Move on atau enggak

1537 Words
Semua murid XI IPA 4 berkumpul di lapangan. Andre selaku ketua kelas menyiapkan barisan agar teman-temannya berdiri dengan rapi. Alastair yang semula berdiri di barisan paling depan, kini berlari paling belakang dan berdiri di sebelah Nathalie yang menatapnya dengan pandangan malas seperti hari-hari biasanya. Alastair menyisir rambutnya dengan jari-jari, dia yakin Nathalie sedang terpesona sekarang. Hanya saja cewek ini pandai menyembunyikan ekspresi. Alastair meyakini itu semua karena feeling tidak pernah mengkhianatinya. Mana ada cewek yang tidak deg-degan jika berdiri bersebelahan dengannya seperti sekarang ini. Semua cewek di sekolah ini mengakui ketampanan dirinya terkecuali Nathalie Serena yang menganggap dirinya sebagai musuh bebuyutan sejak kelas X. Padahal seingat Alastair, dia tidak pernah melakukan kesalahan yang fatal. Ah, bisa jadi Nathalie menyukainya dan mencoba menutupi perasaan tersebut. Pikir Alastair lagi-lagi sangat percaya diri. "Pagi-pagi jam pelajaran olahraga." Alastair besuara. "Cakep!" seru kaum cowok kompak. "Gak ada terusannya, gue gak mau pantun kali, 'kan sekarang emang jam pelajaran olahraga. Kenapa lo semua pada nyahut cakep-cakep aja?" "Biasanya lo suka pantun," ujar Daffrin. "Kata siapa?" tanya Alastair. "Menurut pandangan gue, Rayn, dan juga Andre." "Lo semua salah. Orang gue cuma suka sama Natha doang."  "Cieee, uhuyyyy." "Modusin mulu, jadiannya kagak." Daffrin berseru. "Kelamaan PDKT biasanya berujung ghosting," ucap Rayn. "Berdasarkan pengalaman pribadi ya Rayn?" Andre merangkul bahu Rayn yang memiliki tinggi badan jauh lebih pendek dibandingkan dirinya. Alastair menyikut lengan tangan Natha. "Apaan sih," ucap Natha. "Pipi lo merah karena salah tingkah, atau mau nonjok gue nih?" tanya Alastair. "Opsi kedua." Bukan menonjok, Nathalie hanya menginjak kaki Alastair dengan kekuatannya. Sayangnya Alastair sama sekali tidak merasa sakit, cowok itu hanya tertawa pelan. Begitu Pak Teo sampai dan memerintahkan mereka untuk melakukan jalan santai. Semuanya berjalan sesuai barisan untuk keluar dari area sekolah. Yang memandu paling depan adalah Andre, sedangkan yang menjaga agar tidak ada yang kabur dari barisan belakang menjadi tugas Alastair. Memutari jalanan yang padat akan kendaraan, juga polusi udara. Natha masih berjalan dengan santai, dia hanya menutup bagian wajahnya dengan tisu. Padahal banyak cewek lain yang mulai mengeluh dan meminta agar jalan santai ini dicukupkan. "Bagi dong, muka ganteng gue kena debu nih." Alastair menunjukkan bagian wajahnya. "Gue gak peduli." "Pelit banget, tisu segitu banyak dijual cuma dua ribuan. Gue cuma minta satu, bagi Natha. Lo kasih tisu itu ke gue gak bakalan membuat lo jatuh miskin dalam sekejap." "Berisik!" Nathalie mendelik sebal, lalu menyerahkan tisu kepada Alastair. "Makasih Natha cantik." "Lo berisik, gue masukin ini tisu ke dalam mulut lo." "Gue gak butuh tisu di masukin ke mulut, gue cuma butuh cara gimana biar bisa masuk ke dalam hati lo." "Cieeee." Beberapa siswa yang mendengar Alastair berbicara kembali bersorak menggoda. Alastair menyengir. "Makasih atas dukungan kalian semua. Gue makin semangat buat berjuang dapatin putri es." "Alay." "Awas aja kalau nanti lo yang ngejar-ngejar gue, langsung gue terima." "Gila." "Semua deh, berisik, alay, gila, terus apalagi?" "Aneh!" "Manggil sayangnya kapan?" tanya Alastair. "Cieeee." "Lo bayar mereka berapa?" "Fitnah mulu, mereka cuma setuju kalau gue sama lo. Makanya diterima dong, jangan digantung terus. Gue bukan jemuran, Natha." Nathalie hanya diam tidak merespon, hal tersebut membuat Alastair kembali berbicara. "Gini amat nasib cinta gue, sekalinya ngejar gak diterima-terima. Giliran ada yang ngejar gue-nya yang enggak mau." "Lo mau gue jadiin pelarian?" tanya Natha, kupingnya terasa panas karena Alastair terus saja mengoceh. "Mau." Alastair menjawab cepat. "Otak lo beneran eror kayaknya." Nathalie tidak habis pikir dengan jawaban yang begitu santai. "Gak apa-apa jadi pelarian. Nanti lama-lama juga bakalan lari barengan sambil gandengan. Pelan tapi pasti, gue lebih suka. Daripada keduluan menang, ujungnya kalah. Itu jauh lebih sakit, Natha." "Maksud lo?" "Ya seperti lo dan Given. Awalnya bareng dan serasa dunia milik berdua, pada akhirnya Tuhan cemburu. Makanya lo dikasih luka. Itu yang gue maksud. Seseorang yang kelewatan senang, sampai lupa sama alur takdir pasti bakalan ngerasain sakit pada waktunya." "Kisah gue sama Given belum berakhir sepenuhnya, hari masih panjang dan masih banyak peluang kalau gue bakalan jodoh sama dia. Gak bakalan ada yang tau perihal takdir! Termasuk lo sendiri," ucap Nathalie, lalu berlari pelan meninggalkan Alastair yang termenung. Sial, sangat susah menghadapi cewek seperti Nathalie. **** Selepas jam olahraga, Alastair mengajak teman-temannya untuk tetap di kantin.  Padahal biasanya cowok ini malah sengaja mengusili cewek-cewek yang sedang berganti pakaian di kelas. Untuk kali ini Alastair ingin berbicara dengan serius, dan menanyakan beberapa hal pada temannya. "Diantara kita berempat cuma lo yang punya pacar, Ndre. Hubungan lo sama Fiera hampir dua tahun 'kan ya?" Andre mengangguk. "Seandainya lo sama Fiera putus, bakalan lo ajak balikan lagi atau move on dari dia?" "Gak! Gue sama Fiera gak bakalan putus. Gue gak akan bisa lihat dia bahagia sama cowok lain, apapun yang terjadi gue sama Fiera harus bareng selamanya." "So, kalaupun putus bakalan lo ajak balikan lagi?" tanya Alastair. "Valid no debat, jelas no kecot. Gak akan ada yang bisa rebut Fiera dari gue." "Kenapa tiba-tiba lo nanya soal ini. Lo mau ngajak balikan siapa? Mantan aja gak punya," ucap Daffrin. Karena memang benar Alastair tidak pernah memiliki pacar. Lalu tiba-tiba cowok ini malah membahas hal yang beginian. "Biasa aja ngomongnya, gak usah kayak ngejek gitu." Daffrin tertawa. "Jadi, kenapa? Apa yang buat lo menanyakan hal kayak gini, tumbenan banget." "Iya, gak pernah juga sebelumnya lo bahas hal ginian sama kita-kita. Lo paling anti kalau udah bahas cinta-cintaan. Dulu aja suka kesel kalau liat Andre lagi bucin atau galau karena Fiera." Rayn menyahut. "Menurut lo bertiga, kira-kira Natha bakalan balikan lagi gak sama Given? Kalau iya kenapa, kalau enggak kenapa." "Tergantung Natha. Kalau dia udah move on gak bakalan balikan sih, karena yang lakuin kesalahan di sini Given. Misalnya Natha tetap gak move on dan mau nerima Given lagi, ya pastinya mereka bakalan bareng." "Jadi semuanya tergantung Natha?" tanya Alastair kepada Andre. Rayn ikutan berpendapat. "Menurut gue juga kayak Andre. Semuanya tergantung sama Natha. Cowok gampang ninggalin, tapi mereka gampang kembali lagi kalau sama cewek yang baru dia gak merasa nyaman kayak dulu. Tapi, kalau cewek susah pergi. Sekali pergi mau lo jungkir balik gimana pun, dia bukannya bakalan suka. Yang ada malah tambah risih." "Benar banget, gue setuju. Kayak mantan gue. Awalnya dia pernah ngemis minta balikan pas baru-baru putus, giliran udah dapat yang baru dan udah move on. Tiap ketemu sama gue tatapannya kayak ngajakin baku hantam." Daffrin menambahkan sesuai pengalaman pribadi. "Lo nanya gitu karena takut Natha balikan sama Given? Secara gak langsung, lo mengatakan suka sama Natha dong?" Andre mengalihkan ke topik lebih penting. "Suka gangguin aja." "Gak suka beneran?" "Gue masih belum tau, tapi tiap dekat sama Natha bawaannya senang." "Kalau lo dekat sama dia cuma sebatas candaan aja, berarti lo gak ada bedanya sama Given. Sama-sama berengsek!" celetuk Rayn. "Jangan suka mainin cewek, Al. Sekalinya mereka trauma bakalan susah buka hati dan menganggap semua cowok sama. Mikirin juga gimana mereka nanti, mungkin lo bisa dengan mudahnya cari pengganti. Tapi kalau cewek? Sekalinya dia udah trauma, mau kenalan sama orang baru kenangan buruk itu bakalan terus hantui dia. Kalau emang gak suka sama Natha, jangan lo gangguin terus. Sekarang dia mungkin masih risih sama lo, tapi perlahan-lahan cewek bakalan nyaman. Apalagi kalau sikap lo jauh lebih baik dibandingkan Given. Gue pastiin Natha bakalan suka beneran sama lo." Andre menyentuh dahi Daffrin. "Abis makan apa sih, bijak banget lo." Daffrin menjauhkan tangan Andre dari dahinya. "Menurut pengalaman dan cerita dari adik sepupu gue yang cewek, Ndre. Karma berlaku, Al. Apalagi lo punya kakak perempuan. Kalau lo nyakitin cewek sekarang dengan sengaja cuma untuk senang-senang, gue bukan mau takutin tapi gue pastiin yang bakalan dapatin karma nantinya itu kakak lo." "Jadi, lo beneran suka sama Natha atau enggak? Jujur aja kali, Al. Gue, Andre, sama Daffrin gak bakalan kasih tau siapa-siapa kok. Kalau beneran suka, bukan cuma kita aja yang mau bantu. Tetapi ada Sasa, dan Fiera yang ikutan setuju dan mau dekatin lo sama Natha." "Lo gak bakalan berjuang sendirian," tambah Daffrin. "Kata Fiera, kalau lo cuma mau main-main sama Natha. Dia udah siap gebukin lo sampek gak bisa jalan, bahkan dia bisa minta sama papanya supaya lo dikeluarin dari sekolah." Andre memberitahu. "Kasih gue waktu buat mastiin, kalau rasa gue buat Natha bukan bercandaan." "Kelamaan mikir yang ada Natha keduluan balikan sama Given. Gini, lo udah suka gangguin dia dari dulu. Masak enggak sadar-sadar kalau sebenarnya lo suka sama dia, segoblok-gobloknya orang paling gak bisa peka sama perasaan orang lain. Sedangkan lo perasaan diri sendiri aja enggak bisa peka." "Gue setuju sama Daffrin, cowok kalau udah iseng sama cewek pasti ada sesuatu. Kalau lo enggak beneran suka sama Natha, gak mungkin juga tiap hari bakalan lo isengin. Apa yang lo rasain tiap bareng Natha, itu jawaban dari semua pertanyaan yang ada di benak lo saat ini." Andre menambahkan, jujur dia agak kesal karena Alastair benar-benar tidak peka atau hanya sekedar sedang berakting bodoh. "Kejar selagi masih ada kesempatan, soal keterima enggaknya yang penting udah usaha." Rayn imut menyemangati. "Kalau lo butuh bantuan atau kesusahan PDKT, minta aja bantuan ke kita yang udah banyak pengalaman." Alastair mengangguk mendengar perkataan Daffrin barusan. Sialnya, dia memang terlalu bodoh untuk menyadari mengenai bagaimana perasaan yang sebenarnya. Sepertinya apa yang dikatakan oleh teman-temannya memang benar, bahwa dirinya memang menyukai Natha. Hanya saja terlalu susah untuk menyadari, atau karena Alastair hanya memiliki cinta sepihak makanya enggan mengakui perasaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD