Setelah mengantarkan pulang Rania pulang, Keyhan langsung memutar balikkan mobilnya ke arah rumah. Ia melupakan rencananya yang akan membeli keperluannya di minimarket. Sepanjang perjalanan pulang Keyhan tidak dapat menyembunyikan senyumannya karena telah berhasil berkenalan dengan Rania. Sejak pertama kali melihat wajah Rania pagi tadi Ia memang sudah merasakan ada ketertarikan padanya. Wajah cantiknya, sikap baik dan ramahnya mampu membuat detak jantungnya dag dig dug saat bersamanya dan juga berhasil merebut hatinya.
Keyhan harus buru–buru menyusun strategi untuk mendekati Rania. Tidak peduli Rania mahasiswi di kampus saudara kembarnya, Ia akan tetap mendekati gadis itu. Tanpa disadarinya Ia sudah sampai di depan rumah. Keyhan memarkirkan mobilnya di garasi rumah yang sudah ada mobil Reyhan disana. Dengan senyum yang masih terus mengembang diwajahnya Ia keluar mobil dan berjalan memasuki rumah. Matanya diedarkan mencari sosok saudara kembarnya untuk menanyakan mengenai Rania.
Ia melangkah menuju dapur bertanya pada bundanya “Reyhan mana bun?” tanyanya sambil mencium pipi bundanya sekilas
“Di halaman belakang kayaknya”
Pria itu langsung meninggalkan dapur dan berlari kecil ke arah halaman belakang meninggalkan tas dan kunci mobilnya di meja makan. Kazna yang melihat putranya yang sepertinya sedang berbahagia itu menggeleng–gelengkan kepalanya dengan senyuman manis diwajahnya.
Di halaman belakang, Reyhan yang baru saja sampai rumah langsung menuju halaman belakang. Ia hanya ke kamar sebentar untuk meletakkan tas kemudian langsung menuju halaman belakang untuk menikmati suasana sore hari yang sejuk setelah hujan. Pikirannya mengingat kejadian pagi tadi saat dirinya berangkat bersama dengan Kayra, Ia benar – benar tidak menyangka gadis itu tidak mengenalinya. Padahal Ia mengetahui kalau Keyhan itu memiliki kembaran dan sewaktu kecil mereka juga sering kali bermain bersama tetapi nyatanya saat sudah besar Kayra tidak bisa membedakan Keyhan dan Reyhan.
Tepukan cukup keras dibahu membuatnya tersadar dari lamunan singkatnya, Ia mencebikkan bibirnya kesal karena merasa diganggu oleh saudara kembarnya sendiri. Keyhan duduk di sofa samping Reyhan yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa sambil memeluk bantal sofa berniat untuk tidur.
“Kata Rania tadi lo lagi ngerjain tugas diperpus? kok lo udah disini aja sih?” tanya Keyhan sengaja menyebut nama Rania
Reyhan memiringkan tubuhnya berusaha mencari posisi nyaman “Laptop gue low terus gak bawa char—“ Ia langsung membuka mata yang sebelumnya sudah dipejamkan dan bangkit dari tidurnya ketika menyadari Keyhan menyebut nama salah satu gadis yang dikenalnya “Apa tadi lo bilang? Rania? Lo?”
Keyhan menganggukkan kepalanya kemudian terkekeh geli “Yap brother. Gue ketemu Rania di depan minimarket bahkan barusan gue nganterin dia pulang. Dia beranggapan gue itu lo. Kok lo gak bilang sih punya temen cantik kayak dia”
Reyhan memangku bantal sofa “Ngapain juga gue bilang ke lo” ucapnya menautkan kedua alisnya kemudian menampilkan raut wajah yang tidak terbaca
“Lo naksir Rey sama dia?” tebak Keyhan penasaran karena merasa ada yang berubah dengan ekspresi wajah saudara kembarnya begitu Ia menceritakan Rania
Pria berkemeja hitam itu menggelengkan kepalanya “Belum masuk ke taraf suka. Baru kagum aja sama dia, cantik, baik, pinter ... lagian gue juga lagi tertarik sama cewek lain” Ia menatap Keyhan tersenyum dengan kedua alisnya yang dinaik turunkan
Keyhan mengangkat sedikit dagunya dengan kedua alisnya yang dinaikkan seakan bertanya ‘siapa’. Saudara kembarnya itu tersenyum lebar membayangkan wajah gadis itu sebelum akhirnya mulutnya berucap “Kayra”
Mata Keyhan membulat mendengar jawaban saudara kembarnya, Ia sedikit memajukan tubuhnya “Gila! Lo naksir si Kayra? Kok bisa??? Ketemu dimana lo?” tanyanya tidak percaya
Reyhan langsung menceritakan awal pertemuan mereka di cafe semalam dan pagi tadi. Keyhan mengangguk mengerti dan baru memahami sekarang apa yang diucapkan Kayra padanya tadi mengenai dirinya yang menertawakan dan meledeknya pagi tadi. Jadi yang dimaksud Kayra menertawakan dan meledeknya pagi tadi itu Reyhan bukan dirinya. “Tapi kok tuh cewek aneh ya, kenapa dia gak ngenalin gue sih? Bukannya dia tau kalo kita kembar?” tanya Reyhan
“Yaelah lo kayak gak tau si Kayra aja. Dia itu kan kadang suka ceroboh sekaligus pelupa, paling dia lupa kalo kita kembar”
Merasa mendapat ide brilian diotaknya Reyhan menjentikkan jari jempol dan tengahnya sambil menatap Keyhan. “Gue punya ide bagus!” Ia tersenyum menyeringai
Keyhan mengernyitkan dahinya bingung “Ide apaan? Jangan gila deh lo Rey!” Ia mulai mencium ada sebuah ide tak biasa yang sedang bermain–main di dalam otak saudara kembarnya. Mendengar itu Reyhan hanya memamerkan senyuman penuh arti sebelum akhirnya mengutarakan ide yang menurutnya sangat brilian itu.
***
Tama baru saja pulang dari kampus, Ia masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tengah terlihat putranya yang sedang menonton TV sambil rebahan di sofa. Ia mencium kepala putranya yang langsung membuat Kelvin mendongakkan kepalanya kemudian mengambil posisi duduk disofa single. Tama mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah menjadi sosok istri cantiknya dan putri sulungnya. “Mamah mana Vin?” tanyanya
“Lagi ke supermarket sebentar yah sama Pak Ali” Ia menatap sekilas ayahnya
“Kakak kamu? udah pulang?” tanya Tama lagi membuka kancing lengan kemejanya kemudian digulung sampai siku
Kelvin menganggukkan kepalanya “Udah dari tadi. Lagi di kamar tuh”
Tama meletakkan kunci mobil beserta ponsel di meja seraya bangkit dari duduknya, Ia berjalan menaiki anak tangga rumah menuju lantai dua. Menuju salah satu kamar yang ada disana. Diketuknya pintu kamar bercat coklat itu tiga kali sambil sesekali menyerukan nama putri cantiknya. Tidak ada sahutan apapun dari dalam sampai akhirnya Ia terpaksa membuka pintu kamar dan menyembulkan kepalanya. “Kayra”
Kayra yang baru selesai membersihkan dirinya keluar dari kamar mandi sambil menggosok–gosokkan handuk ke rambutnya yang basah. Ia sedikit melongokkan kepalanya ke arah pintu ketika terdengar suara pintu yang dibuka. Begitu melihat ayahnya, Ia langsung menghiraukannya begitu saja dan berjalan menuju meja rias. Ia mengambil sisir dan mulai menyisir rambutnya.
Tama berdiri di dalam kamar putrinya yang didominasi warna mint dan putih, semua barang–barang milik Kayra tertata rapih ditempatnya. Entah kenapa kali ini Ia merasa canggung berada di kamar putrinya sendiri padahal biasanya tidak begitu. Ia mendaratkan bokongnya ditepi ranjang, memperhatikan putri cantiknya yang sedang menyisir rambut seakan tidak peduli dengan kehadiran sang ayah. Wajah Kayra langsung berubah cemberut ketika melihat ayahnya.
“Tadi kamu pulang jam berapa Ra?” tanyanya basa basi
“Jam lima” jawab Kayra terdengar ketus
Tama manggut–manggut mengerti sambil berusaha menahan tawanya karena mendapat jawaban ketus dari putrinya sendiri “Naik bis?” tanyanya lagi
“Yaiyalah naik bis. Emangnya naik apaan lagi” Kayra berpindah duduk ke kursi belajarnya. Ia membuka laptop untuk mengecek email yang baru saja dikirim Gina mengenai tugasnya
Ayahnya tersenyum simpul. Kalau lagi marah begini Kayra gak jauh beda dengan mamahnya. Ia menarik kursi beroda putrinya hingga mendekati dirinya yang masih duduk ditepi ranjang. “Ayah apaan sih. Kayra mau ngerjain tugas” ucapnya kesal
“Dengerin ayah dulu sayang, ayah mau ngomong”
Kayra tidak menanggapi ucapan ayahnya, dipalingkannya wajah cantiknya dari hadapan ayahnya. Tama tersenyum tipis mengetahui putri cantiknya tidak mau menatapnya. Segitu marahnya Kayra padanya.
“Maafin ayah Ra. Ayah lepas kontrol kemarin ... Ayah langsung khawatir waktu tahu kamu gak ada di rumah. Ayah langsung emosi kemarin. Maafin ayah ya, ayah beneran gak ada maksud buat ng-bentak kamu, ayah cuma emosi aja”
Tak ada jawaban dari putrinya.
“Kayra” panggil ayahnya lembut
Putri cantiknya masih diam.
“Princess Kayra” panggil Tama sekali lagi dengan panggilan yang berbeda
Sontak Kayra langsung memukul lengan ayahnya “Kayra gak suka dipanggil begitu yah. Kayra bukan anak kecil lagi”
Tama terkekeh mendengar jawaban putrinya. Sejak kecil Tama memang selalu memanggil putrinya dengan sebutan princess dan dulu Kayra sangat menyukai panggilan itu tetapi begitu sudah besar Kayra tidak mau lagi dipanggil dengan sebutan itu karena Ia merasa seperti anak kecil jika dipanggil dengan sebutan begitu.
“Jadi kamu gak mau maafin ayah nih?” Ia menatap lurus manik mata putrinya
“Kayra udah maafin ayah” jawabnya akhirnya menyelipkan rambut ke belakang telinga
“Seriously?” Tama tersenyum yang langsung dijawab berupa anggukan oleh Kayra “Udah ayah sana ah, Kayra mau ngerjain tugas” Ia memutar kursinya dan kembali ke meja belajar
Tama bangkit dari duduknya menghampiri sang putri “Makasih ya sayang udah maafin ayah. Ayah janji gak akan kayak gitu lagi, sekarang lanjutin belajarnya. Ayah sayang kamu” Ia mencium pucuk kepala putrinya sebelum akhirnya keluar kamar Kayra
Langkah kaki Tama terhenti diambang pintu kamar ketika teringat sesuatu “Kayra, tapi kenapa kamu tadi malah milih ngumpet di belakang Keyhan? Kamu sama dia ga—“
Kayra menolehkan kepalanya “Just friend dad!” jawabnya langsung memotong ucapan ayahnya karena Ia sendiri sudah tau arah pembicaraan sang ayah
“Oke. Tapi lebih dari itu pun ayah setuju. He’s good boy!” Tama tersenyum sebelum akhirnya benar–benar pergi meninggalkan kamar putrinya
Masih ditempatnya duduk, Kayra menganga mendengar ucapan ayahnya barusan. Apa Ia tidak salah dengar? Apa yang terjadi dengan ayahnya sampai Ia bisa bicara seperti itu? Apa yang dikatakan ayahnya tadi? Ia mengatakan kalau lebih dari sekedar teman pun Ia setuju. Apa itu artinya sama saja dengan dirinya yang menyetujui hubungan Kayra dan Keyhan jika memang mereka berpacaran. Begitu? Sulit dipercaya. Padahal selama ini ayahnya selalu melarang Ia berpacaran karena tidak ingin belajarnya terganggu. Tetapi baru saja ayahnya mengatakan hal demikian, apa itu artinya Ia sudah memberi lampu hijau jika memang putrinya berpacaran? Dan apalagi yang dikatakannya tadi, Ia mengatakan Keyhan itu good boy. Astaga ini benar–benar diluar dugaan, sebelumnya ayahnya tidak pernah sekali pun bersikap seperti ini. Setiap kali bertemu dengan teman lelaki Kayra pasti ada saja yang dikatakannya, yang beginilah yang begitulah. Kata–kata yang menjurus ke arah tidak suka lebih tepatnya tetapi ternyata sekarang Ia malah mengatakan Keyhan lelaki baik–baik. Apa itu artinya ayahnya menyukai Keyhan? Entahlah. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada ayahnya hari ini hingga membuatnya sangat aneh.
***
Keesokan harinya Kayra berangkat ke kampus bersama dengan ayahnya dan Kelvin yang juga akan berangkat sekolah. Candaan sekaligus tawa riang pagi memenuhi suasana mobil kali ini. Tidak ada lagi wajah cemberut Kayra, tidak ada lagi sikap jutek dirinya pada sang ayah seperti hari kemarin. Yang ada sekarang hanya tawa ceria yang ditunjukkan diwajah cantiknya ketika tertawa bersama ayah dan adiknya.
Sebelum ke kampus, Tama terlebih dulu mengantarkan Kelvin ke sekolahnya. Saat ini putra semata wayangnya duduk dibangku SMA. Kelvin tumbuh menjadi lelaki yang tampan dan banyak diidolakan di sekolahnya bahkan Ia sudah terkenal saat ini karena Ia menjabat sebagai ketua osis sekolah dan mendapat julukan ketua osis tampan. Badannya yang tinggi sudah hampir melebihi tinggi kakaknya sendiri bahkan sering kali Kelvin meledek kakaknya karena lebih pendek darinya.
“Sekolah dulu ya yah, kak” ucapnya sambil mencium punggung tangan ayah dan kakaknya bergantian kemudian keluar mobil
“Belajar yang rajin adikku—sang ketua osis ganteng kita” teriak Kayra melalui kaca mobilnya dan sukses membuat siswa–siswa lain yang sedang memasuki gerbang sekolah menoleh ke arahnya. Sementara Kelvin menoleh ke arahnya sambil mendelikkan matanya kemudian mempercepat langkahnya. Tama yang duduk dibalik kemudi hanya geleng–geleng kepala melihat sikap putra putrinya.
Begitu mengantar sang putra, Tama langsung melajukan mobilnya menuju kampus tempat dirinya bekerja sekaligus tempat putrinya menuntut ilmu untuk menjadi sang dokter sesuai dengan cita-citanya. Obrolan mereka kembali dilanjutkan sambil sesekali tertawa bersama hingga akhirnya tak terasa mereka sudah sampai di kampus lebih tepatnya di parkiran kampus khusus dosen dan orang–orang penting lainnya. Kayra melepaskan seatbelt kemudian mengambil tangan ayahnya untuk dicium punggung tangannya. “Kayra duluan yah”
“Nanti pulangnya mau bareng ayah atau gimana Ra?”
Kayra tampak berpikir sejenak “Nanti aku sms aja deh. Yaudah aku duluan ya yah” Ia membuka pintu mobil
“Have a nice day darling!”
“Thank you dad” Ia menoleh sekilas ke arah ayahnya sambil tersenyum
Gadis yang hari ini terlihat mengenakan blouse berwarna navy berjalan menyusuri lorong panjang kampusnya. Kemudian ponsel yang berada di tasnya bergetar tanda ada panggilan masuk. Ia langsung mengambil ponselnya di dalam tasnya, tertera nama ‘Keyhan’ dilayar sebagai nama si penelpon. Ia menggeser ikon berwarna hijau lalu menempelkannya ke telinga.
“Dimana lo? Ke kantin sekarang! Buruan! Emergency Kayra!” belum sempat Kayra mengucapkan halo, Keyhan sudah lebih dulu menyerbunya
“Ada apaan sih?” tanyanya dengan alis yang berkerut
“Tahu bulet ada di sini. Dia butuh penjelasan kita”
Kerutan makin terlihat di dahi Kayra. Tahu bulet? Apa sih maksud Keyhan ini? Penjelasan pula? Penjelasan apa coba?
“Tahu bulet? Tahu bulet apa sih? Lo mau tahu bulet depan kampus?”
Terdengar kekehan Keyhan dari sebrang sana “Tahu bulet lima ratusan digoreng dadakan, maknyusss” Ia menirukan suara penjual tahu bulat kemudian tertawa
Tanpa bisa ditahan kedua sudut bibir Kayra tertarik, Ia sendiri merasa geli mendengar ucapan Keyhan barusan. Tidak dapat dipungkiri kalau kakak seniornya ini memang sangat konyol. Bahkan dibandingkan Reyhan tingkat kekonyolan Keyhan memang lebih banyak.“Seniorr setresss!!” Ia tertawa
“Setress begini juga banyak yang naksir Ra. Udah buruan sini ke kantin sebelum si tahu bulet ini makin bulet terus menggelembung kayak balon”
“Iye gue ke sana sekarang” Ia mematikan sambungan teleponnya kemudian berjalan ke kantin masih dengan senyum diwajahnya membayangkan kekonyolan Keyhan barusan.
Begitu sampai di kantin, suasana kantin belum terlalu ramai hanya terlihat beberapa mahasiswa yang sedang menikmati sarapan mereka. ia mengedarkan pandangan matanya mencari sosok Keyhan yang sedang menunggunya. Di sebuah kursi yang memang selalu menjadi favoritnya, Ia melihat Keyhan duduk berhadapan dengan seorang pria bertubuh gembul yang dari jauh saja Kayra sudah bisa menebak siapa itu. Dito.
Dalam hati Kayra tertawa terbahak-bahak mengingat Keyhan menyebut tahu bulat dan sekarang Ia sudah bisa menebak siapa yang dimaksud tahu bulat oleh Keyhan. Siapa lagi kalau bukan Dito.
Kayra juga sudah mengerti maksud Keyhan memintanya untuk cepat–cepat datang ke kantin. Langkah kakinya langsung membawanya menuju meja Keyhan, begitu Ia sudah berdiri di samping meja Kayra berdehem yang membuat dua pria di depannya itu menoleh ke arahnya. Entah kode atau apa Keyhan langsung mengedipkan sebelah matanya sambil menatap gadis itu. Kayra hanya menatapnya geli kemudian menghembuskan nafas sambil menatap ke arah lain.
“Ya ampun yank kamu baru dateng. Kok lama sih? udah aku bilang kan tadi bareng aku aja, sini duduk dulu” Keyhan menarik tangan Kayra untuk duduk di sebelahnya
Kayra hanya pasrah ditarik seperti itu kemudian dilihatnya Keyhan yang mulai merangkul bahunya. Ia langsung menolehkan kepalanya dengan kedua mata yang mendelik menatap Keyhan. “Akting Ra, akting! Tahu bulet masih gak percaya kita pacaran” bisiknya pelan dengan nada suara yang tertahankan
Sebisa mungkin Kayra menahan tawanya agar tidak pecah ketika mendengar Keyhan menyebut Dito tahu bulat. Gadis itu menatap Dito yang sedang memperhatikan gerak–gerik mereka berdua. Ia berdehem sebelum akhirnya memulai perannya “Kamu pasti nunggu aku lama ya. Maaf ya tadi macet jadi lama” Ia tersenyum paksa menoleh menatap Keyhan
“Eh-Dito. Lo nungguin gue juga? Ada perlu apa emangnya?” Ia beralih menatap Dito
“Gak kok. Tadi gue cuma ngobrol aja sama kak Keyhan” ucapnya dengan sorot mata yang menyiratkan kesedihan
“Kamu ada kelas jam berapa yank?” tanya Keyhan dengan satu tangannya yang bebas mengenggam tangan Kayra kemudian diremasnya. Namun Kayra langsung menariknya dengan alasan ingin menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Mendengar Keyhan memanggilnya dengan panggilan yank untuk yang kesekian kalinya Kayra merasakan merinding disekujur tubuhnya.
“Jam? ya sekitar dua puluh menit lagi”
“Kalian pacaran tapi kok gak mesra ya?” ucap Dito merasa ada yang mengganjal dengan sikap mereka berdua
Keyhan langsung menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Kayra kemudian tangannya langsung merebahkan paksa kepala Kayra di bahunya “Kita emang gak suka ngumbar kemesraan gitu To. Ya seperti yang lo liat, kita malah lebih banyak bercandanya tapi justru kita lebih suka gaya pacaran yang kayak gitu ... unique. Ya kan yank?”
Gadis itu menatap ke arahnya dengan tatapan tajamnya “Iya bener To. Kita suka gaya pacaran yang begini” Ia tersenyum kemudian Ia menarik tangannya ke belakang hingga sekarang tangannya berada di belakang punggung Keyhan. Ia menepuk punggungnya pelan tetapi semakin lama bukan menepuknya lagi tetapi berubah menjadi pukulan pelan sampai akhirnya kencang dan membuat Keyhan terbatuk – batuk.
“Oh~kamu kenapa? Astaga, minum dulu, minum dulu” Ia menyodorkan minuman ke arah Keyhan lalu langsung meminumkannya dengan sedikit mendorong gelasnya dan membuat minumannya sedikit tumpah ke baju Keyhan. Pria itu mendelik ke arah Kayra namun beberapa detik berselang langsung memamerkan senyum jahatnya
Kayra pun membalas senyum jahat Keyhan kemudian mengambil tissue dan mengelap mulut Keyhan yang basah “Romantis banget sih kamu yank” Keyhan memegang tangan gadis itu yang sedang menekan–nekan tissue disekitar mulutnya
“Kayaknya gue mesti masuk kelas sekarang deh. Gue duluan ya” ucap Dito akhirnya yang langsung membuat Kayra dan Keyhan bernafas lega. Itu yang sedari tadi mereka tunggu–tunggu dari Dito
“Iya Dito. Hati-hati ya” ucap Kayra sambil tersenyum lega
Mereka berdua memperhatikan tubuh Dito yang berjalan keluar kantin, begitu sudah tidak terlihat lagi mereka berdua saling bertatapan. Kemudian mata mereka langsung melirik ke arah tangan Keyhan yang masih memegang tangan Kayra. Buru–buru mereka saling menarik tangannya dan saling menjauh memberikan jarak antara mereka berdua.
“Bisa gila gue lama–lama begini” Kayra menutup wajahnya dengan kedua tangannya
“s**t! Kenapa jadi begini sih?” sahut Keyhan
Gadis itu menoleh ke arahnya “Ini semua gara–gara ide konyol lo! Kalo bukan karena lo kita gak mungkin kayak gini. Pake acara panggil yank yank begitu lagi terus megang tangan gue, sumpah demi apapun Keyhan gue geli!” Ia menggeleng–gelengkan wajahnya yang masih ditutupinya dengan tangan
“Lo pikir gue engga! Lagian si tahu bulet lo kasih apaan sih sampe segitunya suka sama lo dan gak percaya sama apa yang gue bilang kemaren. Heran deh gue sama tuh anak”
“Kok lo malah nyalahin gue sih?! Lo tanya sendiri lah sama dia kenapa sebegitu jatuh cintanya dia sama gue? Mungkin gue terlalu cantik” Ia mengibaskan rambutnya
Keyhan memutar bola matanya jengah “Pede abisss!!” Ia berteriak ditelinga Kayra kemudian mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Kayra seorang diri yang sedang mengusap–ngusap telinganya karena teriakan Keyhan tadi.
“Dasar senior gila!” teriak Kayra yang dibalas Keyhan dengan mengangkat tangannya ke atas lalu melambai–lambaikannya tanpa memutar tubuhnya lagi.
***
Reyhan duduk dikursi pojok kantin kampus, jam kuliahnya baru saja selesai. Ia meletakkan tasnya di atas meja kantin, mengeluarkan ponselnya dari saku kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil mengecek ponselnya. Tak berselang lama ada seseorang yang menempati kursi kosong di sebelahnya. Tanpa menoleh Ia tahu siapa orang tersebut, sudah pasti Riyo yang memang selalu duduk disebelahnya dimana pun mereka berada.
Tetapi tanpa sengaja ekor matanya melihat lengan putih mulus seseorang disampingnya. Setahu dirinya lengan Riyo tidak seputih dan semulus itu. Ia menolehkan kepalanya dan matanya menatap tidak percaya begitu melihat siapa yang sudah duduk disampingnya. Rania. Gadis cantik berkemeja hijau dengan rambutnya yang dikuncir kuda.
“Rania” gumamnya menegakkan tubuhnya
Gadis itu menoleh lalu mengulas senyum. “Gak pa-pa kan gue duduk di sini?”
Reyhan terkekeh “Yaelah di sini bebas kali Ran. Lo mau duduk dimana pun boleh bahkan duduk di pelaminan bareng gue juga boleh” Ia kembali terkekeh
“Apaan sih Rey” Ia ikutan terkekeh kemudian bertopang dagu dengan pandangan lurus ke depan
Merasa ada yang aneh dengan sikap Rania yang tidak seperti biasanya, Ia meletakkan ponselnya kemudian memperhatikan wajah gadis itu “Kenapa Ran? Mata lo sembab? Abis nangis?”
Gadis itu menggelengkan kepalanya “Gak. Gak kenapa–napa” Ia tersenyum tipis
Reyhan mengangguk–ngangguk mengerti walaupun Ia sendiri sangat yakin kalau gadis disampingnya ini sedang menyembunyikan sesuatu. Tetapi Reyhan memilih untuk diam karena tidak enak juga jika terus–terusan bertanya mengingat selama ini mereka tak sedekat itu untuk saling berbagi cerita. Pria itu memilih untuk kembali melanjutkan mengutak-ngatik ponselnya dengan kepala yang dipenuhi dengan tanda tanya. Selama Ia mengenal Rania, ini kali pertamanya Ia melihat gadis itu tak ceria seperti biasanya.
Tiba–tiba terdengar suara Amel—teman Rania yang baru masuk kantin dan menghampirinya “Ya ampun Ran, gue cariin lo di kelas, di perpus, di toilet ternyata lo di sini. Panik tau gak sih gue ... sekarang lo cerita sama gue kenapa lo bisa putus sama si Leo itu”
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Amel sontak membuat Reyhan mengangkat wajahnya kemudian Ia menoleh ke arah Rania dengan raut wajah yang tidak terbaca “Lo putus sama Leo?” tanya Reyhan dengan badan yang sedikit dicondongkan ke arah gadis itu
Buru–buru Rania bangkit dari duduknya kemudian menarik lengan Amel dan berjalan keluar kantin. Reyhan menatap dua gadis tersebut yang sudah keluar kelas entah kemana. Ia benar–benar tidak percaya Rania dan Leo sudah mengakhiri hubungan mereka, padahal setahu dirinya Leo sangat menyayangi kekasihnya itu tetapi nyatanya hubungan mereka berakhir. Reyhan menyandarkan tubuhnya ke tembok dengan tangan yang dilipat didada.
Rania putus sama Leo? Seharusnya gue seneng denger ini tapi kenapa sekarang gue biasa aja. Apa karena gue udah lebih tertarik sama Kayra makanya perasaan gue jadi begini? So, mana yang harus gue pilih sekarang, Rania or Kayra?
Ia menyambar ponselnya, membuka salah satu media sosialnya kemudian mencari kontak saudara kembarnya. Jemari tangannya terlihat lihai mengetikkan sesuatu untuk Keyhan dan langsung dikirimnya saat itu juga bersamaan dengan Riyo yang baru saja datang lalu meletakkan tasnya di atas meja.
Begitu kuliahnya hari ini selesai, Reyhan langsung pergi meninggalkan kampus karena sudah mempunyai janji sebelumnya dengan Keyhan. Ia sudah berada di dalam mobilnya saat ini, meletakkan tasnya di kursi penumpang samping kemudi, menyalakan mesin mobil kemudian melajukan mobilnya keluar parkiran kampus.
Tempat tujuannya kali ini adalah cafe milik ayahnya. Ia sudah membuat janji dengan saudara kembarnya untuk bertemu disana untuk membiacarakan mengenai rencana yang sebelumnya telah mereka susun kemarin sore. Tak butuh waktu lama untuk sampai di cafe, Ia sudah sampai di cafe. Reyhan memarkirkan mobilnya lalu keluar mobil dan berjalan masuk ke dalam cafe.
Cafe yang tidak terlalu ramai disiang hari hanya ada beberapa orang kantoran yang sedang menikmati minuman mereka.
“Yan, latte satu ya. Ruangan ayah” ucapnya pada salah satu pelayan cafe yang bernama Ian. Kemudian Ia langsung melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju ruangan ayahnya.
Di dalam ruangan ayahnya, Keyhan yang sudah datang sejak tadi sedang mengutak–ngatik ponselnya sambil merebahkan tubuhnya disofa. Begitu mendengar suara pintu yag dibuka, Ia sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Reyhan mengambil posisi disofa sebrang saudara kembarnya seraya meletakkan kunci mobil dimeja. “Kenapa lo ngajak ketemu disini?” tanya Keyhan dengan mata terus tertuju pada ponselnya
“Gue ada berita bagus buat lo” Reyhan merentangkan kedua tangannya diatas sandaran sofa dengan kaki kanannya yang ditumpukan diatas kaki kiri
Keyhan menoleh ke arahnya “Apaan?”
“Rania putus sama pacarnya” Ia tersenyum
Mendengar berita tersebut Keyhan langsung mengubah posisinya menjadi duduk “Seriusan lo? Wow. Pertanda bagus banget. Tuhan bener–bener memudahkan rencana gue, kayaknya dia emang jodoh gue”
BUGHHH!
Sebuah bantal sofa langsung mengenai wajah tampannya ketika Ia mengucapkan kalimat terakhirnya. “Jangan terlalu yakin dulu lo!”
Keyhan mencebikkan bibirnya kemudian meletakkan bantal diujung sofa yang dijadikan bantalan sikunya untuk menopang kepala dengan tubuhnya yang miring menghadap saudara kembarnya “Tapi lo gak berubah pikiran kan bro? Rencana tetep berjalan sesuai apa yang kita omongin kemaren kan?”
“Gak lah. Hati gue berpaling, terlanjur kecantol sama Kayra” Ia senyum senyum membayangkan wajah cantik Kayra
Tawa Keyhan langsung menggelegar begitu mendengar ucapan Reyhan barusan. Ia benar–benar tidak percaya saudara kembarnya akan benar–benar menyukai gadis yang setiap hari ditemuinya di kampus dan sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Bersamaan dengan itu Ian—sang pelayan masuk ke dalam mengantarkan pesanan Reyhan.
“Thanks Yan”
“Eh-yan gue juga mau dong, es jeruk aja” sambar Keyhan
“Tadi gak sekalian. Pake es gak?” tanya Ian yang sudah berjalan ke arah pintu
“Ya namanya es jeruk pake es lah Yan. Kalo gak pake es itu berarti jeruk doang ... suka aneh lo emang!”
Ian hanya terkekeh kemudian pergi meninggalkan ruangan. Reyhan yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum simpul.
“So, rencana kita tetep berjalan kan besok?” tanya Reyhan kemudian menyeruput latte-nya
“Yup! Berjalan sesuai rencana. Gue jadi gak sabar nunggu besok” Keyhan tersenyum girang
“Inget. Resiko tanggung bersama, deal?” Reyhan mengulurkan tangannya
Keyhan menjabat tangan saudara kembarnya “Deal brother!”