“Yo, Reyhan kemana sih?” tanya Ocha pada Riyo yang sedang tiduran di sofa Riyo mengangkat sedikit kepalanya kemudian menoleh ke jendela luar, “cari Reyhan tuh gampang. Lo liat aja ke pagar depan, paling tuh anak lagi nangkring di sana” Ocha tak menanggapi ucapan Riyo, ia melangkah keluar rumah dan benar saja. Di pagar depan rumah terlihat Reyhan yang di sana sambil mengutak-ngatik ponselnya dan sesekali senyam-senyum sendiri. Tak terasa sudah dua minggu Reyhan dan rombongan melaksanakan pengabdian di desa tersebut. Tinggal tersisa dua minggu lagi dan setelah itu tugas mereka selesai. Selama dua minggu jangan ditanya rindunya Reyhan pada Jakarta. Walaupun kota tersebut terkenal dengan kemacetannya tetapi saat tidak berada di sana Reyhan merasa rindu. Bukan rindu dengan kemacetannya teta

