Meyra baru selesai mandi dan kini mulai menyisir rambut panjangnya. Beberapa helai rontok meski ia hanya menariknya perlahan. Wanita itu meneruskan merapikan rambut meski rasanya ingin menangis.
"Meyra," panggil wanita dengan daster motif bunga yang kini sudah berdiri di ambang pintu.
"Iya, Tante?" Meyra menoleh masih dengan menyisir.
"Kok udah rapi? Mau keluar ya?"
"Iya, ada teman yang ngajak Meyra ke panti asuhan."
"Ohh, teman perempuan apa laki-laki?" lanjut Tante Nanni yang merupakan ibu dari Wanda.
"Teman laki-laki ..." Meyra menjawabnya dengan lirih. Jujur ia merasa sungkan menerima tamu laki-laki saat ia menumpang di rumah itu.
"Siapa? Siapa namanya? Ganteng ya?"
"Tante, dia cuma teman. Teman dekatnya Lodi, Wanda juga kenal," ucap Meyra sembari melihat ke arah cermin. Ia tahu ke mana arah pembicaraan adik dari ibunya itu.
"Bagus kalo gitu." Wanda memang sudah memperkenalkan Lodi pada kedua orang tuanya.
"Ya ndak apa-apa kalo mau temenan dulu. Ndak usah buru-buru ya. Tante ndak mau kamu sampai salah pilih orang lagi," ujar Tante Nanni.
"Makasih Tante."
"Ya sudah, dandan yang cantik ya Nduk. Oh, tante baru inget. Tadi Wanda telepon, katanya mau kirim obat. Obat apa?"
Gerakan tangan Meyra terhenti. Ia harus menemukan jawaban yang pas. Jangan sampai tantenya ini mengetahui perihal penyakit yang sedang ia derita.
"Ehm, obat alergi, iya alergi." Meyra tertawa canggung, ia tak terbiasa berbohong. Tapi hanya itu yang terlintas di pikirannya.
"Jangan terlalu sering minum obat lho. Kalo memang ada yang ndak bisa kamu makan, kamu langsung bilang sama tante."
"Iya Tante, Meyra ngerti," ucap wanita itu sambil mengangkat jari jempol kanannya. Tante Nanni cuma menggeleng dan tersenyum sebelum kembali pada aktifitas di rumah.
Setengah jam kemudian, Kio sampai di rumah yang terletak di daerah perbatasan Surabaya Sidoarjo itu. Kio mengenakan kemeja santai berwarna hitam yang menambah kesan charming pada penampilannya.
"Yuk," Meyra langsung mengajaknya berangkat begitu ia keluar dari kamar.
"Udah? Mana Tante Nanni?" Kio menghabiskan teh yang tinggal setengah.
"Di belakang, sebentar ..."
Meyra dan Kio pamit. Tante Nanni terlihat menyukai pria itu. Ditambah sikapnya yang sopan dan menjadi nilai plus.
"Titip Meyra ya. Jangan terlalu malam pulangnya."
"Iya Tante. Kio akan selalu jagain Meyra." Itu adalah ungkapan dari hati. Namun tampaknya Meyra merasa tidak nyaman.
"Tante, Meyra bukan anak kecil lagi."
"Tante tau, udah sana berangkat."
Kio membukakan pintu mobil untuk Meyra lalu masuk pada pintu yang lain. Meyra membalas lambaian tangan tantenya sebelum mobil hitam Kio melesat melintasi aspal.
Karena ada perbaikan jalan, terpaksa Kio harus memakirkan mobil di tempat yang berjarak dua ratus kilometer dari panti asuhan. Hanya sepeda motor yang bisa melewarinya.
"Kalo kamu capek, bilang ya."
"Aku gak selemah itu," sahut Meyra sambil tertawa.
Baru beberapa langkah berjalan, Kio tiba-tiba menarik Meyra hingga jarak tubuh mereka sangat dekat. Meyra terdiam ketika Kio merangkul pudaknya. Namun saat ia tersadar, ia langsung melepaskan diri.
"Hampir aja," ucap Kio sembari menatap tajam pengendara motor yang hampir menyerempet Meyra.
Kio berpindah posisi menjadi sebelah kanan, hal yang seharusnya ia lakukan sejak tadi. Tak sampai sepuluh menit berjalan, mereka berdua tiba di panti asuhan yang kemarin Kio ceritakan.
"Assalamu'alaikum," Kio mengucapkan salam usai mengetuk pintu yang setengah terbuka.
Ibu Panti keluar dengan raut wajah menyenangkan. Kio menjelaskan jika tujuannya datang adalah mewakili Rachel dan teman-teman yang lain untuk menyampaikan donasi berupa uang.
"Tadi Rachel juga sudah telepon saya. Mari-mari, masuk dulu," ujar Ibu Panti pada Kio dan juga Meyra.
Ibu Panti masuk dengan alasan akan membuatkan teh untuk mereka. Percuma saja meski dua orang itu mengatakan tak perlu repot-repot.
Sama seperti Kio kemarin, Meyra juga mengamati foto anak-anak panti pada bingkai kayu yang terukir. Garis bibir Meyra terangkat, ia senang melihat senyum polos dan bahagia anak-anak itu.
Saat mengamati bingkai kedua, Meyra tersentak. Ada satu wajah yang tampak tidak asing. Mata dan senyum gadis kecil berponi itu terlihat seperti Tata. Tapi ia pun kurang yakin. Dari arah belakang, muncul Ibu Panti yang telah membawa nampan berisi dua cangkir teh yang masih beruap.
"Silahkan diminum tehnya."
Meyra memutuskan duduk di samping Kio, dalam hati mempersiapkan kata untuk bertanya. Ia ingin memastikan tentang anak kecil itu.
"Bu, itu foto anak-anak yang tinggal di sini ya?" Meyra memulai.
"Iya, tapi ada beberapa yang sudah mendapat orang tua angkat. Mas Kio sama istri ada keinginan untuk mengadopsi salah satu anak yang ada di sini?"
"Uhukk ... uhukk ..." Kio yang sedang meminum tehnya seketika tersedak.
"Bukan, Bu. Kami-" Meyra ingin meluruskan sambil melirik Kio yang masih mengatur nafas.
"Kami belum menikah," ujar Kio akhirnya.
Meyra sedikit kaget ketika Kio menyebut kata 'belum'.
"Ohh, saya kira pengantin baru yang udah gak sabar punya momongan." Wanita berhijab itu tersenyum penuh arti.
Meyra mengeluarkan tisu dari dalam tasnya dan mengangsurkan pada Kio. Pria itu menerima tanpa tahu apa maksud Meyra. Barulah ketika Meyra mengarahkan pandangan pada kemejanya, ia sadar jika sebagian teh tumpah saat ia tersedak tadi.
"Anak kecil berponi pada bingkai foto di tengah masih ada di sini, Bu?"
"Yang mana?"
"Yang pakai baju merah muda," tambah Meyra.
"Salsa ..."
"Salsa?"
"Namanya Salsa. Dia sudah diadopsi tiga bulan yang lalu."
"Kalau boleh tau, bagaimana ciri-ciri orang tua angkatnya?"
"Waduh, saya sudah lupa. Yang jelas masih muda. Mungkin seumuran Mbak-nya sama Mas Kio."
Kio memperhatikan Meyra yang tampak berpikir. Dan pertanyaan yang wanita itu berikan terdengar aneh. Untuk apa ia menanyakan tentang orang tua angkat Salsa?
Hingga mereka berada dalam mobil empat puluh menit kemudian, Meyra masih tak berubah. Kio masih merasa ada hal serius yang mengganggu pikia wanita itu.
"Lagi mikirin apa?" tanya Kio saat mobil telah memasuki kawasan pusat kota.
"Aku merasa kenal dengan anak kecil itu."
"Siapa? Salsa?" Kio memastikan dan Meyra langsung mengangguk.
"Wajahnya mirip sama-"
Ciiiiiittt.
Kio terpaksa menghentikan laju mobil secara mendadak karena ulah seseorang yang menyeberang tidak pada waktu dan tempatnya.
"Ck. Hampir. Padahal tinggal jalan sebentar udah ada jembatan penyeberangan. Kamu gak apa-apa?" gerutu Kio.
"Gak apa-apa. Cuma kaget."
"Tadi kenapa?"
Meyra tak langsung menjawab. Ia menyadari tak perlu membahas sesuatu yang belum pasti. Kalau begitu ia sendiri yang harus memastikan. Tapi bagaimana? Bisakah ia mencari tahu tentang Prita dan juga Tata tanpa perlu berurusan dengan Nathan?
"Bukan apa-apa. Mungkin cuma mirip."
Kio mengangguk. Hari masih sore, ia ingin menikmati waktunya bersama Meyra lebih lama.
"Mau ngopi sebentar gak?"
"Aku gak bisa minum kopi," geleng Meyra.
"Gak bisa? Hm, jus?"
"Boleh ..."
Kio tak bisa menahan senyumnya. Ia teringat pesan teks yang Lodi kirimkan. Masih ada kesempatan. Dan ia akan menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
***
Bersambung.