11. Nonton Bioskop

1426 Words
Semua orang tau bahwa Fiera Zill adalah manusia yang tidak suka perihal menunggu. Sudah setengah jam dia menunggu dengan perasaan campur aduk, antara kesal, khawatir, dan marah kepada Andre yang tak kunjung datang. Di sebuah mall, Fiera sedari tadi mengomel mengeluarkan semua unek-uneknya. Tidak biasanya seorang Andre membuatnya menunggu, biasa saja Andre yang harus menunggu Fiera berdandan dalam waktu lama. Berbeda dengan Andre yang tidak marah dan sangat sabar, Fiera malah sebaiknya. Dia bahkan berniat pulang jika tidak dicegah oleh Nathalie dan Sasa. "Al, lo udah chat dia mastiin datang?" Alastair yang asik mengunyah cemilan di tangannya menganggukkan kepalanya. "Katanya otw daritadi, setelah itu gak aktif lagi dia." "Jangan-jangan Andre kenapa-kenapa di jalan." Ucapan Daffrin mendapatkan pelototan dari Fiera yang sudah seperti singa sekarang. "Gak usah ngaco lo, mungkin emang macet." "Kita tunggu lima belas menit, lagian filmnya juga masih setengah jam lagi. Berdoa aja Andre bisa datang dengan keadaan selamat," ucap Nathalie dengan nada menenangkan, tangannya juga mengelus bahu Fiera sedari tadi. "Selagi kalian nunggu, gue mau nyari dompet, ada yang mau ikut?" tanya Sasa. "Gue mau, kebetulan pengen cari juga. Soalnya dompet gue udah buluk." Rayn mengajukan dirinya. "Makanya itu dompet diisi uang, bukan bon utang." Perkataan Daffrin hanya dibalas suara tawa Rayn, kemudian cowok itu mengikuti langkah Sasa yang sudah berjalan lebih dahulu. Mereka bertujuh memang sepakat untuk menonton film horor terbaru, katanya bakalan nyeremin banget. Niat awal Nathalie hanya pergi bersama dua sahabatnya, namun Fiera berkata akan lebih seru jika lebih rame yang ikutan. "Lo udah makan? Kalau belum kita makan dulu," ucap Alastair. "Enggak lapar sih, nanti aja. Lo laper sekarang?" "Enggak laper juga, daritadi udah ngunyah micin." "Jangan kebanyakan, nanti kepala lo pusing." Nathalie memperingatkan, pasalnya entah sudah berapa bungkus Alastair menghabiskan cemilan yang mengandung banyak micin tersebut. "Ini minum dulu." Alastair menyerahkan dua botol yoghurt kepada Nathalie. "Minum dulu Fiera, gue yakin Andre bakalan datang." "Kenapa bisa seyakin itu?" "Dia enggak pernah ingkar janji, apalagi kalau harus buat lo marah kayak sekarang." "Gue enggak marah, cuma takut dia kenapa-kenapa di jalan. Jarang banget Andre enggak mau berangkat bareng sama gue, biasanya dia selalu minta jemput duluan." "Ra, mungkin Andre ada keperluan dulu." Fiera menghela napas, Andre memang terlihat berbeda hari ini. Sedikit berbicara dan kebanyakan mengiyakan ucapan Fiera tanpa ada unsur ingin berdebat. Menurut yang Fiera baca, kalau cowok sudah tidak keras kepala lagi berarti ada sesuatu. Apa Andre memiliki gadis yang disukai selain dirinya? Apa Andre marah karena Fiera kadang-kadang suka kasar dan ngambekan. Apa Andre lelah dengan perubahan mood Fiera yang sering berubah-ubah seperti bunglon. Mereka menunggu sampai waktu pemutaran film dimulai, semua masuk ke dalam bioskop. Alastair memberitahukan Fiera bahwa Andre akan datang, jadi tidak apa-apa jika mereka masuk duluan. Semua kompak menyeret Fiera untuk masuk ke dalam, terus meyakinkan bahwa Andre memang tidak akan kenapa-kenapa. Selama penayangan film, Fiera tidak menikmatinya sama sekali. Dia terus bertanya kepada Alastair kapan Andre akan datang, seperti anak kecil yang sedang menunggu kehadiran orang tuanya. Alastair bahkan kecapean mencari jawaban yang tepat, dia hanya berkata bahwa Andre tidak memberikan kabar apa-apa lagi. Pemutaran film terus berlanjut, meskipun tidak ada dari mereka yang benar-benar niat menonton film yang diperlihatkan dilayar di depan mereka. Sampai pemutaran film selesai, Andre tak kunjung datang. Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Fiera sekarang, cewek itu hanya diam dengan wajah yang tertekuk. Begitu keluar dari mall, semua kompak berseru. "Selamat ulang tahun Fiera." Seolah semuanya memang rencana yang sudah tersusun dengan sempurna. Di parkiran mall ada Andre yang bersandar di mobilnya, cowok itu menaikkan sebelah alisnya dan tertawa puas karena Fiera langsung menangis akibat terlalu emosi. Di bagasi mobil Andre sudah terisi balon-balon, begitu juga di tangannya sedang memegang kue ulang tahun dengan lilin berangka 17. Andre mendekati Fiera dan mengenggam tangan cewek itu, Fiera terus saja memukuli Andre dengan brutal. Dia benci dengan sikap Andre seharian ini, dia tidak suka dengan Andre yang cuek meskipun itu semua bagian dari rencana. Fiera terlalu takut jika memang harus kehilangan Andre pada akhirnya. "Selamat ulang tahun, cantik. Peluk dulu dong." Fiera menangis. "Aku kira kamu kenapa-kenapa di jalan, jahat banget." "Sekarang aku di sini dan gak kenapa-kenapa, gimana rasanya di prank?" "Tau ah aku marah sama kamu." Fiera berontak melepaskan pelukan, namun Andre malah semakin mengeratkan. "Udah tujuh belas tahun, gak boleh sering-sering ngambek lagi." "Bakalan ngambek kalau kamu nyebelin," ucap Fiera. "Ada yang fotoin muka dia pas kesal tadi gak?" tanya Andre. "Wah, banyak nih sama gue. Sumpah mukanya kocak banget." Rayn berseru heboh dengan tangan mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. "Rayn, gak usah ngeselin lo!" Fiera berusaha keras meraih ponsel Rayn yang sengaja diangkat tinggi-tinggi. "Enggak usah kasih liat sekarang, nanti aja kirim fotonya secara pribadi ke gue." "Andre aku lagi ultah lho! Jangan dibuat kesal terus." Mereka yang melihat wajah Fiera kembali cemberut tertawa puas. "Rencana kita berhasil 100% guys!" Nathalie bertepuk tangan. "Capek banget gue jawab pertanyaan Fiera yang terus aja nyariin lo." Alastair mengadu mengenai kesulitan yang baru saja dia hadapi untuk rencana ini. "Fiera kayak anak kecil takut mamanya gak pulang," celetuk Sasa kemudian tertawa. "Gue ingat banget pas Fiera melototin, pas gue bilang lo kenapa-kenapa di jalan. Sumpah aura Fiera nyeremin banget, gue jadi mikir kenapa lo bisa bertahan lama sama dia," ujar Daffrin. "Fiera gak nyeremin kok, dia malah gemesin banget." "Makasih, Sayang." Fiera tersenyum malu-malu. Kelima orang yang menyaksikan itu sontak berkata. "DASAR BUCIN AKUT!" **** Alastair memberhentikan motornya di depan gerbang rumah Nathalie. Sekarang pukul sebelas malam, pastinya Nathalie agak takut jika ketahuan baru pulang. "Enggak usah panik gitu, tadi gue udah chat Kaisar bilang kalau kita makan dulu baru pulang." "Bukan masalah sama Kaisar, gue takutnya mama sama papa marah." "Enggak bakalan, mereka juga pernah muda. Pasti tau kalau lo butuh bersenang-senang juga." "Andre romantis banget ya, pantesan Fiera bucin banget sama dia. Ibaratnya Andre itu diam-diam ternyata nyenengin banget." "Gue bisa lebih romantis dari Andre kalau lo mau," ucap Alastair dan tiba-tiba Nathalie terserang rasa deg-degan mendadak. "Kok tegang gitu, lo kedinginan?" Alastair menyentuh tangan Nathalie. "Enggak kok, gak kedinginan sama sekali." "Tapi tangan lo dingin." Perlahan Alastair meraih jemari Nathalie dan mengenggamnya erat. "Kecuali kalau gue giniin, baru gak dingin lagi." Terasa hangat saat Alastair mengenggam erat tangannya seperti sekarang, namun tetap tidak baik untuk kesehatan jantung Nathalie. "Lo gak mau pulang?" "Masih mau sama lo." Nathalie meneguk ludahnya tidak bisa berkata-kata, kenapa jadi terasa sulit seperti sekarang. Padahal dia juga sudah sering mendengarkan kata-kata seperti barusan dari bibir manis seorang Alastair. "Udah malem, kita masih bisa ketemu besok di sekolah." "Malam Minggu mau jalan-jalan sama gue?" tanya Alastair. "Sorry banget, gue malam Sabtu sama Minggu jadwal siaran jadi enggak bisa." "Berarti selain dua malam itu bisa?" "Bisa, kalau enggak ada tugas." Alastair melepaskan tangannya dari tangan Nathalie. "Masuk sana, daritadi Kaisar udah ngintip." "Kenapa lo enggak bilang daritadi." Mendadak Nathalie merasa panik. Alastair malah tertawa karena ekspresi wajah gadis di hadapannya. "Enggak apa-apa kali, biar Kaisar tau kalau gue beneran naksir sama lo." "Hmm, gue masuk dulu. Lo hati-hati di jalan." "Natha," panggil Alastair. "Iya?" "Gue serius sama perasaan ini, gak main-main. Itu yang harus lo ingat." "Gue percaya karena itu juga berani kasih kesempatan buat lo." Alastair tidak bisa menahan senyuman di wajahnya. "Mimpi indah, Natha." "Lo juga harus mimpi indah." "Cukup mimpiin lo aja, jangan indah." Sontak Nathalie tertawa karena jawaban Alastair terdengar sangat asal-asalan. "Gue masuk dulu." Setelah memastikan Nathalie sudah masuk ke dalam rumahnya, barulah Alastair menghidupkan mesin motor. Dengan senyuman yang mengembang, Alastair menurunkan kaca helm. Sial, dia benar-benar seperti orang gila sekarang. Begitu Nathalie masuk, dia langsung dikejutkan dengan Kaisar yang melompat dari sisi kiri. "Enggak usah gitu!" "Galak amat kalau sama adik sendiri, giliran sama Alastair kayak cewek kalem." "Lo ngapain ngintip?" "Enggak ada larangan gak boleh ngintip." "Gue yang larang," ucap Nathalie dengan nada galak. "Gue penasaran aja kenapa Alastair gak pulang-pulang, rupanya lagi pegangan tangan. Lama banget lagi perpisahan malam ini." "Suara lo enggak usah gede banget bisa gak! Mama sama papa bisa dengar nanti." "Enggak bisa, lo naksir sama Alastair sekarang?" tanya Kaisar. "Bukan urusan lo." "Gue senang kalau lo beneran udah move on dari cowok b******n itu, secara gue sudah mengenal Alastair. Jadi, enggak apa-apa kalau lo emang mau sama dia." "Alastair sebaik apa bagi lo?" "Pokoknya dia lebih baik daripada Given cowok kesayangan lo." Nathalie menatap tajam. "Ngelantur banget omongan lo, gue mau tidur dulu." "Jangan lupa mimpiin Alastair, biar mimpinya indah." "Kaisar! Awas aja lo besok." Nathalie berteriak. Kenapa juga harus terciduk oleh Kaisar momen kebersamaan Nathalie dengan Alastair yang terjadi barusan. Benar-benar memalukan jika Kaisar terus saja menggodanya seperti tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD