Pulang sekolah kali ini, Nathalie tidak bisa langsung kembali ke rumah. Bukan karena harus mengikuti ekstrakurikuler, bukan juga karena tidak memiliki ongkos lagi. Tetapi, karena dia harus menunggu Kaisar sang adik berlatih sepak bola.
Hmm, memang keadaan sudah beda. Jika dulu dia bebas memilih mau pulang dengan Given atau Kaisar. Namun sekarang, pilihannya hanya terarah pada Kaisar.
Tak apa, setidaknya Nathalie tidak harus menunggu sendiri. Ada Fiera yang kesenangan karena untuk pertama kalinya dia mendapatkan teman selagi menunggu Andre latihan.
Fiera bisa saja pulang dengan ayahnya, dijemput supir, atau bahkan membawa mobil ke sekolah. Sayangnya gadis ini sama bucinnya seperti Andre. Seolah tidak akan pernah bisa pisah meskipun hanya untuk waktu beberapa menit.
Mereka berdua duduk di tribun, dan ada beberapa cewek lainnya yang berada di sini. Mungkin mereka juga menemani sang pacar latihan. Para anggota ekstrakurikuler sepak bola belum satupun terlihat memasuki lapangan, pasti sedang berganti pakaian.
"Gue senang banget, karena gak harus ngerasain gabut sendirian."
"Senang karena gue putus maksudnya?"
Fiera langsung menggeleng. "Gak lah, gila banget kalau gue senang karena lo putus."
Nathalie tertawa. "Bercanda. Tapi beberapa kali gue lihat lo sama Sasa. Emang ada cowok di ekstrakurikuler ini yang Sasa suka?"
"Kayaknya sih ada, cuma itu anak gak pernah mau kasih tau gue." Fiera bercerita.
"Daffrin atau Rayn?"
"Bukan mereka kayaknya, anak kelas lain," ujar Fiera.
"Atau jangan-jangan Sasa suka sama Alastair?"
"Enggak lah. Lo kali yang suka sama Alastair, cuma belum sadar aja sama perasaan itu."
"Itu lebih gak mungkin. Gue kalau udah suka sama cowok pasti langsung kasih tau lo berdua."
"Iya juga ya, lo 'kan heboh. Tipikal orang yang gak bisa menyembunyikan perasaan, beruntungnya selalu dapat apa yang lo mau."
"Sejak kapan ekskul futsal punya jadwal sama kayak ekskul sepak bola?" Pandangan Nathalie jelas saja tertuju kepada satu orang cowok yang sedang menggandeng cewek lain dan berjalan menuju arah lapangan.
Rasa sesak itu jelas terasa, meskipun dia berusaha mati-matian mengatakan tidak apa-apa. Namun melihat pemandangan seperti ini terlihat di hadapannya, jelas saja mood datang langsung memburuk dalam sekejap.
"Palingan Given gonta-ganti jadwal. Kayak gak tau aja lo, ekskul futsal 'kan sesuka dia jadwal latihannya. Kalau gue jadi anggotanya jelas aja bantah. Semua orang harus ikuti peraturan dia kalau gak bisa latihan, sedangkan kalau anggota lain enggak bisa latihan dia mana peduli. Seegois itu mantan lo, Natha."
"Terlalu sibuk bucin sama pacar baru kali, makanya jadwal latihannya jadi berantakan."
"Yang gue dengar dari anak-anak kelas Given sih, itu cewek posesif banget. Given kerja kelompok sama teman sekelas dituduh selingkuh anjir! Given balas chat teman nanya tugas dikatanya main belakang, gue meskipun bucin enggak sampek sebegitunya."
"Lucu juga, padahal dia dapatin Given juga hasil ngerebut tapi takut direbut. Manusia kayak gitu pantesnya diketawain di depan umum."
"Mungkin dia lupa sama yang namanya karma, padahal apa yang dia lakuin hari ini bakalan balik lagi ke dia nantinya. Gue paling benci orang yang rela g****k perkara cinta." kata Fiera.
"Siang-siang makan itik, eh ada Natha cantik."
Perubahan suasana hati Nathalie sekejap berubah kala kehadiran seorang Phrince Alastair yang langsung duduk di sebelahnya. "Mau nontonin gue latihan nih ceritanya?"
"Ogah, enggak sudi."
"Andre, Rayn, sama Daffrin mana?" tanya Fiera.
"Ganti baju."
"Terus lo enggak?"
Alastair menarik celana abu-abunya ke atas dan memperlihatkan luka di betisnya. "Tau aja kalau Natha nonton, jadinya gue gak bisa tebar pesona sekarang. s****n amat pakek jatuh segala tadi malam."
"Balapan lagi?"
Alastair menyengir. "Biasalah namanya juga anak muda. Tapi tenang aja kok, Andre gak ikutan. Dia 'kan selalu mendengarkan perintah sang pacar."
Fiera tersenyum malu-malu. "Dia juga gak bilang apa-apa sama gue semalam. Kayaknya emang gak niat pergi. Kalau Andre niat pergi, pasti udah keluar itu jurus gombalan mautnya."
"Kalaupun dikasih tau, ujungnya juga gak bakalan lo izinin. Kalau Andre maksa ikutan yang ada lo berdua berantem. Gitu-gitu aja terus siklusnya sampek kepala gue mau pecah dengarnya."
"Iya juga ya, kalau enggak gue izinin dia bakalan maksa. Kalaupun gue ngalah juga nanti bakalan gue sindir-sindir," ujar Fiera.
"Kadang gue juga pengen punya pacar posesif kayak lo, seru juga kalau ada yang marah-marah pas izin keluar. Ini enggak ada tantangannya, tiap mau pergi ya udah gue tinggal pergi aja."
"Ya udah pacarin gue sekarang, biar diposesifin." Setelah berkata demikian, Fiera mengeluarkan suara tawa dan refleks memukul bahu Natha. Memang selalu begitu tabiat Fiera yang tidak pernah bisa dirubah.
"Bukan lo juga kali yang harus dipacari. Gila aja, gue gak mau kehilangan sahabat cuma karena cewek."
"Kadang suka aneh sama cowok zaman sekarang, omongan dan larangan orang tua gak mau di dengar. Giliran kalau dimarahin sama pacar langsung nurut." Nathalie membuka suara.
"Mantan lo kali yang kayak gitu."
"Emang lo enggak?"
"Enggak."
"Barusan lo bilang pengen punya pacar biar ada yang larang, biar ada yang marahin kalau mau keluar."
Alastair menatap lurus ke depan. "Pengen aja, soalnya gue gak punya orang tua yang bisa larang gue. Terakhir gue dengar mama dan papa marah pas kelas dua SMP, setelah itu mereka pergi ninggalin gue sama kakak. Mungkin mereka capek karena gue terlalu nakal."
"Mama sama papa lo meninggal?" tanya Nathalie dan Alastair mengangguk. "Maaf gue gak tau, Al. Gue gak bermaksud juga ngomong kayak tadi." Rasa bersalah itu membuat Nathalie merasa tidak enak, apalagi melihat Alastair yang tetap tersenyum seperti sekarang.
"Santai, Natha. Gue bukan cowok lemah kok. Gue masih punya kakak yang gak kalah galak. Kalau enggak nurut, fasilitas gue bisa disita sama dia. Enggak mau juga gue jadi kayak gembel yang gak punya uang sama sekali."
"Nat, Al. Gue ke sana bentar ya ketemu Andre," pamit Fiera kala melihat Andre sudah keluar dari ruang ganti pakaian bersama Rayn dan Daffrin.
"Oke."
"Kalau boleh tau mama sama papa lo meninggal karena sakit, atau gimana?"
"Kecelakaan pesawat, sedihnya gue gak ikut anterin mereka ke bandara pas itu. Gue malah keluyuran sama teman-teman sampek malam, pulang-pulang gue dengar kabar mereka udah enggak ada."
"Dari tatapan mata lo pas cerita barusan, gue menebak lo pasti sayang banget sama mereka."
"Mereka orang tua terbaik, tapi gak apa-apa. Gue emang sayang sama mereka, tetapi Tuhan lebih sayang makanya mereka diambil kembali biar gak banyak melakukan dosa. Mama sama papa udah tenang di surga, lebih bahagia dibandingkan saat mereka di bumi. Pemikiran gitu benar-benar bikin gue merasa ikhlas banget, dengan begitu gue yakin mama sama papa pergi bukan karena benci sama gue."
"Mama sama papa lo pasti bangga banget, karena lo bisa ikhlasin kepergian mereka dan bisa berdamai sama diri lo sendiri." Nathalie tanpa sadar mengelus puncak kepala Alastair. "Jarang-jarang lo orang bisa damai sama dirinya sendiri secepat ini."
"Udah lama gak diginiin." Alastair meraih tangan Nathalie dan menjauhkan dari kepalanya. "Jangan sekarang, gue takut kangen sama mama."
Nathalie paham, dia menjauhkan tangannya. Ternyata seseorang memiliki kepribadian yang memang tidak pernah ditunjukkan di depan orang banyak.
Seorang Alastair yang ceria, nyatanya tak pernah seceria yang terlihat. Cowok ini hanya sedang memanipulasi keadaan agar tidak ada yang tau bahwa dirinya juga lemah, bahwa seorang Alastair juga butuh sandaran untuk berbagi keluh kesah.
"Kotak bekal lo masih penuh, kenapa gak dimakan?" Alastair mengambil kotak bekal di dalam totebag milik Nathalie.
"Gue kebiasaan jajan, jadi lupa kalau udah bawa bekal dari rumah."
"Hargai Natha, lo bakalan kangen sama masakan ini suatu hari nanti. Makan nih, mikirin perasaan nyokap lo pas tau bekal buatan dia gak disentuh sama sekali."
"Mau bantu gue abisin?" Nathalie menawarkan.
"Tau aja kalau gue doyan makan."
Alastair mencoba dan masakan seorang ibu memang rata-rata hampir sama, setiap suapan Alastair membayangkan bahwa ini adalah bekal buatan mama yang dibawakan dari rumah seperti dulu.
Sudah hampir empat tahun Alastair tidak pernah merasakan lagi masakan terenak sedunia, bumbu-bumbu yang teracik dari seseorang yang sangat dia sayangi.
"Keluarga lo juga bahagia 'kan, Nat? Jangan lupa bersyukur."
"Tau dari mana?"
"Kaisar sering cerita kalau mamanya suka masak, terus perhatian banget. Dia juga cerita kalau punya papa yang sama sekali gak pelit, selalu luangin waktu buat family time. Lebih-lebih Kaisar gak pernah lupa ceritain kalau dia punya kakak yang super cengeng, bawel, dan juga berisik."
"Udah, lanjutin makannya. Gak usah bahas kekurangan gue sekarang."
"Gue juga suka suruh Kaisar berhenti ceritain lo."
"Karena lo benci sama gue?"
"Karena gue gak mau semakin banyak orang yang naksir sama lo, saingan gue nambah terus. Kapan berhasilnya gue dapetin lo."
"Apaan sih, gombal mulu."
"Kenapa lo bisa suka sama Given?"
"Alasan klasik, dia baik, perhatian, dan sefrekuensi."
"Meskipun dia sekarang udah mengkhianati lo, apa Given masih terlihat baik?"
"Satu kesalahan dia, gak bakalan bikin gue lupa sama kebaikan dia selama bertahun-tahun. Gue bukan bagian dari cewek-cewek lebay yang bakalan sebut mantannya sampah, atau sebutan hewan lainnya. Seburuk apapun seorang mantan, tapi lo pernah dikasih kebahagiaan meskipun pada akhirnya berakhir luka. Ya namanya juga hidup, bahagia terus mana adil. Pasti bakalan ada cobaan supaya kita tambah kuat."
"Jangan ceritain perihal mantan, soalnya gue gak punya."
"Demi apa! Bohong banget, ya kali modelan buaya kayak lo gak punya mantan," ujar Nathalie tak percaya.
"Serius, makanya kalau lo mau jadi pacar gue posisi lo bakalan aman. Karena gak ada jajaran mantan yang bikin lo insecure, lo gak usah mikir negatif kalau gue bakalan ketemuan sama mantan diam-diam atau bakalan balikan karena gagal move on."
"Tapi, mantan gebetan banyak 'kan?"
"Cuma satu, itu juga pas kelas 3 SMP dulu."
"Ada dua fakta tentang lo yang berhasil bikin gue kaget hari ini."
"Jadi gimana?"
"Apanya yang gimana?"
Alastair menghela napas. "Mau coba jadi pacar gue?"
"Gak!"
Alastair tertawa. "Gue kira lo bakalan jawab iya karena terhipnotis dengan cerita gue barusan." Ternyata Alastair belum juga berhasil untuk kali ini.