"Jika belum bisa jatuh cinta, jangan dipaksa. Jangan mengorbankan hati yang tulus hanya demi kamu bisa sembuh."
****
Nathalie mondar-mandir di depan cermin besar yang berada di kamarnya, gadis itu memutar-mutar melihat dirinya yang terlihat cantik dengan gaun berwarna hijau lumut yang sekarang dikenakan.
Kaisar sang adik yang sedari tadi melihat tingkah kakaknya menghela napas, butuh berapa lama lagi untuk berkaca sampai Nathalie benar-benar mau berangkat ke sekolah.
"Bisa kita pergi sekarang? Apa mau sok cantik di depan cermin kamar aja?"
Nathalie tersenyum sumringah. "Tapi gue cantik hari ini 'kan?"
"Hmm, untuk hari ini lo udah mirip kayak cewek asli."
Ucapan Kaisar membuat gadis itu memanyunkan bibirnya, tidak bisa apa sekali saja Kaisar membuatnya senang.
"Lebih jelek kalau gitu, ayuk berangkat."
Setelah memastikan penampilannya benar-benar sesuai ekspektasi, barulah Nathalie keluar kamar dan menyusul langkah Kaisar.
"Lo enggak mungkin ngajak gue naik motor 'kan?" Nathalie bertanya setelah melihat motor Kaisar yang berada di halaman depan.
"Emang lo gak bisa, gaunnya enggak ketat. Rambut lo juga bakalan aman kalau pakek helm."
"Sar, jangan buat gue pengen marah pagi-pagi deh. Kita perlu mobil untuk hari ini, atau gue pergi sama papa aja?"
Kaisar tertawa puas menyaksikan raut wajah kakaknya yang menahan amarah. "Lagi cantik gini enggak boleh marah, gue cuma bercanda bakalan ajakin naik motor."
"Terus, kenapa motornya dikeluarin?"
"Papa mau berangkat naik motor hari ini, karena mobilnya gue minta pinjam."
"Tapi lo punya mobil sendiri, Kaisar. Jangan diparkir terus-terusan, yang ada mesinnya gak berfungsi dengan baik lagi."
"Mobil papa lebih mewah buat tuan putri hari ini. Papa juga maunya kita naik mobil dia aja, biar lebih keren."
"Gue enggak mau traktir meskipun lo udah muji barusan."
"Dasar cewek, giliran beneran dipuji malah enggak percaya. Giliran enggak dipuji marah. Maunya apa sih? Ribet banget sumpah."
"Ekhem, bau-baunya lo punya pacar nih. Sampai tau sifat cewek kayak barusan." Nathalie tersenyum jahil.
"Ayuk berangkat, gak usah banyak ngomong lo."
"Anak kelas berapa? Cantikan gue apa dia? Kapan PDKT-nya? Kok bisa dia mau sama cowok nyebelin kayak lo?"
"Natha, stop! Gak usah ngeracau gak jelas pagi-pagi."
"Hahaha, gue menyimpulkan bahwa lo emang lagi punya pacar. Kalau enggak mungkin masih ditahap PDKT."
Kaisar menutup kembali pintu mobil dan menatap kakaknya lekat-lekat. "Mau pergi atau enggak nih?"
"Kaisar jangan marah-marah, nanti Kaisar cepat tua."
Begitulah nyanyian yang terus saja Nathalie ulang-ulang sepanjang jalan menuju ke sekolahnya.
Aula terlihat ramai padahal jam dinding masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Nathalie yang baru saja datang dengan gaun casual, sibuk mencari-cari keberadaan murid kelas XI IPA 4 yang lain, dia berharap memang sudah ada dari teman-temannya yang berhadir.
Keramaian di aula ini agak sedikit menyusahkan penglihatannya untuk menemukan mereka, apalagi hari ini siswa boleh memakai baju bebas. Jelas saja mata Nathalie terasa sakit karena warna-warni baju yang terlihat di hadapannya.
"Pagi, tuan putri. Apa tuan putri sedang mencari pangerannya?" Alastair menghampiri Nathalie dengan tersenyum lebar.
"Lo enggak pakek kaos kaki?" tanya Nathalie setelah mengamati penampilan Alastair pagi ini.
"Harusnya muka dulu yang dinilai, ini langsung ke kaki aja."
"Pakek kaus kaki, jelek banget kalau gitu."
"Gue pakek kok." Alastair menaikkan sebelah celananya, dan menampakkan kaus kaki yang benar-benar pendek setelah memakai sepatu.
"Lo udah lama di sini?"
"Lima menit kayaknya."
"Anak kelas kita belum ada yang datang? Gue cari-cari daritadi enggak nemu."
"Ngapain mereka pagi-pagi banget, acara juga baru mulai jam delapan."
"Terus kita ngapain disuruh datang cepat."
"Enggak ngapa-ngapain, biar gak telat aja. Bentar lagi kita bakalan di absen di sana."
"Menurut lo anak kelas lain bajunya gimana?" tanya Nathalie.
"Bagus-bagus sih, cuma bagi gue kita yang layak menang. Kalau penilaian dari segi wajah sih."
"Secara enggak langsung lo mengatakan orang lain jelek."
"Enggak jelek, Natha. Cuma kurang pesona aja."
"Mood gue gak enak setelah lihat pemandangan di sana."
Alastair mengikuti arah pandang mata Nathalie sekarang, gadis itu menatap dua orang remaja yang berada di sudut aula. Given dan Velia sedang asik berfoto bersama.
"Gue udah menebak kalau mantan lo pasti bakalan mewakili kelasnya."
"Terlalu malas kalau sekarang gue memuji dia, anggap aja kelas mereka kekurangan orang makanya harus ngajakin cowok b******n itu."
Alastair tertawa mendengarkan kata-kata Nathalie yang kelewat frontal. "Kalau masih ada rasa enggak usah dilihatin sensinya, kalem aja jangan panas."
"Gue sama sekali enggak panas tuh."
"Ya udah, biar lo enggak lihat ke situ terus. Lebih baik kita foto bareng aja, kapan lagi lo bisa foto sama cogan SMA Dwiputra."
"Boleh deh, gue juga merasa cantik soalnya."
"Bukan merasa, emang cantik banget. Kali ini gue enggak gombal dan enggak bohong."
Perasaan Nathalie mendadak hangat mendengarkan kalimat Alastair barusan. "Buruan foto, nanti enggak sempat lagi."
"Baron, ke sini lo." Alastair memanggil cowok teman satu ekskulnya.
"Fotoin gue sama calon pacar."
"Apaan sih kata-katanya." Alastair tidak menanggapi dan memilih merangkul bahu Nathalie dengan erat. "Senyum," perintahnya.
****
Jam delapan pagi semua murid yang diarahkan untuk berkumpul di auditorium. Nathalie kira acara akan dilaksanakan di aula seperti tahun kemarin, ternyata tidak.
Dirinya yang semula merasa tenang perlahan merasa deg-degan, kepercayaan diri itu mendadak hilang kala semakin banyak orang yang berhadir di sini.
"Tarik napas Natha, enggak usah tegang gitu. Percaya sama gue semuanya bakalan berjalan lancar."
"Minum yang manis-manis biar enggak deg-degan." Sasa menyerahkan sebotol minuman berisikan s**u hangat.
"Kelihatan banget kalau gue lagi nervous?"
"Banget, wajah lo tegang banget kayak lagi ulangan dadakan."
Alastair ikutan menatap ke arah Nathalie yang memang terlihat berbeda daripada tadi pagi. Barisan murid kelas X sudah berdiri di belakang panggung untuk mengantri.
Di mata Nathalie semua yang tampil terlihat memuaskan, dia melihat sepatu hak tinggi yang sekarang sudah dikenakan. Firasat akan jatuh semakin membuat Nathalie deg-degan, kenapa dia mendadak jadi susah menenangkan diri seperti ini.
Urutan kelas yang maju dimulai dari kelas X IPS sampai kelas X Bahasa. Waktu terus berjalan hingga tiba untuk murid kelas XI yang maju. Nathalie bangun dari posisi duduknya dengan perasaan yang tak kunjung membaik.
Pandangan matanya lagi-lagi tak sengaja beradu pandang dengan Given. Cowok itu mengulas senyum tipis, hanya dengan senyuman itu Nathalie merasa sedang ditenangkan. Sebesar itu pengaruh Given untuknya, mata Nathalie terus saja bertatapan dengan Given yang juga tidak mengalihkan pandang sama sekali.
Alastair berdiri di sebelah Nathalie dan mengenggam tangan gadis itu. "Lo pasti ngerasa deg-degan, percaya sama gue Natha kalau hari ini lo cantik banget."
"Gue bakalan berhasil lawan kegugupan ini 'kan?"
"Ada gue, kita bakalan kasih yang terbaik dan bakalan menang."
"Enggak perlu menang, itu terlalu berharap. Gue cuma mau bisa tampil dengan baik dan gak mengecewakan kelas kita."
Alastair terus saja menenangkan Nathalie dengan menepuk-nepuk telapak tangan Nathalie yang berada di genggamannya saat ini.
"Nyesel sekarang karena mutusin Natha? Secara dia emang baik banget, gue aja kaget pas tau lo berdua putus." Dara yang menjadi pasangan Given berbicara.
"Penyesalan selalu datang belakangan, apalagi gue memutuskan dia secara terpaksa."
"Apapun yang terjadi sebelumnya, harusnya lo tetap diskusi sama Natha. Bukan malah ngambil keputusan sepihak yang bisa buat lo menyesal kayak sekarang."
"Udah terlambat, gue terlalu buru-buru kemarin."
"Gak usah sedih sekarang, bentar lagi kita tampil."
Begitu MC memanggil nama kelas, mereka semua kompak berbaris. Saat Given melangkah dengan gagah, Nathalie tidak berbohong kalau cowok itu terlihat sangat mempesona hari ini. Ditambah lagi kala Given menunjukkan senyum tipis, sayangnya dia bukan milik Nathalie lagi sekarang.
"Berat juga ya saingan sama kelas mantan," ucap Alastair.
"Gue bakalan menang." Ambisi Nathalie kembali muncul, apalagi saat mendengarkan suara Velia yang terus menyemangati Given.
"Berikutnya perwakilan dari kelas XI IPA 4, ada Nathalie Serena dan Phrince Alastair." MC menyebut nama mereka berdua untuk berjalan memutari panggung.
Saat Nathalie dan Alastair berjalan di atas panggung, banyak sekali sorakan yang terdengar dari pendukung kelas XI IPA 4. Selebihnya kebanyakan terdengar suara cewek yang diduga adalah fans seorang Alastair yang alay.
"Wah, berasa lihat raja dan ratu ya perwakilan dari kelas XI IPA 4. Ceweknya cantik banget kayak barbie, cowoknya juga enggak kalah rupawan." Pujian dari MC semakin menyemangati Nathalie untuk tambah percaya diri.
"Lo keren," bisik Alastair.
Nathalie mengembangkan senyum. "Lo juga lebih keren."
****
Saat penampilan murid kelas XII berlangsung, Nathalie meminta izin kepada teman-temannya ingin ke toilet sebentar. Matanya menatap wajah yang terlihat di cermin, Nathalie menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. Dia telah berhasil melawan rasa cemas berlebihan yang dia rasakan sebelumnya.
Nathalie merapikan sedikit tatanan rambutnya yang sedikit berantakan, juga merapikan lipstik yang memulai memudar setelah minum air tadi.
Merasa penampilannya kembali sempurna, Nathalie keluar dari toilet. Sebuah tangan menariknya dan mengurung Nathalie di antara tembok dan tangan Given.
"Given," ucapnya menahan suara.
"Iya ini gue."
"Lepas, Ven. Kalau ada yang lihat gimana?"
"Enggak gimana-gimana, palingan bakalan ada gosip baru aja."
"Gue enggak suka lo bersikap kayak gini." Nathalie berusaha melepaskan dirinya, namun tidak berhasil.
"Sebenarnya gue lebih enggak suka lihat lo romantis-romantis sama Alastair, gue merasa cemburu tapi sadar enggak punya hak."
"Lo juga enggak punya hak buat nahan gue kayak gini."
"Kalau enggak gini, lo gak bakalan mau bicara sama gue. Kesalahan gue terlalu fatal, lo marah apa benci sekarang?"
"Dua-duanya."
"Mulut sama mata lo enggak sinkron. Sedih banget kalau sekarang cuma gue yang bisa ngerasain kangen sama lo, tapi gak bisa ngapa-ngapain selain mendam sendirian. Hal kayak gitu terasa menyiksa banget."
"Itu konsekuensi dari keputusan yang udah lo buat."
"Udah move on jadi sama gue?" tanya Given.
"Pertanyaan lo terasa enggak sadar diri, kalau lo punya rasa malu. Gak mungkin juga bakalan menanyakan pertanyaan kayak barusan."
"Cewek akan selalu s***s pas udah jadi mantan, ya?"
Nathalie mendorong tubuh Given, sampai tangan cowok itu tidak mengurungnya diantara dinding lagi.
"Lo punya pacar, enggak seharusnya ngomong kayak barusan sama masa lalu. Kalau emang belum siap sama yang baru, ya gak usah memulai. Orang baru bukan bahan buat lo jadi pelampiasan demi senang-senang."
"Dia yang mau, gue gak maksa."
"Sialnya lo terlihat menjijikkan dengan kata-kata barusan."
Given kembali menarik tangan Nathalie saat cewek itu hendak pergi. "Bisa kita bicara tanpa harus ada rasa benci?"
"Gue enggak bisa mengiyakan karena gue emang benci sama lo.
"Lo cantik banget hari ini, gue iri sama Alastair yang bisa berada di samping lo tanpa paksaan." Given menyentuh rambut Nathalie yang tertata rapi.
"Ven, gue sama lo udah selesai. Jangan buat harapan sama apa yang enggak bisa lo kasih jawaban yang jelas.
"Kalau gue ajak balikan mau gak?"
"Terlalu bodoh mengulang kisah yang gue udah tau endingnya." Nathalie langsung pergi, dia tidak ingin membuatnya semakin berharap hanya dengan kata-kata Given yang tidak pasti menjadi nyata.
"Lama banget, Natha."
"Iya lama banget, lo gak mungkin ke sasar 'kan?" tanya Fiera.
"Enggaklah, gue enggak sebodoh itu."
"Atau jangan-jangan lo habis ketemu sama seseorang makanya lama?" Alastair yang duduk di sebelah kiri Nathalie ikutan bertanya.
"Siapa yang mau gue temui coba, aneh-aneh aja lo."
Alastair hanya manggut-manggut saja, meskipun dia tau bahwa Nathalie sedang berbohong sekarang. Alastair melihat saat Given ikutan keluar auditorium setelah Nathalie pergi. Pasti Given yang menjadi alasan Nathalie berada lama di luar.
Setelah penampilan kelas XII selesai, tibalah ke babak penentuan siapa yang akan menjadi juaranya untuk tahun ini.
Seluruh anak kelas XI diminta untuk menaiki panggung untuk mendengarkan pengumuman. Nathalie sama sekali tidak deg-degan, karena dia memang akan menerima semua keputusan yang akan diumumkan.
Alastair yang kepedean menang sedari tadi tersenyum sumringah sambil melambai-lambaikan tangan dengan sangat percaya diri. Banyak dari siswi yang menyukai Alastair langsung mengabadikan momen barusan.
"Dari pihak juri memutuskan ada dua kandidat dengan penampilan terbaik. Kira-kira siapa ya?"
"XI IPA 2."
"XI IPA 3."
"XI IPS 2."
"XI Bahasa 1."
"XI IPA 4." Andre selaku ketua kelas yang mendominasi teriakan dukungan tersebut.
"XI IPS 1."
"Untuk kelas XI IPA 4 dan XI IPS 1 silakan maju ke depan."
Nathalie maju dengan tangan merangkul lengan Alastair, dia sama sekali tidak berniat melirik kelas sebelah.
"Menurut penilaian juri, dua kelas inilah yang melakukan penampilan sangat baik. Dengan itu saya menyatakan, bahwa pemenang kontes fashion show SMA Dwiputra tahun 2020 dimenangkan oleh kelas XI IPA 4."
Suara tepuk tangan terdengar cukup keras. Alastair yang kelewat bahagia sampai memeluk Nathalie. Dia menatap Given sembari tersenyum sinis, seolah mengatakan bahwa dirinya lebih unggul sekarang.