7. Hari Mingguan

2004 Words
"Mengapa Tuhan lagi-lagi mempertemukan saya dengan seseorang yang tak pernah diciptakan untuk bisa dimiliki sampai akhir. Mengahdirkan seseorang yang lagi-lagi hanya bisa dijadikan sebagai penambah pengalaman, juga menambah luka agar semakin dewasa." **** Alastair tiba di rumah Nathalie pada pukul sepuluh pagi sesuai dengan perjanjian. Cowok itu melepaskan kacamata yang semula dipakai, lalu bercermin melihat keadaan wajahnya. Dia baru tertidur beberapa jam setelah shalat subuh, karena semalaman dirinya memang memutuskan begadang bersama ketiga sahabatnya. Bagi Alastair, dia akan selalu terlihat menawan dalam kondisi dan situasi apapun. Jika bukan karena janji dengan Nathalie yang harus ditepati, Alastair lebih memilih tidur sampai siang hari. "Assalamualaikum," ucap Alastair dengan tangan yang ikutan menekan bel beberapa kali. Pintu terbuka menampilkan sosok Kaisar dengan celana boxer selutut dan kaos berwarna hitam. "Mana Nathalie?" "Kirain lo mau ketemu gue, Kak." "Gue ada janji sama Kakak lo." "Lagi ke rumah tetangga bentar, kasih oleh-oleh dari papa." "Papa lo lagi di rumah berarti?" "Takut lo?" tanya Kaisar santai. "Enggak lah, ngapain juga gue harus takut sama calon mertua." Kaisar tertawa menanggapinya. "Syukurnya papa udah pergi barusan sama mama. Lo mau nunggu di sini apa masuk ke dalam?" "Nathalie bakalan lama enggak?" Alastair menguap karena tidak bisa menahan rasa mengantuk yang kembali hadir. "Eh, itu dia datang." Alastair berbalik badan dan tersenyum sumringah ke arah Nathalie yang sudah siap dengan setelah berpergian dengannya hari ini. "Sar, gue pergi. Kalau lo masih ngantuk pintunya dikunci aja." "Hati-hati lo berdua," ucap Kaisar dan kembali masuk ke dalam setelah menutup pintu. Alastair langsung menghampiri Nathalie, mengajukan permintaannya yang terus saja ditolak. "Makan dulu ya, Natha." Mungkin sudah sepuluh menit Alastair mengajukan penawaran seperti ini kepada Nathalie yang tetap betah terdiam dan tidak memberikan jawaban apapun, setelah menolak beberapa kali tadi. "Gue lebih suka cewek jawab dengan kata terserah, dibandingkan diam-diam kayak lo gini." "Lo modus mau makan bareng? Kenapa gak sarapan di rumah sih?" "Gak ada yang masakin, kakak gue sibuk. Lo tau sendiri kalau gue cuma tinggal berdua sama kakak. Kalau dia sibuk ya gue gak makan, karena gak bisa masak. Mau pesan makanan juga takutnya kelamaan, gue enggak mau buat lo menunggu." "Terus, lo gak punya asisten rumah tangga? Buat ngurusin cowok merepotkan kayak lo gini?" "Punya, cuma tiap hari Minggu dia pulang ke rumah. Gak mungkin juga gue paksa terus-terusan kerja, dia juga butuh waktu buat bareng keluarganya." "Ya udah boleh, tapi jam sebelas udah harus siap," ucap Nathalie. "Gue enggak mau lama-lama keluar sama lo." "Nah gitu dong daritadi, bikin gue bingung aja lo." Alastair berseru heboh karena usaha tidak mengkhianati hasil, meskipun Nathalie terlihat ogah-ogahan mengiyakan permintaannya. "Tumbenan lo bawa mobil pas pergi gini. Mau pamer biar gue tertarik sama lo gitu?" Alastair tertawa. "Astaghfirullah Natha, lo kenapa bawaannya gak pernah mikir baik buat gue sih? Mana ada gue mau pamer, lihat cuacanya noh panas banget padahal masih pagi gimana kalau siang nanti." "Karena lo emang bukan orang baik, jadi bawaannya gue harus mikir yang gak sesuai realita." Baiklah biarkan Alastair mengalah dan tidak meneruskan perdebatan ini, takutnya malah merusak mood Nathalie. Alhasil mereka berdua gagal pergi bersama. "Makan di restoran seafood mau? Atau pinggir jalan?" "Terserah." Jawaban yang paling mencerminkan seorang perempuan dan berhasil membuat setiap laki-laki bingung harus berbuat apa setelah mendengarkan jawaban tersebut. "Hmm, berhubung ini pertama kali kita jalan berdua. Gue mau ajak lo ke cafe langganan gue aja." Alastair memutuskan tujuan sendiri, meminta persetujuan Nathalie juga tidak ada kemajuan. Nathalie mengikuti saja kemauan Alastair, tugasnya hanya menemani. Lagian Nathalie masih terlalu kenyang untuk merekomendasikan tempat yang menyajikan makanan enak. Meskipun dalam hati Nathalie berdoa supaya Alastair tidak membuatnya merasa lapar lagi setelah tiba di tempat makan yang cowok ini inginkan. Begitu Alastair memarkirkan mobilnya, Nathalie mendadak lemas. Cafe ini merupakan tempat favoritnya dengan Given dulu dan Alastair mengajaknya ke sini tanpa tau apa-apa. Benar-benar membuat Nathalie tiba-tiba merasa de javu sekaligus bingung harus ikut masuk atau tidak. Sekelebat momen-momen indah yang pernah dia jalin bersama Given kembali memenuhi isi pikirannya. Sial, hanya dengan melihat tempat favorit mereka saja pengaruh bagi Nathalie cukup besar. Tidak salah lagi, Given masih menjadi yang paling spesial sampai saat ini. "Kenapa harus ke sini?" Pertanyaan tersebut keluar begitu saja mengikuti suasana hati Nathalie saat ini. "Gue udah bilang bakalan ajakin lo ke tempat langganan. Nah ini cafe favorit gue, lo gak mau?" "Oh, mau kok." Tidak mungkin jika Nathalie menolak, sudah terlanjur jadi ya terpaksa melanjutkan langkahnya. Pasalnya jika ini memang tempat favorit seorang Alastair, kenapa Nathalie tidak pernah bertemu dengan Alastair sebelumnya di sini? Gerak-gerik Nathalie yang berubah berhasil menimbulkan pertanyaan di benak Alastair. Tapi sebisa mungkin dia mengenyahkan segala pemikiran karena sudah sangat lapar, otaknya kesulitan untuk berfungsi di detik ini. "Ayuk, masuk. Gue udah enggak tahan, lapar banget pengen makan." Nathalie tetap berjalan mengikuti langkah kaki Alastair untuk masuk, meskipun sejak awal dia merasakan perasaan tidak nyaman. Entah ada apa, doa Nathalie semoga saja pegawai cafe ini tidak mengenali dirinya. Atau bertanya kenapa dia tidak datang bersama Given seperti hari-hari sebelumnya. "Lo pernah ke sini?" tanya Alastair. "Pernah beberapa kali." "Pasti sama Given?" "Ya gitulah. Gue pesan minum aja, udah kenyang." Alastair mencatat pesanan dan memberikan kepada pelayan. "Pasti ada kenangan sama Given di sini." "Ya begitulah, gak usah dibahas. Gue lagi enggak tertarik pagi-pagi bahas ginian." Saat lonceng cafe berbunyi karena ada yang datang, Nathalie benar-benar kesulitan bernapas. Ruangan ini seolah tidak memiliki oksigen, dan seakan ingin membunuh Nathalie secara mengerikan. Given dan Velia. Nathalie membuang arah pandang, kenapa Given harus mengajak cewek ini ke tempat favorit mereka berdua? Apa memang secepat itu Given melupakan semua momen yang pernah terjalin dengan Nathalie. Tidak masalah jika Given mau kemana saja dengan Velia, asal jangan Cafe ini. Nathalie tidak pernah rela tempat favorit yang ditemukan bersama Given, harus dibagikan dengan orang yang dia benci. "Natha. Lo kenapa jadi diem mendadak?" "Gue gak apa-apa kok." "Kita bisa cari tempat lain kalau lo mau," ujar Alastair setelah melihat kehadiran Given. Sudah langsung jelas, bahwa memang ini penyebab ekspresi Nathalie langsung berubah dalam sekejap. "Gak, gue mau di sini. Kalau gak dicoba kapan gue bisa tau udah baik-baik aja atau belum. Percaya aja, gue gak bakalan kenapa-kenapa." "Oke, normalin ekspresi lo. Gue gak mau mereka kesenangan karena lo sedih. Tunjukkin ke mereka kalau lo juga lagi senang-senang sekarang." Nathalie menatap Alastair dalam-dalam, mencari sumber penyemangat di sana. Kemudian menganggukan kepalanya pertanda setuju dengan usulan yang disarankan oleh Alastair barusan. "Iya, Al." Makanan yang dipesan telah disajikan, Alastair fokus makan karena memang sangat lapar. Sedangkan Nathalie sebisa mungkin menghindari tatapan Given yang sedari tadi memang memperhatikan dirinya. Jika awalnya Nathalie pikir hanya dirinya yang menyadari kehadiran Given, ternyata Nathalie salah. Cowok itu juga menyadari bahwa Nathalie berada di satu cafe yang sama dengan dirinya. Nathalie meneguk minumannya meskipun terasa hambar. Dia beberapa kali menendang kaki Alastair agar cowok ini cepat-cepat menghabiskan makanan dan mereka berdua bisa pergi. Untungnya sifat jahil Alastair tidak muncul ke permukaan untuk sekarang. Cowok itu seolah memahami kode dari Nathalie dan menghabiskan makanannya dengan cepat. Saat Alastair membayar, Nathalie langsung ke parkiran dan masuk ke dalam mobil. Dia berusaha menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. Kenapa masih terasa sesak? Padahal Nathalie sudah berusaha ikhlas. Kenapa masih ada rasa tidak rela, kala melihat bahwa yang berada di samping Given untuk menemani cowok itu bukan dirinya lagi. Kenapa? Padahal Given bisa bahagia tanpanya, kenapa harus Nathalie yang terus merasakan sakit secara berulang. Katanya karma itu ada, tapi kenapa sampai saat ini belum ada tanda-tanda Given akan menerima konsekuensi dari perbuatannya. Terkesan sangat tidak adil. Given terus saja bahagia setelah menyakiti perasaan Nathalie dengan begitu kejam, kenapa harus Nathalie yang terlihat menyedihkan dan kacau padahal bukan dia yang bersalah. "Tegang amat, kayak mau ketemu malaikat maut aja. Katanya gak kenapa-kenapa, terus gue malah diburu-buruin. Masih gak move on?" "Masih ada rasa gak ikhlas aja sih, karena Given ajak cewek lain ke tempat yang sering kita datangin berdua." "Gak capek apa nahan nangis, tumpahin aja. Gak apa-apa." "Maksud lo?" "Jangan pura-pura b**o, Natha. Gue tau lo capek nahan tangis dari tadi pas di dalam. Apa gue perlu keluar dari mobil? Biar lo leluasa buat nangis." "Gue gak mau nangis," jawab Nathalie. "Udah cukup bagi gue." "Nangis gak menandakan lo gagal move on kok, daripada ketahan yang ada sakit. Baik lo luapin aja, biar lega. Nangis juga bukan berarti lo lemah, wajar aja kalau manusia sering ngerasain capek sama permasalahan hidup." "Kenapa Given bisa lupain, sedangkan gue masih stuck dan gak bisa apa-apa." "Jangan nyalahin diri lo sendiri karena itu, Natha. Justru dengan alasan kayak barusan bikin lo sadar dan menunjukkan ke semua orang, bahwa lo beneran tulus sama dia meskipun pembalasannya gak setimpal. Lo hebat bisa sayang sama orang sampek segininya." "Tapi rasa sayang gue gak menemukan balasan yang tepat. Gue capek harus nahan sakit, gue capek tiap hari masih berharap chat dari dia. Tapi gue juga sadar, gak baik narik orang baru cuma karena gue lagi dalam kondisi kayak sekarang. Takutnya orang baru yang gak tau apa-apa cuma jadi pelampiasan dan balas dendam gue." "Jangan libatin orang lain kalau lo emang ngerasa gitu, gak apa-apa kalau lo mau nangis tiap hari karena gue tau semuanya gak mudah. Percaya sama gue, Nat. Suatu hari nanti saat lo benar-benar berhasil dan ingat apa yang udah lo lakuin sekarang, pasti lo bakalan ngakak kenapa bisa sebodoh sekarang nangisin seseorang. Lo pasti bakalan menyesal karena pernah sesedih ini buat orang yang udah jahat." "Jadi gak masalah 'kan kalau gue nangis sekarang?" tanya Nathalie. "Nangis aja sampek puas, gue gak bakalan ledekin lo kok. Pegang janji gue sebagai cowok. Ada kalanya emang lo harus nangis, ikhlas, rela. Semua itu bagian dari proses move on, gak ada yang harus lo tahan-tahan. Alastair mulai mendengarkan isak tangis seorang perempuan yang selalu bersikap ceria di depannya. Untuk pertama kalinya Alastair tau, bagaimana rasanya melihat seseorang yang kita suka menangisi cowok lain karena rasa yang begitu tulus. Kali ini pertama kali Alastair melihat wajah cantik Nathalie meredup disertai air mata yang setia membasahi pipinya. Alastair ingin memberikan pundak agar cewek ini bisa bersandar, tetapi Alastair terlalu sadar diri bahwa dia bukan siapa-siapa untuk Nathalie. Melihat Nathalie berani menunjukkan ekspresi lain di depan Alastair sudah sangat cukup, setidaknya Alastair merasakan ada sedikit kedekatan meskipun upaya meraih Nathalie masih sangat jauh. Alastair membenci orang yang sudah membuat Nathalie menangis seperti sekarang, Alastair juga benci karena orang yang salah itu terlebih dahulu menarik perhatian Nathalie dan malah berhasil. Alastair bertanya pada dirinya, kapan dia bisa mendapatkan cinta yang tulus seperti ini? Apa Alastair terlalu buruk makanya Tuhan tidak pernah mengirimkan seseorang yang bisa Alastair miliki sampai akhir? Padahal Alastair sudah berjanji, dia tidak akan menyakiti perempuan jika suatu hari berhasil mendapatkan seseorang yang diinginkan. Beberapa saat menangis, Nathalie meraih beberapa tissu dan mengelap sisa air mata yang mampu membuat pipinya basah. "Gue terlihat menyedihkan, tapi gue lega banget sekarang. Bisa luapin emosi dengan nangis kayak barusan. Makasih buat sarannya, dan makasih karena gak menyebalkan untuk beberapa menit tadi." Alastair tertawa. "Bisa kita lanjutkan perjalanan hari ini?" Nathalie mengangguk. "Maaf karena cewek cengeng ini udah buang-buang waktu buat hal enggak berguna." "Lo tetap cantik meskipun habis nangis gini, gue salut karena lo kuat. Kebanyakan cewek bakalan meledak emosinya liat mantan jalan sama pacar barunya, tapi lo bisa menahan itu dengan sangat baik." "Apa gue terlihat keren di mata lo?" "Dengan berat hati, gue harus mengatakan iya." Nathalie sedikit lega dan tertawa pelan, dia akan memastikan bahwa Given akan menyesali semua perlakuannya kepada Nathalie suatu hari nanti. Akan ada karma tersakit dari segala sikap jahat Given kepadanya. Tidak akan ada kata bahagia juga untuk seseorang yang dengan sadar menghancurkan kebahagiaan seseorang. Begitu semuanya terjadi, Nathalie akan berada di posisi paling membahagiakan. "Gue percaya, mereka yang menyakiti bakalan mendapatkan akhir yang sesuai dengan perbuatan awalnya." "Lo sangat berambisi melihat mantan menyesal," ucap Alastair. "Gak akan pernah ada perasaan tulus buat dia, selain dari gue. Cepat atau lambat dia akan ditinggalkan dengan cara yang sama, atau bahkan bisa jadi lebih kejam." "Kalau hari itu tiba, gue pengen ditraktir sama lo." Alastair sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan. "Deal." Nathalie memutuskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD