Pengagum Rahasia

1326 Words
Seorang wanita dengan blouse biru tua dan rok putih selutut memasuki kantor. Langkah sepatu fantofel putihnya beradu dengan lantai keramik, membentuk suara yang mengisi keheningan pagi itu. Jam masih menunjukkan pukul enam. Masih tersisa satu jam hingga waktu kerja dimulai. Ia melangkah menuju tempat ceklok fingerprint, berpapasan dengan dua cleaning servis yang telah memulai aktivitas mereka. "Pagi, Mbak Oliv," sapa salah satu dari cleaning service berseragam putih biru itu. "Pagi, Pak." Oliv tersenyum ramah tanpa menghentikan langkahnya. Aktifitas paginya dimulai. Usai ceklok ia menyempatkan diri ke pantry untuk membuat secangkir kopi s**u siap seduh yang selalu tersedia. Meski sedikit mengantuk, ia tak ingin kehilangan semangat. Oliv sudah berada di mejanya beberapa saat kemudian. Tanpa diduga, terlihat sosok pria yang ia kagumi sejak pertama kali ia bekerja di tempat itu. Nathantio Dirga. "Selamat pagi, Pak." Oliv bangkit dan memberikan senyum terbaiknya. Tetapi Nathan hanya mengangguk kecil dan langsung masuk ke ruangannya. Tidak ada senyum atau sekedar ucapan 'pagi' seperti biasanya. Ini terjadi sejak dua hari yang lalu, Tepatnya setelah pernikahan besar yang justru jadi buah bibir di antara karyawan. Ia yang hanya karyawan baru tak mengetahui apapun tentang si bosnya yang dikenal tampan dan pandai berbisnis itu. Hingga kemarin, Oliv mendengar pembicaraan dua wanita di divisi pemasaran. "Kamu datang ke acaranya Pak Nathan?" tanya staff bernama Zara. "Dateng tapi cuma sebentar karena ada urusan. Setelah ketemu Pak Tyo, aku langsung pamit." Tina, si kawan langsung merespon sambil melihat riasan matanya melalui cermin kecil. "Yahh, gak tau berita yang lagi hits dong." "Ada apaan? Kasih taulah ..." "Mempelai wanita bukan Mbak Meyra," ujarnya dengan nada dibuat sedramatis mungkin. "Lho, lho, gimana? Gimana?" Tina meletakkan cermin di meja dan mulai fokus pada perbincangan siang itu. "Iya, Pak Nathan bukan nikah sama Mbak Meyra." "Lha, terus sama siapa?" "Inget cewek yang kapan hari gak sih? Yang tiba-tiba dateng terus maksa masuk ke ruangan Pak Nathan?" "Emang ada? Barbar banget." "Ada, tanyain noh sama yang abis dorong-dorongan sama tu cewek. Liv, siapa namanya tamu yang itu?" Oliv yang saat itu hanya berniat lewat untuk menyerahkan dokumen mendadak berhenti. Ia menatap bingung pada dua wanita yang tadinya heboh namun kini diam menunggu jawaban darinya. "Kalo gak salah, namanya Prita, Mbak." "Terus Mbak Meyra gimana?" Tina lanjut bertanya pada Zara. "Gak tau. Padahal apa kurangnya Mbak Meyra coba? Udah cantik, baik lagi. Inget gak waktu ulang tahun Pak Nathan tiba-tiba dia dateng terus bagi-bagi cake untuk semua karyawan?" "Eh iya, aku inget. Mana serasi banget sama Pak Nathan. Sayang ya." Sebuah panggilan membubarkan lamunan. Ia menepuk-nepuk pipi agar kembali fokus sebelum mengangkat telepon. Meski begitu ia justru penasaran pada sosok Meyra, wanita yang tak pernah ia temui namun mendapat pujian dari karyawan Nathan. ** Jam kerja berakhir. Oliv menyiapkan berkas yang harus ditandatangani oleh Nathan. Ia tahu jika bosnya itu belum pulang. Usai mengetuk pintu, wanita itu masuk. "Sudah saatnya pulang, kenapa masih di sini?" tanya Nathan setelah menerima map. "Apa Bapak butuh sesuatu?" "Tidak. Pulanglah." Nathan memberi perintah tanpa melihatnya sama sekali. "Baik Pak." Oliv menutup pintu dan pulang. Sebenarnya ia sedikit khawatir pada Nathan. Tapi ia tahu tak ada yang bisa dilakukan. ** Malam telah larut. Oliv yang telah terlelap seketika terbangun oleh getar ponsel yang menimbulkan bunyi derat di atas nakas. Masih dengan menutup mata, wanita itu berusaha menggapai benda pipih itu. "Halo?" jawab Oliv dengan suara mengantuk. "Liv, jemput dong ..." Terdengar suara wanita di sela-sela musik yang membuat Oliv segera sadar. "Luna? Kamu dugem lagi?" tanya Oliv sambil mengucek mata. Ia melihat jam dinding, pukul sebelas lewat dua puluh menit. "Diajak temen. Jemput dong, di tempat biasa ya. Bye." Oliv masih menempelkan ponsel pada telinga meski panggilan telah diputus sepihak. Luna adalah teman satu kontrakannya. Sejak dulu, wanita itu memang berbanding terbalik dengan Oliv. Jika Oliv wanita yang introvert, maka Luna adalah tipikal wanita ekstrovert. Luna juga sangat gemar bermain di gemelapnya malam. Seperti saat ini. Meski malas, nyatanya Oliv tak bisa menolak permintaan temannya yang masih berstatus mahasiswi itu. Usai mengenakan jaket, ia pun menggunakan motor matic-nya menyusuri jalanan Surabaya yang jarang mengenal kata sepi. Wanita itu memakirkan motor di antara jejeran mobil yang tertata rapi di area parkir club ternama. Dalam hati Oliv berharap jika benar Luna berada di dalam agar ia cepat pulang dan menikmati waktu tidurnya yang sempat terjeda. Aroma alkohol, lampu keunguan, serta suasana hiruk pikuk berpadu menjadi satu ketika ia masuk. Cahaya yang tidak terlalu terang, menyulitkannya untuk menemukan Luna. Tapi ia tak semudah itu menyerah. Hingga tiba-tiba sebuah tangan kekar menariknya. Oliv yang tidak siap, tak sempat menghindar. "Hai Cantik?" Pria berkumis tipis dengan ekspresi menyebalkan mencoba menyentuh wajahnya. "Lepaskan saya, Pak!!" Oliv berusaha meronta. "Panggil aku om. Om Juniar." Pria itu berhasil membelai pipi Oliv yang mulus. "Jangan kurang ajar ya!!" Sekuat tenaga Oliv mendorong p****************g itu. Namun tenaganya bukanlah apa-apa. Pria itu justru makin intens menyentuh area lain. Gerakan tangan pria itu mendadak terhenti saat menyadari ada sentuhan pada pundaknya. Ia menoleh dan menghadapi tatapan dingin dari pria muda yang tak ia kenal. "Siapa kau?" "Saya tak berminat memperkenalkan diri. Tapi dengan senang hati saya akan memukul orang yang bertindak tidak sopan pada wanita." 'Suara itu, Pak Nathan ...' batin Oliv. "Bocah kemarin sore, tau apa kau?!" "Om Juniar? Manager keuangan di kantor cabang DirgaSeven Group yang baru. Anda ingin saya yang membongkar kasus hilangnya dana perusahaan atau memilih untuk mengaku." "Si-siapa kau sebenarnya?" Pria yang semula terlihat hendak memukul mendadak bernyali ciut. "Nathan." "P-pak Nathan? Maaf Pak, maafkan saya. Saya tidak tahu jika Anda adalah anak Pak Tyo." Om Juniar membungkuk, berharap sikapnya itu akan meluruhkan kemarahan Nathan. "Minta maaf padanya!" titah Nathan masih dengan nada dingin yang membuat merinding. "Maaf, aku minta maaf ..." kini giliran Oliv yang mendapatkan permintaan maaf dari laki-laki itu. Olif yang masih terkejut hanya mampu mengangguk dan membiarkan Om Juniar pergi meninggalkan dia dan Nathan. "Kenapa kamu di sini?" Nathan menatap Oliv dari ujung kaki hingga kepala. Sandal slop, celana lengging, kaos oversize yang dibalut jaket berwarna maroon. Penampilan wanita itu lebih cocok di sebut ingin bersantai di rumah jika dibandingkan dengan pergi ke club malam. "Eh, anu Pak, saya lagi cari teman saya ..." Oliv menarik-narik kaosnya yang semakin molor karena gugup. "Tempat ini berbahaya, tak cocok untukmu. Siapa temanmu? Ayo, saya bantu cari." "Tidak usah, Pak. Saya bisa mencarinya sendiri." Oliv tertawa canggung namun Nathan malah memberi tatapan yang tak bisa ia tolak. "B-baik Pak. Mari ..." Nathan hanya mengangguk dan berjalan di samping wanita itu. Beberapa pasang mata menatap mereka, kebanyakan adalah wanita-wanita berpakaian mini yang merasa iri karena telah gagal merayu Nathan sejak tadi. "Luna!" Oliv sedikit berlari saat melihat wanita dengan dress hitam yang tampak menenggak segelas kecil vodka. "Hai, Oliv ..." Luna tertawa dengan cara yang aneh. Ia sudah mengangkat gelas namun Oliv segera merebutnya. "Give itu to me," rengek Luna seperti anak kecil yang kehilangan permen. "Ayo kita pulang," ucap Oliv sembari menarik tangan temannya. Namun Luna hanya menggeleng dan meletakkan kepalanya di atas meja. "Temanmu mabuk. Mana bisa kamu membawanya pulang?" Nathan berkomentar dengan tatapan datar. "Tapi saya tetap harus membawanya pulang, Pak." Oliv keukeuh meski sebenarnya percuma. Tanpa berbicara lagi, Nathan memapah Luna yang kini terhuyung. Oliv menyambar tas tangan Luna lalu mengikuti bosnya yang berjalan beberapa langkah di depan. Tiba di pintu keluar club, seseorang memanggil nama Oliv dan Luna dari area parkir. Seorang pria mendekati mereka. Oliv segera mengenalinya sebagai Kevin, kekasih Luna. "Dia mabuk lagi?" Kevin mengambil alih Luna dari tangan Nathan. "Iya, kalian bertengkar? Lagi?" Oliv menatap Kevin penuh selidik. "Cuma sedikit salah paham. Aku akan membawanya pulang. Mau ikut sekalian? Atau kalian masih mau-" "Kalian duluan aja, aku bawa motor," potong Oliv. Tak lama kemudian Kevin membawa Luna memasuki mobilnya. Hanya tinggal Oliv dan Nathan. "Ayo, kuantar pulang." "Tidak perlu, Pak. Itu motor saya. Kontrakan saya juga dekat." "Kamu yakin?" "Saya yakin. Terima kasih banyak, Pak." Nathan mengangguk dan mereka pun berpisah. Oliv mencengkeram jaketnya. Ada desiran aneh yang ia rasakan. Mungkinkah ini ... *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD