10. Kenapa?

1614 Words
"Kalimat sederhana yang baru saja kau ucap, mampu membuatku melambung sangat tinggi. Jangan dijatuhkan, aku benar-benar takut akan luka." **** Jam setengah delapan pagi setelah bel berbunyi, semua murid kelas XI IPA 4 berdiri di depan ruang kelas. Hari ini akan diadakan ulangan tengah semester. Bu Yani selaku guru Matematika akan membagikan posisi duduk sesuai yang beliau inginkan. Bu Yani menghitung semua murid yang ada di sini sekarang, kurang tiga orang salah satunya Alastair yang tak kunjung datang. "Andre, apa ada kabar dari Alastair?" "Tidak ada, Bu. Mungkin saja dia terlambat datang hari ini karena kelelahan kemarin." "Saya langsung membagi saja ya, bagi yang namanya disebut langsung masuk ke kelas dan mengisi kursi pojokan dekat pintu terlebih dahulu. Begitu juga dengan murid yang masuk belakangan harap menyesuaikan." "Baik, Bu." Bu Yani memanggil nama satu persatu, Nathalie yang berdiri di barisan belakang sedari tadi celingak-celinguk mencari-cari keberadaan Alastair. Mungkin saja cowok itu tiba-tiba muncul dari tembok perbatasan koridor. "Nathalie Serena, silakan. Untuk sementara kamu sendiri dulu, karena jumlah siswa ganjil." "Baik, Bu." Nathalie masuk ke dalam ruang kelas dan duduk di kursi paling belakang posisi tengah. Mungkin Alastair memang tidak datang hari ini, pikir Nathalie. Kertas soal ulangan langsung diedarkan oleh Andre yang meminta agar murid duduk barisan depan mengoper ke belakang. Nathalie membaca kertas soal yang berada di tangannya sekarang, sialnya dia lupa belajar semalam dan malah ketiduran. "Assalamualaikum." Begitu suara itu terdengar, Nathalie yang semula memfokuskan pandangannya ke depan beralih menatap Alastair yang baru saja datang. "Saya minta maaf karena terlambat." "Untuk kali ini saya maafkan, mungkin kamu memang kelelahan karena acara kemarin. Silakan, langsung duduk di sebelah Nathalie." "Terima kasih, Bu." Alastair mengambil kertas soal di meja guru dan berjalan ke bangku barisan belakang. Nathalie menatapnya dan menyadari ada luka di sudut bibir Alastair, pipi laki-laki ini juga terlihat agak lembab. Tanpa bertanya apapun, Nathalie kembali membaca soal dengan fokus. Waktu terus berjalan, hingga hanya tersisa tiga puluh menit lagi. Nathalie mendadak cemas, karena baru mengisi 15 soal dari 35 soal coss dan 5 soal essay yang diberikan. Berusaha keras untuk mengingat segala rumus yang pernah diajarkan, sampai Nathalie merasakan kepalanya berdenyut karena terlalu dipaksakan. Menghela napas, apa Nathalie harus mengisi asal-asalan yang penting siap? Tapi, bagaimana jika nilai Nathalie sangat rendah. Nathalie tidak mau harus remedial di saat ulangan tengah semester seperti sekarang. "Ini, liat aja." Nathalie melihat Alastair menggeserkan kertas ulangan ke arahnya. Kertas tersebut sudah terisi penuh jawaban, termasuk bagian soal essay. Alastair itu pintar, dia selalu masuk lima besar ranking kelas meskipun suka membuat ulah dan malas-malasan. Jika Alastair belajar dengan sungguh-sungguh, pasti dia berhasil meraih posisi rangking pertama ataupun kedua. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, untuk kali ini biarkan saja Nathalie menyontek. "Lo yakin sama jawaban ini?" "Kita lihat aja nanti pas hasilnya diumumkan." "Al, serius." "Gue yakin 100%, itu semua sesuai rumus yang diajarkan sama Bu Yani." "Gratis 'kan?" tanya Nathalie. Alastair mengulum senyum. "Bayarannya ya jadi pacar gue lah, enggak ada yang gratis di dunia ini Natha." Nathalie memutar bola matanya malas. "Anggap aja gue gak dengar, dan jawaban untuk hari ini dianggap gratis." "Kalau lo jadi pacar gue mah, pasti bakalan dapat jawaban gratis tiap hari." "Lagi UTS Alastair, jangan bahas yang enggak penting