Arini turun dari mobil sedan milik Bimantara, yang sebenarnya itu adalah mobil Eve untuk mobilisasinya kemanapun. Raut wajahnya tidak ada rasa simpati sedikitpun ketika melihat Eve yang bangkit perlahan. Jelas-jelas dia melihat Eve tadi sedang terduduk lemas di lantai. Dan sekarang Eve masih sesekali mengusap kedua lututnya. “Kenapa dia?” tanya Arini acuh tak acuh. Kepada Mikha. Bukan bertanya langsung pada Eve. Mikha mengedikkan kedua bahu. “Nggak tau tuh, Ma. Jatuh sendiri dia. Masuk yuk, Ma. Aku capek, ngantuk, mau tidur.” Mikha menggelendot manja pada lengan sang mama. Mengajaknya untuk masuk ke rumah. “Uhh kasihan anak Mama capek ya. Sama nih, Mama juga capek dan ngantuk. Tadi tumben acara arisannya lebih lama dari biasanya.” Mereka berdua berjalan masuk ke rumah. Tidak lagi menol

