"Suaramu menenangkan, perkataanmu lembut meskipun tetap terdengar menyebalkan. Sampai kapan aku terus berharap untuk bisa memiliki kamu secara utuh."
****
Setelah berhasil menjadi juara pertama dari lomba fashion show yang diselenggarakan dengan meriah tadi pagi sampai sore.
Malam harinya, Alastair mengajak ketiga sahabatnya untuk melakukan perayaan atas kemenangannya hari ini. Entah kenapa Alastair begitu bahagia, padahal hari-hari biasanya juga dia mendapatkan banyak pujian dari perempuan di sekolahnya.
Mungkin kali ini sensasinya terasa berbeda karena dirinya memenangkan penghargaan bersama Nathalie sebagai pasangan. Senyuman tak kunjung luntur dari raut wajahnya, mengingat bagaimana tadi dia refleks memeluk Nathalie dan cewek itu tidak mengatakan apa-apa. Momen yang akan selalu Alastair ingat dengan sangat baik.
"Senyum mulu lo, lama-lama kering itu gigi." Andre tidak tahan melihat ekspresi wajah Alastair saat ini. "Makan, senyum doang gak bakalan bisa bikin kenyang."
"Kenapa sih, senang banget karena bisa menang?" tanya Daffrin.
"Al, lo itu enggak menang juga udah sering jadi pusat perhatian. Bagi gue enggak ada yang spesial dari kemenangan lo hari ini." Perkataan Rayn mendapatkan anggukan dari teman-temannya.
"Lo pada enggak usah kepo kenapa gue bisa sesenang ini, yang penting sekarang kalian bisa makan gratisan sepuasnya."
"Hadiah juara satunya berapa sih? Makanya lo niat banget traktir. Emang banyak atau karena uang juaranya gak lo bagi sama Natha?"
Alastair tertawa mendengarkan pertanyaan Andre barusan. "Tanpa duit itu gue juga sanggup kali traktirin lo pada setiap hari."
"Nabung, Al. Lo enggak bakalan tau gimana masa depan nanti. Jangan keseringan buang-buang duit buat hal yang enggak berguna." Daffrin menjadi ustad dadakan. Meskipun perkataan tidak sinkron dengan mulutnya yang tidak berhenti mengunyah sedari tadi.
"Ekspresi Given tadi keliatan banget keselnya, lo pada liat enggak?" tanya Rayn yang dibalas gelengan kepala oleh sahabatnya.
"Gue kelewat senang karena kelas kita menang, jadi enggak sempat ngelirik Rival," ucap Andre.
"Cemburu banget liat Alastair sama Natha," ujar Rayn lagi.
"Jelaslah cemburu, si Given belum move on dari Natha."
Alastair menatap Daffrin yang sibuk memasukkan sepotong pizza lagi ke dalam mulutnya. "Tau dari mana lo Given belum move on?"
"Kelihatan banget kali, kecuali kalau lo buta baru enggak sadar."
"Menurut gue juga dia belum move on, sering banget keliatan curi-curi pandang ke arah Natha. Mau itu pas kita olahraga, lagi di kantin, atau pas acara kayak tadi." Rayn ikutan memberikan pendapat.
"Takut lo Natha balikan sama Given? Makanya gerak cepat, gak usah lelet sama enggak niat gitu." Sepertinya di antara mereka bertiga memang Andre yang gregetan melihat tingkah Alastair. Kadang-kadang bergerak cepat, tapi sekali-kali seolah tidak peduli.
"Apalagi kalau Natha juga masih sayang sama Given, bahaya banget." Daffrin ikutan memanasi suasana. "Sekali diajak balikan langsung mau deh."
"Maju buat dapetin atau mau gue ambil Natha?"
"Emang mau dia sama lo?" Alastair meremehkan ucapan Rayn barusan.
"Jangan salah, Al. Seganteng atau sekeren apapun lo, kalau enggak ada kepastian cewek juga bakalan lebih milih yang pasti."
"Benar, PDKT kelamaan yang ada pas pacaran cepat putus." Andre ikut menakut-nakuti.
"Ah, s****n. Gue enggak bisa mikir." Alastair melirik jam tangannya. "Mau jam dua belas, gue balik dulu. Daritadi udah ditelepon sama pemilik rumah."
"Hati-hati, jangan besok ada kabar siswa Dwiputra meninggal dunia setelah memenangkan lomba fashion show."
Alastair tidak menanggapi, dia menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada Andre. "Kalau kelebihan simpan buat besok jajan di kantin, ngerti?"
"Siap, bos."
Alastair melakukan tos dengan ketiga sahabatnya lalu beranjak pergi keluar dari restoran.
****
Selama perjalanan pulang, Alastair merasa ada orang yang mengawasi membuatnya tidak nyaman. Beberapa kali dia melihat lewat kaca spion yang menampilkan mobil mengikutinya dengan jarak yang lumayan dekat.
Saat Alastair melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, mobil tersebut juga melakukan yang sama. Pada akhirnya Alastair sengaja berbelok ke jalanan sepi untuk memancing si pengendara mobil.
Alastair tau ini tidak aman dan membahayakan dirinya, namun lebih terasa tidak nyaman lagi jika Alastair tidak tau siapa orang yang berusaha menganggu ketenangannya malam ini.
Setelah menepikan motornya, Alastair melompat ke semak-semak untuk bersembunyi. Mobil tadi benar-benar berhenti tepat di belakang motornya. Menunggu dengan sabar, hingga sang pemilik mobil benar-benar turun.
Sial, ternyata Given pelakunya.
Alastair keluar dengan perlahan, tangannya menepuk bahu Given. Begitu lelaki itu berbalik badan, Alastair langsung melayangkan sebuah tinju. "Ada maksud apa lo ikutin gue malam ini?"
Given mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, dia kembali bangun dari posisi yang semula sudah tersungkur ke lantai.
"Gue enggak suka gimana cara lo buat deketin Natha."
Alastair berdecih. "Oh, jadi menyangkut Natha. Cemburu lihat mantan lo bahagia sama cowok lain? Kalau tau bakalan cemburu, kenapa kemarin ditinggalin?"
"Gue enggak pernah ninggalin Natha, gue cuma perlu waktu menyelesaikan semuanya dan kembali lagi sama dia."
"Lo pikir Natha masih mau? Ingat apa yang udah lo lakuin, kadang berharap sama sesuatu yang udah jelas enggak bisa digapai itu sulit."
Kali ini giliran Given yang melayangkan pukulan tidak berbeda jauh dengan Alastair, Given juga menendang lutut Alastair. "Enggak usah sok tau, lo bukan siapa-siapanya Natha sampai hari ini."
"Kadang gue pengen ketawain lo yang terlihat amat sangat menyedihkan, udah mantan harusnya sadar posisi. Mau sama siapapun Natha sekarang, lo enggak punya hak buat ngatur."
"Gue enggak pernah biarin siapapun rebut Natha dari gue termasuk lo."
Alastair mencengkeram kerah kemeja Given. "Gue bakalan nembak Natha, dan pastiin dia jadi cewek gue. Setelah itu, lo gak bakalan punya kesempatan gangguin Natha barang sedetikpun."
"Saat hari itu tiba, gue pastiin lo bakalan ditolak." Given tersenyum puas, menepis tangan Alastair yang berada di kerah kemejanya. "Gue menunggu hari itu."
Alastair terdiam, sampai Given benar-benar menghilang dari pandangannya. Tangannya perlahan mengepal, napasnya memburu. Apa Given sedang memberikan sebuah tantangan kepadanya barusan?
Baiklah, Alastair akan membuktikan siapa yang akan berhasil kali ini.
Jemari tangannya mencari-cari nomor telepon Nathalie. Sembari menunggu Alastair menyandarkan tubuhnya ke motor dengan posisi duduk di aspal. Untung saja jalanan ini benar-benar sepi, jadi tidak akan ada yang melihat bahwa Alastair terlihat menyedihkan sekarang.
"Lo ngapain nelpon gue jam segini, gabut banget sih."
"Langsung marah-marah, lo udah tidur?"
"Hmm, kebangun gara-gara lo."
"Mau gue bantuin tidur lagi enggak?"
"Caranya, jangan usil lo." Nathalie kembali mengomel.
"Coba tebak sekarang gue lagi ngapain?"
"Lagi senyam-senyum karena berhasil mengusik tidur gue," tebak Nathalie asal karena memang sangat mengantuk setelah kelelahan seharian tadi.
"Lebih spesifik gue maunya."
"Gue enggak tau Alastair, lain kali kalau mau main tebak-tebakan jangan jam segini. Aneh banget tau enggak sih, nelpon enggak jelas cuma buat nanyain hal gak penting."
Alastair mengabaikan omelan Nathalie, dan fokus kepada hal yang mau dia bahas. "Lo mau tau gue lagi ngapain?"
"Apa?"
"Lagi duduk sambil natap bintang, terus dengerin suara lo. Perpaduan sempurna yang buat gue merasa damai."
"Al," panggil Nathalie.
"Iya, Natha."
"Lo enggak mabuk 'kan."
Alastair tersenyum lebar sekarang. "Enggak, kenapa emangnya."
"Kalau enggak mabuk pasti lo ngigau, makanya ngomong ngelantur sekarang."
"Natha, kalau gue suka sama lo boleh enggak."
Hening, tidak ada sahutan apa-apa.
"Lo tidur lagi?"
"Natha."
"Beneran tidur? Kebo banget sih."
Alastair menunggu namun Nathalie benar-benar tidak menjawab apapun lagi. "Gue tau lo pasti kecapean hari ini, tidur yang nyenyak cantik. Selamat malam."
Alastair menatap foto profil Nathalie dan tersenyum lagi, s**l dia benar-benar seperti orang yang sudah tidak waras sekarang. "Lucu banget, pengen miliki beneran."
Berbeda dengan Alastair yang tersenyum senang, ada Nathalie yang sedari tadi menahan napas setelah mendengarkan penuturan Alastair yang terdengar jelas di telinganya. Menghadirkan rasa deg-degan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Alastair sedang bercanda bukan? Hanya itu saja yang Nathalie ulang-ulang untuk meyakinkan dirinya kali ini.