6. Harus Lapor?

1570 Words
Sebenarnya sangat malas jika harus kembali berinteraksi dengan orang yang sudah berusaha Nathalie enyahkan dalam pikiran, begitu juga membatasi interaksi berdua selama beberapa minggu ini. Namun apa boleh dikata, hari ini Nathalie membutuhkan kalkulator untuk mengikuti ulangan matematika. Nathalie juga tidak membawa uang lebih guna membeli kalkulator baru di koperasi sekolah. Dengan langkah berat, disertai jantung yang semakin berdebar tak karuan. Nathalie sudah berada di deretan kelas IPS, langkah kakinya benar-benar terhenti di depan pintu bertuliskan XI IPS 1. Memantapkan niatnya, antara harus benar-benar bertemu dengan cowok itu. Atau lebih baik kembali ke kelas. "Jak, ada Given?" tanya Nathalie kepada salah satu murid yang kebetulan dia kenal. "Gak salah dengar gue, lo nyariin Given? Pasti gagal move on 'kan lo?" Jaki tersenyum usil. "Gue mau ambil kalkulator yang kemarin dipinjam buat ulangan akuntansi." Nathalie membenci opsi yang muncul dari pikiran Jaki sekarang. "Oh, jadi mantan lo belum balikin kalkulator?" "Iya, makanya Given ada gak? Tolong minta kalkulator gue sama dia bentar." Nathalie merapatkan tubuhnya ke dinding, mencoba menghilangkan sedikit debaran yang lagi-lagi menggila. "Oke, bentar. Gue minta kalkulator sama Given dulu." Jaki masuk ke dalam kelas. Bodohnya Nathalie lupa kalau Jaki bukan tipikal orang yang bisa dipercaya. Jaki malah menyengir di dalam kelas kala Given berjalan keluar menemui Nathalie yang sebisa mungkin menahan diri agar tidak terlihat gugup. "Mau ambil kalkulator?" "Iya, mana?" Nathalie berbicara to the point karena memang tidak ingin berlama-lama. "Sorry gue lupa kembaliin sama lo, rada segan sih buat nyapa juga. Soalnya lo kayak menghindar terus." Given menyerahkan kalkulator tersebut kepada Nathalie. "Makasih, Natha." "Sama-sama, gue balik ke kelas dulu." "Natha," panggil Given. "Iya?" "Jangan jadi asing, gue gak sanggup." "Udah takdirnya, lo gak bisa membantah apa yang terjadi sekarang. Lagian, ini semua juga bagian dari pilihan lo. Gue diusir, dan udah seharusnya feedback kayak gini yang lo dapetin." "Gimana kalau gue bilang nyesal karena memutuskan hubungan kita?" "Gue gak peduli sama penyesalan lo." "Putus hubungan bukan berarti harus musuhan 'kan? Kita masih bisa jadi teman, Natha." Nathalie tidak menggubris, lagipula dia tidak bisa mengiyakan ataupun memberi janji akan berubah kepada Given. Nathalie memang ingin membangun tembok agar dirinya dan Given tidak pernah bertemu, meskipun untuk beberapa kesempatan tak terduga seperti sekarang. "Teman gue udah banyak." Hanya itu yang Nathalie ucapkan, lalu memilih pergi. **** Ulangan matematika yang menegangkan akhirnya selesai. Semua murid XI IPA 4 bisa mengembuskan napas lega, begitu juga dengan Nathalie yang hampir pusing dengan rumus-rumus. Berhubung pelajaran selanjutnya guru berhalangan hadir, Nathalie memilih ke toilet seorang diri. Fiera dan Sasa memutuskan untuk menunggu di kantin saja, karena kedua gadis itu merasa sangat lapar. Nathalie masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Benar-benar menyegarkan, bisa merasakan dinginnya air. Nathalie sangat tegang dengan ulangan barusan, dia bahkan merasa sangat gerah. Meskipun bukan bagian dari anak-anak ambis, tapi Natha selalu menginginkan hasil terbaik dari segala usahanya. Pintu toilet tertutup rapat ketika tiga orang masuk, diantara mereka hanya satu yang Nathalie kenal. Siapa lagi kalau bukan Viera Ceris, cewek yang sudah merebut Given dari dirinya. "Maksud lo apa datang ke kelas cowok gue tadi pagi?" Sial, jadi sekarang Nathalie sedang dilabrak? Keadaan seolah terbalik karena yang melakukan ini adalah adik kelas kepada kakak kelasnya. Gadis di hadapannya benar-benar sangat tidak tau diri. "Emang kenapa? Gue pas jadi pacar dia gak sampek segininya deh, jangan terlalu posesif nanti Given ninggalin lo terus balik ke gue deh! Ups." Nathalie menutup mulutnya berakting seolah baru keceplosan. "Lo masih ngarep Given balik? So sad!" Velia tertawa bersama teman-temannya. "Gak ada yang mau selain dia, ya?" "Ngarep sih enggak, cuma cowok lo masih suka sama gue tuh, tadi pagi dia aja bilang gak mau kalau gue bersikap asing dan menjauh. Salah lo juga sendiri sih, mau-mau aja sama pacar orang. Kalau suatu hari nanti dia balik lagi, bukan salah gue. Karena yang awal ngerebut itu lo, gue cuma ngambil dia balik." "Jangan mentang-mentang lo senior, lo pikir gue bakalan takut sama lo?" Velia menunjuk muka Nathalie. "Sorry aja nih, junior. Gue bukan bagian dari senior yang gila hormat. Gue juga gak akan bertingkah kalau bukan lo yang ngusik kehidupan gue duluan. Motif mau jadi pacar orang apa sih? Gak ada cowok jomblo yang mau sama lo gitu? Menyedihkan banget sih!" "Kurang ajar banget lo ya!" Nathalie menahan tangan Velia yang hendak menamparnya. "Kalau mau ngelabrak biasain satu lawan satu aja, kalau gak punya nyali mending diam di kelas aja." Nathalie melepaskan tangan tersebut, menabrak Velia lalu keluar dari toilet. "Gue kira lo gak bakalan ngelawan barusan, mental lo oke juga." "Ngapain lo di sini?" "Nonton senior yang mau dibully sama junior. Bangga banget gue karena kakak seniornya menang." Alastair tersenyum dan mengenggam tangan Nathalie, "Ayuk ke lapangan indoor, gue kangen main basket." "Tapi gue mau ke kantin, Fiera sama Sasa udah nungguin di sana." "Mereka udah balik ke kelas kok, siapa suruh lama." "Gue yang lama, atau lo yang nyuruh mereka balik ke kelas duluan?" Alastair tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. Nathalie langsung mendapatkan jawaban yang tepat setelah melihat senyuman Alastair barusan. "Gak usah ditanya kalau udah tau jawabannya." "Alastair yang menyebalkan." Nathalie berjalan di depan, di susul oleh Alastair yang tertawa kesenangan. Sampai di lapangan indoor, Alastair langsung mengambil bola basket dan bermain. Nathalie tidak duduk di tribun, dia juga berada di lapangan bersama Alastair. "Senin lomba fashion show, lo udah siapin mau pakek baju apa?" "Kalau gue gak mau datang gimana?" "Enggak mungkin lo ngecewain Bu Dini dan kelas kita." "Susah ya jadi murid taat peraturan, mau bantah malah dominan sifat gak enakan." "Sombong! Mau gue ajarin main basket gak? Mumpung gratis nih, gak gue minta bayaran." tanya Alastair. "Enggak ah, lo pasti bakalan modus pas ngajarinnya." "Namanya juga cowok, kalau gak modus ya gak bakalan ngerasain untung." "Kayaknya cowok yang begitu, ya lo doang." "Mantan lo enggak suka modus?" Nathalie terdiam. "Tadi pagi kenapa gak ngajak gue ke kelas Given?" tanya Alastair lagi sambil mendribble bola basket ke lantai. Nathalie menaikkan sebelah alisnya, menatap Alastair lekat-lekat. "Gue kemana-mana harus laporan sama lo gitu?" "Hmm, kalau gak laporan gue suka khawatir." "Najis." Nathalie tertawa geli dan mendorong bahu Alastair. "Pantesan Given suka banget, selain cantik lo baik, perhatian, sefrekuensi, nyambung kalau diajak ngomong, meskipun sifat jahatnya lebih dominan." "Gue gak seusil lo tapi." "Gak apa-apa, jodoh emang tugasnya untuk saling melengkapi." "Apaan sih!" "Ciee salting." Alastair meledek. "Siapa juga yang salting. Enggak sama sekali ya Phrince Alastair." "Kata kakak gue, cewek pas salting suka ngomong apaan sih biar gak kelihatan kalau dia salting." "Hmm, terserah lo. Gak semua cewek bakalan bereaksi kayak gitu tau, karena gak semua cewek sama." "Begitu juga dengan cowok, jangan hanya karena trauma sama satu orang lo beranggapan bahwa semua cowok bakalan sama. Gak semua b*****t, ada yang lebih bangsat." "s**l, gue kira lo bakalan melakukan pembelaan. Jadi, kalau lo masuk ke dalam kategori mana? b*****t atau lebih b*****t?" Alastair tertawa. "Gak masuk ke kategori dua-duanya, karena gue limited edition." "Bacot banget lo." "Gue dengar-dengar lo suka banget sama senja, emang iya?" tanya Alastair. "Suka banget, tiap liat senja bawaannya beban-beban hidup gue seolah sirna gitu aja." "Sok puitis lo," ucap Alastair yang mendapatkan pelototan tajam dari Nathalie. "Gue serius, Alastair." "Gue juga." "Suka senja?" tanya Nathalie. "Suka sama Nathalie Serena." "Bisa gak sih sehari gak gombal?" "Padahal gue tulus ngomong gitu, kenapa ngira selalu ngegombal sih, Natha. Gue gigit nih lama-lama kalau lo gemesin terus." "Gue kurang percaya sama kata-kata yang keluar dari mulut buaya kayak lo." "Padahal buaya makhluk paling setia, tapi ciwi-ciwi sekarang malah suka fitnah buaya." "Buaya asli iya setia, kalau buaya berbentuk manusia gue gak yakin. Apalagi itu lo." Alastair melempar bola basket ke dalam ring dan berhasil masuk. Dia menaikkan sebelah alisnya guna pamer kepada Nathalie yang menyaksikan hal tersebut barusan. Sialnya, Alastair terlihat tampan saat menampilkan ekspresi seperti barusan. Nathalie buru-buru menetralkan ekspresinya agar tidak ketahuan, kalau dia hampir kagum dengan pesona Alastair. "Lo jago juga, kenapa gak masuk ekskul basket?" "Gue kalah ganteng kalau masuk ekskul basket." "Gue tau maksud lo nih, pasti biar gue bilang lo ganteng 'kan? Definisi merendah untuk di kubur hidup-hidup." "Hahaha, gak seru ah ketebak. Gue emang lebih suka sepak bola sih, terus baru deh basket, futsal, sama renang. Kalau lo sendiri selain OSIS apa yang lo suka?" "Klub penyiaran." "Gue kira suka sama gue." "Enggak ah." "Belum suka Natha bukan enggak. Lo gak bakalan tau gimana perasaan itu terus berkembang untuk ke depannya." Alastair meralat perkataan Nathalie. "Iya terserah lo deh, tapi jangan berharap banyak entar kecewa." "Oh iya, lo kerja di penyiaran 'kan ya? Gue pernah dengar Kaisar cerita kalau kakak bawelnya kerja di sana." "Ya gitulah seperti yang lo dengar, lumayan nambah uang jajan sekalian nambah pengalaman." "Besok Minggu lo ada acara ke mana?" "Gak ada sih, palingan di rumah aja." "Oh iya lupa kalau udah jomblo." Setelah berkata demikian Alastair mengaduh sakit karena Nathalie mencubitnya. "Besok gimana kalau kita cari baju buat fashion show, bisa?" "Boleh aja gue mah. Mau pergi jam berapa?" "Gue jemput jam sepuluh." "Oke. Lo masih mau main basket gak sekarang? Gue mau ke kantin buat beli minuman, terus balik ke kelas." "Ya udah ayuk, gue juga haus." "Hmm, baguslah karena lo enggak maksa supaya gue tetap berada di sini." "Natha, lo sadar gak kalau cantik?" Seperti biasa jawaban yang keluar dari mulut Nathalie hanya. "Apaan sih!" Hal itu sukses mengundang tawa Alastair. Gadis yang berjalan di sampingnya saat ini, benar-benar memiliki pesona kuat. Teruntuk Given, lo terlalu bodoh karena lepasin cewek sebaik Natha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD