhan!” serunya kesal dengan wajah yang cemberut
Keyhan terkekeh geli “Maaf Ra. Makanya jangan diem aja Kayra, cerita sama gue”
Gadis itu masih diam malahan sekarang Ia tampak serius memainkan ponselnya.
“Kayra! Cerita nggak! Kalo gak, gue seret lo sekarang ke ruangannya pak Tama!” ancamnya yang langsung membuat Kayra mengangkat wajahnya
“Jahat lo! Iya iya gue cerita ...” Ia meletakkan ponselnya dimeja kemudian mengalirlah semua cerita Kayra dari awal dirinya pergi ke cafe lalu pulang diantar Gina sampai akhirnya Ia pulang dan dimarahi ayahnya. Ia menceritakan semuanya secara detail bahkan omongan – omongan yang diucapkan ayahnya pun diceritakan terkecuali bagian dirinya yang bertemu dengan Keyhan semalam. Ia tidak menceritakan bagian itu karena baginya tidak ada gunanya juga diceritakan toh Keyhan juga sudah tahu kan. Walaupun sebenarnya Keyhan tidak tahu apa – apa karena yang ditemui Kayra semalam Reyhan bukan Keyhan.
Keyhan tertawa begitu Kayra menyudahi ceritanya. Kayra yang kesal karena lagi – lagi ditertawai olehnya langsung melemparkan sedotan minumannya ke arah Keyhan.
“Jadi begitu doang masalahnya ? Ya ampun Ra, gue kira kenapa. Denger ya Kayra Geraldi anaknya Pak Tama, wajar kali ayah lo kayak gitu. Lo itu kan anak pertama udah gitu cewek lagi dan cewek satu – satunya juga. Itu tandanya ayah lo sayang banget Ra sama lo” Keyhan melipat kedua tangannya diatas meja
“Ya gue tau Key tapi kan bisa diomongin baik – baik. Gak pake ng-bentak begitu, siapa yang gak kesel coba baru pulang terus tiba – tiba langsung disemprot begitu” Ia memalingkan wajahnya
“Ayah lo cuma emosi sesaat Ra. Percaya deh sama gue, gue yakin banget kok ayah lo itu sayang banget sama lo”
Kayra menolehkan kepalanya menatap Keyhan yang sedang menyeruput minumannya.
Gak biasanya nih anak bisa diajak serius begini. Biasanya juga ngeledekkin terus. Kalo lagi kayak gini manis juga sih tapi tunggu ... bukannya pagi tadi gue ngeliat dia pake kemeja hitam ya kok sekarang kaos abu – abu sih ? Apa dia ganti baju lagi sebelum ke kampus tadi ? Ah peduli apa sih gue, baju dia ini.
“Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu ? Naksir ?” Keyhan tersenyum
Kayra menyambar buku Keyhan yang tergelatak diatas meja kemudian digunakannya untuk memukul bahu Keyhan “Naksir pala lo! Sumpah ya, dari tadi pagi lo itu ngeselin banget. Ngetawain gue lah, ngeledekkin gue lah” Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga kemudian kembali memalingkan wajahnya
Tawa Keyhan terhenti begitu Kayra menyebut ‘pagi tadi’. Sepertinya selama dikampus hari ini baru ini Ia bertemu dengan Kayra, pagi tadi Ia tidak bertemu dengannya karena dirinya yang langsung masuk kelas dan baru keluar kelas sekarang. Terus apa tadi Kayra bilang, ‘ngetawain’ ketemu aja gak gimana mau ngetawain. Dahi Keyhan berkerut bingung dengan ucapan Kayra.
“Tunggu tunggu, tadi pagi ? Emangnya tadi pagi ki—“ ucapan Keyhan terpotong karena kedatangan Gina yang langsung memanggil Kayra
“Kayra! Lo gue cariin juga tau nya disini. Gue kira tadi lo naik lift ...”
“Sorry ya Gin, gue ninggalin lo tadi” Kayra tersenyum
“It’s okay. Tapi lo hutang cerita sama gue, ini udah kedua kalinya loh lo ngindarin ayah lo”
“Iya nanti gue cerita”
“Yaudah yuk ke kelas, udah mau dimulai nih” ajak Gina
Kayra mengambil tasnya sambil mengangguk “Key gue duluan” ucapnya meninggalkan Keyhan sendiri dengan rasa penasaran yang masih belum terpecahkan.
