3. Perkara PR Fisika

1209 Words
Kalau misalkan dikasih pilihan bisa mengulang waktu, apakah ada hal yang ingin kamu ulang untuk kedua kalinya?" **** "Kiw, cewek. Kenapa enggak chat gue tadi malam? Padahal gue nungguin sampek jam dua pagi. Untungnya hari ini bisa datang tepat waktu." "Gue gak ada waktu buat ngechat lo." Nathalie memberikan helm kepada adiknya. "Sar, izin ke kelas bareng Kakak lo, ya?" Alastair meminta izin. "Aman, Bang. Dijagain sekalian." Alastair hanya tertawa sebagai jawaban. Kaisar dan Alastair sama-sama berada di klub sepak bola sekolah. Karena itu juga Kaisar menghormati Alastair yang merupakan seniornya. "Natha, tungguin." Kedatangan Alastair dan Nathalie secara berbarengan pasti menimbulkan sebuah gosip baru. Wajar saja, gosip tentang kandasnya hubungan Nathalie dan Given baru beberapa hari dan sekarang cewek ini sudah dikejar-kejar oleh cowok lain.  "Natha, tunggu. Sayang tungguin gak!" Suara Alastair yang keras mampu menghentikan langkah Nathalie. "Lo gila?" Hanya itu kalimat yang diucapkan oleh Nathalie. Selebihnya cewek itu langsung berjalan dengan langkah cepat. Sampai di kelas Alastair melihat teman-temannya sedang sibuk menulis di meja Fiera. "Ada apaan sih?" "PR fisika lo udah siap?" tanya Andre. "Lah emang kapan ada dikasih PR?" "Semalam Bu Dini kirim soal mendadak di grup dan dikumpulin bentar lagi. Katanya sih itu buat nilai ulangan, jadi kita gak perlu ulangan lagi. Lumayan 'kan" ujar Rayn. "Jadi lo udah buat apa belum? Kalau belum gercep salinin aja nih punya gue. " Daffrin yang sudah siap menyerahkan bukunya kepada Alastair. Sialnya, nasib baik tidak berpihak kepada cowok itu. Baru saja duduk di kursi dan hendak menulis, bel berbunyi nyaring seolah menertawakan Alastair yang sebentar lagi akan mendapatkan hukuman. Bu Dini langsung masuk ke kelas. Beliau adalah tipikal guru-guru disiplin yang dibenci oleh kebanyakan murid. Selain disiplin, Bu Dini juga terkenal sebagai guru yang pelit nilai. "Selamat pagi semuanya." "Pagi, Bu." "Sebelum memulai pelajaran, tolong Andre kumpulkan tugas rumah teman-teman kamu. Kita akan langsung masuk ke materi selanjutnya karena nilai ulangan kalian diambil dari tugas yang saya berikan semalam." Andre mulai mengumpulkan buku PR teman-temannya. Dia menatap kasihan Alastair yang sekarang duduk diam. Bu Dini mulai menghitung jumlah buku yang tidak terkumpul. "Kurang satu, siapa yang tidak mengerjakan?"  Hening. "Biang rusuh kelas? Andre? Rayn? Daffrin? Atau Alastair?" "Saya, Bu." "Bagus, selain malas membuat tugas. Kamu juga mengabaikan nilai ulangan? Silahkan keluar dari kelas saya, dan hormat bendera sampai jam pelajaran saya selesai." Pasrah sudah, kali ini Alastair benar-benar tidak ingin melakukan perdebatan. Dia berjalan menyusuri koridor yang sudah sepi, sebenarnya Alastair sudah terbiasa dengan hukuman. Hanya saja, dia tidak biasa jika dihukum sendirian. Biasanya akan selalu ada ketiga sahabat yang menemani dirinya. Alastair yang biasa membalas sapaan adik kelas dengan ramah. Kali ini hanya sorot datar yang dia tunjukkan. Hingga gadis-gadis berseragam olahraga tersebut langsung menjauh dari hadapannya. Cowok itu mulai berdiri dengan posisi tangan menghormat ke arah tiang bendera. Suasana pagi yang panas, mampu membuat tubuh Alastair berkeringat padahal baru beberapa menit waktu berjalan. Fokus Alastair teralihkan ketika seorang Nathalie Serena ikutan berdiri di sebelahnya. "Lo ngapain?" "Gue merasa bersalah karena gak chat lo semalam. Gara-gara gue gak masukin lo ke grup kelas, makanya sekarang lo harus dihukum. Jadi, gue di sini buat nemenin lo dihukum." "Aduh, adem hati Akang, Neng. Serasa drama Korea versi Indonesia." "Lebay banget sih lo, kebanyakan nonton drakor sih." Nathalie menyindir. "Hmm, perkara semalam lo gak mau chat gue itu apa? Beneran se-ilfeel itu sama gue kah? Padahal gue serius gak ada di grup kelas. Bukan sebatas iseng biar lo chat gue." "Gue beneran lupa, Al. Pas malamnya tiba-tiba Bu Dini kirimin file tugas. Ya jelas gue ikutan panik kayak yang lainnya. Emang teman-teman lo gak kasih tau?" Alastair menyengir, membuat Nathalie agak bingung. "Kenapa lo?" "Semalam gue gak aktifin HP juga, jadi gak sepenuhnya salah lo kok. Pulang sekolah gue keluyuran, terus malamnya ketiduran." "Sialan." Nathalie tertawa. "Berarti kata-kata lo tadi pagi cuma sebatas gombalan aja?" "Pas gue cek HP tadi pagi gak ada apa-apa, makanya gue nanya kenapa lo gak chat." "Semuanya jelas, berarti lo emang pantas dihukum sendirian. Bye." Natha berlari menjauh. "Natha, jahat banget sih." Nathalie tetap acuh, terus melangkah pergi. Bukan kembali ke kelas, tidak mungkin juga dia kembali setelah meminta izin beristirahat di UKS tadi. Karena itu juga, Nathalie memilih ke UKS saja sekarang. UKS sepi seperti biasa, hanya ada satu orang siswi yang menyapa dengan ramah. Nathalie berkata hanya sedikit pusing dan ingin tidur. Nathalie memang paling suka di kasur paling ujung. Namun dia mengurungkan langkahnya ketika bertatapan dengan seseorang yang sedang duduk di bangkar. "Natha, gue sengaja nungguin lo di sini." "Kenapa?" Berat rasanya untuk tidak merespon Given. Tidak mungkin juga Nathalie sudah move on padahal hubungan mereka baru berakhir tiga hari. "Lo pacaran sama Alastair sekarang?" "Untuk apa lo menanyakan hal itu? Bukannya itu terserah gue mau sama siapa aja sekarang?" "Gue akui emang egois. Tapi gue masih gak mau lo dekat sama cowok lain. Bisa jangan dekat sama cowok lain dulu, Natha?" "Lo ngomong gini seolah tersakiti. Padahal lo sendiri yang memulai hubungan baru sama cewek lain." "Gue punya alasan kenapa gue mengakhiri hubungan sama lo secara tiba-tiba," ucap Given. "Terus gue harus peduli dengan alasan itu?" tanya Natha. "Nat, gue masih sayang sama lo." "Basa-basi lo itu basi!" Given tersenyum tipis mendengar nada Nathalie berbicara barusan. "Ternyata Natha udah bisa ngegas juga sekarang, soalnya pas masih jadi pacar gak pernah." "Kalau gue bilang gak usah basa-basi, ya gak usah! Telinga lo masih berfungsi dengan normal 'kan?" "Masih kok, Natha. Apalagi kalau lo manggil gue dengan sebutan sayang." "Di mimpi lo." "Jangan marah-marah gitu, bukan kelihatan seram tapi lo tambah cantik tau gak." "Oke, gue rasa gak ada hal penting yang emang mau lo omongin. Buang-buang waktu juga kenapa barusan gue gak langsung pergi pas lihat lo ada di sini. Permisi, gue balik." Given langsung menahan tangan Nathalie dan memanggil. "Natha." Natha langsung membeku. Setiap kali Given memanggil namanya seperti ini, Natha tau apa yang Given rasakan. Tapi untuk saat ini Natha tidak ingin mendengarkan Given mengatakan itu. Natha takut kembali gagal untuk melupakan. "Gue kangen, banget." Natha diam membeku. Perasaannya menjadi tidak terkontrol hanya karena Given berkata demikian. Natha yang cengeng, ingin menangis sekarang. Dia juga merindukan cowok ini, sangat. Natha sebisa mungkin menahan air matanya, dia berbalik badan dan menatap Given. "Gue gak peduli, Ven." Natha melepaskan tangan Given, tetapi cowok itu semakin mempererat genggaman. "Jangan bohong, Natha." Tatapan mata Given yang teduh, menenangkan, terasa damai benar-benar sangat Natha rindukan. "Gue gak bohong." "Perihal gue masih sayang sama lo itu emang benar, karena gue bakalan balik lagi sama lo. Please, tungguin gue." Natha tertawa pelan. "Kepedean banget, emang lo kira gue mau nerima lo lagi setelah kejadian kemarin? Harapin lo cuma buang-buang waktu gue. Gak ada sejarahnya dalam hidup gue buat ngulang kisah yang sama karena udah tau endingnya bakalan gimana. Jangan berharap sama gue, karena kalau udah pergi, gue gak bakalan pernah kembali. Kisah kita udah berakhir semenjak lo memilih cewek itu. Bahagia selalu, Ven." Natha menepuk pundak Given dan pergi. Natha menghapus air matanya. Dia tidak akan kembali, meskipun Given masih menjadi satu hal yang selalu dia harapkan sampai detik ini. Natha trauma kembali disakitin, Natha tidak ingin merasakan sakit yang sama untuk kedua kalinya oleh orang yang sama juga. Lebih baik seperti ini, lama-lama juga Natha akan terbiasa. Given hanyalah titipan sementara untuk dia sayangi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD