Velia menghela napas gusar, dia benar-benar terlambat hari ini. Gerbang depan sudah ditutup rapat. Guru BK pasti sudah berkeliaran untuk menangkap siapa saja siswa yang terlambat hari ini. Alhasil dia berjalan menuju gerbang samping. Dia tau soal gerbang samping yang sepi juga dari Given karena cowok ini hobi terlambat, dan inilah jalan pintasnya.
Velia harus menyelamatkan diri agar tidak mendapatkan poin karena terlambat sekarang. Bisa-bisa orang tuanya dipanggil jika poinnya terus saja bertambah. Velia mengamati tembok yang lumayan tinggi, dia tidak bisa jika harus memanjat. Given juga tidak bisa dihubungi, entah cowok itu sudah berada di sekolah, atau masih tertidur di rumahnya.
"Mau gue bantu gak?" Velia berbalik badan dan menemukan seorang cowok ganteng, dari simbol kelasnya mereka sama-sama dari kelas X.
"Gue bantuin lo manjat, gimana?"
"Maksud lo?" Cowok itu menepuk pundaknya. "Lepas sepatu lo, terus naik ke pundak gue."
"Gak apa-apa?" tanya Velia ragu-ragu.
"Mau gak? Sebelum gue berubah pikiran?" "Mau." Velia melepaskan sepatu dan menginjak pundak dengan hati-hati sesuai perintah cowok itu.
"Lo lumayan berat juga." Velia hanya tertawa pelan, setelah berhasil masuk ke dalam pekarangan sekolah. Velia menunggu cowok yang sudah membantunya ikutan masuk.
"Makasih banyak, gue bisa traktir lo sebagai ucapan terima kasih?" tanya Velia.
"Santai aja, gue gak butuh imbalan apa-apa kok."
"Nama gue Velia Ceris, X IPA 3. Nama lo?"
"Kaisar." Nathalie menghampiri adik lelakinya. "Bagus banget lo sengaja datang telat mentang-mentang anak OSIS yang piket pagi hari ini gue."
"Gue kasih mangsa buat lo cantik. Dia telat hari ini, poinnya jangan lupa ditambah." Nathalie yang baru menyadari bawah cewek yang bersama Kaisar adalah Velia.
"Thank, Adik." Nathalie tersenyum puas.
"Adik?" Velia berujar.
"Kaisar Sereno, adik kandung Nathalie Serena. Cewek yang sekarang jadi musuh lo. See you dijebakan selanjutnya." Kaisar pergi meninggalkan mereka berdua.
Nathalie membuang muka karena memang merasa semuak itu, dia berjalan terlebih dahulu dan berkata. "Ikut gue ketemu pak Anugerah atau poin lo jadi double." Velia benar-benar mendapatkan kesialan hari ini karena kebodohannya.
**
Jam olahraga Nathalie kehabisan kesabaran karena Alastair terus saja mengikuti kemana dia pergi. Cowok berpakaian olahraga dengan bola basket di tangannya masih setia berjalan di belakang Nathalie.
"Trial itu tiga hari doang, Natha."
"Atau mau seminggu?"
"Sebulan?"
"Setahun?"
"Atau seumur hidup sama gue, eakkk. Penawaran gue menggiurkan bukan?"
"Bisa diam gak sih lo? Sana jauh-jauh dari gue."
"Jawab dulu, mau punya hubungan berapa lama sama gue?"
"Gak. Gue lagi gak mau berhubungan sama cowok. Malesin banget kalau udah tau endingnya bakal gimana."
"Gue bukan tipikal kayak Given. Gue gak bakalan ninggalin lo, kecuali kalau lo yang ngusir."
"Oh gitu? Ya udah sekarang pergi, gue ngusir lo."
"Gak gitu konsepnya, Natha." Alastair meraih tangan Nathalie.
"Alastair, gue gak ada rasa sama lo. Mau coba trial, sebulan, bahkan seumur hidup gue gak bisa suka sama lo."
"Lo belum nyoba, gimana mau tau. Cobain jalin hubungan sama gue, Natha. Gue jelas-jelas beda dari dia, please gue maksa."
"Semua emang beda pas awalnya doang, ujungnya apa? Cuma nyakitin. Banyak cewek lain, gak harus gue?"
"Gue cuma mau lo karena ...." Alastair sengaja mengantungkan kalimatnya.
"Karena apa?"
"Karena cuma lo yang enak diusilin. Yhaaaa, udah baper padahal." Alastair tertawa dan berlari.
"Alastair lo benar-benar sialan." Nathalie mengejar di belakang.
"Beb, menurut kamu Alastair suka beneran gak sih sama Natha?" Andre yang asik mengunyah menatap Fiera.
"Alastair gak pernah cerita sih, menurut kamu gimana?"
"Kok kamu nanya aku sih, 'kan kamu yang udah lama temanan sama dia. Pasti taulah gimana gerak-gerik Alastair kalau lagi naksir cewek."
"Gak tau, Beb. Aku bukan cenayang. Tapi Alastair kelihatan senang kalau dekat sama Natha, kayak gak ada beban pas dia jahilin Natha." Fiera menyetujui.
"Pemikiran kita sama, dan untuk sekarang aku gak masalah kalau Alastair rajin usilin Natha. Soalnya dengan begitu, Natha gak harus sedih, gak harus galau. Dia bisa lupa sama masalahnya karena sibuk emosi sama Alastair."
"Gue juga setuju sama lo, Ra. Natha kelihatan baik-baik aja karena ada Alastair." Fiera sedikit kaget karena Sasa tiba-tiba datang dan berbicara. Padahal cewek ini tadi berpamitan untuk membeli minuman ke kantin.
"Apa kita comblangin aja mereka berdua?" tanya Daffrin.
"Gue setuju aja sih, Daf. Masalahnya si curut Alastair beneran suka sama Natha, atau cuma suka usilin aja? Bahaya juga kalau Natha udah baper terus Alastair cuma suka becandain," ucap Rayn.
"Kalau hal itu sampai terjadi, gue gebukin si Alastair," ujar Fiera.
"Makanya kita harus tanyain sama Alastair, dia sebenarnya suka gak sih sama Natha." Andre menyarankan.
"Gue rasa gak bakalan mudah, secara lo tau sendiri gimana Alastair. Meskipun tengil, dia gak pernah blak-blakan soal perasaannya," jawab Daffrin.
"Ya udah untuk sekarang kita pantau aja. Kalau emang kelihatan naksir beneran, baru deh kita usahakan Natha suka balik sama Alastair."
Daffrin, Andre, Fiera, dan juga Sasa sepakat menyetujui mengenai hal yang baru saja Rayn bicarakan. Jika Alastair bisa membuat Natha bahagia, itu benar-benar baik.
***
"Seperti yang kalian tau, bulan depan akan ada event fashion show. Setiap kelas harus mendaftarkan perwakilan. Menurut kalian siapa yang cocok menjadi perwakilan kelas XI IPA 4?" tanya Bu Andin.
"Saya sama Natha, Bu."
"Cieeee." Alastair berdiri dari posisi duduknya dan membungkuk. "Terima kasih, terima kasih atas dukungan kalian. Dengan begini, gue jadi tambah semangat."
"Bagaimana Nathalie? Apa kamu setuju dengan saran Alastair yang juga disetujui satu kelas?"
"Jika Ibu memberikan kepercayaan itu kepada saya, jelas saja saya tidak akan menolak," jawab Nathalie.
"Cieeee." Suara siulan menggoda itu membuat senyum Alastair semakin melebar saja.
"Jadi kalian semua benar-benar setuju kalau Nathalie dan Alastair menjadi perwakilan?"
"Setuju, Bu. Cocok banget sama-sama cakep," ucap Fiera.
"Baiklah kalau kalian setuju. Perwakilan kelas XI IPA 4 untuk event fashion show yaitu, Nathalie Serena dan Phrince Alastair. Ibu memberikan kepercayaan kepada kalian berdua."
"Baik, Bu."
Pulang sekolah Nathalie bersama Fiera dan Sasa melangkah menuju gerbang. Seseorang melangkah dengan santai dan berdiri tepat di hadapan Nathalie dengan senyuman jahilnya. Cowok itu mengeluarkan kertas berukuran tidak terlalu besar dan memberikannya pada Nathalie. "Apa ini?"
"Nomor HP gue, tolong masukin ke grup kelas. Soalnya gue ganti nomor. Jangan lupa hubungin. Gue tunggu." Alastair segera pergi tapi Nathalie memanggilnya, "Gak ada sejarahnya cewek hubungin cowok duluan. Lagian bukan gue doang admin grup kelas."
"Kita buat sejarah baru, gue tunggu pokoknya chat dari lo." Alastair mengedipkan sebelah matanya lalu berlari pergi.
"Cieeee. Alastair kayaknya beneran suka banget deh sama lo. Enak ya jadi cantik, baru putus sama mantan aja udah dilirik sama cowok lain. Bentar lagi juga jadian nih, ya gak Ra?" tanya Sasa.
"Iya." Fiera tertawa. "Jangan lupa hubungin duluan ya Nathalie, buat sejarah baru sama Alastair. Mana tau kisah kalian berawal dari minta dimasukin grup kelas gara-gara ganti nomor."
"Fiera, Sasa, awas ya."
Fiera dan Sasa berlari pergi dengan tertawa puas, sedangkan Nathalie mengejar mereka dari belakang.