***
Reyhan melangkahkan kakinya menaiki anak triyo menuju lantai dua, Ia berniat untuk mengerjakan tugas kuliahnya diperpustakaan. Beruntung mata kuliah terakhir kali ini tidak ada dosennya dikarenakan sedang sakit sehingga membuat kuliahnya hari ini berakhir lebih cepat dari biasanya. Tinggal satu triyo lagi Ia sudah sampai dilantai dua, Reyhan berjalan menyusuri lorong kampusnya yang panjang sambil sesekali melirik jam tangannya yang melingkar dipergelangan tangannya.
Saat dirinya akan masuk ke dalam perpustakaan tanpa sengaja Ia berpapasan dengan Rania yang akan keluar. Rania yang melihat Reyhan lebih dulu langsung menyapanya.
“Mau pinjam buku ?” tanya Rania
“Iya sekalian mau ngerjain tugas dulu. Lo mau balik ?” Reyhan balik bertanya
Rania yang siang itu menggunakan blouse berwarna hitam menganggukkan kepalanya “Yaudah gue duluan ya ... kerjain tugasnya yang bener supaya nanti gue gampang nanya sama lo kalo ada yang gue gak ngerti” Ia tersenyum lebar
Reyhan terkekeh “Enak di lo dong kalo gitu” Ia mengangkat satu tangannya kemudian masuk ke perpustakaan kemudian meletakkan tasnya diloker, Ia mengambil laptop berikut beberapa buku yang langsung dimasukkannya ke dalam tas bening yang sudah disediakan diperpustakaan. Setelah itu Ia langsung menuju rak demi rak buku mencari buku yang sedang dicarinya baru lah setelahnya Ia mengambil posisi di salah satu meja untuk langsung mengerjakan tugasnya.
Sementara itu Rania, si gadis cantik berambut hitam itu berjalan menuruni beberapa undakan didepan kampusnya kemudian berjalan dihalaman kampus menuju halte bis. Terdengar suara gemuruh disertai dengan kilatan petir yang menyambar, Rania mendongakkan kepalanya menatap langit yang sudah berubah menjadi gelap. Padahal pagi tadi sangat cerah tetapi sekarang langsung berubah menjadi mendung. Dalam hati Ia sangat berharap bisnya cepat datang sebelum hujan mengguyur ibu kota. Ternyata Tuhan mengabulkan doanya, beberapa menit berselang bisnya datang. Ia langsung masuk ke dalam bis.
Hujan deras sudah mengguyur ibu kota disertai suara gemuruh dan terkadang kilatan petir yang mengejutkan. Rania sudah sampai didepan gang kompleks perumahannya, Ia turun dari bis sambil berlari berusaha melindungi kepalanya dari hujan dengan kedua tangannya yang diletakkan diatas kepalanya. Meskipun hal tersebut tidak sama sekali membantu, tubuhnya tetap basah karena hujan yang turunn begitu derasnya. Berhubung untuk sampai dirumahnya harus berjalan kaki dan tidak mungkin dirinya berjalan kaki disaat hujan begini, Ia memutuskan untuk berteduh terlebih dulu disebuah minimarket depan kompleksnya.
Ia duduk dikursi yang tersedia disana sambil sesekali mengelap wajahnya yang basah dengan tissue. Rania memandangi hujan yang masih sangat deras itu, sudah lama tidak turun hujan membuat aroma khas tanah basah langsung menyeruak indera penciumannya. Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat didepan minimarket, tak lama berselang seorang pria keluar dari kursi kemudi sambil berlari kecil. Pria itu berdiri sejenak didepan minimarket membersihkan lengannya yang basah terkena air hujan. Tetesan – tetesan air hujan tercetak jelas dikaosnya yang berwarna abu – abu. Rania mengernyitkan dahinya ketika menyadari wajah si pria tersebut. Ia merasa kenal dengan wajahnya. Dan begitu tanpa sengaja si pria menolehkan kepalanya, Rania langsung memanggilnya cepat.
“Reyhan!”
Pria itu menatapnya.
Oke. Untuk yang kesekian kalinya hal kayak gini terulang lagi. Udah pasti ini temen kampusnya Reyhan ... tapi tunggu dulu, kayaknya gue pernah liat wajah cewek ini. Tapi dimana ya ? Oh, God! Dia cewek cantik yang tadi pagi nyebrang didepan kampusnya si Reyhan. Ya ampun jodoh kali ya Tuhan pertemukan kita lagi. Kesempatan emas, gak boleh didiemin nih.
“Oh, hai. Ngapain ?” Keyhan menghampiri gadis itu kemudian menarik salah satu kursi dan duduk disana
Rania menolehkan kepalanya menatap hujan sambil tersenyum. Keyhan yang mengerti dengan maksudnya langsung tersenyum tipis. Ia merutuki pertanyaannya yang bodoh dan sangat tidak bermutu itu.
“Bukannya lo bilang tadi mau ngerjain tugas di perpus ?” tanya Rania heran
Keyhan tampak mengernyitkan dahinya bingung tetapi sebisa mungkin Ia langsung merubah kembali ekspresi wajahnya “Gak jadi. Kayaknya lebih enak ngerjain dirumah aja, gue cuma pinjem buku aja tadi. Rumah lo disekitar sini ?”
Gadis itu mengangguk “Di komplek ini. Gak jauh sih tapi gue gak bawa payung jadi terpaksa deh neduh dulu”
Keyhan manggut – manggut mengerti.
“Lo sendiri ngapain disini ? Mau beli sesuatu ?” Jempol Rania menunjuk ke arah minimarket dibelakangnya
“Iya ada yang mau dibeli tapi nanti aja lah. Lagi seru ngobrol sama lo” Ia tersenyum
Setelahnya mereka berdua terlarut dalam obrolan panjang sampai akhirnya tanpa disadari hujan telah reda hanya meninggalkan genangan – genangan air diaspal jalan.
Gila ya gue, udah ngobrol banyak kayak gitu tapi sampe sekarang gue gak tau nama nih cewek. Mau nanya juga gak mungkin banget.
Tiba – tiba ponsel Rania berbunyi nyaring, Ia langsung menggeser ikon berwarna hijau dan menempelkannya ke telinga. Keyhan sesekali menoleh ke arahnya, menatap wajah cantiknya yang akan semakin cantik tiap kali Ia tersenyum.
“Ya Tan ?”
“...............”
“Oh, iya Rania udah di minimarket depan tadi nunggu hujannya reda dulu”
Namanya Rania. Thanks God. Terimakasih banget God. Akhirnya gue tau namanya. Rania.
“..............”
“Iya Rania pulang sekarang” Ia memutuskan sambungan teleponnya
“Rey. Kayaknya gue mesti pulang sekarang” Ia bangkit dari duduknya
Keyhan ikutan bangkit dari duduknya “Kalo gitu biar gue anter aja Ran” ajak Keyhan modus supaya bisa tahu rumahnya
“Gak usah Rey. Jalan kaki juga bisa kok, gak jauh ini”
“Jalan kaki lama Ran. Lagian jalanan juga becek abis hujan. Udah yuk gue anter ...” Keyhan langsung menghampiri mobilnya, Ia membukakan pintu penumpang untuk Rania
Rania tersenyum sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Setelahnya Keyhan berlari kecil memutari mobil dan duduk dikursi kemudi
“Tapi Rey, bukannya lo bilang mau beli sesuatu dulu ?” tanya Rania begitu Keyhan menghidupkan mesin mobilnya
“Gampang itu mah. Udah gak usah dipikirin”
Rania mengangguk sambil tersenyum tapi kemudian pandangan matanya tertuju pada baju Reyhan yang menurutnya berbeda dengan yang tadi “Lo ganti baju Rey ?” tanyanya langsung yang membuat Keyhan gelagapan
“Oh ini. I-iya baju yang sebelumnya gue pake tadi itu basah waktu di toilet dan kebetulan dimobil ada baju gue yang ini makanya gue ganti deh daripada masuk angin nantinya. Tapi taunya malah basah lagi karena keujanan” Ia tersenyum menoleh ke arah Rania sekilas
Bisa banget bang alesannya
Gadis itu membalas senyum Keyhan kemudian menolehkan kepalanya kembali menatap ke depan. Tanpa disadarinya Keyhan menghela nafas lega karena Rania percaya dengan perkataan yang barusan dikatakannya.