dulu." "Iya-iya, buruan nulis. Jangan malah ajak gue gosip." Saat Nathalie fokus menyalin jawaban yang diberikan oleh Alastair, cowok itu malah memilih menelungkupkan wajahnya diantara lipatan tangan. Sial, Alastair merasa sangat mengantuk sekarang. **** "Arghh, kepala gue rasanya pengen pecah liat soal tadi." Fiera berteriak emosi, pasalnya soal yang diberikan dengan contoh sehari-hari sangat berbeda jauh. "Gue merasa sangat g****k, padahal cuma angka yang diganti. Kenapa mendadak pusing juga." Sasa ikutan mengeluh. "Hahaha, gue setuju sama lo. Seriusan, serasa gobloknya natural banget." Daffrin berkata lalu tertawa. "Gak perlu nilai banyak, asal jangan remedial aja," ucap Rayn. "Lo gimana, Al. Kayaknya aman aja ya, gue lihat tadi cepat banget siap sampek sempat tiduran di kelas." "Kayak gak tau gue aja lo, Ndre. Biasalah ngasal." "Seriusan lo ngasal sama jawaban tadi?" Nathalie mendadak panik. "Bercanda, gue jawabnya serius kok. Apalagi kalau mau jalin hubungan sama gue. Percaya deh gue bakalan setia." Nathalie mencubit pelan lengan Alastair. "Apaan sih, kenapa selalu itu yang lo bahas. Dikit-dikit nyambungnya kalau gue jalin hubungan sama lo." "Makanya mau jalin hubungan sama gue, biar gak gue godain terus soal itu." "Muka lo kenapa, habis berantem semalam?" Jika tadi hanya Nathalie yang menyadari, maka semua orang yang berada di sini ikut melihat wajah Alastair. Wajah Alastair nampak berbeda jika diamati dengan teliti, apalagi jarak sedekat sekarang. "Berantem sama siapa lo?" tanya Andre. "Jatuh doang, pas pulang habis nongkrong semalam." "Bohong banget, enggak mungkin. Itu lembab kayak habis ditonjok sama orang." Daffrin memberikan argumen. "Jujur aja kali, Al. Siapa orangnya? Berani banget dia nyamperin lo buat kasih tanda kayak sekarang," ucap Rayn. "Biasalah orang iri sama gue." Nathalie bangun dari posisi duduknya, menarik tangan Alastair yang bukannya bangun malah menatap ke arahnya. "Ikut gue ke UKS sekarang." "Mau ngapain?" "Nutupin luka itu, lo kelihatan jelek kalau kayak sekarang." "Oke." Alastair berjalan tanpa melepaskan genggaman tangan Nathalie. Lagian cewek ini juga tidak memprotes, jadi sah-sah saja jika Alastair memanfaatkan kesempatan seperti sekarang. "Diam-diam Natha mulai perhatian sama Alastair, kalau dia enggak bilang. Kita juga gak nyadar kalau Alastair lagi luka sekarang." "Gue setuju sama Fiera, setidaknya Nathalie gak sejutek dulu. Apa gara-gara udah jadi pasangan kemarin kali ya," ucap Sasa. "Apa si kunyuk Alastair bakalan berhasil dapatin Natha sekarang?" Daffrin mendadak semangat membahas hubungan Alastair dan Natha. "Gue rasa dia emang bakalan berhasil, dengan caranya sendiri." **** Nathalie menyuruh Alastair duduk di kursi, sedangkan dirinya mengambil kota P3K. Nathalie mengambil kipas dan antiseptik untuk membersihkan sisa darah di sudut bibir Alastair. Matanya menatap Alastair dalam jarak sedekat ini, cowok di hadapannya malah menyunggingkan senyuman yang mampu membuat debaran jantungnya kembali berdetak kencang. "Merem," perintah Nathalie. "Kenapa harus merem, luka gue 'kan di sudut bibir bukan di mata?" "Gue enggak suka ditatap kayak gitu, rasanya sama sekali gak bikin nyaman." Alastair malah tersenyum menampilkan sederet giginya yang putih bersih. "Deg-degan ya dekat-dekat sama gue? Perasaan lo gimana, nyaman, gelisah, atau gak bisa berkata-kata mengenai apa yang lo rasakan sekarang." "Diem, ah. Gue gak merasa deg-degan sama sekali." "Iya deh, yang lagi bohong." "Lo berantem sama Given?" "Kenapa lo berpikiran seperti itu? Bagi lo, musuh gue cuma Given?" "Iya begitulah, bisa aja dia enggak suka liat gue dekat-dekat sama lo." "Aneh banget, padahal udah jadi mantan tapi cemburuan gak jelas." "Benar Given yang pukulin lo?" "Hmm, dia ikutin gue saat pulang nongkrong semalam sama Daffrin, Rayn, Andre. Dia marah karena gue deketin lo, jelas-jelas dia gak punya hak lagi buat gitu 'kan?" "Lo balas mukul dia?" "Kalau enggak balas mukul, yang ada gue mati di situ Natha. Mantan lo nyeremin kalau lagi cemburu." Nathalie menekan kuat luka Alastair, sampai cowok itu berteriak pelan. "Natha, kalau enggak ikhlas mending jangan deh." "Lain kali kalau Given berulah, enggak usah diladenin. Kalau lo tetap ladenin berarti sama aja kayak dia." "Gue cuma melakukan pembelaan diri Nathalie, gue gak pernah ngusik dia juga. Tiba-tiba dia datang mukulin gue." "Lo tau apa yang bikin dia ngelakuin itu 'kan?" "Karena dia cemburu gue dekat sama lo." "Nah, makanya lo harus menjauh dari hal yang bisa buat lo terluka tiba-tiba kayak tadi malam." Nathalie berbicara tanpa menatap wajah Alastair. Dia sudah mengoleskan betadine ke luka tadi, dan hanya perlu menutupnya dengan plester. "Secara gak langsung lo meminta gue menjauh. Apa usaha gue deketin lo bikin risih, padahal gue enggak terlalu obsesi. Gue berusaha santai deketin lo dengan car sendiri, kasih tau gue apa yang bikin lo gak nyaman?" "Gue sama sekali gak bilang kayak gitu, apa yang lo bilang tadi itu cuma bagian dari opini lo aja." "Terus kenapa lo minta gue menjauh, kalau sama sekali enggak merasa risih seperti yang gue bilang." Nathalie menempelkan plester tersebut secara perlahan, hingga luka Alastair tertutup dengan sempurna. "Gue cuma enggak mau, lo kembali luka kayak sekarang." "Gue sama sekali enggak masalah, ini bagian dari perjuangan." "Lo benar-benar serius suka sama gue, dan pengen berada di hubungan yang lebih dari teman?" "Gue tau perasaan orang bukan bahan bercandaan, Nathalie. Gue gak pernah benar-benar jatuh cinta sama orang, karena itu gue enggak memutuskan pacaran. Tapi kalau sama lo gue merasak hal yang berbeda, karena itu juga gue mau dapetin apa yang gue mau sekarang." Nathalie menatap mata Alastair dalam-dalam. "Kalau itu yang lo mau, gue bakalan kasih kesempatan. Buat gue jatuh cinta dengan cara yang lo punya." Setelah berkata demikian, Nathalie langsung berbalik badan. Meletakkan kembali kota P3K di tempat semula dan langsung berjalan dengan langkah cepat meninggalkan UKS. Sampai di luar UKS, Nathalie langsung memegang dadanya. Benar-benar berdetak sangat kencang, Nathalie menyesali setelah berkata demikian. Apa dirinya terlihat murahan tadi, atau sekarang Alastair sedang menertawakan dirinya dengan puas? Masa bodoh, yang penting Nathalie sudah berkata sesuai dengan isi hatinya. Sudah cukup mengharapkan Given kembali, mungkin memang sudah saatnya dia menerima seseorang yang memiliki perasaan lebih untuk dirinya sekarang. Sementara Alastair yang masih berada di ruang UKS mengembangkan senyum dengan sempurna. Dia benar-benar tidak salah mendengarkan bukan? Nathalie memberikan kesempatan pertama untuknya, Alastair berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini apalagi sampai membuat Nathalie kecewa. Dia menepuk pipinya yang tidak berhenti tersenyum. Seperti orang gila asrama, Alastair mengacak-acak rambutnya. Dia tidak bisa mendefinisikan rasa bahagianya sekarang, baru diberikan kesempatan mendekati saja sudah sebahagia ini. Apalagi jika suatu hari nanti Nathalie mengiyakan menerima Alastair sebagai pacarnya. Sudah cukup, Alastair tidak ingin terlihat semakin gila. "s**l, Natha. Pengaruh lo besar banget buat rasa senang gue." Alastair mendadak tertawa pelan. Jika ada yang melihat tingkahnya saat ini, mereka pasti langsung beranggapan bahwa Alastair memang sudah tidak waras lagi. Penyebab ketidak warasan Alastair adalah Nathalie yang harus bertanggung jawab.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD