Merindukanmu

1029 Words
"Jadi kamu curiga kalo Prita itu bohong sama Nathan dan keluarganya?" tanya Wanda. Siang itu Meyra mengajak Wanda untuk makan siang bersama di restoran tak jauh dari kantor sepupunya itu. Wanda menatap Meyra tampak serius. "Aku cuma bilang Tata itu mirip banget sama anak kecil di panti yang baru diadopsi." "Kamu yakin?" "Yakin gak yakin sih." Meyra membuang napas, tangannya hanya mengaduk sup kepiting yang sudah mulai mendingin. Meski tak terkatakan, Wanda tahu jika Meyra masih sedih tentang pernikahannya yang gagal. Tapi ia tak ingin Meyra tenggelam dalam perasaan itu. "Meyra, kamu bisa dapat yang lebih baik dari Nathan. Kio, misalnya. Lupain Nathan," ujar Wanda yang menatapnya dengan senyum simpati. "Bukan itu maksudku. Tapi, udahlah." Meyra berhenti bicara. Ia tahu akan sia-sia saja membahas ini dengan Wanda. "Kapan balik ke apartemen? Flo nyariin kamu terus." "Flo apa yang punya?" Meyra tertawa kecil. "Dua-duanya dong. Kamu pasti tahu aku kesepian di apartemen. Gak ada yang nemenin nonton drakor. Ayolah balik, Nathan udah berhenti nyariin kamu kok." "Nanti ya ..." "Nanti sore?" "Pokoknya nanti." Usai makan siang, Wanda kembali ke kantornya sementara Meyra berniat mengunjungi Cafe Choco Toast yang telah ia telantarkan selama hampir dua minggu. Tetapi baru saja kakinya menapak pada teras cafe, ia sudah ingin pergi. Tak sampai lima meter di depannya, terlihat Nathan duduk menyendiri. Hanya secangkir kopi hitam yang tersaji di meja kayu berbentuk persegi. Meyra belum siap bertemu pria itu, ia ingin pergi secepatnya sebelum Nathan melihatnya. Tapi ia terlambat. "Meyra!" panggil pria itu. Meyra terpaku namun enggan menoleh. Langkah Nathan terdengar kian dekat. Wanita itu tak bisa berkutik. Meyra menguatkan diri untuk membalikkan badan dan menghadapi mantan calon suaminya itu. "Nathan?" Meyra menunjukkan senyumnya. Senyum palsu yang dipaksakan. Di sisi lain, si mantan hanya menatapnya kosong. Nathan maju dan hendak menyentuh pucuk kepala wanita bermata indah itu. Namun Meyra bergegas mundur. Ini tidak benar, pikirnya. Nathan menurunkan tangannya dan tersenyum tipis. "Bisa kita bicara?" tanyanya. "Hm." Anggukan Meyra diikuti langkah mereka menuju meja tempat kopi Nathan berada. "Aku mencarimu." Meyra hanya menunduk, menatap kedua tangan yang bertaut di atas pangkuannya. Suasana terasa sendu sekaligus canggung. Dan Meyra tak ingin terus berada di situasi ini. "Akhir-akhir ini aku sibuk." "Ada yang kutanyakan," sela Nathan. "Apa?" "Kenapa kamu langsung batalkan pernikahan kita? Padahal kamu tau gimana perasaanku." Tatapan Nathan kelam. Tak pernah Meyra melihat Nathan seperti ini sebelumnya. "Aku gak mau jadi orang yang egois." "Egois? Justru yang kamu lakukan itu egois, Meyra. Aku bertemu Prita secara gak sengaja di acara reuni. Saat itu kita gak ada kontak atau apapun. Beberapa hari kemudian baru dia datang ke kantor minta nomorku, memaksa." "Untuk apa kita bahas ini?" Kini Meyra memberanikan diri membalas tatapan pria itu. "Aku mau kita-" "Stop! Jangan diteruskan. Aku tau apa yang mau kamu katakan tapi itu gak mungkin." "Kenapa gak mungkin? Aku gak mencintai Prita. Gimana bisa aku hidup sama dia?" "Bisa. Suatu saat pasti bisa." Meyra bangkit, tak ingin tenggelam dalam obrolan yang akan membuat hatinya kembali sakit. Ia khawatir jika keputusannya salah. Bagaimana jika Prita berbohong? Lalu hasil tes darah itu? "Meyra, tunggu!" Nathan menghentikan langkah Meyra dengan berdiri tepat di depannya. "Aku sibuk. Tolong minggir." "Oke, aku akan biarkan kamu pergi tapi setelah jawab satu pertanyaan. Apa kamu masih mencintaiku?" Masih. Tentu saja masih. Tapi kini situasinya jelas berbeda. Nathan telah berstatus suami orang lain. Dan Meyra tak ingin membahas sesuatu yang bisa menyulut masalah. "Sekarang itu bukan lagi hal yang penting." "Tapi bagiku itu penting. Asal kamu tau, aku gak bisa menerima Tata sebagai anakku!" "Kalian baru bertemu 'kan. Menurutku wajar." "Aku bahkan gak yakin dia anakku ..." Suara Nathan makin rendah. Wajah tampan yang selama ini selalu terlihat ceria itu tampak sedih. "Nathan, jangan seperti ini. Tes darah udah cukup sebagai bukti, 'kan?" "Aku sama sekali gak peduli sama lembaran kertas itu. Yang jelas aku yakin Tata bukan anakku." Mendadak sorot mata pria itu berubah, bukan lagi sedih melainkan dipenuhi amarah. "Gimana kamu bisa yakin?" "Sekarang aku belum punya bukti, tapi saat semuanya terungkap aku harap kamu mau kita kembali seperti dulu. Bahkan aku gak akan ragu untuk melamarmu lagi ..." ** Selepas dari cafe, Meyra memesan taxi dan meminta si supir mengantarnya ke alamat panti asuhan Pelita Bunda. Ia datang sendirian, hanya untuk memuaskan rasa penasaran yang semakin membuatnya tidak tenang. Ibu Panti menyapanya dengan hangat sama seperti kunjungan sebelumnya. Wanita itu juga menanyakan di mana Kio. Tentu saja Meyra tidak tahu di mana Kio sekarang. "Ada apa Mbak Meyra datang sendiri hari ini?" tanya Ibu Panti usai mempersilahkan wanita dengan setelan abu muda itu duduk. "Kalau boleh, saya ingin tahu tentang orang tua angkat Salsa," jawab Meyra berterus terang. "Salsa? Kenapa Mbak Meyra sepertinya tertarik dengan anak itu?" Ibu Panti memberinya tatapan penuh tanda tanya. "Saya merasa mengenal anak dalam foto itu. Dan saya datang hanya untuk memastikan." "Sebentar ya ..." Wanita yang hari ini memakai hijab motif bunga kecil itu beranjak ke dalam. Tak lama kemudian ia kembali, membawa sebuah buku tebal berisikan data-data tentang anak panti. Juga terdapat beberapa surat yang dilampirkan pada halaman tertentu. "Salsa berumur tiga tahu. Dia diadopsi pasangan muda yang berasal dari Kota Banyuwangi tiga bulan yang lalu." "Siapa nama orang tua angkatnya, Bu?" "Pak Renaldi dan Bu Sinta. Mereka donatur tetap setiap bulannya dan setelah menikah dua tahun, memutuskan untuk mengadopsi salah satu anak dari panti asuhan ini ..." jelasnya. Meyra tak mengenal nama-nama itu. Benarkah Salsa dan Tata adalah dua anak yang berbeda? Tapi wajah mereka begitu mirip. "Assalamu'alaikum." Dari salam dari arah pintu yang mendapat jawaban baik dari Ibu Panti dan juga Meyra. "Eh, ada tamu," ujar wanita dengan seragam layaknya babysitter itu. Ia memberi senyum pada Meyra namun masih berdiri di ambang pintu. "Enggar, kenapa ke sini? Libur kerja?" tanya Ibu Panti. "Ibu tadi minta Enggar kasih ini ke Bibi." Wanita itu masuk dan menyerahkan dua buah buku. "Ohh, yang kemarin. Kamu udah pulang apa masih mau berangkat?" "Pulang, Tante. Bu Prita hari ini ternyata ambil cuti. Enggar permisi Tante. Mari, Mbak ..." Enggar masih menyempatkan menyapa dan Meyra membalasnya dengan senyum ramah. Senyum itu perlahan memudar usai Enggar pergi. Nama Prita yang baru saja Enggar sebut mengusik pikirannya. Mungkinkah ini sekedar kebetulan atau .... *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD